Hidup

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul                     : Hidup

Judul Asli             : To Live

Penulis                 : Yu Hua

Alih Bahasa          : Agustinus Wibowo

Peberbit              : Gramedia Pustaka Utama

Tebal                    : 224 halaman

ISBN                     : 978-602-03-1382-5

hidup

Hidup itu penting dan sangat penting untuk terus dijalani. Apapun yang terjadi, hendaknya kita menghargai hidup. Kita harus terus bertahan untuk hidup. Jika takdir juga mendukungmu untuk hidup, tak ada alasan untuk engkau menyepelekan dan mengakhirinya. Kisah Xu Fugui dan Jiazhen istrinya menunjukkan bagaimana mereka berupaya untuk terus hidup.

Xu Fugui adalah anak seorang tuan tanah di sebuah desa. Sebagai tuan muda hidupnya dihabiskan di rumah pelacuran dan rumah judi. Dalam sebuah perjudian, semua harta keluarga Fugui habis di meja judi. Kekalahan di meja judi ini membuat keluarga Fugui tiba tidak berubah. Mereka tidak lagi hidup sebagai orang kaya, tetapi harus hidup di gubug beratap jerami – Fugui, istrinya Jiazhen, Fengxia, ibunya dan bapaknya. Tak lama kemudian bapak Fugui mati.

Saat ibunya sakit, Fugui pergi ke kota untuk menghubungi tabib. Namun apa daya, sampai di kota Fugui malah ditangkap oleh Tentara Nasional kelompok Chiang Kai Sek dan dijadikan pengangkut meriam. Fugui terpisah dari istrinya yang saat itu sedang mengandung anak keduanya. Di tengah-tengah para tentara nasionalis yang sedang berperang dengan tentara komunis yang dipimpin Mao Tse Tung, Fugui menyaksikan betapa tidak berharganya nyawa.

Namun Fugui selamat dan berhasil pulang ke desa. Tak lama setelah dia kembali ke desa, aturan baru tentang kehidupan desa diberlakukan. Orang-orang desa tidak lagi bisa memiliki lahan karena semua lahan menjadi milik negara. Mereka bekerja besama dalam komune (desa) yang dipimpin oleh Ketua Regu. Sistem komune yang baru diterapkan ini ternyata tidak mampu menghadapi kegagalan panen, segingga kelaparan yang sangat dahsyat melanda desa.

Satu demi satu keluarga Fugui mengalami kematian yang absurd. Dimulai dari anak lelakinya Youqing yang mati karena darahnya diambil untuk menolong istri camat yang melahirkan, Fengxia yang mati karena melahirkan di rumah sakit yang sama, Chungsen, temannya saat perang yang kemudian menjadi camat dan bunuh diri, istrinya yang mati tua, menantunya Erxie yang mati karena kejatuhan balok yang diangkutnya serta cucunya yang mati karena kemaruk makan kacang setelah beberapa hari kelaparan.

Kisah ini ditutup dengan Fugui yang membeli sapi betina yang sudah tidak kuat bekerja. Sapi tersebut dibawa pulang ke desa dan menjadi satu-satunya anggota keluarganya. Sapi tersebut diberi nama Fugui, seperti namanya sendiri!

Yu Hua, yang memosisikan sebagai anak muda yang diberi tugas untuk menggali cerita rakyat di desa-desa, dengan sangat lugas mendeskripsikan kekejaman perang. Paparan Yu Hua tentang korban perang bahkan lebih detail dan tuntas dibanding dengan cara Hemingway menggambarkan perang. Para tentara yang berebut makanan, mereka yang terluka dan tidak terurus mati sia-sia dalam raungan – atau nyanyian (?), yang mayatnya tersaput salju tipis adalah beberapa contoh pengungkapan kekejaman perang.

Yu Hua begitu detail menggambarkan bagaimana sistem komune mengubah kehidupan di desa. Kelucuan tetapi absurd tentang bagaimana orang desa memasak/melebur baja dari penggorengan dan panci-panci yang dirusak. Kecintaan Youqing terhadap kambingnya yang terpaksa dikandangkan di kandang komune. Susahnya Jingzhia yang sakit lemah tulang yang harus mencari sayur liar dan perebutan sepotong ketela terakhir di desa. Kisah-kisah tersebut dipakai oleh Yu Hua untuk menggambarkan betapa menderitanya desa di awal sistem komune.

Melalui novel ini kita bisa mengenal nilai-nilai hidup orang China. Beberapa nilai yang disampaikan dalam novel ini adalah: (1) tanggung jawab: hutang harus dibayar meski itu akibat dari sebuah proses judi; (2) kebahagiaan itu penting untuk menghadapi kemiskinan dan tekanan; (3) keluarga adalah sebuah institusi untuk saling menghidupi dan saling menebar kebahagiaan. “Fugui, Youqing dan Fengxia semua kamu yang kubur. Terbayang dengan tanganmu sendiri itu kau akan kubur aku, hatiku tenang,” ucap Jiazhen menjelang kematiannya kepada suaminya, adalah sebuah ungkapan kebahagiaan dalam sebuah keluarga; (4) Kerja keras dan kerja keras, agar “ayam bisa menjadi angsa, angsa menjadi kambing, kambing menjadi sapi,”dan nilai-nilai lain yang akan anda temukan sendiri.

Terjemahan yang sangat bagus dari Agustinus Wibowo membuat novel ini enak untuk dinikmati.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

20 Comments to "Hidup"

  1. Handoko Widagdo  2 September, 2015 at 15:49

    Lani, tentu saja yang saya maksud adalah Romo Crispinus Budiman teman kita yang sekarang tinggal di Bandung.

  2. Lani  2 September, 2015 at 15:07

    HAND : Siapa yg kau maksudkan dgn romo Budiman di komentarmu?

  3. Handoko Widagdo  2 September, 2015 at 13:49

    Nonik Louisa, buku ini mengajarkan betapa pentingnya dan indahnya hidup itu, apapun keadaanmu.

  4. Nonik-Louisa  2 September, 2015 at 13:47

    Aku sudah punya buku ini. BAGUS BANGEEEEEEEEEEEETTTTTTTT!!! alasan utama beli karena tahu penerjemahnya Agustinus Wibowo, petualang & backpacker sejati indonesia. Aku punya buku2 dia sebelumnya… Selimut Debu, Garis Batas, Titik Nol. Gaya penulisan Agustinus enak sekali dibaca, seolah-olah kita hadir bersama dia di buku itu.

  5. Handoko Widagdo  31 August, 2015 at 08:25

    Kang JC, Romo Budiman sudah membeli. Beliau memberi pengakuan bahwa buku ini sungguh sangat bagus. Hidup itu sangat penting, apapun hal yang dihadapi.

  6. J C  31 August, 2015 at 05:47

    Pak Hand, matur nuwun info buku ini. Nanti aku coba cari ke Gramedia…

  7. Handoko Widagdo  27 August, 2015 at 13:42

    Betul Avy. Setting cerita adalah jaman awal-awal penerapan sistem komunis di China. Ini novel sangat kuat ceritanya.

  8. Alvina VB  27 August, 2015 at 12:55

    Thanks buat bedah bukunya Han. Cerita yg humanis dan realita hidup di sana saat China masih tertutup kayanya ya? Nanti iseng2 aku tanyain dah temenku yg org Chinese (dari mainland yg demen baca buku); apa ini buku laris manis di China sana.

  9. Handoko Widagdo  27 August, 2015 at 08:58

    Hennie, memang buku ini sangat menarik. Tidak panjang tapi alurnya sangat bagus.

  10. Handoko Widagdo  27 August, 2015 at 08:57

    Lani, buku adalah temanku yang tak pernah komplen. Saya tiduri tidak marah, saya ajak ke toilet ikut saja. Aku acuhkan saat bekerja tidak protes. Jadi dialah kawan seperjalanan yang paling menyenangkan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *