Selamat pagi, Samas (2)

Wina Rahayu

 

Ketemu lagi, inilah lanjutan cerita dari Selamat Pagi Samas (1). Lanjut ya ceritanya…..

Pertemuan Sunthi dengan seorang laki-laki yang berperawakan gagah, di pagi yang gerimis di pantai Samas. Pertemuan ini berkat kepekaan Sunthi menangkap sebuah informasi yang secara tidak sengaja Sunthi dengar. Saat Sunthi berteduh di sebuah gubuk dekat penimbangan ikan, ada seorang pemuda bertanya pada seorang ibu. “Maaf bu, di mana tempat penyelamatan penyu?” tanya pemuda itu dengan sopan. Ibu itu menjawab dengan dingin pertanyaan pemuda itu sambil menunjuk arah barat.

Komunikasi singkat pemuda dan ibu itu membuat Sunthi penasaran untuk ikut mencari tempat penyelamatan penyu itu. Terbayang oleh Sunthi akan bertemu dengan penyu baik yang kecil maupun anak penyu (tukik). Berbekal informasi arah itulah Sunthi mencoba menelusur jalan-jalan yang ada di perkampuangan nelayan itu. Saat bertemu seorang bapak yang sedang santai di depan rumah, Sunthi mencoba bertanya pada bapak tersebut. Dengan ramah bapak tersebut memberikan arah kemana tempat penyelamatan penyu tersebut. Ternyata hanya berjalan 100 meter Sunthi menemukan tempat penyelamatan penyu tersebut. Tempat itu tersembunyi dan tidak ada jalan yang jelas menuju tempat ini. Sunthi harus melewati kandang kambing milik salah satu nelayan.

pantai-samas2 (1) pantai-samas2 (2) pantai-samas2 (3)

Inilah tempat yang disebut sebagai tempat penyelamatan penyu. Sunthi mencoba ngintip untuk melihat ke dalam bangunan tersebut. Tidak ada satu orang yang Sunthi temukan, karena pintu gerbang tidak terkunci Sunthi mencoba masuk untuk melihat bangunan tersebut.

pantai-samas2 (4) pantai-samas2 (5) pantai-samas2 (6)

Ada beberapa bak penampungan tapi tidak ada air maupun seekor penyu di dalam bak tersebut. Beberapa bak nampak kotor dan berlumut. Melihat bangunan sebagus ini membuat pikiran Sunthi nakal, jangan-jangan ini hanya “proyek” yang sebentar lagi “ngakrak” alias tidak terurus. Hal ini seperti pernah Sunthi temui saat tahun 2006, saat Sunthi sedang melakukan base line survey di pantai Congot (pantai dekat pantai Gelagah Yogyakarta).

Banyak proyek yang dibuat tapi tidak sesuai dengan kebutuhan nelayan di pantai Congot. Salah satu anggota kelompok nelayan di sana bercerita kepada Sunthi,“bagaimana mungkin mbak, kapal bahan fiberglass dipakai di pantai Selatan. Ombak yang besar jelas tidak mampu diterjang oleh kapal seperti ini.” Dan benar saat pagi hari pukul 7 pagi Sunthi melihat bagaimana sebuah kapal berusaha untuk berlayar namun belum lebih 100 meter dari bibir pantai, kapal itu terguling oleh ombak yang dasyat atau “kendem”. Beberapa nelayan lain membantu kapal tersebut untuk menepi kembali.

Itulah pikiran nakal Sunthi, tapi semoga itu tidak terjadi dengan bangunan penyelamatan penyu ini.

Sunthi mencoba berkeliling dekat bangunan tersebut, saat berjalan bertemulah Sunthi dengan pemuda yang tadi bertanya pada seorang ibu. Ia dan beberapa temannya sedang memotong tanaman pandan laut. Daun bagian bawah coba dipangkas sehingga batang dan akar terlihat setelah itu ditanam di tepi pantai.

pantai-samas2 (7) pantai-samas2 (8)

Di antara para pemuda ini ada seorang laki-laki dengan sepatu boat dan jas hujan yang compang-camping membantu mengambil pandan laut dengan sebuah parang yang diikatkan pada sebuah galah.

pantai-samas2 (9) pantai-samas2 (10)

Beberapa saat berikutnya bapak itu meminta salah satu pemuda itu untuk menggantikan tugasnya. “Ayo coba kamu gantian ambil pandannya.” Kata bapak tersebut sambil menyerahkan parang bergalah tersebut. Sambil mengawasi, ia tidak melepaskan perhatiannya kepada beberapa pemuda yang bertugas memotongi daun pandan laut yang sudah berhasil ia ambil. “Jangan semua akarnya dihilangkan ya nanti tidak bisa hidup.”tegurnya saat melihat semua daun dan akar habis dipotong.

Para pemuda tersebut ternyata adalah mahasiswa Duta Wacana Yogyakarta yang sedang berkegiatan menyelamatkan penyu. Sunthi mengamati kegiatan itu sambil meminta ijin untuk mengambil foto mereka, dan saat melihat hal tersebut bapak yang sejak tadi “mengajar” para pemuda itu menghampiri Sunthi. “Dari media mana mbak?” tanya bapak tersebut dengan sangat sopan. Dengan ringan Sunthi menjawab,”tidak dari media mana-mana pak, lagi jalan-jalan saja kok.” Dari obrolan pembuka singkat itu, bapak yang ternyata bernama Rujito itu bercerita panjang lebar tentang sejarah dirinya dari seorang “pemburu” penyu yang bertransformasi menjadi “penyelamat” penyu. Dengan berdiri santai Sunthi melanjutkan obrolan dengan pak Rujito.

Bagi para nelayan saat musim paceklik, maka penyu yang tertangkap jaring merupakan bagian dari “penyelamat perut” keluarga mereka. Penyu-penyu yang mereka dapat akan dimasak untuk mereka makan. “Dulu saya biasa makan penyu, tapi saat saya bertemu mbak Dewi, saya jadi sadar. Mbak Dewi seperti mbak begini, perawakannya kecil tapi kuat.

Saat pertama kali datang, dia mengajak saya menunjukkan tempat penyu bertelur. Tempat itu disebut pulau “jongor asu” oleh para nelayan. Dengan bersusah payah akhirnya kita sampai di sana, tapi yang terjadi mbak Dewi mabuk laut sampai muntah-muntah, terkencing-kencing di celana dan tak sadar. Karena kondisinya seperti itu ya saya ajak pulang. Ee….la setelah sampai rumah dan dia sadar malah menuduh saya tidak sampai kepulau itu. Ya saya bilang, gimana mbak Dewi tahu kalau udah sampai sana, wong mbak Dewi mabuk. Coba cium baju dan celana mbak Dewi. Pasti bau pesing. Mbak Dewi itu mabuk sampai kencing di celana.”cerita pak Rujito. Seperti cerita pak Rujito selanjutnya, di hari lain dia dan mbak Dewi pergi ke pulau “jongor asu”.

Itulah awal kisah pak Rujito di tahun 2000 yang akhirnya menyadarkannya untuk tidak melakukan pembunuhan terhadap penyu dan memakan telur-telur mereka. Sekalipun pak Rujito dan keluarganya tetap bergumul dengan kemiskinan setiap saat tapi ia tidak akan lagi menghabisi penyu. Perjuangannya terus berlanjut, dengan upaya sederhana. Awal ia bergelut dalam penyelamatan penyu, semua diupayakan sediri. Biaya untuk memberi makan penyu maupun tempat sederhana ia buat. “Buat saya ini adalah panggilan jiwa. Saya sadar kalau penyu dan telurnya terus diburu maka suatu saat habitat mereka akan musnah. Pertemuan saya dengan mbak dewi yang menyedarkan saya. Sampai saat ini yang ingin saya lalukan adalah berbagi ilmu yang saya miliki.”

Proses terus berjalan, dan pak Rujito mulai mengajak nelayan lain untuk juga menjaga penyu dan telurnya. Kelompok nelayan tersebut membentuk Forum Konservasi Penyu Bantul (FKPB) dan dukungan mulai datang yaitu dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan komunitas pencinta lingkungan hidup. “Tapi semuanya berjalan tak semudah itu mbak, kalau tidak ada uang tidak semua mau bergerak. Belum lagi jadi rebutan” ujar pak Rujito. “Rebutan gimana maksudnya pak?” selidik Sunthi. “Biasa mbak, kalau kelompok sudah terbentuk malah jadi rebutan beberapa instansi yang terkait. Tapi buat saya terserah mereka yang mau rebutan, saya tetap menyelamatkan penyu ada atau tidak ada uang.” Jawab pak Rujito.

Sosok pak Rujito mengingatkan saya pada apa yang disampaikan Pak Roem Topatimasang tentang pengorganisasian rakyat:

pantai-samas2 (11)

Karena sudah pukul 09.00 WIB, Sunthi segera beranjak berpamitan dan melanjutkan proses lain yaitu belajar pada pak Bambang Suwerda tentang Bank Sampah. Terima kasih pak Rujito, telah memberikan pembelajaran yang sangat berharga. Bertemu dengan “guru sejati” yang mentransformasi ilmu tanpa harus tersekat-sekat di ruang kelas, tanpa bayaran tapi tetap setia untuk terus berbagi ilmu. *****

 

 

7 Comments to "Selamat pagi, Samas (2)"

  1. J C  2 September, 2015 at 16:11

    Lihat-lihat yang ini sepertinya jauh lebih menarik ketimbang melihat pantai ngenes seperti yang di artikel sebelumnya…

  2. djasMerahputih  1 September, 2015 at 09:53

    Hadir mba Avy..
    Penyu yang lucu…
    Selalu ada kaum oportunis di setiap aliran dana..

  3. Dj. 813  1 September, 2015 at 03:00

    Tidak terasa, waktu berjalan dengan cepatnya .
    Tapi perjalanan waktu yang menyenangkan, boleh memotivasi sesama .
    Menghijaukan tanah yang tandus atau yang bersemak belukar menjadi tanah yang produktiv .

    Terimakasih dan salam

  4. Lani  31 August, 2015 at 23:08

    AL : mahalo

  5. james  31 August, 2015 at 11:09

    hadir Al, meski telat

    selamat pagi penyu

  6. Handoko Widagdo  31 August, 2015 at 09:26

    Senang rasanya melihat Sunthi yang dulu kecilnya aku gendong, sekarang sudah bergerak mengorganisir rakyat.

  7. Alvina VB  31 August, 2015 at 09:15

    Musti baca bagian 1 dulu ya…baru nyambung sama yg ini.
    Sekalian absenin trio amigos di KAM, mumpung lagi ada di tempat.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.