Penjual Sate pada Masa Kolonial Belanda

Joko Prayitno

 

Membicarakan kuliner Nusantara tak akan pernah habis karena bumi Nusantara ini begitu kaya akan budaya kuliner. Makanan dari berbagai hasil bumi Nusantara tersaji dalam berbagai aneka rasa, bentuk dan berbagai cara penyajian yang berbeda serta kekhasan masing-masing daerah. Budaya kuliner ini juga memiliki sejarah yang panjang.

penjual-sate

Model penjual sate di Jawa Timur 1919 (Koleksi: Tropen Museum Belanda TMnr_2441-1)

Model penjual sate di Jawa Timur 1919 (Koleksi: Tropen Museum Belanda TMnr_2441-1)

Menggambarkan aktivitas masyarakat dalam mengolah kuliner pada jaman kolonial memang agak sulit, terutama data-data yang berbentuk tulisan. Beberapa sumber foto masa kolonial dapat dijadikan gambaran bagaimana makanan terutama Sate telah menjadi kuliner yang digemari. Sate merupakan kuliner asli Indonesia yang terdiri dari daging yang ditusukkan ke sebuah tusukan dari bambu dan dilengkapi dengan bumbu sambal kacang maupun sambal kecap. Biasanya juga dimakan bersama dengan nasi ataupun lontong.

Seperti diungkapkan oleh Jennifer Brennan (1988) bahwa walaupun Thailand dan Malaysia mengklaim sate sebagai budaya kuliner mereka tetapi sate merupakan produk kuliner asli yang berasal dari Jawa. Sate berkembang bersamaan dengan masuknya kuliner kebab yang berasal dari India yang dibawa masuk oleh pedagang muslim pada abad ke-19. Hal ini memungkinkan penggunaan daging kambing sebagai bahan pengolahan sate selain daging ayam, anjing dan sapi.

Pada masa kolonial Belanda sate diperjualbelikan di pinggir-pinggir jalan dan pasar. Foto tahun 1870 menggambarkan pedagang sate yang sedang melayani pembeli di Klaten. Pikulannya membawa lontong, bumbu sate dan pedagang tersebut sedang membakar sate.

Pedagang sate di Klaten 1870 (Koleksi: Tropen Museum Belanda TMnr_60027242)

Pedagang sate di Klaten 1870 (Koleksi: Tropen Museum Belanda TMnr_60027242)

Foto lain pada masa kolonial menggambarkan pedagang sate wanita yang berjualan di sebuah pasar di Surabaya pada tahun 1930. Pedagang tersebut sedang membakar beberapa tusuk sate, di depannya terdapat peralatan dan bumbu pelengkap sate.

Penjual Sate di sebuah pasar Surabaya 1930 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Penjual Sate di sebuah pasar Surabaya 1930 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Pedagang lain yang sedang menjajakan sate dengan pikulan adalah foto yang diambil di sebuah jalanan kota Jogjakarta tahun 1939. Sate dibakar di atas sebuah tungku dan di sisi lain adalah tempat menaruh bumbu dan biasanya nasi ataupun lontong.

Penjual sate di Jogjakarta 1939 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Penjual sate di Jogjakarta 1939 (Koleksi: http://www.kitlv.nl)

Memang sate hingga sekarang masih menjadi makanan favorit masyarakat dan telah berkembang sedemikian rupa baik bahan, bumbu, maupun penyajiannya.

 

 

7 Comments to "Penjual Sate pada Masa Kolonial Belanda"

  1. djasMerahputih  2 September, 2015 at 22:55

    Hadir telat bang James…
    Sate…, sate…..!! jadi ingat Obama…

  2. J C  2 September, 2015 at 16:12

    Ngenes dan kasihan sekali yang di Kona…kok sampai merana ngono tho… di sini anytime nyate…

  3. Lani  2 September, 2015 at 09:59

    Wadoh……kejamnya sipentulis, jd ngileeeeeeer makan sate, ingat ktk msh kecil ada bakul sate langganan, ini sate ayam, dgn bumbu kacang dicampur dgn tempe wuenaaaaaaak bingiit! Mungkin penjualnya sdh meninggal……….

  4. Lani  2 September, 2015 at 09:58

    JAMES : mahalo hadir wlu telat………..

  5. Dj. 813  1 September, 2015 at 15:34

    Hhhhhhmmmmm . . .
    Belum juga sarapan, sudaha dikasih lihat sate . . .
    Jadi ngiler . . . Hahahahahah . . . ! ! !

    Terimakasih dan salam . . .
    Teeeeeeee . . . . ! ! !

  6. james  1 September, 2015 at 15:29

    hadir mengabsenin trio lainnya

    kagum juga yah sudah sekian lamanya pedagang Sate ini tidak pernah berubah bentuk Pikulannya, maksudnya masih eksis hingga hari ini, seperti tidak ada mode lainnya

  7. Handoko Widagdo  1 September, 2015 at 14:52

    Konon ada pula yang berpendapat bahwa sate berakar dari kuliner China. Sa (tiga) dan Te (daging), satu tusuk tiga potong daging yang dibakar.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.