Sentimen Perang dan Cinta

Abu Waswas

 

“Dengar – tidak ada perang yang akan mengakhiri semua perang.” – Haruki Murakami (Umibe no Kafuka).

Hubungan India dan Pakistan masih tetap seksi untuk digarap ke layar Bollywood. Dua bangsa serumpun yang pernah perang empat kali. Kali ini SKF (rumah produksi Salman Khan) bekerja sama dengan Kabir Khan Films (Kabir Khan; sutradara) yang didistribusikan oleh Eros International, menggarap cerita dengan ranah yang lebih humanis dan manis sampai Anda menangis. Bajrangi Bhaijaan.

bajrangi-bhaijaan

Di desa Sultanpur nan asri di Azad Kashmir, Pakistan, hiduplah Shahida (Harshaali Malhotra) gadis cilik 6 tahun yang tidak bisa bicara tapi belum bisa dikatakan bisu karena bisa mendengar. Ketika ayahnya mengangon domba di lereng gunung Shahida tergelincir ke jurang, untungnya dia tersangkut di batang pohon. Karena belum juga bisa bicara, ayahnya menyarankan ibunya agar membawa Shahida ke Delhi ke Nizamuddin Dargah, makam seorang wali.

Nasib tak dapat ditampik musibah tak bisa disergah. Shahida ketinggalan kereta api di perbatasan lantaran dia kepo sama anak domba yang meringkuk sendirian di luar kereta.

Shahida memang rada nakal tapi imut dan penurut. Suratan membawanya pada Pawan Kumar Chaturvedi (biasa disapa Bajrangi; Salman Khan) penari yang berperan sebagai Sri Hanoman. Bajrangi memberinya makan dan minum. Tapi Shahida (selanjutnya dipanggil Munni oleh Bajrangi) terus membuntutinya. Mau tak mau Bajrangi membawanya ke rumah Rasika (Kareena Kapoor Khan), calon istrinya.

Bukan tanpa masalah, bapaknya Rasika, Dayanand (Sharat Saxenaas), yang sangat anti Pakistan (di mana sebelumnya juga sudah mengultimatum Bajrangi agar sanggup beli rumah dalam enam bulan sebagai prasyarat nikah dengan Rasika) mengusir Munni dari rumahnya saat tahu Munni seorang Pakistan.

Ditolak oleh Kedutaan Pakistan sebab Munni tidak bawa passport, akhirnya Bajrangi mengambil jalan radikal. Menerobos perbatasan lewat terowongan. Yang cukup lucu adalah kejujuran Bajrangi yang naif, misal sudah masuk perbatasan dengan ilegal masih saja minta izin sama petugas. Kemulian dan kejujuran Bajrangi dan kelucuan Munni ketika main kucing-kucingan di Pakistan inilah yang jadi dinamika dan eskalasi emosi film yang pelan-pelan dan menusuk.

Jangan lupa kehadiran reporter Pakistan, Chand Nawab (Nawazuddin Siddiqui). Kariernya yang sedang menyedihkan berubah menjadi cemerlang karena mengikuti perjalanan Bajrangi-Munni dan merekamnya untuk diunggah ke media sosial. Videonya menggugah kesadaran massa dan kekuatannya (people power).

Bajrangi Bhaijaan (artian bebasnya Abang Bajrangi, panggilan akrab Pakistani dan Hindustani) menjadi semacam film renungan kembali tentang rasa kemanusiaan di antara memfosilnya dendam antar suku, golongan, bangsa, bahkan agama. Kita (generasi sesudah perang/konflik) hanyalah anak-anak kandung dari perselingkuhan antara cinta dan perang.

 

 

About Abu Waswas

Penulis lepas dengan ketertarikan khusus akan film. Tulisannya tersebar di banyak media sosial.

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Sentimen Perang dan Cinta"

  1. Abu Waswas  3 September, 2015 at 10:30

    Mas JC, wah tadinya aku juga gitu, film Bollywood mah ceritanya kayak sinetron dan cuma dibumbui tari dan nyanyi. Krn aku ngikutin perkembangan film Bollywood mereka berubah sekarang. Cerita lebih solid dan berani. Tari2 dan nyanyi mulai berkurang. Mantab deh.

    Betul tuh Bang Donald hihihi…

    Bagai air dan api ya Mbak Lani

  2. J C  2 September, 2015 at 16:13

    Hhhmmm…masih belum minat nonton film bollywood…

  3. Lani  2 September, 2015 at 09:54

    JAMES : mahalo……….perang dan cinta, dua kata yg berlawanan

  4. donald  1 September, 2015 at 20:14

    Dari gadis cilik kemudian kisah bermula… Shahida..

  5. Abu Waswas  1 September, 2015 at 16:18

    Halo, terima kasih Pak Dj, Mas James, dan Mas Handoko… ^_^

  6. Dj. 813  1 September, 2015 at 15:27

    Terimakasih untuk India dan Pakistan . . .
    Salam,

  7. james  1 September, 2015 at 15:24

    hadir sembari mengabsenkan kenthirs lainnya yang belom nongol, apa lagi berperang atau bercinta ?

  8. Handoko Widagdo  1 September, 2015 at 14:54

    Terima kasih Abu Waswas. Kemanusiaan sering terkikis oleh ideologi, agama dan kebangsaan.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.