[Di Ujung Samudra] Rumah Baru, Tetangga Baru

Liana Safitri

 

Pengantar

Di Ujung Samudra bukan merupakan sekuel Di Ujung Langit dan Di Ujung Dunia. Di Ujung Samudra adalah satu kisah yang berdiri sendiri, namun karakter tokoh dan latar belakang ceritanya masih memiliki hubungan dengan Di Ujung Langit dan Di Ujung Dunia. Pada kisah Di Ujung Dunia, tokoh Franklin diceritakan pulang ke Indonesia setelah menghadiri pesta pernikahan Lydia dan Tian Ya. Namun dalam versi Di Ujung Samudra, diceritakan bahwa Franklin yang masih menyimpan rasa cinta terhadap Lydia belum sanggup meninggalkan adik angkatnya tersebut. Franklin lalu menetap di Taiwan selama beberapa bulan hanya untuk mengawasi kehidupan baru Lydia. Franklin tidak menyangka jika keputusan itu akan mendekatkan dirinya dengan seorang gadis yang memiliki kehidupan sangat menyentuh. Maka kisah ini dibuka dengan hari-hari Franklin di Taiwan bersama tetangga sebelah, Fei Yang.

DI UJUNG SAMUDRA

“Yuanliang wo yijing ai shang ni…”

(原谅我已经爱上你)

Part 1

Rumah Baru, Tetangga Baru

 

Jika seekor burung tidak mungkin terbang tanpa sayap dan harus memiliki sepasang sayap untuk bisa terbang, semestinya setiap manusia yang terlahir ke dunia telah diciptakan bersama pasangannya.

LANGIT dan laut seakan menjadi satu tanpa batas oleh warna biru yang sama. Berdiri di tepi pantai sambil memandang ke sekeliling membuatnya semakin merasa kesepian. Entah berapa lama Franklin berada di sana. Sejak mulai datang dan tempat itu masih dipenuhi pengunjung, sampai sekarang hanya tinggal ia seorang. Franklin tidak mengajak siapa pun bukan karena tak ada yang bersedia. Tapi Franklin memang sedang ingin menyendiri. Lagi pula satu-satunya orang yang diinginkan Franklin untuk menemani, kini tidak mungkin pergi bersamanya lagi.

samudra

Lydia sudah menikah. Kenyataan pahit yang sangat sulit diterima Franklin. Meski bibirnya sudah mengucapkan persetujuan, membelikan sepasang cincin sebagai hadiah, bahkan menyerahkan mempelai wanita kepada mempelai pria dengan tangannya sendiri, dan menjadi walinya. Jika saja Franklin memiliki keberanian lebih besar dan sedikit berkeras hati, mungkin dirinyalah yang menjadi suami Lydia saat ini.

Kakak, kau di mana? Sudah hampir malam, kenapa belum pulang?

Franklin menarik napas panjang membaca pesan di layar ponsel. Lydia tetap tidak berubah. Mungkin Lydia tidak menyadari jika hubungan mereka kini tidak bisa sebebas dulu, dan mungkin Lydia tidak tahu betapa tersiksanya Franklin ketika berada di rumah keluarga Li. Berlama-lama menjadi tamu di tempat orang membuat Franklin tidak enak hati. Belum lagi harus menyaksikan kemesraan Lydia dan Tian Ya. Padahal ia masih lama di Taiwan. Jadi satu-satunya jalan keluar adalah… pindah!

Di dalam bus Franklin memikirkan di mana kira-kira ia bisa tinggal dengan tenang selama di Taiwan. Kalau menginap di hotel sampai berbulan-bulan biaya hidupnya pasti membengkak. Sedang melamun seperti itu tiba-tiba seseorang menepuk bahu Franklin. Franklin menoleh.

Gadis yang duduk di belakangnya berseru terkejut, “Franklin!”

“Fei Yang!” Franklin harus mengingat-ingat sejenak sebelum mengenali siapa orang yang menyapanya.

“Boleh aku duduk di situ?” Fei Yang melirik sebelah tempat duduk Franklin kosong. Ia bertanya menggunakan bahasa Indonesia yang cukup jelas.

“Ya.”

“Kau dari mana?” tanya Fei Yang lagi.

“Jalan-jalan.”

“Aku baru saja menengok paman dan bibi, siapa sangka kita naik bus yang sama. Kenapa pergi sendiri? Oh… aku tahu! Kau kan baru datang ke Taiwan, jadi belum punya banyak teman. Lydia dan Tian Ya juga keterlaluan! Meski pengantin baru seharusnya mereka tidak boleh menelantarkan tamu.”

Franklin tidak berkomentar.

“Setelah ini kau mau ke mana?”

“Tidak ke mana-mana.”

“Kalau begitu jangan langsung pulang. Kita minum kopi di kafe Xing Wang, ya?”

Franklin mengangguk. Sepertinya Fei Yang senang sekali bertemu Franklin, sedangkan Franklin tampak tidak peduli.

Pengunjung kafe Xing Wang saat itu tidak banyak. Hanya ada sepasang pria dan wanita di dekat pintu masuk, dan tiga orang pria di sudut ruangan. Fei Yang dan Franklin memilih meja yang agak jauh dari mereka. Setelah mengantarkan pesanan Franklin dan Fei Yang, Xing Wang melayani pengunjung lain. Ia sangat sibuk sampai tidak bisa meluangkan waktu untuk mengobrol.

“Sampai kapan kau berada di Taiwan?”

Franklin mengaduk-aduk kopinya agak lama. “Beberapa bulan lagi. Ada beberapa urusan yang masih harus diselesaikan.”

“Urusan apa?”

“Urusan pekerjaan!”

Urusan pekerjaan itu adalah salah satunya, kemudian membawaku pada masalah lain yang lebih rumit. Mencari adik perempuan, membereskan masalah cinta adik perempuan, dan menikahkan adik perempuan!

“Jadi sekarang kau tinggal di rumah Tian Ya?” Sejak awal memang Fei Yang yang lebih banyak bertanya, Franklin hanya menjawab seperlunya.

“Aku ingin menyewa apartemen agar tidak merepotkan keluarga Li lebih lama lagi,” ujar Franklin terus terang.

Fei Yang mengibaskan tangan, “Ah, aku sangat mengenal Tian Ya dan orangtuanya. Mereka itu baik sekali. Jadi kau tenang saja, tidak perlu sungkan.”

“Tidak, tidak! Aku tetap harus mencari tempat tinggal lain. Tinggal sendirian lebih bebas.”

Mata Fei Yang berputar, sebuah ide berkelebat di benaknya. “Apa kau keberatan kalau kita menjadi tetangga?”

“Maksudmu?”

 

Dua rumah itu berdiri berdampingan dengan model dan warna cat yang sama persis. Salah satu sisi dinding dan pagar halamannya bahkan menjadi satu. Bangunannya tidak besar, tapi lebih dari cukup jika untuk ditinggali seorang diri.

Bibi Ke sang pemilik rumah, memberikan kunci pada Franklin lalu berbicara pada Fei Yang. “Penyewa sebelumnya baru pindah sepuluh hari lalu. Aku belum sempat bersih-bersih. Tampaknya kau harus melakukan itu sendiri.”

“Tidak apa-apa, Bibi! Begini saja sudah cukup, yang penting ada tempat tinggal,” Fei Yang mewakili Franklin menjawab.

Franklin tidak mau tahu apa yang dibicarakan Fei Yang dengan pemilik rumah. Seandainya sampai ditipu pun mungkin ia tidak peduli! Ia benar-benar tidak punya waktu belajar bahasa Mandarin. Bahasa Inggris sudah cukup membuatnya merasa aman.

“Aku tinggal di sebelahmu,” Fei Yang menunjuk rumah kembar yang letaknya bersebelahan dengan rumah yang disewa Franklin. “Kalau kau membutuhkan bantuan panggil saja aku. Tapi nanti jika aku mengalami kesulitan kau juga harus membantuku, ya! Sesama tetangga harus saling membantu.”

Setelah beres-beres selama beberapa jam, Franklin mengempaskan tubuhnya yang kelelahan di atas kursi kayu. Barang-barang yang mengisi rumah itu tidak banyak. Sebenarnya akan lebih praktis kalau Franklin menyewa satu kamar saja, lagi pula ia tidak lama berada di Taiwan. Tapi Franklin ingin pindah dari rumah keluarga Li secepatnya, dan rumah ini yang tersedia. Masih terbayang bagaimana reaksi Lydia ketika mengetahui Franklin akan pindah tiga hari lalu.

“Kenapa harus pindah? Bukankah itu akan merepotkan dan menambah pengeluaran? Kakak tinggal di sini saja sampai urusan di Taiwan selesai!”

“Jadi tidak apa-apa kalau aku terus merepotkan keluarga Li? Menikmati makan, minum, cuci pakaian, listrik, air, dan layanan bersih-bersih gratis selama tinggal di rumah ini?” alis Franklin berkerut.

“Aku yang akan memasak dan membuatkan minum untukmu, kalau kau merasa sungkan dilayani pembantu! Baju yang kaupakai memangnya seberapa banyak, sih? Tinggal dimasukkan ke mesin cuci saja! Listrik? Air? Sejak kapan kau jadi begitu perhitungan? Sebelum aku menikah dengan Tian Ya kita berdua tinggal di hotel selama sebulan dan kau tidak pernah mengeluhkan berapa jumlah tagihan yang harus dibayar! Lagi pula kau lebih sering berada di luar rumah!”

“Apa kau tidak mengerti apa perbedaannya? Di hotel kita membayar! Asalkan punya uang, ingin mendapatkan pelayanan semewah apa pun tidak masalah! Tapi di sini… sebaik apa pun mereka memperlakukan aku, Franklin tetap hanyalah seorang tamu. Sedangkan Lydia adalah istri Li Tian Ya, anggota keluarga Li. Kau tinggal di rumahmu sendiri sekarang. Paham?”

Bibir Lydia langsung terkatup rapat. Memang benar apa yang dikatakan Franklin.

Franklin melanjutkan dengan suara merendah, “Dulu setelah pesta pernikahan berakhir, kau membujukku menunda kepulangan ke Indonesia. Setelah masalah pekerjaan berhasil menahanku di Taiwan lebih lama, kau malah memintaku tinggal di rumah keluarga Li. Jangan terlalu tamak, Lydia! Aku tidak punya alasan untuk yang satu ini. Aku bukan siapa-siapa lagi.”

Franklin memang bukan siapa-siapa lagi bagi Lydia. Tian Ya-lah yang lebih penting. Sepertinya hanya Franklin yang menyadari hal ini. Lydia mungkin beranggapan bahwa setelah menikah dirinya masih bisa bermanja-manja dengan kakak. Masalahnya Franklin bukan kakak asli. Hanya mantan suami. Itu pun mantan suami imitasi!

Tepat pada saat itu Lydia menelepon.

“Halo! Ya, Lydia… Besok Minggu? Apa? Melihat rumah baru kalian? Baiklah, akan aku usahakan!”

Franklin memutus sambungan telepon dengan perasaan semakin kacau. Jadi pengantin baru itu sangat bahagia, ya? Hidup baru, status baru, rumah baru… Sedangkan dirinya? Franklin melongok ke luar pintu dan melihat rumah sebelah. Hanya tetangga baru.

 

Selain Franklin, Lydia juga menempati rumah baru bersama suaminya, Tian Ya. Walaupun kedua mertua Lydia sangat baik, sepertinya setiap pasangan yang sudah menikah lebih suka tinggal terpisah dari orangtua. Lydia dan Tian Ya mengundang Fei Yang dan Franklin berkunjung ke rumah baru mereka.

Franklin dan Fei Yang janji bertemu di halte bus dekat rumah pada sore hari, setelah Fei Yang pulang kerja. Tapi Franklin malah terlambat lima belas menit dan pemuda itu tidak menyadari.

“Oh… kau sudah datang?”

Fei Yang membelalakkan mata mendengar kalimat pertama yang diucapkan Franklin. “Apa? Kau yang terlambat! Aku menunggumu sejak tadi!”

“Benarkah?” Franklin tidak percaya. Ia melihat jam tangan. Jam yang sebenarnya sudah tidak layak dikenakan. Modelnya sangat ketinggalan zaman dan warnanya memudar. “Masa rusak lagi?”

Fei Yang keheranan ketika melihat Franklin memakai jam tangan itu di awal perjumpaan mereka. Franklin adalah seorang bos. Meski hanya mengurus perusahaan milik keluarga tapi ia sangat hebat. Sanggup menjalin kerjasama dengan banyak orang, dari Indonesia sampai ke Taiwan. Masa Franklin tidak mampu membeli jam tangan baru? Apa Franklin juga memakai jam tangan jelek itu ketika bertemu dengan rekan bisnis dari berbagai negara? Fei Yang tidak tahu kalau jam tangan tersebut sangat berharga bagi Franklin. Jam tangan itu menyimpan kenangan selama sepuluh tahun…

Franklin dan Fei Yang terpaksa harus menunggu bus berikutnya. Ini adalah untuk kedua kalinya Franklin dan Fei Yang naik bus bersama. Tapi karena masih merasa kesal akibat keterlambatan Franklin, Fei Yang tidak mengajak pemuda itu berbicara selama di dalam bus. Franklin pun sibuk dengan pikirannya sendiri. Turun dari bus, Franklin dan Fei Yang berjalan kaki mencari rumah Lydia dan Tian Ya. Franklin yang baru tiba di Taiwan tidak mengenal jalan. Ia juga tidak bisa membaca petunjuk atau papan nama berbahasa Mandarin. Jadi Franklin hanya mengikuti ke mana Fei Yang melangkah.

Fei Yang memperhatikan bangunan di kanan kiri mereka. Setelah beberapa ratus meter Fei Yang berhenti di depan sebuah rumah besar dan mewah. “Kita sudah sampai…”

“Tidak salah, ya? Rumah mereka di sini?” Franklin bertanya memastikan.

“Tidak mungkin salah!”

Tanpa memedulikan Franklin yang masih ragu, Fei Yang mendahuluinya menekan bel pintu gerbang. Rupanya mereka berdua sudah dinantikan kedatangannya. Tian Ya muncul membukakan pintu gerbang sambil melempar senyum pada Franklin dan Fei Yang. Barulah kemudian Franklin menyusul masuk. Fei Yang menyeberangi halaman berumput yang membentang luas bagai permadani. Rumah Tian Ya lebih besar daripada rumah kedua orangtuanya.

“Di mana Nyonya Rumah?”

Tian Ya menjawab sambil bercanda, “Sedang menyiapkan penyambutan untuk tamu agung!”

“Kami? Tamu agung? Oh… kalau ternyata penyambutan yang kalian berikan tidak sesuai dengan harapan, berarti kami bisa mengajukan protes, ya!” Fei Yang tertawa.

Mereka menaiki beberapa anak tangga menuju beranda karena bangunan rumah dibuat agak tinggi. Tian Ya mempersilakan Franklin dan Fei Yang duduk, sementara ia memanggil Lydia.

Rumah itu didominasi warna biru dan putih. Selain dinding berwarna biru, pada sisi lain ada dinding kaca jernih dan lebar yang memantulkan pemandangan di luar rumah. Suasana di dalam rumah terang dan hangat karena menyerap banyak cahaya matahari. Seluruh perabotan berwarna biru putih. Sofa biru, taplak meja putih, tirai jendela biru dengan renda-renda putih, vas bunga biru, bunga mawar putih, rak buku biru, lemari pajangan putih, lukisan pemandangan alam hamparan laut dan langit biru dengan sekumpulan awan putih…

“Kakak! Fei Yang!” Lydia tampat sangat gembira melihat Franklin dan Fei Yang sudah datang.

Franklin langsung menoleh ke arah datangnya suara. Sejak tadi ia diam bukan karena memperhatikan rumah baru, tapi menahan hati yang berdebar-debar karena akan bertemu Lydia.

Belum berubah… Masih saja Kakak yang dipanggil di urutan pertama…

“Lydia, apa kabar?” Franklin merasa sapaannya terlalu formal. Tapi apa boleh buat? Mereka berdua memang tidak bisa berbicara dengan bebas seperti dulu lagi.

“Lydia! Apakah kau yang mengatur semua dekorasi rumah ini?”

“Ya, tentu saja dibantu Tian Ya.”

“Wah… indah sekali! Rasanya seperti berjalan-jalan di atas langit!” Lalu Fei Yang berkata tak mau kalah, “Kalau aku menikah dan punya rumah sendiri, aku pasti akan membuat rumahku lebih indah daripada ini!”

“Coba saja! Aku akan lihat apakah kau dan suamimu nanti bisa menandingi kami.”

“Kukira membangun rumah membutuhkan biaya tidak sedikit! Kau pasti sudah mempersiapkannya sejak sebelum menikah!” Fei Yang mengelilingi ruangan dan memperhatikan setiap benda yang ada.

“Mmm… begitulah!”

“Biru dan putih, warna kesukaanmu atau Lydia?”

“Aku suka warna biru, Lydia suka warna putih. Ah, bukan! Sebenarnya Lydia suka warna pink, tapi jika warna itu digunakan untuk dekorasi aku merasa sepertinya rumah kami akan jadi rumah boneka! Jadi setelah berunding kami sepakat memilih warna biru dan putih.”

“Oh…” Fei Yang menatap Tian Ya dan bertanya menggoda, “Bagaimana kalau waktu itu kau tidak jadi menikah dengan Lydia tapi menikah denganku? Apa kau akan mengganti warna dekorasi rumah ini sesuai keinginanku?” Fei Yang biasa berbicara terus terang dan apa adanya. Gadis itu tidak tahu kalau kalimatnya barusan membuat Lydia merasa tidak nyaman serta membuat angan-angan Franklin melambung.

Seandainya Tian Ya menikah dengan Fei Yang, maka aku tidak akan “menceraikan” Lydia dan bisa membawanya pulang ke Indonesia!

Tapi Tian Ya menanggapi pertanyaan Fei Yang dengan santai. “Warna langit dengan cuaca yang terbaik adalah biru bersama awan putih. Tidak mungkin diganti dengan warna lain. Karena sejak awal aku yakin akan menikahi Lydia, maka aku juga tidak pernah memikirkan warna lain kecuali warna kesukaannya.”

Lydia tidak ingin pembicaraan tentang rumah dan warna jadi melebar ke mana-mana. Ia buru-buru menyela, “Aku sudah memasak beberapa hidangan, sebaiknya kita segera makan. Jangan mengobrol terus.”

“Wah, aku ingin mencoba masakan Lydia.”

“Aku baru belajar, mungkin rasanya agak aneh. Jadi jangan terlalu bersemangat,” ujar Lydia malu.

Di maja makan Franklin menyantap makanan tanpa banyak bicara.

“Kakak, bagaimana masakanku?” tanya Lydia.

“Enak.”

Lydia tidak percaya begitu saja. “Ah, Kakak… Aku tahu kau hanya ingin menyenangkanku. Dulu aku menggoreng telur sampai hangus pun kau bilang enak.”

“Lydia sedang belajar memasak. Setiap kali selesai membuat sesuatu dia akan menyuruhku mencobanya dan betanya, ‘Enak tidak?’ Masakan yang terhidang di sini sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya yang hambar tanpa rasa,” Tian Ya menimpali.

“Kenapa kau menceritakannya?” pekik Lydia.

Tian Ya berkata tulus, “Tidak apa-apa! Aku hanya ingin memberi tahu mereka betapa kerasnya kau berusaha memasak untukku. Setidaknya aku harus berterima kasih.”

Franklin melihat bagaimana Tian Ya tersenyum pada Lydia, Lydia menatap Tian Ya dengan mata berbinar… Mereka sangat bahagia! Jadi mengapa ia belum bisa melepaskan Lydia? Seharusnya ia ikut tersenyum bersama mereka. Tapi rasanya sungguh sulit.

“Katanya Kakak menyewa rumah di sebelah rumah Fei Yang, ya?” tanya Lydia.

Sebelum Franklin menjawab, Fei Yang sudah menyahut bersemangat, “Benar. Jadi lain kali kalian harus datang berkunjung ke rumah Franklin. Walau bukan rumah sendiri, tapi menyenangkan sekali kan, kalau kita bisa berkumpul dalam suasana baru?”

“Kalau begitu aku dan Tian Ya menunggu undangan dari Kakak.”

“Baiklah,” kata Franklin datar.

Tiba-tiba Fei Yang teringat sesuatu. Ada yang ingin dirundingkannya dengan Lydia. “Lydia, apa kau masih ke butik?”

“Tentu saja! Daripada diam di rumah lebih baik membantu mama.”

“Setelah itu kau tidak ada kegiatan lain, kan?”

“Kenapa?” tanya Lydia.

“Setelah pulang dari butik, kau bisa ke rumahku?”

“Untuk apa?”

“Menemaniku belajar bahasa Indonesia!”

“Bukankah kau mengatakan sedang mencoba belajar bahasa Indonesia sendiri? Menurutku kau sudah berhasil karena bisa memahami percakapan kami. Kalau ada orang yang perlu belajar seharusnya adalah Kakak!” Kini Lydia melempar pandangan ke arah Franklin. “Dia sudah beberapa bulan di Taiwan tapi tidak mengerti bahasa Mandarin sama sekali.”

“Aku sibuk!” Franklin berkilah. Ia tidak berminat belajar bahasa Mandarin, sejujurnya malah agak sentimen dengan bahasa itu.

Karena bahasa Mandarin-lah yang menyatukan Lydia dan Tian Ya!

“Itu bukan alasan! Lihat! Setelah beteman denganmu Fei Yang jadi ingin belajar bahasa Indonesia, lalu kenapa Kakak masih tidak mau belajar bahasa Mandarin?” ujar Lydia kesal.

Fei Yang kembali membujuk Lydia. “Tapi masih banyak kata-kata dan kalimat yang tidak aku mengerti jika kebetulan bertemu dengan orang yang berbicara dengan bahasa Indonesia di jalan. Aku tetap membutuhkan seseorang yang bisa mendampingiku dalam belajar. Ayolah Lydia! Kau mau membantu, kan? Tentu akan ada bayarannya!”

“Aku tidak memikirkan soal bayaran!” Lydia agak tersinggung, kemudian menatap Fei Yang dan Franklin bergantian. “Daripada aku repot-repot datang ke rumahmu, lebih baik Kakak saja yang mengajarimu bahasa Indonesia. Setelah itu kau mengajari dia bahasa Mandarin. Itu sama-sama menguntungkan!”

Kali ini Franklin bereaksi cepat, langsung menolak mentah-mentah, “Aku tidak mau! Kaupikir aku tidak punya pekerjaan? Fei Yang meminta kau yang mengajarinya, jangan menunjukku!”

Tian Ya berusaha menengahi. “Sudahlah, Lydia! Tidak ada salahnya kau mengajari Fei Yang bahasa Indonesia. Lagi pula kalau perempuan dengan perempuan akan lebih leluasa. Kalian bisa atur waktunya.”

Perdebatan kecil tersebut akhirnya usai.

 

Sore itu Lydia datang ke rumah Fei Yang sambil membawa setumpuk buku. Franklin yang sedang menyapu halaman langsung menghentikan aktivitas. Ia menjulurkan leher ke rumah sebelah.

“Lydia! Kau datang kemari sendirian?”

Senyum Lydia mengembang begitu melihat Franklin. “Kakak! Mulai hari ini aku akan menemani Fei Yang belajar bahasa Indonesia.”

“Oh…” hanya itu suara yang keluar dari bibir Franklin.

Mendengar suara orang lain di depan rumah, Fei Yang membuka pintu. “Kau sudah datang, rupanya! Masuklah! Bagaimana kalau kita belajar di ruang tamu?”

“Terserah kau!”

“Franklin, apa kau mau membantu Lydia menjadi guruku?” tanya Fei Yang bercanda.

“Tidak! Kalian belajar berdua saja.” Franklin langsung masuk rumah dan menutup pintu.

Fei Yang menatap Franklin sambil mengerutkan dahi. “Kakakmu orangnya sangat dingin, ya? Sedikit bicara, agak susah didekati. Dia juga tidak pedulian.”

Lydia tertawa. “Kakakku memang seperti itu kalau dengan orang yang baru dikenal. Tapi dia baik! Nanti setelah sering bertemu lama-lama juga akrab. Ayo kita mulai pelajarannya!”

Fei Yang dan Lydia duduk di lantai ruang tamu menghadap meja.

“Buku apa yang kaubawa?”

“Beberapa novel dan majalah berbahasa Indonesia. Ini bisa digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemajuanmu menguasai bahasa Indonesia. Jadi bukan hanya sekedar kalimat-kalimat sapaan dan percakapan sehari-hari.” Lydia mendorong buku-buku tersebut ke hadapan Fei Yang.

Fei Yang menyahut senang, “Bagus sekali! Pelajaran kita akan sangat mengasyikkan!”

Di rumah sebelah samar-samar Franklin dapat mendengar percakapan Lydia dan Fei Yang. Dirinya terusik. Pemuda itu bangkit dan membuka lemari, mencari sesuatu. Dari dalam tas yang agak berdebu Franklin mengeluarkan setumpuk buku dan CD pelajaran bahasa Mandarin. Buku-buku itu dulu diberikan James pada Franklin sebelum ia berangkat ke Taiwan. Walau Franklin selalu menolak belajar bahasa Mandarin dengan alasan “Repot! Sibuk! Tidak punya waktu!” dan lain-lain, James tetap memaksa Franklin membawanya. “Untuk berjaga-jaga.” Sampai beberapa bulan tinggal di Taiwan, Franklin hanya menyimpan buku-buku pelajaran bahasa Mandarin pemberian James, sama sekali tidak menyentuhnya.

Sepertinya kali ini mau tidak mau Franklin harus mulai mempelajari buku-buku tersebut dari bagian paling awal. Aih… baru melihat tumpukan buku yang banyak dan tebal-tebal saja sudah membuat kepala Franklin berputar-putar! Ia juga tidak tahu apakah buku-buku ini efektif untuk belajar atau tidak, ditambah lagi ia agak malas. Kalau memang tidak bisa mungkin Franklin harus jalan-jalan keliling kota mencari orang Indonesia yang bisa menjadi guru bahasa Mandarin dadakan!

Franklin sadar jika dirinya belajar bahasa Mandarin bukan karena memang tertarik mempelajarinya. Juga bukan karena jatuh hati pada orang Taiwan seperti Lydia. Tapi karena Franklin benar-benar sendirian di tempat asing ini. Lydia tidak mungkin seperti dulu, menemani Franklin pergi ke sana kemari dan menjadi penerjemah bahasa Mandarin, atau guru bahasa Mandarin gratis. Bisa-bisa Tian Ya mengamuk! Franklin sempat menyesal karena pernah menolak tawaran belajar bahasa Mandarin sebelum Lydia menikah. Dan jika Fei Yang meminta tolong pada Lydia untuk mengajari bahasa Indonesia, Franklin tidak akan mau meminta tolong pada Tian Ya untuk mengajarinya bahasa Mandarin juga. Hubungan Franklin dengan Tian Ya tidak seperti Lydia dengan Fei Yang.

Atau harus mengikuti saran Lydia? Franklin mengajari Fei Yang bahasa Indonesia, lalu Fei Yang mengajari Franklin bahasa Mandarin? Franklin menggelengkan kepala. Tidak! Tidak! Ide gila! Ia harus menjaga jarak dari Fei Yang agar jangan sampai ada lagi masalah rumit antara orang Indonesia dengan orang Taiwan!

Dua kali seminggu Lydia datang ke rumah Fei Yang untuk mengajar bahasa Indonesia. Selama pelajaran bahasa Indonesia berlangsung Franklin mengurung diri di dalam rumah. Franklin tidak mau melihat Lydia, apalagi berbicara dengannya. Franklin belum bisa menghilangkan rasa cinta pada wanita itu. Berjumpa dengan Lydia hanya akan membuatnya semakin terluka. Ia tidak suka sesuatu yang diinginkan tapi tak dapat dimiliki, diperlihatkan di depan mata. Maka Franklin hanya duduk diam mendengarkan suara Lydia menembus dinding rumah sebelah sampai ke kamarnya. Dengan demikian kerinduan pada Lydia sedikit terobati.

Tapi suatu saat, pada hari dan jam yang sama di mana biasanya berlangsung pelajaran bahasa Indonesia, Franklin tidak mendengar suara Lydia dari rumah Fei Yang. Terlalu tenang sampai terasa janggal. Franklin tak dapat menahan diri untuk ke luar ke halaman. Ia menjulurkan leher melewati dinding pagar yang menjadi satu dengan dinding rumah Fei Yang. Franklin sangat terkejut melihat Lydia berdiri di depan pintu rumah Fei Yang.

“Lydia! Kenapa tidak masuk?”

“Kakak!” Lydia menatap pintu rumah Fei Yang yang tertutup rapat. “Aku sudah menekan bel berkali-kali tapi Fei Yang tidak keluar.”

“Mungkin Fei Yang pergi.” Tiba-tiba Franklin merasakan titik-titik air jatuh menimpa wajahnya. “Hujan! Ayo Lydia, ke rumahku saja!”

Lydia keluar dari halaman rumah Fei Yang kemudian berjalan memasuki halaman rumah Franklin. Tak lama setelah ia berada di dalam ruang tamu rumah Franklin, hujan gerimis berubah menjadi hujan lebat.

“Sudah berapa lama kau menunggu di luar?”

“Setengah jam.”

“Setengah jam!” Mata Franklin melotot. “Kenapa tidak menelepon Fei Yang dan mengatakan kalau sudah sampai di rumahnya?”

“Ponselku ketinggalan di rumah!” Lydia membela diri.

“Lalu kenapa kau tidak mengetuk pintu rumahku? Kau kan bisa menunggu di dalam! Untung aku keluar dan melihatmu!” Franklin semakin heran.

Kau masih seperti dulu, sangat perhatian…

“Akan kuberi tahu Fei Yang kalau kau ada di rumahku.” Franklin mencoba menghubungi Fei Yang menggunakan ponselnya. “Tidak aktif…”

“Kalau begitu… aku pulang saja, Kak!” Lydia bangkit dari kursi bermaksud akan pergi, tetapi Franklin memegang pergelangan tangannya.

“Masih hujan!”

Lydia kembali duduk di samping Franklin. Tidak tahu kenapa suasana di antara mereka berubah menjadi canggung. Franklin paling merasakan perubahan tersebut dan ini membuatnya sedih. Kenapa? Apakah akhirnya Lydia menyadari posisinya sebagai wanita yang sudah menikah dan menganggap Franklin sebagai orang lain?

“Rumahmu bagus…”

Franklin menimpali ringan, “Rumahmu lebih bagus daripada rumahku!”

Lydia terdiam menyadari kata-katanya yang konyol.

“Apakah Tian Ya baik padamu?” Franklin menatap Lydia dalam-dalam, membuat wanita itu salah tingkah.

“Mmm… tentu saja! Baik, sangat baik! Kenapa Kakak bertanya seperti itu?”

“Syukurlah kalau dia baik padamu! Aku ikut senang…”

“Kakak merasa nyaman tinggal di sini?”

“Ya. Suasananya tidak terlalu ramai, jadi aku bisa bekerja tanpa gangguan. Bibi pemilik rumah ini, meski kami tidak bisa berkomunikasi secara langsung, juga sangat baik. Aku sangat berterima kasih pada Fei Yang karena dia sudah mencarikan rumah ini untukku…”

Lydia tidak memperhatikan kalimat-kalimat yang diucapkan Franklin karena tiba-tiba merasa mual. Ia memegangi perut sambil meringis.

“Kenapa?”

“Aku mau…”

Tanpa meneruskan kalimatnya, Lydia berlari ke kamar mandi dan menutup pintu. Terdengarlah suara “hueekkk” berkali-kali. Franklin meneriaki Lydia dari luar, “Lydia, ada apa? Lydia!”

Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka. Lydia keluar dengan wajah pucat.

“Kau muntah-muntah?” tanya Franklin cemas.

Lydia mengangguk lemas.

“Pasti kau masuk angin karena terlalu lama berada di luar rumah!” Franklin membantu Lydia duduk di kursi kemudian pergi ke dapur.

“Kau harus makan sesuatu…” Franklin membuka kulkas mencari-cari bahan makanan. “Aduh… tidak ada apa-apa! Beras juga habis! Sebaiknya minum teh hangat dulu…” Lalu lagi-lagi terdengar seruan kesal, “Ya ampun! Termosnya kosong!”

“Tidak usah repot-repot, Kak! Aku baik-baik saja…”

Tidak usah repot-repot! Sejak kapan kau takut membuat kakakmu repot?

Franklin memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Tak lama kemudian ia kembali ke ruang tamu. “Aku sedang merebus air untuk membuat teh. Tunggu saja, tidak akan lama.”

Lydia menyandarkan kepala di sandaran kursi. Franklin semakin khawatir melihat Lydia seperti ini. Ia ingin berkata, Bermalam di sini saja, tidurlah di kamar Kakak! Tapi kalimat itu hanya berhenti di tenggorokan.

“Kalau pergi di tengah hujan lebat begini, kau akan semakin kena angin, semakin sakit. Nanti saja setelah hujan reda, aku akan mengantarmu pulang naik taksi. Aku yang akan berbicara pada Tian Ya…” Franklin memahami kegelisahan Lydia. Tentu saja, Lydia takut Tian Ya salah paham.

Lydia tidak berkata apa-apa. Tadi pagi semenjak bangun tidur, ia sudah merasa tidak enak badan. Tapi Lydia memaksakan diri berangkat ke butik kemudian langsung ke rumah Fei Yang. Tidak bertemu dengan orangnya, malah harus berdiri di depan pintu lama sekali di tengah udara dingin.

Franklin menepuk dahi, tiba-tiba teringat sesuatu. “Oya, aku masih menyimpan dua bungkus mi instan, apa kau mau? Kakak buatkan, ya?”

“Tidak… tidak… aku tidak ingin makan apa-apa…”

Franklin melirik jam dinding. Sepuluh lewat lima belas menit. “Tapi ini sudah lewat jam makan malam, kau tidak boleh membiarkan perutmu kosong…”

Bel berbunyi. Franklin pergi membukakan pintu, tapi ternyata suara bel itu dari rumah sebelah. Bukan hanya model serta warna cat yang sama, bahkan bunyi bel pun sama. Pemuda itu berdecak. Kalau begini akan sangat mengganggu, suatu saat belnya harus diganti.

Franklin berteriak pada tamu yang berdiri di depan pintu rumah Fei Yang, “Orangnya tidak ada di rumah!”

Tamu itu berbalik menghadap Franklin.

“Tian Ya!” Franklin terkesiap.

“Franklin!” Walau sudah diberi tahu kalau Franklin menyewa rumah di sebelah rumah Fei Yang, tapi baru kali ini Tian Ya melihat Franklin di rumah tersebut.

Lydia mengira orang yang menekan bel adalah tamu Franklin. Ia heran mengapa Franklin tidak menyuruh tamunya masuk. Lydia pergi ke depan pintu dan bertanya, “Siapa yang datang, Kak?”

Melihat orang yang keluar dari rumah Franklin, Tian Ya berseru lebih keras, “Lydia!”

 

 

7 Comments to "[Di Ujung Samudra] Rumah Baru, Tetangga Baru"

  1. Alvina VB  6 September, 2015 at 09:47

    Ternyata ada sequel cerita si Tian Ya-Lidia-Franklin…lanjotttt….jangan sebulan lagi baru muncul lanjutannya ya…he…he…

  2. Liana  3 September, 2015 at 07:21

    Ya, karena membuat cerita seperti ini perlu waktu lama. Tunggu lengkap jadi buku? Bukunya sudah jadi, tapi untuk sementara masih dalam bentuk jilidan fotokopi untuk arsip pribadi. Hehe…

  3. Lani  3 September, 2015 at 01:08

    LIANA : akhirnya cerbung mu mencungul lagi……….lanjooooooot………

  4. Lani  3 September, 2015 at 01:08

    JAMES : mahalo….telaaaaaaaaat lagi tp hadir

  5. Handoko Widagdo  2 September, 2015 at 17:42

    Tunggu lengkap jadi buku.

  6. james  2 September, 2015 at 16:36

    hadir asala tidak di ujung tanduk saja

    ngabsenin kenthirs lainnya

  7. J C  2 September, 2015 at 16:20

    Hoooorrreeeee…Tian Ya, Lidia, Franklin dan Fei Yang berlanjut…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.