Muslim Homoseksual

Juwandi Ahmad

 

Anda dapat saja melarang, mencegah dan menghentikan seorang laki-laki yang mengekspresikan cinta dan menyalurkan hasrat seksualnya pada laki-laki (perilaku) namun Anda tidak dapat menghentikan kecenderungan homoseksualnya (psikologis).

sejenis

Kecenderungan homoseksual bukan sebotol minuman keras di tangan seorang pemabuk yang bila segala minuman keras dimusnahkan tak akan ada lagi pemabuk. Tak peduli seberapa keras pelarangan, penolakan, penentangan, dan hukuman yang diberikan kepada laki-laki yang mengekspresikan cinta dan menyalurkan hasrat seksualnya pada laki-laki (perilaku), kecenderungan homoseksual (psikologis) akan cenderung menetap. Perlu pula disadari bahwa homoseksual adalah bagian dari orientansi seksual yang akan terus ada, terlepas dari perdebatan tentang apa yang menjadi penyebabnya.

Seperti halnya heteroseksual, homoseksual dapat dialami, baik oleh mereka yang liberal, atheis, maupun yang agamis (Islam, Kristen, Hindu, Budha). Dalam masyarakat yang heterosentris dan memegang teguh ajaran agama, seperti Indonesia dengan Islam-nya, ada dua persoalan psikologis yang dihadapi Muslim homoseksual, yang lebih kompleks dari yang atheis ataupun liberal.

Pertama, konflik psikologis, dimana mereka merasa tidak nyaman, takut, gelisah, merasa ada yang berbeda, ada yang salah, ada yang tidak beres dengan dirinya. Dan tentu saja harus diakui bahwa hal itu muncul lebih disebabkan karena pandangan heterosentris bahwa homoseksual menyimpang, terlarang, dan dosa ketimbang soal homoseksual itu sendiri.

Kedua, konflik psiko-religius antara kecenderungan homoseksual yang sulit mereka hilangkan dengan ajaran agama yang mereka yakini yang menentang keras homoseksual. Perlu difahami bahwa keberagamaan adalah satu hal dan kecenderungan homoseksual adalah hal lain, yang meskipun keduanya bersinggungan, bertentangan tetapi yang satu (kecenderungan homoseksual) tidak dapat menghilangkan yang lain (dorongan kepada agama). Keduanya dapat beriringan, berjalan, disalurkan, namun tetap berdiri sendiri. Itu area yang berbeda, yang ada dalam satu wadah, yaitu jiwa. Keyakinan keagamaan dapat tumbuh di dalamnya, terlepas dari apapun orientasi seksualnya. Kebanyakan dari kita menyadari bahwa manusia bukan hanya soal penis dan vagina, jenis kelamin, seks dan orientasinya. Manusia itu kompleks, multidimensi.

Bila demikian itu keadannya, maka Muslim dengan kecenderungan homoseksual sesungguhnya adalah pribadi yang memerlukan bantuan psikologis. Dan tentu saja, sejauh mereka merasa tidak nyaman, tidak dapat menerima keadaannya, mengalami konflik psiko-religius, dan ingin terbebas darinya. Secara teknis, penyelesaiannya mudah saja, yaitu merubah, merevisi, dan atau membuat penafsiran baru bahwa homoseksual tidak terlarang dalam agama. Dengan begitu mereka akan merasa nyaman dengan dirinya sendiri sekaligus dapat tetap nyaman menjalankan ajaran agamanya. Namun tentu saja agaknya itu mustahil.

Perilaku homoseksual (mengekspresikan cinta dan menyalurkan hasrat seksual pada sesama jenis) masih mungkin untuk dikendalikan dan dihentikan, tergantung sudah sejauhmana kecenderungannya. Sayangnya dalam masyarakat heterosentris, Muslim dengan kecenderungan homoseksual malu dan takut mengutarakan dirinya, masalahnya. Padahal pada fase kebingungan-konflik, dimana kecenderungan homoseksual belum menguat-mengakar, bantuan psikologis sangat diperlukan. Bila sudah menguat dan dengan pengalaman seksual menyenangkan yang berulang tentu akan semakin sulit. Ibarat pohon yang sudah besar, akarnya menghunjam ke tanah, akan susah dibentuk ulang dan apalagi dicabut.

Apa yang lebih menarik, penting, bernilai, berharga, dan bermakna dari mengekspresikan cinta dan menyalurkan hasrat seksual pada sesama jenis? Bila itu diketahui, disadari, ditemukan, dan berusaha dicapai dengan niatan yang kuat, maka seseorang dengan kecenderungan homoseksual akan punya alasan yang kuat dan dapat meninggalkan perilaku homoseksualnya. Tak seorangpun memiliki kekuatan dan kemauan menukar sesuatu yang dianggapnya berharga dengan hal lain yang kurang berharga. Dari segi agama, spiritualitas, perjuangan menjauhi, mengikis perilaku homoseksual adalah sama dengan upaya menjauhi segala bentuk perbuatan yang dianggap sebagai dosa. Itu punya nilai tersendiri dimata Tuhan. Namun, adakah seseorang yang dengan kebijaksanan mau dan mampu memberi jalan dan menanamkan itu pada diri seorang homoseks, apapun hasilnya?

 

 

14 Comments to "Muslim Homoseksual"

  1. wied  22 January, 2016 at 10:05

    OHhh hOMo homoku mana……wkwkkwkwkwkk

  2. Alvina VB  10 September, 2015 at 06:27

    JC: Baru liat ternyata gak ilang itu komentarnya,soalnya di layar saya kemarin gak keliatan sama sekali kaya lenyap gitu loh. Lah sekarang pake CAPTCHA (mirip2 sama CAPCHAI, kkkkkk….) Code buat komentar, kemarin pake angka, besok2 pake apaan lagi nich?

  3. J C  8 September, 2015 at 14:45

    Hhhhmmm…ikut menyimak komentar Alvina…

    Alvina, gak ilang tuh komentar panjangnya…ada tuh…

  4. Dj. 813  5 September, 2015 at 23:13

    Pada test apaan sih . . . ? ? ?
    Kok dimana-mana pada mge test . . .
    Hahahahahahaha . . .
    Dan siapa yang di test . . . ? ? ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.