Toleransi Dua Arah

djas Merahputih

 

Hidup bertoleransi bermakna saling mengikhlaskan sesama warga negara maupun manusia secara umum untuk melaksanakan aktifitas sosial maupun keagamaan masing-masing tanpa sedikitpun rasa kebencian/sentimen bernuansa SARA dalam hati para warga. Seperti halnya dialog, maka toleransi sebagai sebuah bentuk komunikasi sosial sudah pasti akan berlaku dua arah. Toleransi pada minoritas hanya akan bermakna saat toleransi kepada mayoritas juga terjadi.

Sapaan salam merupakan ungkapan paling familiar bagi setiap orang. Ia melambangkan sikap persaudaraan antar sesama anak bangsa. Menyampaikan salam dalam bahasa minoritas harus bisa ditolerir sebagaimana kita sanggup merelakan salam yang diucapkan dalam bahasa mayoritas, tak peduli ragam suku, agama, ras maupun golongannya. Bahasa Indonesia cukup akomodatif dalam mengadaptasi berbagai macam bentuk sapaan dari seluruh wilayah Nusantara.

Budaya suatu kaum sangat bergantung dari interaksi sosial masyarakat setempat dengan sesamanya maupun dengan para pendatang. Dapat dikatakan, Nusantara adalah simpul berbagai corak kebudayaan dari beragam bangsa di dunia. Sejarah menunjukkan bahwa nenek moyang Nusantara memiliki sikap toleran dan keterbukaan cukup tinggi terhadap unsur-unsur budaya asing yang bersinggungan dengan budaya sendiri. Mereka mampu bertegur sapa dalam bahasa berbeda tanpa sedikitpun rasa terluka atau ketersinggungan di dalam hati. Bahkan dalam masyarakat kelas bawah (rakyat jelata) ungkapan kasar dapat dimaknai sebagai sebuah bentuk keakraban tersendiri. Kata “jancuk” di kalangan masyarakat Surabaya bisa menjadi salah satu contoh ungkapan dimaksud.

Di tengah era kompetitif antar bangsa saat ini dibutuhkan fokus dan upaya maksimal untuk mengejar ketertinggalan di berbagai bidang. Kita berada pada sebuah sebuah “zaman yang berlari”, sehingga melangkah saja tak cukup. Kita butuh untuk melompat. Fokus kita tak perlu lagi diganggu oleh hal-hal kecil menyangkut intoleransi. Kiranya cukup kita sediakan ruang nyaman bagi setiap individu untuk mengekspresikan diri masing-masing tanpa harus dipertajam lagi pada segi-segi yang sensitif.

Bagi sebagian orang, membicarakan hal kecil namun sensitif sangat menyenangkan. Ibarat ngemil keripik kentang pedas yang gurih, garing dan terasa “nendang”, ia sungguh menggiurkan. Namun keripik kentang pedas tetaplah hanya cemilan, bukan makanan pokok. Saat seluruh bangsa mengerahkan segenap tenaga untuk berpacu dalam lintasan, maka cemilan tidaklah cukup untuk menyuplai tenaga dalam sebuah kompetisi yang ketat.

Kegemaran ngemil dalam lintasan juga sangat tidak disarankan. Apalagi sambil mengenakan headset berisi lagu disco. Keasyikan ngemil issu sensitif dalam irama suka-suka bisa membuat kita lupa, apakah kita sedang berpacu dalam lintasan atau malah berpacu dalam melodi. Apalagi jika sampai tak tahu lagi membedakan antara bendera start dan bendera finish. Keseringan berputar-putar di lintasan dengan terus mempermasalahkan hal kecil bisa mengubah orientasi anda. Ketika anda dengan riang dan penuh sukacita memasuki garis finish, para penonton malah tertawa melihat anda yang kehilangan orientasi memasuki garis finish dari arah berlawanan.

Toleransi akan selalu menuntut peranan kedua belah pihak. Sebab kemunculan tirani tak selalu hanya bersumber dari pihak dominan. Ia bisa hadir dari kedua sisi, mayoritas maupun minoritas. So, keep calm and cool, mate..!!

 

Salam ngemil,

//djasMerahputih

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

10 Comments to "Toleransi Dua Arah"

  1. Raisha  20 November, 2015 at 17:27

    memang betul toleransi harus dua arah, yang mayoritas melindungi yang minoritas,yang minoritas menghormati yang mayoritas

  2. djasMerahputih  14 September, 2015 at 23:12

    Itsmi:
    Ngemil sih nggak masalah, yang penting nggak sampai mengganggu orientasi saja…
    Revolusi nggak masalah. Asalkan ia benar-benar jelas, terukur, masif dan hening….!!
    Kehebohan, darah dan air mata bukan syarat mutlak sebuah revolusi, meskipun kita sering diajarkan demikian. Revolusi hanya butuh eskalasi dan konsistensi, seperti banjir bandang dan tsunami…!!

  3. Itsmi  14 September, 2015 at 18:52

    djas, bilamana ngemil sudah hal yang biasa dan umum itu yang harus di perhatikan dulu…. revolusi terjadi mulainya dari ngemil…

  4. J C  8 September, 2015 at 14:43

    1000% setuju, Kang djas!

    James, sori baru balas. Kemarin dipasangi kunci, tapi sedikit terlalu “ketat” security system’nya. Belakangan buanyak banget Spam berseliweran, jadi memberati server, sampai beberapa lagi semaput. Jadi dipasangi kunci yang super ketat. Sekarang sudah diganti kuncinya dengan yang lebih fleksibel…silakan dicoba lagi ya…

  5. Alvina VB  5 September, 2015 at 10:29

    Thanks James….dari kemaren gak bisa masuk ke rumah euy, kuncinya ilang keknya…Djas, saya mah rindu toleransi di Indonesia jadullll….mari ngemil sambil baca artikel yg lainnya…

  6. james  5 September, 2015 at 04:35

    ci Lani, kalau soal ngemil mengemil mah gak mau absen deh, pasti mau aja

    duh ini Baltyra lagi ngadat setelah repair kemaren, semua komen jadi duble dan kalau mau baca artikel harus di reload dulu, napa yah pak Lurah JC ?

  7. Lani  5 September, 2015 at 02:23

    JAMES : mahalo……..hayo mau ngajak ngemil kemana nih kang Djas? Gimana James, mau pesan tempat?

  8. djasMerahputih  4 September, 2015 at 18:53

    Pentulise,
    Hadir bang James…

    Pengen ngemil bersama para kenthirs…

  9. james  4 September, 2015 at 17:17

    1…..toleransi semua arah

    mengabsenkan trio Baltyra lainnya

  10. james  4 September, 2015 at 17:12

    1…..toleransi semua arah

    mengabsenkan Kenthirs Baltyra

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.