“Bajingan! Bajingan!” – Ia Pernah Berpuisi Begitu

Dwi Klik Santosa

 

Banyak sekali yang bisa diceritakan, tentang persohiban saya dengan Mas Putut Tedjo Saksono, selama itu ke mana-mana pernah bersamanya. Salah satunya yang paling otentik dan fundamental ingin saya sampaikan adalah, ketika kami sama-sama terjebak dan akhirnya hanyut di deru nyanyi menentang rezim Soeharto tahun 1994 itu. Mas Putut adalah kawan kuliah saya. Di kampus yang berada di bilangan kompleks Pulogadung itu, memang kami berdua, masing-masing hanya betah sampai semester pendek. Bahkan belum usai sampai semester 1 saja, Mas Putut sudah lari dan enggan nongol lagi. Sedang saya masih lumayan, masih bertahan sampai akhir semester 2.

politik-mahasiswa

Selama menjadi mahasiswa di kampus yang mengajarkan ilmu manajemen ini, barangkali memang kami beda dengan kebanyakan. Entah karena terlampau mesra bergaul dengan Bela Studio yang dipimpin mas Edi Haryono, entah karena memang sedang puber mencari identitas. Waktu itu, tahun 1994, tahun-tahun garing dan sedang panas-panasnya demo para mahasiswa ibukota melawan Soeharto, yang sering diberitakan media dimotori oleh teman-teman senior di Pijar yang dipimpin Mas Amir Husin Daulay. Begitupun yang paling monumental saat itu, adanya kembang demonstran yang punya nyali melebihi kebanyakan orang Indonesia, yaitu Yeni Rosa Damayanti.

Gerak Mas Putut selalu random. Banyak rencana dan jarang selesai … ahikhik. Maka, entahlah bagaimana pula waktu itu, saya yang kemana-mana ngikut motor bututnya yang ajaib itu — yang kiranya hanya Mas Putut sendiri yang bisa mengendarainya, makanya aman dari kecurigaan dimaling orang — hingga sampai kepada pergaulan Bela Studio, yang tidak saja punya fokus pada pementasan Drama Teatrikal Anak-anak, tetapi juga sosok Mas Edi yang keras bagaikan batu tapi lembut hati bagaikan salju itu, ternyata juga menyimpan api revolusi yang dahsyat. Sehingga terhadap pergolakan dinamika politik di ibukota yang makin memanas pada waktu itu, rasa-rasanya, sosok beliau seperti ada dan tak jauh daripadanya.

Nah, karena waktu itu, Mas Putut adalah manager pentas Bela Studio, tentunya selalu juga berdekatan dengan apa saja menjadi gerak Mas Edi, karena beliau adalah selalu sutradaranya. Dan begitulah, selalu berdekatan dengan waktu saya, karena kemana-mana saya selalu ngikut motor ajaibnya. Sewaktu mau mengadakan Happening Art ingin membela Yeni Rosa Damayanti dan kawan-kawan demonstran yang diperadilkan di Pengadilan Negeri di Jalan Gajah Mada itu karena dakwaan subversif menghina presiden, saya pun ikut. Dan barangkali itulah pertama kali saya ikut berserempetan dengan bahaya berkenaan dengan politik kekuasaan yang diregam si rezim tangan besi.

Sebelum demo budaya itu kami lakukan, sebagaimana khasnya, Mas Edi mengatur strategi, agar kiranya aksi itu efektif dan tidak membahayakan, jika harus berhitung dengan selalu anarki yang diperankan tentara yang bengis tiada terkira waktu itu. Kami ke pengadilan itu menumpang mobil mas Edi, dan waktu itu sengaja diparkir di Gajah Mada Plaza. Kenapa parkir disitu, sudah pasti telah dengan pertimbangan. Lalu kami pun menuju ke ruang pengadilan. Menyaksikan dan mendengarkan dengan jelas bagaimana sosok kembang demonstran yang galak dan seperti tak punya takut itu. Padahal kita sama-sama tahu, pada waktu itu, betapa Soeharto, sang presiden dijuluki dengan sebutan si senyum maut.

“Kalau memang ia merasa, kami telah menghina nama baiknya,” kata Yeni Rosa waktu itu di pengadilan, “kenapa dia tidak berani datang sendiri di pengadilan ini.”

Waaaaaaaa ….. begitulah, memang begitu. Banyak tentara dan bersenjata di luar gedung pengadilan itu. Setelah jelas mendengar kata-kata si kembang demonstran itu, feeling kami, tak urung, pastilah akan segera chaos suasana. Maka, Mas Edi pun lekas menggandeng tangan saya, seperti memberi kode untuk mengajak saya keluar. Tidak saja keluar dari ruang gedung, tapi juga sesegera mungkin keluar dari keadaan itu. Mlipir-mlipir kami jalannya, dan berusaha tenang. Tapi, yang namanya mas Edi ini kan seniman, rambutnya gondrong, mudah saja dikenali dan ditangkap, jika chaos itu nanti berlangsung. Nah, anehnya, sosok Mas Putut hilang dari rombongan kami. Dan plot happening art dengan konsep mengusung keranda yang berisikan protes keras terhadap niat pemerintah ingin memenjarakan Yeni Rosa dan kawan-kawan itu pun, serasa bubar.

Akan tetapi …

Ada suara menggelegar, dan lantang. Seperti berorasi, lebih tepatnya membaca puisi protes .. kalau tidak salah dengar, bunyinya begini …”Bajingan! .. bajingan! ” … entah sampai berapa kali kata-kata itu muncrat dan buncah. .. dan mungkin samar-samar jelas, di antara was-was kami berjalan meninggalkan gedung pengadilan … sambungan kata dari umpatnya yang berbunyi … “….. Soeharto!” itu jelas sekali.

Siapakah orang gila itu? Yang bengak bengok di regol atau di atas pagar gerbang, di tengah panasnya hari. Siapa nyana kalau orang itu adalah sosok ceking, gondrong, berkaca-mata minus bernama Putut Tedjo Saksono … asu tenan!

Makin miris kami. Benar saja, belum dalam hitungan jam, chaos pun menyalak. Tapi untungnya, hanya tinggal saya dan Mas Edi, sampai di mobilnya yang diparkir di Plaza. Namun, Mas Edi saya perhatikan nampak tegang dan selalu diam. Ya, saya tahu sebabnya. Kurang lebih, hal itu menjadi sebab juga bagi diam dan bisu saya.

“Bagaimana nasibmu, Tut? Semoga Tuhan selalu melindungimu.” Begitu seolah-olah nafas kami melafalkan doa, menuju ke rumah Bela Studio di Rawamangun. Rumah kontrakan, tempat bagi kami yaitu Mas Putut dan saya pernah merasakan apa itu tangis yang membuat kami kemudian dewasa. Rumah yang sama-sama membesarkan kami dari guru yang sama, dan rumah yang kemudian sama-sama menisbatkan kami menjadi manager pentas musik teaterikal yang berpentas seperti tiada kenal mandeg atau stagnasi. Baik berpentas di gedung-gedung kesenian, di kampus-kampus, maupun tempat-tempat perjuangan lainnya, bahkan kami pun pentas di kampung-kampung.

Nah, pasti, semuanya pada ingin tahu lanjutan cerita ini … digantung dulu, ahhhhh … sengaja, biar pada penasaran … lalala…

 

 

3 Comments to "“Bajingan! Bajingan!” – Ia Pernah Berpuisi Begitu"

  1. J C  8 September, 2015 at 14:46

    Yang seperti ini saya ikut menyimak saja…

  2. djasMerahputih  7 September, 2015 at 16:02

    Penasaran dengan kisah nyatanya…
    Absenin trio bajing.. (ngga pake akhiran -an)

  3. Handoko Widagdo  7 September, 2015 at 14:05

    Terus bagaimana terusnya kok tidak diteruskan? Tirus.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.