Gunawan Budi Susanto dan Penulis Injil Markus

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Penjagal Itu Sudah Mati

Penulis: Gunawan Budi Susanto

Penerbit: PATABA Press

Tebal: xxviii + 152

ISBN: 978-602-71978-4-8

penjagal itu sudah mati

Berupaya sembuh dari sebuah sakit adalah sebuah proses yang amat berat. Apalagi upaya sembuh dari sakit yang bukan urusan medis. Sembuh dari sebuah trauma. Proses untuk menjadi sembuh itu tertuang dalam tubuh Gunawan Budi Susanto. Ketika penyakit itu menghampirinya, dia menjadi bengal dan selanjutnya frustasi. Untunglah sang hidup tetap bersemayam dalam tubuhnya. Ketika kesadaran akan sakitnya mulai muncul, upaya untuk sembuhpun penuh dengan liku dan kegamangan.

Ragu apakah akan menerima nasib apa adanya dan bersembunyi di balik kegelapan sejarah dan kemudian menjadi orang lain sama sekali, atau berani mengatakan bahwa dia adalah seorang yang menyandang cacat. Dan Gunawan memilih menjadi para penyandang kusta yang hidup di luar benteng di jaman Raja Yoram. Gunawan lebih memilih untuk masuk benteng dan memberitahukan bahwa musuh sudah pergi dan ada makanan melimpah di tenda-tenda yang ditinggalkan oleh tentara Siria yang mengepung benteng Yehuda.[1] Gunawan memilih untuk sembuh dan mendeklarasikan ada keagungan di luar sana, saat semua bisa saling mengampuni. Sebuah rekonsiliasi.

Membaca 14 cerpen yang terhimpun dalam “Penjagal Itu Sudah Mati” seakan menyaksikan serangkaian fakta kekejaman yang pernah menghujam di negeri ini. Sebuah pembantaian yang membabi-buta. Kekejaman itu tak punya mata, sehingga di tangan para penjagal benar-benar menjadi sebuah kebrutalan. Kebutaan itu mengambil siapa saja yang dianggapnya layak untuk disembelih. Dia tak pilih-pilih. Menjagal seakan adalah sebuah perlombaan. Lomba untuk memecahkan sebuah rekor. Apalagi proses ini direstui oleh penguasa yang berucap: “lebih baik kalian membersihkan sendiri daripada saya yang membersihkannya.”[2] Ucapan itu seakan menjadi ledakan pistol saat start lomba lari. Keempatbelas kisah ini tak beda dengan apa yang telah dihimpunnya di dalam bukunya “Nyanyian Penggali Kubur”.

Kisah pembantaian ini telah diungkap oleh Poncke dalam biografinya. Berbeda dengan Poncke – Johannes Cornelius Princen, Gunawan adalah bagian dari korban. Poncke menyampaikan fakta melalui sebuah biografi. Poncke berjarak dengan peristiwa dan fakta. Namun toh kegelisahan menimpanya saat memuat fakta-fakta yang ditemuinya. Ada sebuah kegamangan dan kegeraman dalam diri Poncke. Apalagi Gunawan yang tak berjarak dari kejadian. Gunawan adalah bagian dari peristiwa itu. Mula-mula terjadi di desanya, kemudian ayahnya, kemudian ibunya, kemudian seluruh keluarganya dipaksa terlibat dalam sebuah drama yang tak diketahui skenarionya oleh para peraganya. Dan berbeda dari Poncke yang memilih media biografi, Gunawan lebih memilih media cerpen untuk mengungkapkannya.

Gunawan adalah segudang fakta dari sebuah peristiwa. Dia bukan pengumpul fakta. Itulah sebabnya emosi dan ledakan energi terpateri dalam setiap kalimat yang ditulisnya. Seperti ada magma yang mendesak di setiap paragraf yang diluncurkannya.

Sungguh cerpen Gunawan Budi Susanto tidaklah indah. Cerpen-cerpennya tak pandai merangkai kata semacam Indra Tranggono. Tak juga laras ceritanya macam Hamsad Rangkuti atau Ahmad Tohari. Tokoh-tokohnya tak terbangun karakternya macam cerpen-cerpen Putu Wijaya. Tak ada nilai dan norma yang dipujinya seperti AA Navis dan Masdar Zaienal. Tak juga berbasis ideologi macam karya-karya Gorky. Cerpen Gunawan adalah sebuah paparan fakta yang menggelora.

Jika ini hanya luapan fakta, apa indahnya sebagai sebuah cerpen? Keindahan cerpen-cerpen Gunawan bisa terliaht saat kita berjarak. Seperti menyaksikan indahnya letusan sebuah gunung. Gumpalan awan hitam yang berbalut dengan warna jingga magma yang tersembur adalah sebuah keindahan. Namun itu juga sebuah kepahitan bagi mereka yang tak berjarak. Sebab sapuan awan panas sungguh menghancurkan raga. Belum lagi hujan debu dan kerikil yang akibatnya bisa menahun. Bagaimanapun rangkaian fakta-fakta yang dijalinnya adalah tetap cerpen di mata saya. Bukankah untaian kata yang dirangkai oleh Wiji Thukul juga tetap disebut puisi?

Gunawan sama dengan sang penulis Injil Markus. Seorang yang begitu ketakutan karena menjadi saksi ditangkapnya Yesus. Seorang yang pernah menyembunyikan diri dan frustasi karena ketakutan yang amat sangat. Namun keduanya kemudian berani menjadi saksi. Seperti Injil Markus yang berisi rangkaian fakta dalam kalimat-kalimat lugas, tanpa balutan theologi tertentu, tanpa pemujaan akan tokohnya, demikian pula cerpen-cerpen Gunawa Budi Susanto.

Cerpen-cerpen ini adalah fragmen-fragmen fakta. Saya masih menunggu sebuah karya utuh yang merangkai fakta-fakta ini menjadi sebuah ceita tentang sebuah peristiwa nan utuh dalam sebuah novel. Bukankah Pram telah menuntaskannya? Kapan Gunawan akan mengerjakannya?

“Perih memang perih, tetapi mesti saya bincang.”

 

————————————-

[1] II Raja-Raja 7:9

[2] Ucapan dari Dandim 0717/Purwodadi Letkol. Tedjo Suwarno. (http://historia.id/modern/purwodadi-skandal-pertama-orde-baru)

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

9 Comments to "Gunawan Budi Susanto dan Penulis Injil Markus"

  1. Handoko Widagdo  8 September, 2015 at 16:29

    Betul sekali bahwa Penulis Injil Markus bukan Markus murid Yesus. Dalam tradisi yang diyakini oleh gereja penulis Injil Markus adalah seorang anak yang menjadi murid/pelayan Petrus yang menjadi saksi waktu Yesus ditangkap. Dia menulis berdasarkan penuturan Petrus dan apa yang dia ingat.

  2. Swan Liong Be  8 September, 2015 at 16:27

    Barusan aku tulis koment tapi ternyata gagal, ini aku coba lagi, kalo gagal lagi, I give up,hehehehe….
    Handoko: Sepengetahuanku Markus sipenulis injil gak pernah jadi saksi penagkapan Jesus, penulis injil Markus tidak identis sama rasul Markus.
    Injil² yang kita kenal itu baru ditulis paling dini 70 tahun setelah Jesus wafat.

  3. Swan Liong Be  8 September, 2015 at 16:19

    Sepengetahuanku penulis injil Markus tidak pernah jadi saksi penangkapan Jesus, juga penulis² injil lainnya, mereka gak pernah hidup sejajar dengan hidupnya Jesus. Kalo gak salah injil² itu baru ditulis +/- 70 tahun setelah wafatnya Jesus. Penulis injil Markus tidak indentik dengan rasul Markus.

  4. Handoko Widagdo  8 September, 2015 at 15:05

    Kang JC, keberaniannya untuk mengungkapkan dan detail peristiwa yang disajikan sungguh membuat saya mengagumi Kang Putu.

  5. J C  8 September, 2015 at 14:49

    Pak Hand, aku selalu suka cerpen-cerpen Kang Putu…ciamik! Aku seperti merasakan gejolak perasaan itu, karena mendiang Papa juga jadi korban…

  6. Handoko Widagdo  8 September, 2015 at 10:11

    Benar begitu Kangmas Djoko. Kang Putu alisa Mas Gunawan adalah saksi sekaligus korban yang berani bersuara seperti si penulis Injil Markus. Salam dari Solo.

  7. Dj. 813  8 September, 2015 at 00:59

    Bagaimana bisa seseorang menjadi penjagal . . ? ? ?
    Apa nuraninya sudah mati ya .
    Dan seorang Gunawan yang mas Handoko sinonimkan dengan penulis Injil Markus,
    adalah seorang yang berani meihat realitas .

    Salam Sejahtera dari Mainz untuk keluarga dirumah.

  8. Handoko Widagdo  7 September, 2015 at 20:03

    Terima kasih Djas. Cerpen memang terlalu pendek untuk menjadi media pengungkapan sejarah. Namun penggalan-penggalan peristiwa bisa dirangkai dengan sangat tajam oleh Kang Putu.

  9. djasMerahputih  7 September, 2015 at 16:27

    Sejarah terendus lewat cerpen…
    Thanks resensinya mas Hand.

    Absenin trio kenthir..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.