Bibi (tidak jadi) Terbang Business Class

Luigi Pralangga

 

Wacana pindah rumah itu sudah mulai menjadi diskusi keluarga, bukan hanya lingkup keluarga sendiri, yaitu anak dan istri, namun sudah mulai diperdengarkan kepada beberapa telinga lingkup keluarga besar, seperti orang tua dan mertua…, maklumlah bahwa si Ondel-ondel ini dan keluarganya masih perlu berkonsultasi dengan ‘lingkaran pertama’ akan rencana-nya memindahkan keluarga dari Jakarta ke Kuwait.

Saat itulah, mulai banyak saran dan komentar terbang seliweran dalam setiap sesi obrolan itu. Secara garis besar mereka mendukung kepindahan ini, meski disisi lain, mereka akan sedih karena akan ditinggal untuk waktu yang cukup lama dan tidak akan sering berjumpa dengan anak-anak cucu mereka dan hadir dalam acara keluarga rutin seperti bisaanya.

Keluarga ‘ring satu’ si Ondel-ondel ini ternyata bukan hanya sebatas bapa-ibu, mertua dan para ipar saja, melainkan juga di dalamnya ada ‘si Bibi’, beliau adalah pengurus rumah tangga yang sudah sekian tahun lamanya menjadi bagian integral keluarga dan secara historis sudah mempunyai kontribusi yang signifikan bagi keluarga si Ondel-ondel ini, terutama selama masih bekerja jauh di Liberia, setiap cuti mudik, masakan beliaulah yang terus dinanti-nanti.

Ya, ‘si Bibi’ adalah pakar kuliner rumah tangga si Ondel-ondel yang selalu direpotin saat ia cuti mudik, dan seterusnya dalam membantu urusan dapur keluarga. Perpindahan ini juga berdampak baginya, akankah beliau terus ikut serta dalam bagian proyek: “Gulung Tikar Jakarta dan Gelar Tikar Kuwait”? ataukah lagu lama itu akan kembali berdendang untuknya: “Sapa suruh datang Jakarta”? – Maksudnya: “Gudbai, Bibi balik kampung aja”.

Memang, si Idung Pesek itu sempat wanti-wanti, saat mengetahui wacana ‘gulung – gelar tikar’ ini beranjak menjadi sebuah kenyataan. Dalam himbauan-nya ia pernah berkata demikian: “Nanti kalau jadi pindahan, Bibi Minah ikut terbang sama kita, khan?”. Nah, seruan seperti itu, konsekuensinya bagi si Ondel-ondel ini tidak hanya sebatas tambahan peserta‘transmigrasi bedol desa’ namun terus panjang yang meliputi:

  1. Ongkos biaya pindah (Urus surat pindah, perbaharui KTP, Pembuatan Passport Hijau, dllsb);
  2. Surat keimigrasian yang diperlukan guna mengintegrasikan beliau menjadi bagian dari anggota keluarga (Visa, Ijin tinggal, KTP setempat, dllsb);
  3. Asuransi kesehatan beliau dan kepengurusan surat-surat kependudukan dan pindah;
  4. Urusan “riyeut” (Baca: Sakit kepala) tambahan yang akan menyertainya kelak..

Oke, sekarang mari kita berusaha berpikir dan menimbang secara ‘fair’ dan bijak dalam menyikapi wacana ini, serta melihat sumbangsih atau dukungan yang bisa menjadi kontribusi dalam upaya menyamankan pengalaman tinggal bersama keluarga di Kuwait dengan hadirnya Bibi ikut pindah bersama keluarga.. Nah, mari kita berhitung:

  1. Dukungan domestic yang tidak ternilai. Maksudnya? Pindah dengan ‘gerbong muatan’3 anak ini, jelaslah kehadiran beliau akan sangat membantu dan mengurangi prosentasi dan frequensi si Idung Pesek itu “Nyap-nyap”akibat keletihan mengurus 2 tugas besar:
  • Mengurus Tiga Anak beserta urusan sekolah mereka, termasuk Junno yang notabene belum bersekolah.
  • Bebenah Rumah, yang meski sudah bagi-bagi tugas dengan si Ondel-ondel ini, tetap saja letusan ‘nyap-nyap’ itu bisa meluap kapan saja – apalagi saat dia cape atau kesel akibat ulah anak-anak yang rewel dan bikin pusing itu, nah kalau begini, siapa sasaran-nya? – Ya, si Ondel-ondel inilah..
  1. Sajian Kuliner Nusantara Setiap Hari. Hahahaha! – Okelah, si Ondel-ondel ini acapkali mengakui dirinya: “Bisa Masak” namun masakannya itu diakui jempol oleh rekan kolega sejawat di mission area yang tidak pernah mencoba dan tahu masakan Nusantara yang enak itu bagaimana sebenernya (rasanya). Jelaslah beda jauh kalau mau dibandingkan dengan masakan si Bibi.
  1. Kesempatan Indehooy yang lebih sering dan lebih lama. Hehehe… ini adalah pertimbangan yang dirasa strategis, dimana si Idung Pesek itu menjadi tidak kewalahan dengan urusan domestic sehingga tetap segar bugar dan lebih konsentrasi dalam urusan“romantic maintenance project”.
  1. Wah, banyak lagi deh…

Jadi tanpa banyak pertimbangan, akhirnya diputuskanlah bahwa Bibi adalah tambahan penumpang resmi pada transmigrasi bedol desa keluarga Pralangga ini.

“Neng, bibi nanti jadi diajak pindah ke Kuwait?” – tanya beliau. Saat dipastikan dengan jawaban positif itu, antara senang dan sedih juga bercampur dalam hatinya. Semenjak itulah program ‘pembekalan dan penataran’ menjadi intensif disampaikan agar pola-pikir dan pemahaman bisa melekat pada hati dan pikirannya akan perubahan lingkungan kerja, gegar-budaya, tambahan insentif, jadwal liburan mudik, segala macam deh guna menjadikan-nya benar-benar menyadari sisi positif dan tantangan-nya hidup dan bekerja jauh dari sanak-famili dan tanah air. Maka, beliau pun mendiskusikan perihal ‘peluang merantau’ ini kepada sanak-familinya di kampung.

Sementara, kita semua sibuk dengan persiapan kelengkapan dokumen dan dukungan logistik ini, akhirnya keluarga Bibi di kampungnya serupa mendukung, maka lengkaplah sudah rencana gulung-gelar tikar ini.

Tiba saatnya, hari keberangkatan itu di depan mata, 13 koper yang ukurannya hampir menyamai anak badak serta sederet buntelan-kentut itupun menyertai ke dalam bagasi. Inilah langkah awal si Bibi dengan tugas mancanegara-nya.

Sejak usai urusan peluk-cium dengan keluarga yang ramai mengantar, lalu masuk check-in pada meja sambut penumpang, dan  periksa keimigrasian di bandara Soekarno-Hatta, langkahnya semakin dekat menuju badan pesawat.

pindah kuwait (1) pindah kuwait (2) pindah kuwait (3)

Sepertinya ia menyadari, perjalanan kali ini adalah bukan perjalanan sembarangan dalam hidupnya. Si Ondel-ondel ini acapkali bertanya: “Bi, udah bawa antimo?”, senyum dan anggukan itu kemudian menghentikan keraguan akan kemungkinan beliau akan ‘Jackpot’ di udara (Maksudnya: Mabuk Udara).

Terbang dengan seseorang yang selama strata sosialnya belum pernah atau sering bepergian mancanegara, apalagi dengan pesawat terbang, memang mesti sabar membimbing setiap tahapan perjalanan, mendampingi memberikan penjelasan agar beliau merasa nyaman dan tidak menjadi ‘blunder’ yang menghambat kelancaran penerbangan.

“Bi, ini nomer kursi-nya,  kita berlima duduk persis di depan Bibi.. jadi kalau perlu apa-apa, kasih tau aja awak kabin-nya ya..? – kalau perlu minum lagi, bilang aja sama mereka yang berseragam..”

pindah kuwait (4)

pindah kuwait (5) pindah kuwait (6)

Penerbangan 8 jam dari Jakarta menuju Dubai dilalui dengan mulus.

Setibanya di Dubai International Airport – terminal 3, si Idung Pesek berseru: “Mas, saya urus anak-anak tiga ini, mereka sudah terbiasa traveling, mending kamu dampingin si Bibi ya.. dia khan nggak bisa ngomong bahasa Inggris semisal ditanya sama petugas pemeriksa keimigrasian..  saya ketemu kamu di business lounge ya..”

Terbang satu rombongan, apalagi dengan anak kecil dan penumpang lainnya seperti Bibi, memang belum tentu bisa se-sigap bila bepergian sorangan atau bersama rekan yang sudah biasa terbang jauh dan lama penerbangan yang cukup panjang.

pindah kuwait (7) pindah kuwait (8)

Jelaslah kita semua “rontok badan”, meski si Ondel-ondel ini sudah puluhan kali terbang menyeberangi Samudra Hindia dari Liberia menuju Jakarta, jelas cape-nya berkali-kali lipat kalau sudah terbang dibarengi satu pasukan macam begini, maka tidaklah mengherankan kalau saat ada dipan kosong macam begini, sudahlah si Ondel-ondel ini parkir di atasnya dan ngorok sekuat-kuatnya tanpa rasa malu terdengar penumpang yang sedang duduk di sebelahnya. Bodo amat!

pindah kuwait (9)

Namun, saat rehat transit, nampaknya si Bibi sudah mulai bisa santai dan menikmati pelayanan pada Business Lounge, meski sekali-kali ia bertanya: “makanan ini isinya apa?” atau “kalau mau coba makanan di sana bilangnya gimana?”.

pindah kuwait (10) pindah kuwait (11) pindah kuwait (12)

Perhatian serupa selalu diberikan si Idung Pesek pada setiap segmen penerbangan dan sesekali si Ondel-ondel ini dimintanya agar menengok si Bibi pada baris belakang. Ya, di baris belakang.. sayangnya,  Bibi nggak jadi terbang dan duduk pada bilik kelas Bisnis, memang anggaran itu hanya cukup untuk mendudukkannya di kelas Ekonomi, namun persis pada baris terdepan sehingga sekat itu hanya sebatas tirai semata, namun kebersamaan itu terus mengikuti kita semua hingga usai rute penerbangan tiba di Kuwait.

pindah kuwait (13) pindah kuwait (14)

Sorot matanya tiada henti memperhatikan dari ketinggian sebuah perubahan drastis dari alam yang akan dipijaknya dalam beberapa saat. Cahaya matahari nan silau, akibat pantulan cahaya matahari oleh hamparan padang pasir yang luas. Tiada hijau itu lestari nampak di tanah jazirah Arab ini, apalagi Negeri Kuwait yang notabene adalah hampir seluruhnya berdiri di atas dataran berpasir.

Yakin sekali ia mungkin berpikir saat burung besi ini semakin merendah, mendekatkan diri dengan bumi, dimana pandangannya akan negeri baru yang masih asing ini membuat pikirannya bertanya-tanya: “Akankah saya betah di Kuwait?”.

pindah kuwait (15) pindah kuwait (16) pindah kuwait (17)

Sing sabar ya, bi.. susah seneng yang penting kita sekeluarga sama-sama – persis kayak di Jakarta. Mohon doakan si Bibi agar pengalaman-nya tinggal di Kuwait bersama keluarga si Ondel-ondel ini menjadikannya betah dan menyenangkan.

 

 

About Luigi Pralangga

Luigi Pralangga, currently serving for peace operations in Afghanistan - Previously lives and work in the Middle East, West Africa and New York - USA.

My Facebook Arsip Artikel

9 Comments to "Bibi (tidak jadi) Terbang Business Class"

  1. J C  16 September, 2015 at 11:52

    Pindahan memang selalu repooootttt…apalagi antar negara…

  2. Linda Cheang  11 September, 2015 at 15:31

    ingat pengalamanku sendiri menemani seorang teman yang belum pernah ke luar Indonesia dan baru mau akan naik pesawat terbang

    kudu sabarrrr….

    Bibi, kiranya betah, yah, di Kuwait

  3. Linda Cheang  11 September, 2015 at 15:30

    ingat pengalamanku sendiri menemani seorang teman yang belum pernah ke luar Indonesia dan baru mau akan naik pesawat terbang

    Bibi, kiranya betah, yah, di Kuwait

  4. Linda Cheang  11 September, 2015 at 15:29

    ingat pengalaman aku dulu menemani seorang teman yang belum pernah ke luar Indonesia dan memang kudu sabarrrrrrr……. jelasin aturan satu-demi satu….:d

    Bibi, semoga betah, ya

  5. Lani  11 September, 2015 at 14:21

    KANG MONGGO : klu ndak mendarat itu namanya nyungsep…

  6. Sumonggo  11 September, 2015 at 10:34

    Terbangnya bisa kelas apa saja, tapi yang terpenting bisa mendarat …. he he …

  7. Lani  10 September, 2015 at 22:55

    Critanya selalu menyegarkan krn ada selingan yg bikin ngakak………semoga bibi krasan dinegara baru

  8. Dj. 813  10 September, 2015 at 22:43

    Waaaaaaw . . .
    Cerita yang mengharukan juga . . .
    Anda adalah orang yang diberkati, karena anda sekeluarga tidak hanya mikir keluarga sendiri saja.
    tapi masih ingat bibi dan mengajak ikut serta bersama keluarga anda .
    TOP . . . ! ! !
    Semoga bibi betah dan anda sekeluarga selalu sehat .

    Hanya ada yang lucu, kok memanggik keluarga dengan hidung ppesek dan ondel-ondel . . .? ? ?
    Hahahahahahahahaha . . . ! ! ! )
    Salam Sejahtera dari Mainz .

  9. HennieTriana Oberst  10 September, 2015 at 21:15

    Semoga Bibi tetap sehat dan betah di negeri yang jauh di sana.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.