[Di Ujung Samudra] Iblis dari Neraka

Liana Safitri

 

“JADI begini caramu memberi pelajaran bahasa Indonesia? Orang Indonesia yang sudah lancar berbahasa Indonesia pun masih harus belajar lagi? Apakah ada istilah-istilah baru yang muncul dalam bahasa Indonesia, sehingga membuat sesama orang Indonesia bingung dan harus mendiskusikannya? Atau nama Franklin telah berubah menjadi Fei Yang?” Tian Ya bertanya sambil menatap Lydia dan Franklin bergantian.

“Tian Ya…” Wajah Lydia yang dari awal sudah pucat kini semakin pucat.

“Tian Ya, ini tidak seperti yang kaukira!” Franklin mulai khawatir jika Lydia dan Tian Ya bertengkar.

“Aku tidak mau mendengar apa-apa darimu!” potong Tian Ya. Ia menoleh ke arah Lydia, “Kemampuan berbahasa Indonesia sesama orang Indonesia biasanya tak beda jauh. Jadi kau hanya buang-buang waktu saja mengajarinya. Seharusnya akulah yang lebih membutuhkan pelajaran bahasa Indonesia. Ayo kita belajar di rumah!” Tian Ya menarik tangan Lydia dengan kasar keluar dari rumah Franklin.

Franklin masih mencoba berbicara dengan Tian Ya, “Tian Ya! Kau tidak bisa menyalahkan Lydia karena menemuiku! Kau sendiri datang ke rumah Fei Yang!”

Tian Ya berhenti melangkah, berkata tanpa melihat pada Franklin, “Aku datang ke rumah Fei Yang untuk menjemput Lydia! Ternyata dia di sini sedang asyik mengobrol tentang pelajaran bahasa Indonesia, bersama orang Indonesia!”

Tian Ya mengemudikan mobilnya menembus hujan lebat sambil meluapkan kekesalannya. “Aku sangat cemas ketika kembali dari kantor dan kau tidak ada di rumah, padahal sudah larut malam! Cuaca juga sangat buruk! Kukira kau menunggu hujan reda di tempat Fei Yang, lalu tidak berani pulang sendiri! Kalau Fei Yang tidak ada kenapa tidak langsung pulang saja? Kenapa malah ke rumah Franklin? Ponsel juga tidak dibawa! Aku kan, jadi tidak bisa menghubungimu! Aku telepon Mama, katanya kau sudah meninggalkan butik!”

Lydia duduk di sebelah Tian Ya dengan diam, tanpa bantahan atau pembelaan diri. Ia malas memberi penjelasan. Mau menjelaskan belum tentu didengar, kalaupun didengar juga belum tentu dipercaya.

Karena tidak mendapat tanggapan Tian Ya bertanya curiga, “Apa setelah memberi pelajaran bahasa Indonesia pada Fei Yang kau sering mampir ke rumah Franklin? Berapa lama? Memangnya susah sekali ya, kalau kau tidak menempel terus pada kakakmu itu?”

“Tian Ya! Aku ke rumah Kakak baru sekali ini! Gara-gara hujan tidak berhenti dan ponselku ketinggalan, bukannya sengaja ditinggal di rumah! Biasanya kalau ke sana aku tidak pernah melihat Kakak, pintu rumahnya selalu tertutup. Setelah selesai memberikan pelajaran pasti langsung pulang! Kalau tidak percaya tanya saja pada Fei Yang! Kau tidak melihatku di rumah setelah kembali dari kantor juga baru sekarang, kan?” Lydia memegangi kepalanya, “Jangan bicara terus, aku pusing!”

Kau pusing karena masalah yang dibuat sendiri!

Tian Ya menggerutu dalam hati. Barulah setelah mengamati wajah Lydia, Tian Ya memang merasa ada yang tidak beres.

Kenapa? Apakah dia sakit?

Tapi Tian Ya menahan diri untuk tidak bertanya.

Sampai di rumah Lydia meraih ponselnya yang tertinggal di meja kamar. Ada dua pesan masuk dan beberapa panggilan tak terjawab. Satu pesan dari Fei Yang, dikirim ketika Lydia masih sibuk di butik Nyonya Li. Fei Yang meminta agar pelajaran bahasa Indonesia mereka ditunda sampai besok karena ia sedang ada urusan penting. Satu pesan dari Tian Ya yang menanyakan keberadaan Lydia. Dan semua panggilan tak terjawab juga dari Tian Ya. Pantas Tian Ya jengkel sekali! Malam itu Tian Ya tidur dengan memunggungi Lydia.

 

Perang dingin masih berlanjut keesokan harinya. Tian Ya tidak mengajak Lydia berbicara di meja makan. Ketika akan berangkat ke kantor dan Lydia mengikuti sampai ke beranda, Tian Ya hanya berkata singkat, “Tidak ada pelajaran bahasa Indonesia! Kalau Fei Yang ingin belajar, suruh dia ke rumah kita! Jangan kau yang ke sana!”

Lydia mengawasi mobil Tian Ya meninggalkan halaman rumah sampai menghilang dari pandangan. Biasanya Lydia berangkat bersama Tian Ya pagi-pagi sekali. Setelah menurunkan Lydia di butik, barulah Tian Ya ke kantor SKY Group. Lydia akan pulang naik bus atau naik taksi bersama Nyonya Li, dan sudah ada di rumah beberapa jam lebih awal daripada Tian Ya. Namun hari ini Tian Ya bahkan tidak bertanya kenapa Lydia tidak pergi ke butik! Marah-marah terus! Keterlaluan sekali! Apa Tian Ya tidak memperhatikan kalau istrinya sedang sakit? Eh, tapi kenapa rasa mual-mual ini sejak kemarin belum hilang, ya? Padahal sudah minum obat… Sepertinya harus beristirahat seharian. Setelah menutup pintu dan kembali masuk rumah, Lydia mendengar suara langkah kakinya menggema ke seluruh ruangan. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sepi sekali. Tiba-tiba bulu kuduk Lydia berdiri. Ternyata tinggal sendiri di rumah sebesar ini menakutkan juga!

Tidur siang Lydia terganggu oleh bunyi bel. Dengan malas ia ke luar kamar. Bel kembali ditekan berkali-kali, menunjukkan ketidaksabaran.

“Sebentar!” Lydia menyahut sambil menuruni tangga.

Rumah mereka jarang kedatangan tamu, apalagi ketika Tian Ya sedang tidak ada. Fei Yang, Franklin, Xing Wang, Tuan dan Nyonya Li pasti akan menelepon dulu sebelum berkunjung. Jadi tamu ini pasti bukan mereka, melainkan…

“Siapa?” Lydia bertanya sambil membuka pintu.

Suara berat dan kasar seorang pria menyambut Lydia, “Apa kau masih ingat padaku?”

Awalnya Lydia mengira dirinya masih tidur dan sedang mimpi buruk di siang bolong. Namun ketika melihat tato naga di punggung tangan pria itu, sinyal tanda bahaya langsung menyala di dalam otaknya.

Xiao Long!

Lydia melotot, buru-buru menutup pintu kembali. Tapi Xiao Long yang lebih kuat mendorong pintu sampai terbuka, kemudian masuk ke dalam rumah. Senyum licik mengembang di wajah Xiao Long ketika mendekati Lydia selangkah demi selangkah, sementara Lydia mundur setindak demi setindak. Pemandangan itu mirip seperti serigala buas yang akan menerkam domba buruan tak berdaya.

“Lama tidak bertemu, rupanya kau telah menjadi seorang ratu!”

“Mau apa kau kemari? Kau… aku tidak pernah mengganggumu, jadi sebaiknya kau juga jangan menggangguku…” Lydia tidak dapat menyembunyikan rasa takutnya. Suaranya bergetar.

“Apa kau bilang? Tidak pernah menggangguku?” Xiao Long semakin mendekati Lydia, membuat Lydia hampir terdesak ke dinding.

“Jangan berbuat macam-macam atau aku akan berteriak!” Lydia semakin panik.

“Berteriak!” Xiao Long tertawa. “Berteriak saja! Aku juga ingin tahu sekeras apa suaramu! Kukira rumah ini dibangun dengan sangat baik. Orang yang ada di dalam rumah tidak akan terganggu oleh suara dari luar, dan orang yang ada di luar… tidak akan mendengar suara dari dalam rumah!”

“Pergi kau! Pergi!” Lydia mendorong Xiao Long lalu berlari keluar melalui pintu samping.

Sebelum berhasil meraih pegangan pintu, Xiao Long sudah mencekal tangan Lydia dan memelintirnya.

“Aduh… tolong! Tolong…!” Teriakan Lydia sia-sia, suaranya tidak mampu menembus dinding rumah itu.

“Kalau kau ingin aku segera pergi dari sini, mudah saja! Katakan padaku di mana kalian menyembunyikan Frida?”

“Dia sudah pulang ke Indonesia!”

“Kau bohong!” Xiao Long memelintir tangan Lydia semakin keras.

“Aaaahh!”

“Sekali lagi aku bertanya, di mana kalian menyembunyikan Frida?”

Lydia menjawab sambil menahan sakit, “Aku… tidak bohong… Frida… sudah pulang ke Indonesia…”

Xiao Long bergumam pada diri sendiri, “Pulang? Ke Indonesia?” Karena tidak mendapatkan apa yang dicarinya Xiao Long semakin marah, dan kemarahan itu kini berpindah pada Lydia. Gigi Xiao Long beradu, menandakan dirinya siap meledak. “Tidak hanya menghajarku dan membuatku masuk penjara, kau dan Tian Ya juga membantu Frida melarikan diri, meninggalkan utang-utang yang menumpuk! Satu nyawamu itu masih belum cukup untuk menebus kerugianku!”

“Kalau kau sampai menyakitiku, Tian Ya tidak akan mengampunimu!”

“Benarkah? Aku jadi semakin penasaran, kalau wajahmu yang cantik ini sampai hancur, kira-kira akan seperti apa akibatnya?” Xiao Long meninju wajah Lydia keras sekali sampai jatuh ke lantai. Mata Lydia berkunang-kunang. “Sekarang kita lihat apakah Tian Ya-mu itu bisa memberikan pertolongan!” Xiao Long mencengkeram rambut Lydia lalu menariknya ke belakang. “Kau tahu apa kesalahanmu? Kesalahan Tian Ya? Karena kalian terlalu ikut campur! Jika kau dan Tian Ya tidak bersikap sok pahlawan hari ini aku tidak akan repot-repot mengunjungi rumah kalian! Biarkan aku memberitahumu, dunia ini sangat kejam! Jadi jangan mencari masalah untuk diri sendiri. Tapi sepertinya nasihatku tidak ada gunanya! Sudah terlambat! Sekarang aku ingin menunjukkan padamu, apa akibatnya jika berani mengusik Guo Xiao Long! Aku akan membuat hidup kalian tidak tenang seperti di neraka!”

Tian Ya… cepatlah pulang! Kumohon cepatlah pulang atau aku akan mati di tangan laki-laki busuk ini!

“Memberi pelajaran padamu atau Tian Ya sama saja. Tapi kau adalah sasaran yang lebih mudah!” Dengan sekali sentakan Xiao Long melepaskan cengkeramannya pada rambut Lydia. Ia berdiri, meludahi Lydia yang berusaha bangun, lalu menendang Lydia sampai wanita itu jatuh lagi.

Yang terjadi selanjutnya benar-benar siksaan dari neraka.

api neraka

Lydia tak mampu melawan ketika tubuhnya dipukul, ditendang, diinjak, dibenturkan… di kaki, di tangan, di perut, di kepala, di mana-mana… Dan sesaat sebelum kehilangan kesadaran Lydia merasakan ada darah yang mengalir di antara kedua kakinya.

Ketika pulang malam itu, dari jauh Tian Ya melihat pintu rumah terbuka lebar-lebar. Alis Tian Ya mengernyit. Kenapa Lydia tidak menutup pintu? Kalaupun sedang menunggunya pulang, seharusnya pintu jangan dibiarkan terbuka setelah lewat tengah malam. Lampu mobil Tian Ya menyorot terang. Semakin mendekati halaman, beranda dan bagian dalam rumah semakin terlihat jelas. Pot-pot bunga bergelimpangan, tanaman rusak, tanah dan jejak alas kaki mengotori lantai… Perasaan Tian Ya tidak enak. Pria itu berhenti sembarangan, keluar dari mobil dan membanting pintu, lalu belari ke dalam rumah. Gelap gulita. Setelah menyalakan lampu Tian Ya terperangah demi mendapati keadaan rumahnya seperti habis dijarah perampok. Meja kursi terbalik, taplak dan tirai robek, hiasan porselen hancur berkeping-keping, foto, serta semua benda pajangan di dinding pecah atau patah. Lemari besi yang disembunyikan Tian Ya di balik lukisan dalam ruang kerjanya dibobol, dalamnya kosong melompong.

Tapi masih ada…

“Lydia…” begitu nama tersebut meluncur dari bibirnya, jantung Tian Ya berdebar liar. Ia memanggil dengan panik sambil mencari ke seluruh ruangan, “Lydia! Lydia… kau di mana? Lydia…”

Langkah Tian Ya terhenti di depan sebuah sosok yang terkapar di lantai dapur dengan bercak-bercak darah di sekelilingnya. Selama beberapa saat ia hanya berdiri diam, terpaku oleh rasa takut. Tian Ya berlutut, dengan sangat perlahan membalikkan tubuh itu kemudian berteriak histeris, “Lydia! Lydia, siapa yang melakukan ini padamu? Lydia!” Tian Ya mengguncang-guncang tubuh Lydia, tapi wanita itu tak bereaksi sedikit pun. Tanpa membuang-buang waktu Tian Ya segera melarikan Lydia ke rumah sakit.

Waktu berjalan sangat lambat. Sudah satu jam Tian Ya mondar-mandir di depan ruang gawat darurat, ratusan kali melirik ke arah pintu tertutup. Tubuh Tian Ya serasa terbakar. Tian Ya menyesal bukan main, karena memang baru kali ini meninggalkan Lydia sendirian di rumah setelah mereka menikah. Sebelum pindah ke rumah baru mereka berdua tinggal bersama Tuan dan Nyonya Li. Setelah menempati rumah baru, sementara Tian Ya di kantor, Lydia juga sibuk dengan kegiatannya di luar rumah. Hanya kemarin saja Lydia tidak pergi ke mana-mana dan di rumah sendirian. Siapa sangka jika kemudian terjadi musibah?

“Keluarga Nyonya Lydia!”

Tian Ya tersentak. “Dokter Chou! Bagaimana keadaan istri saya?”

“Untunglah luka-lukanya tidak parah, tidak sampai mengenai organ-organ dalam. Tapi… janin dalam kandungannya tidak dapat diselamatkan!”

Mata Tian Ya terbelalak lebar-lebar. “Janin?”

 

Lydia keguguran, bahkan sebelum sempat mengetahui jika dirinya telah mengandung janin berusia enam minggu. Tian Ya juga terkejut. Tapi tidak ada yang dapat mereka lakukan selain menerima kenyataan pahit itu.

Tenang saja, Papa! Tidak akan hamil, kok!

Itu adalah kalimat yang diucapkan Tian Ya pada Tuan Li ketika ia dan Lydia baru sampai ke Taiwan serta mengejutkan banyak orang. Tuan Li tidak ingin hubungan Lydia dan Tian Ya sampai melampaui batas, atau lebih parahnya lagi sampai menghasilkan anak di luar pernikahan. Kemudian dua orang tua yang pemikirannya masih sangat kolot itu menyuruh Lydia dan Tian Ya tinggal di rumah mereka selama berada di Taiwan. Maksudnya agar bisa memberi kontrol. Tapi Tian Ya menolak mentah-mentah usul tersebut, membawa pergi Lydia dari rumahnya dan menyewa apartemen sendiri untuk ditinggali bersama Lydia. Sekarang setelah memiliki ikatan resmi, Lydia malah keguguran!

Tian Ya masuk ke kamar perawatan Lydia, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun. Tapi Lydia tetap dapat merasakan kehadirannya. Wanita itu membuka mata dan bangkit dari tempat tidur. Tian Ya buru-buru menahan tubuhnya, menyuruhnya kembali berbaring.

Dengan susah payah Lydia mengucapkan satu kalimat, “Tian Ya… aku keguguran… Aku kehilangan anak kita…”

Tian Ya mengangguk-anggukkan kepala. Hatinya seperti diremas, begitu pedih dan sakit. Namun ada sebersit kelegaan yang menyertai. “Tidak apa-apa… tidak apa-apa… Yang penting kau selamat…” Tian Ya meraih kepala Lydia dan memeluknya.

Lydia kembali bergidik saat mengingat peristiwa mengerikan yang baru saja berlalu. “Dia sangat kejam… sangat jahat!”

Tentu saja, “dia” yang dimaksud adalah orang yang memasuki rumah mereka, merampok, dan menganiaya Lydia. Tian Ya bertanya dengan alis berkerut, “Kau tahu siapa orangnya?”

“Tidak, aku tidak tahu!” Lydia cepat-cepat menggeleng.

“Ciri-cirinya?”

“Aku tidak bisa melihat orang itu dengan jelas. Setelah dipukuli, aku pingsan.”

“Baiklah, baiklah! Masalah ini sebaiknya kita bicarakan besok saja.” Meskipun sangat ingin tahu detail kejadiannya, Tian Ya tidak tega mendengar keterangan Lydia.

“Tian Ya, jangan pergi…”

“Aku tidak pergi ke mana-mana. Aku akan menungguimu di sini.”

Bohong kalau aku tidak merasa sedih atau kecewa setelah tahu kau keguguran!

Namun ketakutan saat menemukan Lydia dalam keadaan tak sadarkan diri ternyata jauh lebih besar. Dikuasai kepanikan luar biasa, Tian Ya membawa Lydia ke mobil, mengemudi dengan kecepatan tinggi, menerobos lampu merah, hingga hampir menabrak orang, sampai tiba di rumah sakit. Sekarang Tian Ya baru ingat jika dirinya meninggalkan rumah tanpa menutup pintu apa pun! Dari pintu gerbang, pintu depan, belakang, sampai pintu kamar, semua terbuka lebar-lebar. Tian Ya tidak peduli jika ada orang yang masuk dan mengambil barang-barang! Atau seandainya ada orang menelepon dan memberi kabar bahwa rumahnya kebakaran, itu tidak akan mampu membuat Tian Ya beranjak dari sisi Lydia. Tian Ya membawa tangan Lydia ke bibirnya. Nyaris saja harta yang paling berharga ini hilang…

Kemudian ponsel Tian Ya berbunyi. Suasana hatinya semakin bertambah buruk membaca nama yang ada di layar.

“Ya! Ada apa Franklin?”

“Lydia… kau jangan menyalahkannya.”

“Kau meneleponku hanya untuk ini?”

Franklin tidak peduli dengan nada dingin dalam suara Tian Ya. Ia berusaha menjelaskan, “Lydia sakit. Kemarin di rumahku dia muntah-muntah. Aku tidak ada mobil untuk mengantarnya dan tidak mungkin membiarkan Lydia menunggu bus atau taksi di tengah hujan angin seperti itu. Jadi aku menahannya di dalam rumah menunggu hujan reda.”

Bukan hanya sakit biasa, tapi hamil! Dan sekarang keguguran…

“Franklin, Lydia…” Tian Ya tidak meneruskan kalimatnya. Bagaimana? Apakah sebaiknya Franklin diberi tahu kalau Lydia mengalami keguguran.

“Ya? Lydia kenapa? Halo! Tian Ya! Apa kau bisa mendengarku?” Franklin memanggil dengan cemas.

“Tidak! Tidak apa-apa!” Tian Ya menoleh ke arah Lydia yang sedang tidur, lalu mengurungkan niat memberitahu Franklin. “Franklin, aku menghormatimu sebagai kakak Lydia. Aku juga berterima kasih karena kau sudah menjaga Lydia…”

“Kau tidak perlu mengatakan itu!” potong Franklin tersinggung.

“Jika saat di rumahmu Lydia dalam keadaan sakit, tidak membawa ponsel, dan kau tidak bisa mengantar pulang, bukankah kau bisa langsung menghubungiku untuk menjemputnya? Bagaimana kalau waktu itu kau tidak keluar dan melihatku ada di depan pintu rumah Fei Yang? Apa kau akan menyuruh Lydia menginap di rumahmu?”

Tidak ada sahutan dari seberang. Sebenarnya pada saat itu Franklin menjawab dalam hati, Ya, aku ingin menyuruh Lydia menginap di rumahku. Tapi justru karena masih memikirkan hubungan kalian, maka aku tidak melakukannya.

“Aku rasa kau juga tidak ingin menjadi penyebab pertengkaran di antara aku dan Lydia. Kami sudah menikah, Lydia sepenuhnya menjadi tanggung jawabku! Jadi untuk selanjutnya kumohon… jangan temui Lydia lagi!”

Setelah mengucapkan kalimat terakhir Tian Ya memutus sambungan telepon. Ia merenung beberapa saat sambil memandangi Lydia yang sedang tidur. Apakah dirinya keterlaluan? Sepertinya tidak! Soal Lydia keguguran siapa pun tidak perlu tahu, apalagi Franklin. Tian Ya mampu mengurus Lydia sendiri!

Pagi itu Dokter Chou memeriksa Lydia sekali lagi sebelum memperbolehkannya keluar dari rumah sakit. Dalam perjalanan pulang Lydia tidak berkata sepatah pun, sama seperti ketika Tian Ya menjemputnya dari rumah Franklin. Meski Tian Ya tidak sedang marah seperti malam sebelumnya, tapi Lydia merasa suasana hatinya kemarin masih lebih baik daripada hari ini.

Tian Ya menggendong Lydia masuk rumah. Keadaannya masih sama berantakan seperti ketika ditinggalkan. Pada siang hari Lydia dan Tian Ya dapat melihat kekacauan itu dengan lebih jelas. Rumah mereka seperti baru diguncang gempa dan tidak dihuni selama bertahun-tahun. Tian Ya melangkah dengan hati-hati karena lantai penuh dangan pecahan porselen atau kaca. Beberapa kali ia harus menendang kursi atau meja yang menghalangi jalan untuk bisa sampai ke tangga menuju kamar di lantai atas. Setelah membaringkan Lydia di ranjang, Tian Ya memandanginya lama sekali. “Apakah kau baik-baik saja?”

Lydia tidak menjawab, hanya menghela napas panjang.

“Kenapa?”

“Sayang sekali… kita sudah bersusah payah mendekorasi rumah, memilih perabotan berhari-hari… sekarang semuanya hancur. Untung perampok itu tidak sampai masuk ke kamar kita, jadi aku masih bisa tidur di sampingmu tanpa dibayangi kejadian buruk…”

Tian Ya merasa aneh karena si perampok tidak memasuki kamar mereka, tapi ia enggan berpikir lebih jauh. Tian Ya berusaha menenangkan Lydia. “Itu bukan masalah besar! Aku akan membereskan semuanya, mengganti barang-barang dengan yang lebih bagus, dan mengaturnya lagi sesuai dengan keinginanmu! Merubah beberapa bagian agar kau tidak merasa trauma. Kujamin, besok pagi kau akan melihat rumah ini kembali seperti semula!”

“Tian Ya, kau sudah tidak marah?”

“Marah kenapa?”

“Soal aku dan Kakak…”

Tian Ya mendesah. Satu-satunya hal yang bisa membuatnya marah kepada Lydia hanyalah jika Lydia terlalu dekat dengan Franklin. Tapi sekarang kemarahan Tian Ya menghilang begitu saja, berganti dengan rasa sedih dan kasihan. “Waktu itu aku kesal karena kau tidak ada di rumah, padahal hari sudah malam dan turun hujan lebat. Aku hanya sedikit emosi…”

Lydia semakin merasa bersalah. “Aku tidak akan menemui Kakak lagi!”

Tian Ya berkata lembut, “Sekarang kau istirahat saja, jangan terlalu banyak berpikir. Aku akan membereskan rumah. Sepertinya harus mulai dari beranda dulu…” Tian Ya bangkit berdiri akan meninggalkan kamar. Namun Lydia menarik tangan pria itu.

Tian Ya menoleh. “Ya?”

“Dia datang lagi!”

“Siapa?”

“Dia datang… untuk membuat hidup kita tidak tenang… seperti di neraka…” Mata Lydia menerawang seperti orang yang kehilangan kesadaran.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu?”

“Dia pasti datang lagi… pasti datang lagi…”

Masalah ini lebih serius daripada yang kuperkirakan. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Lydia dariku!

Tian Ya kembali duduk di pinggir tempat tidur. Ia bertanya curiga, “Orang yang memasuki rumah dan memukulimu… adalah orang yang kita kenal? Benar, kan?”

Lydia tersentak menyadari dirinya kelepasan bicara. Namun ia masih berusaha menutup-nutupi. “Tidak, Tian Ya… Aku tidak ingat bagaimana wajah orang itu…”

“Kalau kau tidak ingat, bagaimana kau bisa mengira kalau orang itu akan datang lagi? Kenapa kau berkata kalau dia akan membuat hidup kita tidak tenang seperti di neraka?”

iblis

“Aku hanya…” Lydia kehabisan kata-kata.

Tian Ya menarik Lydia bangun, lalu mecengkeram kedua lengan wanita itu kuat-kuat sambil terus mendesaknya. “Katakan siapa orangnya?”

Saat itu tiba-tiba Lydia mendorong Tian Ya. “Aduh… aduh…” Ia mengusap lengan sambil meringis menahan sakit.

Tian Ya semakin heran dengan tingkah Lydia. “Kenapa kau?”

“Aku tidak apa-apa! Hanya masalah kecil, jangan khawatir!” Lydia berkata gugup.

Tian Ya sangat mengenal Lydia. Pada situasi seperti ini yang dikatakan Lydia merupakan kebalikan dari kenyataan. Tidak apa-apa berarti ada apa-apa, masalah kecil berarti masalah besar, dan jangan khawatir berarti kekhawatiran yang lebih banyak. Tidak percaya begitu saja, Tian Ya mengulurkan tangan membuka baju Lydia. Kemudian pria itu terpana selama beberapa detik. Sejak kemarin yang Tian Ya lihat hanyalah segores luka kecil pada pipi Lydia. Namun sekarang ia menemukan banyak sekali luka. Ada lebam, lecet, bilur-bilur, bahkan ada bagian kulit yang terkelupas. Di mana-mana.

Kenapa aku tidak memperhatikannya?

Lydia tidak mampu mengelak lagi.

“Lydia…” Tian Ya menatap Lydia dengan tajam, “Kau tahu aku tidak akan berhenti bertanya sebelum mendapatkan jawabannya?”

 

Seumur hidup belum pernah Tian Ya begitu marah seperti sekarang. Ada sesuatu yang mau meledak di dalam dirinya dan membuatnya ingin menghancurkan sesuatu. Tapi Tian Ya tidak mungkin mengamuk, sementara Lydia yang keadaannya masih lemah beristirahat di kamar dan membutuhkan ketenangan. Sejak keluar dari rumah sakit Lydia selalu merasa ketakutan, Tian Ya juga tidak mungkin meninggalkannya sendirian. Akhirnya Tian Ya mengambil cuti demi menemani Lydia, memerintahkan beberapa orang untuk merapikan rumah mereka, serta mengurus satu masalah.

“Jangan lakukan apa-apa! Kumohon, Tian Ya… biarkan semuanya berlalu! Kau tahu kan, seperti apa dia? Aku tidak mau terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi… Aku takut…” Suara Lydia terdengar gemetar saat meminta agar Tian Ya melupakan masalah perampokan dan penganiayaan yang dilakukan Xiao Long.

Tian Ya memeluk Lydia. “Kau tidak perlu merisaukan apa pun! Biar aku yang mengurus semuanya! Jangan takut, ada aku di sini…” Namun malam itu setelah melihat luka-luka di sekujur tubuh Lydia, Tian Ya telah bersumpah dalam hati. Orang yang menyakiti Lydia harus membayar perbuatannya berlipat-lipat, dan Tian Ya sendiri yang akan menagih pembayaran tersebut!

Tian Ya duduk di ruang tamu menunggu kedatangan seseorang. Asisten pribadinya, berbicara di telepon dengan ekspresi sangat serius.

Zhong Yuan menjauhkan ponsel dari telinga dan berbisik lirih pada Tian Ya, “Orangnya ada di luar pintu gerbang.”

“Bawa dia masuk!”

Zhong Yuan pergi ke luar rumah. Beberapa saat kemudian ia kembali bersama seorang pria berpenampilan misterius. Tubuhnya tinggi, kekar dan wajahnya garang.

“Apakah Anda mencari saya, Tuan Li?”

“Ya!” Tian Ya melempar selembar foto ke atas meja. “Tangkap orang ini untukku!”

 

 

8 Comments to "[Di Ujung Samudra] Iblis dari Neraka"

  1. J C  16 September, 2015 at 11:55

    Wah, wah, ini dia keluar gaya permafiaannya…(maksudnya penuturan cerita ala mafia )

  2. elnino  14 September, 2015 at 12:50

    Wadooow…mari kita mulai kembali petualangan Lydia n Tian Ya.
    Welcome back Liana

  3. Liana  12 September, 2015 at 10:21

    Begundal tukang kepruk? Haha! Iya, kalau menyangkut soal dendam memang tidak selesai-selesai.

  4. Lani  12 September, 2015 at 09:34

    LIANA: Nampaknya begundal tukang kepruk itu masih merasa dendam

  5. Lani  12 September, 2015 at 09:32

    KANG DJAS : MAHALO

  6. james  12 September, 2015 at 06:34

    ada hadir bang Djas

    mana ada Iblis dari Surga ?

  7. Dj. 813  11 September, 2015 at 17:41

    Wadooooh . . .
    Panjang sekali, ambil napas dulu, separohnya baca nanti .
    Terimakasih dan salam,

  8. djasMerahputih  11 September, 2015 at 16:45

    Pengen baca kisah pertama dulu…

    Absenin trio Kenthirs….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.