Pacuan Sudah Lama Berlalu

Ki Ageng Similikithi

 

Namanya Benediktus. Teman akrab sejak sekolah menengah atas. Dia masuk SMA St. Josef di kelas dua, di tahun 1966,  jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, pindahan dari SMA Negeri Sragen. Tutur katanya sangat halus dan sopan. Kami menjadi akrab sejak itu. Dia harus banyak mengejar pelajaran matematika, fisika, pengetahuan alam dan stereomometri waktu pindah ke sekolah kami di Solo.

Dalam diskusi tentang mata pelajaran ini, saya berkesimpulan dia sangat teliti, ingin mengetahui sampai detail mengenai segala sesuatu. Bertentangan dengan kebiasaan saya, get the job done and mission accomplished. Di kelas tiga, dia menerima surat mesra dari seseorang di Sragen, mungkin teman sekelasnya dulu. Kami tukar pendapat mengenai masalah pribadi ini. Saya menerima surat mesra pertama kali di kelas 3 SMP tiga tahun sebelumnya di Ambarawa. Ben teman yang baik hati, tidak suka berhura-hura seperti kelompok kami di kelas satu SMA dulu. Sikapnya selalu correct dan cenderung perfeksionis. Persahabatan yang mengasyikkan, bagaikan kepompong mengubah ulat menjadi kupu. Kami bersama berkembang dalam lingkungan pendidikan yang sama, sangat disiplin, mandiri, kompetitif dan dididik untuk penuh toleransi dan berkompetisi mengejar mimpi.

Di kelas dua dan tiga, kami sekelas, sering belajar bersama. Kadang dia punya kelompok teman yang lain, kadang dengan saya. Demikian juga saya, kadang sekelompok dengan Ben, kadang sekelompok dengan teman yang lain. Dua tahun berjalan sampai ujian akhir SMA. Kami sama-sama lulus dengan nilai papan atas. Saya memperoleh nilai rata-rata 8.8 lebih sedikit, dan menduduki urutan kedua di seluruh Surakarta untuk jurusan Ilmu Pengetahuan Alam, sedangkan teman belajar sekelompok dari SMA Warga, namanya Hwie Swan memperoleh nilai rata rata 8.8, menduduki urutan ke tiga. Ben jika tidak keliru memperolah nilai rata rata 8.6. Urutan pertama diduduki oleh murid SMA 1 Margoyudan, namanya Muhamad Munawar, dengan rata rata 9.2. Beberapa bulan kemudian saya bertemu Munawar di Yogya, belajar bersama di Fakultas Kedokteran UGM.

race is not over

Di akhir tahun 68, saya melihat pengumuman ujian bersama dengan Benediktus. Ketika kami dan teman-teman saling bersalaman sambil bercanda ria, Benediktus ikut menyalami dengan serius. Masih ingat kata-katanya yang teramat dalam dan membekas “Pacuan belum berakhir”. Kata-kata ini begitu membekas di hati saya. Bukan karena apa, tetapi teringat kata-kata yang diucapkan oleh Messala sebelum meninggal sesudah kalah balapan kuda dengan Judah Ben Hur dalam film Ben Hur. The race is not over. Ben Hur berdiri dengan gagah dengan baju biru yang indah di tengah lapangan. Di tahun enam puluhan dan tujuh puluhan warna biru Ben Hur begitu populer, merasuki inspirasi banyak anak muda untuk berpacu. Berpacu dalam perjalanan karier. Tidak semua orang bisa berpacu naik kuda. Saya sejak kelas 3 Sekolah Rakyat, sangat terbiasa naik kuda. Tetapi tidak pernah terbayangkan berpacu antara hidup dan mati seperti dalam film, antara Ben Hur dan Messala.

Meski agak kaget dengan ucapan selamat Benediktus tadi, tetapi tidak mengurangi kegembiraan kami. Kami berdua boncengan sepeda keliling kota di Solo Utara, melewati kali Pepe sampai ke timur, Jebres kemudian sampai ke tepi Bengawan Solo. Agak siang kami kembali ke daerah Manahan. Makan bakmi di salah satu warung di pinggir jalan yang sepi dan rindang di sekitar Manahan. Seolah kami ingin menghabiskan masa-masa terakhir di Solo. Solo yang indah akan segera kami tinggalkan. Kami berbincang sampai menjelang sore. Sepakat bersama akan mendaftar di UGM, ITB dan UNDIP. Ujian masuk di Yogya, kami berangkat sendiri-sendiri, Ben punya saudara di Baciro dan saya tinggal di tempat sepupu di Malioboro. Beberapa minggu kemudian kami selalu bersama, menjalani ujian masuk di UNDIP dan ITB.

Kami berdua diterima di semua universitas yang kami pilih, FKUGM, FK UNDIP dan ITB. Saya juga diterima di IPB. Saya tidak tahu persis apakah Ben, selain ketiga universitas tadi juga mendaftar di tempat lain. Samar-samar saya ingat dia pernah bilang akan test di Jakarta, FKUI. Akhirnya kami dengan Benediktus, sama-sama masuk di Ngasem, FK UGM. Masih ingat sewaktu dia datang di Ngasem untuk pendaftaran, dia memakai baju Kojarsena. Saya tidak punya kesan positip akan baju ini, tidak pernah saya pakai. Ada kenangan menyedihkan melihat seragam itu. Teman satu kost di Solo, Ping Kiat, meninggal saat latihan militer dengan seragam itu di tahun 65. Baju seragam itu hanya mengingatkan kesedihan saja. Seragam Kojarsena, Korps Pelajar Serba Guna, bukan seragam Pramuka, tetapi seragam pelajar yang telah mendapat latihan militer waktu itu.

Kami berdua menjalani pendidikan dokter di kompleks Ngasem seperti halnya teman-teman yang lain. Hubungan perahabatan dengan Ben tetap akrab. Biasanya kami bicara masalah masalah pribadi. Bukan hanya pelajaran. Benediktus pernah mengantar saya mengajak Endang, teman manis sekelas yang sedang dalam pendekatan. Nonton sekaten di alun-alun utara bertiga naik becak. Sayang dalam perjalanan pulang becak kebalik masuk selokan di Mangkuwilayan. Benediktus selalu dekat menemani saat saya menghadapi masalah berat, seperti mengajak Endang keluar nonton sekaten malam itu.

Tidak banyak kisah selama menjalani pendidikan dokter. Kami tidak dalam satu kelompok meski tetap bersahabat dekat. Waktu ko skap di klinik, siklus kami juga berbeda.

Yang saya kagumi dari Ben, adalah kemampuannya menahan emosi, dan melancarkan serangan balik secara tepat dan jitu. Saat ko skap dia cerita jika salah satu teman senior satu kost dulu, seorang lulusan ekonomi, mencoba mendekati calon pacar yang sedang didekati Ben dan menebar berita buruk tentang Ben. Dia akan menemui teman itu, pria asal Ponorogo. Saya menemani Ben datang ke rumah kostnya. Sore-sore kami datang ke tempat pria tadi, lupa namanya. Obrolan ringan biasa.

Ketika Ben melihat di antara pot-pot bunga di ruang tamu ada satu bunga hiasan  yang terbuat dari plastik, dia mulai beranjak serius. Mas ini kok plastik ya? Iya baru musim hiasan bunga plastik dik. Ini serangan telaknya yang pertama. Ben berkata serius dengan tenang luar biasa. Bunga plastik, sebegitu jauh manusia membuat kepalsuan ya mas? Pria itu wajahnya berkerut, mimiknya mulai berubah, meski tidak menyahut sama sekali. Dan ketika Ben melihat ada patung tanah liat, seekor macan menerkam macan lainnya dari belakang, dia berlanjut. Kenapa makhluk bumi selalu senang menyerang dari belakang ya mas? Saya tidak ingin teman saya menusuk saya dari belakang dengan kepalsuan. Terlalu banyak kepalsuan di antara kita. Tak ingat lagi jawaban teman tadi, tetapi saya hanya lihat wajahnya memucat.

Kami pulang sebelum magrib, tak banyak bicara di jalan. Beberapa minggu kemudian, seorang teman lulusan ekonomi dari Sragen, masih saudara sama Ben, cerita kalau sesudah kunjungan itu teman tadi nggak doyan makan, badan meriang sampai dua minggu. Karena serangan balik yang dilancarkan dengan sangat sopan. Saya tidak pernah mampu melakukan serangan balik yang demikian tajam saat PDKT, selalu saja ketendang kalah KO di tengah jalan dan terpermalukan tanpa ampun. Hanya bisa selamat karena semangat patah tumbuh hilang berganti.

Sampai akhir pendidikan setelah lulus dokter, saya mendengar jika Ben memperoleh hadiah Kalbe Farma. Ingin mengucapkan selamat kepadanya. Tetapi saya sudah sangat sibuk oleh karena tinggal dan praktek di Ambarawa. Ben juga sudah praktek di luar kota Yogya. Sampai suatu pagi dia muncul di kantor saya. Saya ingin mengucapkan selamat padanya mumpung ada kesempatan. Di luar dugaan, dia tersenyum lebar dan bertanya. “Wah kamu kabarnya dapat hadiah Kalbe Farma?”. Saya tertegun sesaat. Tak saya sadari saya bereaksi spontan. “Ah jangan nyindir, pacuan belum berakhir”. The race is not over yet. Kata-kata yang dia lontarkan dengan canda saat lulus SMA, kira kira 6 tahun sebelumnya. Seperti kata-kata yang dilontarkan Messala di akhir pacuan melawan BenHur, dalam film, begitu membekas dalam hati saya. Tak ada maksud apa-apa. Semangat berkompetisi itu tertanam dalam karena pendidikan di SMA dulu.

Perjalanan karier kami berdua berkembang stabil. Dia menjadi dokter bedah vaskuler yang sangat teliti, sesudah sebelumnya menjadi dokter forensik. Saya mengagumi ketelitian, ketekunan dan sikap disiplinnya terhadap profesi. Suatu saat ketika konsul membawa seorang famili ke Ben, dia bercerita baru saja menyelamatkan seorang pasien yang sudah divonis di rumah sakit pendidikan lain untuk diamputasi kedua kakinya karena penyumbatan arteri. Sumbatan itu bisa diatasi melalui operasi vaskuler tanpa harus amputasi. Sayang keberhasilan tersebut tidak dipublikasi. Dia pribadi yang diam, tekun menjalankan profesi tanpa hiruk pikuk publikasi. Kami sempat menulis bersama di salah satu majalah Asia, mengenai kasus-kasus gangrene kaki karena gigitan ular di salah satu negara di Asia Tenggara.

Kata-kata pacuan belum berakhir, tidak pernah ada dalam kamus  persahabatan kami. Kami tidak pernah merasa berpacu. Hanya refleksi pesan pendidikan semata saat SMA, untuk selalu berpacu dan berkompetisi. Kalau toh ada, pacuan itu sudah lama sekali berlalu, berpuluh tahun lalu ketika kami lulus SMA. Di masa senja, biasanya kami bertemu meski tidak sangat teratur. Sudah berbulan-bulan tidak bertemu. Ingin ngobrol kembali mengingat masa masa berpacu itu. Pacuan sudah lama sekali berlalu. Hanya menunggu akhir perjalanan waktu.

 

Salam damai, salam persahabatan.

Ki Ageng Similikithi

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

7 Comments to "Pacuan Sudah Lama Berlalu"

  1. budiono santoso  16 September, 2015 at 21:15

    Terima kasih pak Josh Chen dan bu Henie
    Semoga bisa senantiasa menggali kenangan masa lalu bersama teman teman seperjalanan waktu.
    All the best.

  2. J C  16 September, 2015 at 11:58

    Pak Ki Ageng, ditunggu cerita-cerita model dan gaya begini lagi ya…saya sangat suka menyimaknya…membawa aura dan suasana tersendiri yang susah dideskripsikan…

  3. Hennie Triana Oberst  15 September, 2015 at 06:44

    Suka dengan kisah-kisahnya Ki.

  4. Budiono Santoso  15 September, 2015 at 04:38

    Terima kasih pak Jame, Djas Merah Putih dan bu Lani.

    Bu Lani, becak njempalik itu kejadiannya di Langenastran dekat RS Mangkuwilayan. Becak melaju dari Utara, jalan agak menurun memang. Pas belok kekanan, kebetulan penumpangnya 3, becak numplek di parit tepi jalan. Tukang becaknya jelas nggak jatuh ok dia nangkring diatas. Harusnya dia ngangkat becaknya dulu yang numplek spy kita bisa keluar. DIa malah panik, kaki saya yang ditarik. Sesudah saya teriak agar dia membetulkan posisi becaknya, baru kita semua terbebas. Saya kira bukan peristiwa terisolir, konstruksi becak itu kalau dinaiki 3 orang pasti keseimbangan terganggu. idealnya ya untuk 1 penumpang, maksimal 2 penumpang

  5. Lani  15 September, 2015 at 00:19

    KI AGENG : Pertama-tama yg sgt menarik “Sayang dalam perjalanan pulang becak kebalik masuk selokan di Mangkuwilaya”. Lirik yg ada diartikel, krn aku bersama teman pernah mengalami sendiri.

    Kami ber 3 kejlungup, terjerembab, dikudungi becak, dan sibapak tukang becak gemantung di awang2.

    Kami semua tdk terluka krn aspal jalanan, malah ngakak2 bersama-sama, untung pas kejadian tdk ada mobil yg lewat jalanan menanjak itu sepi kendaraan.

    Ki, aku selalu menikmati tiap artikel, memory yg Ki tuangkan, penuh kenangan baik indah, senang/tidak menyenangkan dimasa lalu Ki. Setelah baca jadi berpikir, dan mengingat kembali kejadian2 dimasa lalu diri sendiri. Yah, masa lalu yg tdk pernah akan kembali, hanya bisa untuk dikenang.

    JAMES : mahalo

  6. djasMerahputih  15 September, 2015 at 00:05

    Hadir bang James…
    Bagi para Kenthirs, The Race is Roll Over…

    Makasih kisah persahabatan menariknya Ki Ageng…

  7. james  14 September, 2015 at 15:12

    1…….menunggu Pacuan para Truo Kenthirs lainnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *