Pada Mulanya adalah Lagu

Osa Kurniawan Ilham

 

Minggu, 28 Oktober 1928…

Berawal dari kesamaan hobi dalam hal bermain musik terutama biola, Amir Sjarifudin yang saat itu menjadi wakil Jong Bataks dan sekaligus bendahara Kongres Pemuda II memperkenalkan sohibnya; WR Supratman; kepada ketua sidang, Soegondo Djojopoespito. Supratman langsung menyerahkan secarik kertas berisi melodi dan syair lagu yang dia beri judul Indonesia Raya.

sukarno

Saat sidang hendak ditutup, menu penutup itu pun dihidangkan. Lewat jam 22:00, WR Supratman dipersilakan maju ke depan. Setelah membungkukkan badan, dia memainkan biolanya untuk memperkenalkan lagu gubahannya itu. Tiada syair yang dinyanyikan malam itu karena polisi rahasia Belanda melarang keras setiap ungkapan merdeka dalam sidang tersebut. Tapi saya yakin, sang sohib; Amir Sjarifudin; menyanyikan lagu Indonesia Raya tersebut dalam hatinya bersamaan dengan gemuruh doa dalam hatinya untuk Indonesia merdeka.

 

Minggu, 19 Desember 1948…

Malam itu 20 orang penduduk desa Karangmojo disuruh menggali lubang sedalam 1,7 meter di makam desa Ngalihan, Karanganyar. Setelah lubang selesai digali penduduk desa disuruh pergi kecuali 4 orang yang disuruh tetap tinggal.

Bersama 10 orang teman seperjuangannya, Amir Sjarifudin mendengarkan dengan seksama surat perintah hukuman mati dari Gubernur Militer Kolonel Gatot Subroto yang dibacakan oleh seorang letnan muda. Setelah menulis surat-surat pribadi, mereka pun bersiap menghadapi tembakan dari eksekutor.

Amir Sjarifudin meminta ijin untuk menyanyikan lagu yang akan mengiringi kematiannya di malam pekat itu. Dan terjadilah…mereka bersebelas menyanyikan lagu Internasionalle (yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Ki Hajar Dewantara) serta lagu kebangsaan yang sudah mereka perjuangkan seumur hidup mereka dalam keyakinan ideologi mereka: lagu Indonesia Raya. Setelah meneriakkan seruan untuk kaum buruh sedunia bersatu, sebutir peluru menembus kepala Amir Sjarifudin dan memutus jalan hidupnya.

Bung Hatta berpendapat mengenai Amir; dia dilahirkan sebagai Muslim, hidup dewasa sebagai Kristen dan mati sebagai komunis.

Tampaknya Bung Hatta lupa sebuah fakta, Amir Sjarifuddin mungkin memang telah dimatikan sebagai orang komunis; sebagai seorang komunis dalam ideologi perjuangan tetapi ternyata dia tetap sebagai seorang Kristen dalam imannya.

Dia dihukum mati dengan sebuah Alkitab tergenggam di tangannya….

Pada akhirnya sebuah lagulah yang mengantarkan kematiannya. Sebuah lagu yang dia perjuangkan 20 tahun sebelumnya; lagu Indonesia Raya.

Kala nyawanya dicabut, lamat-lamat dia mendengarkan sebuah syair merdu “….bangunlah jiwanya bangunlah badannya..hiduplah Indonesia Raya…”

Lalu pergilah jiwa-jiwa yang damai itu.

 

 

8 Comments to "Pada Mulanya adalah Lagu"

  1. Osa KI  17 September, 2015 at 04:50

    Menggigit apa mas JC? He..he

  2. J C  16 September, 2015 at 11:57

    Mas Osa, gaya penulisan seperti ini lebih dahsyat dan lebih “menggigit”

  3. Osa KI  15 September, 2015 at 08:56

    Bu Lani…di tulisan itu memang nggak saya tulis detail. WR Supratman meninggal setelah sakit berkepanjangan habis ditahan oleh polisi rahasia Hindia Belanda. Sedangkan Amir dihukum mati oleh TNI setelah ditangkap paska kerusuhan oleh FDR/PKI di Solo dan Madiun bulan September 1948

  4. triyudani  15 September, 2015 at 08:02

    Kisah yang mengharukan.Terimakasih sudah berbagi kisah

  5. Lani  15 September, 2015 at 00:29

    OsaKI: artikel sejarah yg menarik, sambil baca, sambil belajar.

    Pertanyaanku, mengapa yg dihukum mati Amir Syarifudin, bukan sang pencipta lagu Indonesia Raya, WR Supratman?

  6. Lani  15 September, 2015 at 00:23

    JAMES : mahalo

  7. djasMerahputih  14 September, 2015 at 23:51

    Hadir bang James…

    Terminologi Komunis telah menjebak putra-putri terbaik ke dalam kubangan sejarah…
    Ternyata Lagu ciptaan WR. Supratman ber”sweet seventeen” dengan kado sebuah KEMERDEKAAN.

  8. james  14 September, 2015 at 15:14

    1………lagu Trio Kenthirs

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.