Di Ujung Jalan

Dewi Aichi – Brazil

 

Di ujung jalan masuk sebuah perumahan kelas menengah, terdapat pohon nangka yang sangat rindang. Di bawahnya ada beberapa lincak untuk duduk-duduk. Nyaman sekali. Dan inilah suasana depan warung bu Subangun yang berada di ujung jalan.

Jam 8 pagi, warung bu Subangun sudah ramai. Biasalah, waktu segitu ibu-ibu rumah tangga, atau para asisten rumah tangga saatnya berbelanja, untuk menu makan siang. Jadilah warung bu Subangun bagaikan pasar kaget. Ramai dan berisik.

ngerumpi

Mba Yem belanja jam segitu karena anak-anak pun sudah berangkat sekolah, suaminya juga sudah berangkat bekerja. Jadilah mba Yem sendirian di rumah. Bisa santai-santai ke warung bu Subangun, sekaligus berinteraksi dengan para tetangga. Lagian waktu makan siang juga masih lama.

“Pagiiii….ibu-ibu!”

Seperti biasanya mba Yem dengan motornya menuju warung bu Subangun. Dan seperti biasanya pula mba Yem mulai ceriwis yang selalu ditunggu oleh ibu-ibu lainnya. Mba Yem yang luwes, ramah dan cantik, selalu mengulurkan tangan untuk membantu siapa saja yang membutuhkan. Oleh karena itu mba Yem disukai oleh siapa saja.

“Hari ini sih santai saja bu, nanti kan ada kenduri, bancakaan dari rumah bu Zainab, jadi cukup nyiapin untuk makan siang aja, palingan juga cuma anak-anak yang makan.”

Mba Yem seolah mengingatkan kepada ibu-ibu bahwa nanti sore pasti dapat bancakan dengan menu yang lengkap, cukuplah untuk satu keluarga. Nasi beserta lauk pauk lengkap.

“Mba Yem nih tau aja ya kalau mau dapat bancakan, ya kalau dapat, nanti kalau ngga ada bancakan gimana.?” Bu Sri menyela omongan mba Yem yang sok yakin. Bu Sri pikir, Bu Zaenab tak akan adakan kenduri,sebab seperti biasa, suami bu Zaenab juga tak pernah mau menghadiri kenduri di tempat tetangga yang hajatan. Menurutnya , kenduri itu bukan ajaran Islam, jadi sebagai umat beragama yang taat, keluarga ini tidak pernah ikut adat budaya di kampung.

“Oh…ya to bu Sri?”  Mba Yem seakan sadar dari  kekeliruannya. “Wah..ngga jadi santai deh hihihi…” mba Yem nyekikik.

“Emang hajatan apa sih tempat bu Zaenab, kok ngga denget apa-apa?, tanya Subangun.

Tiba-tiba mba Yem antusias menjawab, “itu lho kan Rahma, anak kedua bu Zaenab yang masih kuliah mau nikah.” Katanya kan ngga boleh pacaran. Bu Zaenab takut nanti Rahma pacaran. Daripada nanti berzina, lebih baik kan dinikahkan, meski umurnya baru 19 tahun.

Takut berzina kok dinikahkan, kalau takut berzina ya didik diberi tau, itu tugas sebagai orang tua. Kalau dinikahkan, artinya orang tua lepas tanggung jawab dong ya. Rahma adalah remaja yang suka mengomentari jika ada remaja lain pacaran. Juga sering mengkritik penampilan siapa saja yang menurutnya tidak pantas.

Katanya, “mba Yem kok pakai baju begitu keluar rumah, kan ngga pantas gitu lho mba, apalagi udah berkeluarga, ngga usah neko-neko mba, harus ngasih contoh ke yang lebih muda!”

Mba Yem jengkel banget, sebab tidak hanya kali itu. Rahma yang masih muda itu memang suka sekali mengomentari penampilan orang lain yang sekiranya tidak sepaham dengan dia. Terutama pada mereka muda-mudi yang pada menjalin cinta atau pacaran. Rahma mengatakan kepada mereka bahwa pacaran itu dilarang oleh Allah. Sambil mengatakan kepada mereka bahwa dirinya akan menikah tanpa pacaran, ia akan menikah karena Allah. Meski ia tidak mengenal dengan baik siapa calon suaminya. Dalam hati mba Yem berkata, “kayak orang paling benar saja nih anak”. Semua orang dinasihati.

“Kalau menikah sama orang yang belum dikenal sama sekali tuh gimana ya kalau mau malam pertama?”, bu Sri bertanya sambil senyum-senyum milihin sayuran yang akan dibelinya.

“Lah….saya malah membayangkan, kalau menikah sama lelaki yang belum dikenalnya, eh ngga taunya lelakinya suka mukul atau berkelakuan menyimpang bagaimana tuh nanti?”, apa harus bertahan dalam pernikahannya?”, pertanyaan bu Narti bertubi-tubi.

“Yaaaa….biarin saja to bu..wong dia-dia yang jalanin, tapi kalau hidupnya tidak bisa nikmat hanya karena doktrin, ya itu sudah urusannya”.”Jangan berisik ah ibu-ibu, ini lho harga tomat sedang murah, silahkan to bu diborong tomatnya ya, tadi pagi kebetulan disetorin tomat oleh pak Jumadi, kebetulan beliau sedang panen tomat.”

“Wah, bu Subangun itu kayak ngga hafal aja kalau kita sedang ngumpul di sini,” kata mba Yem. “Ya cuma ngga tahan saja untuk tidak ngerumpi, hihihi…”, lagi-lagi mba Yem nyekikik.

Tiba-tiba bu Subangun teriak, ” ibuuuu…ibuuuuu, ada wong edan tuh!” , ibu-ibu noleh kanan kiri mencari yang dimaksud bu Subangun.

“Mana ada orang gila?”, tanya bu Sri.

“Masa Jonru bilang, gara-gara Jokowi ke Masjidil Haram, musibah itu terjadi!”, dasar geblek ya…langsung deh aku delete tuh Jonru dari facebookku!”, bu Subangun mulai ngarang.

Jonru-Wahabi-PKS

“Wakakakakakkaa…..”, mba Yem nyekakak keras. “Gampang amat ya kita itu terprovokasi, lah wong Jonru itu bilang ke saya kemarin memang sengaja kok lempar statement kayak gitu, karena Jonru kan hafal benar kalau orang-orang kita itu mudah sekali kebakaran jenggot”, wis ayooo bubar..pulang pulang..!” mba Yem nyetater motornya.

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

16 Comments to "Di Ujung Jalan"

  1. Alvina VB  18 September, 2015 at 08:40

    He..he…..ceritanya lucu; btw, itu Jonru ginting sapa sich Wi? Temenmu kah?

  2. elnino  17 September, 2015 at 12:59

    Dewiiiik…siapa yang narik arisan kemarin? Aku pinjem dulu sini uangnya. Mau tak pake jalan2 ke Disneyland Bogor.

  3. Lani  17 September, 2015 at 11:37

    DA : akuuuur…………tanpa kenthirs sungguh sepi, merana dunia ini hahaha……..mengapa japriku rung dibalas???

  4. Dj. 813  17 September, 2015 at 01:02

    Hahahahahahaha . . . .

    Mbak DA . . .
    Sudah menjadi budaya di Indonesia, kalau ibu-ibu kan senang gosip . . .
    Bayangkan kalau Jokowi 10X kesana . . . ? ? ?
    Apanya yang runtuh . . . Hahahahahaha . . . ! ! !
    Salammanisd ari Mainz.

  5. donald  17 September, 2015 at 00:15

    di ujung jalan, Jonru sedang menunggu…

  6. Dewi Aichi  16 September, 2015 at 23:35

    Djas….warung bu Subangun memang tiap jam 8-9 pagi itu ramenya minta ampun, dan itu tempat maksiat….eh salah, tempat favorite ibu-ibu maksudnya hahaha….nanti lanjut tiap pagi di warung bu Subangun.

    Setuju soal keyakinan itu ada penganutnya sendiri, kadang orang merasa pas di ruang A, dan kurang nyaman di ruang B, dan bukan karena ngga suka di ruang B, hanya kurang nyaman saja…gitu lho…tapi kalau karena ngga pas, lalu dipas-pasin ya rasanya tetep ngga enak.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.