Individualisme, Kolektivisme dan Budaya Keroyokan

Louisa Hartono (Nonik)

 

Beberapa bulan yang lalu, saya bersama seorang pakar berkunjung ke suatu sekolah swasta di Surabaya untuk mengisi kegiatan pondok Ramadhan di sekolah tersebut. Setelah mendengarkan cerita berisi moral dari sang pakar, saya pun mengajak anak-anak berinteraksi dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan serta ajakan untuk maju ke depan kelas dan menceritakan kembali cerita yang mereka dengar.

Saya tertegun melihat betapa anak-anak ini sangat berani dan serempak menjawab pertanyaan yang saya ajukan secara kolektif, tetapi tidak ada satupun yang bersuara untuk menjawab pertanyaan seorang diri.

Fenomena keroyokan ini telah terjadi selama bertahun-tahun, sejak saya kecil hingga sekarang. Dan saya terkejut menyadari bahwa keroyokan yang terjadi di ruang-ruang kelas sejak SD itulah yang puncaknya termanifestasi dalam tawuran mahasiswa, bahkan baku hantam sesama anggota dewan.

individualism-collectivism

Sungguh tragis dan memilukan….

Beberapa bulan setelahnya, salah seorang teman berkata bahwa dia sebenarnya ingin ikut les ini itu di sore hari setelah kerja, tapi gak jadi-jadi karena alasannya, gak ada temannya. Saya mendengarnya gemes banget, dan akhirnya bilang, “Kamu kalau apa-apa selalu bergantung sama orang lain or ngajak barengan, gak akan maju-maju.”

Dia menggangguk menyadari hal itu, lalu lanjut lagi bercerita bahwa dia juga merasa risih kalau jalan atau makan sendirian, entahkah itu di mall atau di kantin. Saya memahami apa yang dialaminya dan tiba-tiba jadi kangen berat dengan Eropa, dimana saya terbiasa melakukan hampir semuanya sendiri. Saya biasa berjalan-jalan di taman sendiri, berbaring di atas rumput sambil membaca buku (sesuatu yang tidak bisa saya nikmati di Indonesia), pergi ke mall, opera, atau museum sendiri, berbelanja sendiri, dan makan sendiri, tanpa harus merasa tatapan aneh dari orang-orang di sekitar.

collectivism-individualism

Bukan berarti kalau di Indonesia pasti selalu diliatin sih, tapi rasanya pasti beda. Dan ujung-ujungnya ditanyain, “Kok sendirian? Pacarnya mana? Belum punya gandengan?! (tampang shock) Ah masa sih…. Buruan lho, ntar kalo lama-lama jadi susah punya anak…” Bisa dibayangin keponya kan!!! Mau nikah kapan, dengan siapa, punya anak kapan dan berapa urusan gue kek…. #sori jadi melantur en malah curhat#.

Menurut saya, di Indonesia ini kita sudah terdidik, dibesarkan dan biasa mengerjakan segala sesuatu secara bersama-sama. Atau istilah kerennya, gotong royong. Tapi menurut saya gotong royong ini tidak selalu baik karena bisa berkembang menjadi budaya over collectivism, yang saya uraikan penjelasannya di bawah.

Sedari dini, anak-anak kita terlihat berani saat menjawab dan mengerjakan sesuatu secara bersama-sama, tapi melempem dan tak berdaya bila harus disuruh berdiri sendiri. Dan ini terjadi di ruang kelas. Tak peduli sudah berapa kali ganti kurikulum dan metode pembelajaran, kualitas anak didik kita masih begitu-begitu saja, belum terlihat kemajuan yang berarti. Ini baru bicara soft skills, belum hard skills yang tercermin dari prestasi akademik siswa.

Selama ini, kita cenderung terkotak dalam dikotomi pemikiran baik buruk antara individualisme (buruk atau tercela) dan kolektivisme (baik atau terpuji). Di negara maju, budaya individualime terasa lebih kuat, sehingga setiap orang merasakan kebebasan diri yang lebih kuat pula. Tak heran, banyak penemuan-penemuan baru yang memajukan dan memudahkan hidup banyak tercipta dan lahir di sana. Orang tidak takut untuk mengemukakan hal-hal baru atau menjadi berbeda dari kelompok. Mereka tidak takut tertolak, karena mereka tahu siapa mereka alias memiliki identitas diri yang jelas. Mereka berani untuk menyelami dan mengenal diri mereka sendiri, sekalipun itu berakibat “dikeluarkannya” mereka dari kelompok. Namun demikian, bukan berarti orang dengan individualism yang kuat anti-sosial.

Tidak demikian halnya di Indonesia, yang kental dengan budaya kolektivisme atau kebersamaan. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi penekanannya secara berlebihan membuat individu kehilangan eksistensi dan kiprahnya untuk berkarya. Terkadang saya berpikir, kolektivisme di Indonesia telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Manusia hidup demi kepentingan dan keberlangsungan sesamanya, kelompoknya, dan masyarakatnya, dimana individu meleburkan dan mengikatkan identitas diri mereka dengan identitas kelompok, tapi kehilangan jati dirinya.

Di Indonesia, kolektivisme berimbas pada “matinya” individu dalam kelompok. Tidak terjadi timbal balik yang setimbang dimana asyarakat dan kelompok mendorong anggotanya untuk berkarya dengan terus membawa identitas, keunikan dan kekhasannya masing-masing. Akibatnya, banyak – dan mungkin sering – dijumpai dimana ketika seorang siswa ditanyai mengenai dirinya sendiri, tidak hanya cita-cita, tetapi juga impiannya, visi hidupnya, kelebihan dan kekurangannya, dia terlihat bingung.

Jika pun terlontar ucapan, hal itu adalah sesuatu yang sangat umum dan generik, bukanlah sesuatu khas yang menggambarkan dirinya sendiri, tanpa benar-benar mengerti apa yang diucapkan. Istilah Jawanya, asal mbeo.

Pengenalan akan diri sendiri terasa begitu kurang karena kurang atau tiadanya kebebasan yang dirasa dalam diri sendiri. Segala sesuatu dimonitor, dinilai, dan diukur oleh aturan yang ada dalam kelompok. Individu tidak bebas berkarya dan berkreasi karena takut akan penolakan kelompok.

Salah satu contoh yang paling nyata terjadi di ruang kelas kita, dimana menjawab secara “keroyokan” merupakan sesuatu yang umum ditemui di hampir semua sekolah, apalagi sekolah pinggiran yang masih berkutat dengan ketersediaan sarana dan prasarana. Hampir tidak terlihat tangan-tangan yang teracung untuk menjawab secara bergantian karena takut jawaban yang salah dan malu ditertawai teman. Pun ketika terjadi nyontek massal dimana guru, kepala sekolah, bahkan kepala dinas setempat turut terlibat, hal ini merupakan contoh lain perwujudan negative collectivism yang harus segera dihentikan.

standing out the crowd

standing out the crowd

Over collectivism juga mengakibatkan gerakan “mengikut arus”, tanpa terlalu peduli apakah yang dilakukan itu benar atau salah. Pernah dengar slogan “Wrong is wrong, even though everybody is doing it; right is right, even though nobody is doing it” kan? Nah, itu tidak (terlalu) berlaku di Indonesia. Gak peduli benar atau salah, asalkan itu dilakukan rame-rame, berarti benar. Lihat saja perilaku korupsi yang tiada henti ditayangkan di televisi. Atau kalau mau contoh yang lebih dekat, lihatlah perilaku berkendara orang di jalan, seperti yang pernah saya tulis di artikel saya sebelumnya di Uneg-uneg soal Transportasi Publik di Indonesia (http://baltyra.com/2015/08/27/uneg-uneg-soal-transportasi-publik-di-indonesia/).

Mungkin tanpa kita sadari, over collectivism atau penekanan kolektivisme yang berlebihan dalam masyarakat kita berimbas pada rendahnya kualitas hidup dan persepsi masyarakat (Indonesia) yang masih cetek atau dangkal. Ambillah contoh dalam hal berpacaran. Seorang teman mengatakan, being singles is despicable in Indonesia.

Menjadi single adalah sesuatu yang masih dipandang rendah, ora ilok, oleh masyarakat kita. Orang – terutama wanita – dipandang utuh bila sudah menikah. Demikian juga, orang tua dinilai telah tuntas kewajibannya bila telah menikahkan anaknya. Jika Anda seorang lajang yang berusia 25 tahun ke atas, maka bersiap-siaplah untuk mendengar pertanyaan-pertanyaan nyinyir kapan bersanding ke pelaminan. Padahal, pertanyaan itu tak sepenuhnya peduli dengan kondisi sang lajang, melainkan hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu si penanya.

Walhasil, sang lajang jadi terbeban untuk segera kawin, meskipun mungkin justru kondisi single-nya yang memampukan dia untuk berkarya dan berkontribusi lebih bagi masyarakat. Ngomong-ngomong, saat saya berbicara di depan ratusan orang tua murid, guru, dan kepala sekolah di SD-SD miskin di Surabaya, saya banyak menekankan dan mendorong mereka untuk tidak cepat-cepat menikahkan anak perempuannya :p Kata saya, “Bapak Ibu panjenengan sedoyo, menawi kagungan lare wedok ojok dikongkon cepet-cepet rabi lho… Ojok sering dingendikani, ‘nduk-nduk, ngopo koe sekolah dhuwur-dhuwur, ujung-ujunge yo mengko mlebu pawon ngladeni bojomu..” (Bapak Ibu sekalian, kalau punya anak perempuan jangan disuruh cepat-cepat menikah lho…. Jangan sering dibilangi, ‘nak, nak, ngapain sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya juga kamu masuk dapur melayani suami).

Dampak lainnya, over collectivism membuat seseorang tidak berani untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya bila tidak “ditemani” atau melibatkan orang lain. Hal ini dengan gamblang diperlihatkan oleh perilaku anggota dewan yang terhormat saat tertangkap basah korupsi. Alih-alih dengan berani mengaku salah dan bersedia memikul tanggung jawab, mereka menyeret nama-nama lain (terlepas dari apakah mereka terlibat atau tidak) demi bisa “menikmati penjara bersama-sama”. Atau ketika melihat seorang pejabat tinggi berteriak-teriak minta tolong memanggil nama mantan presiden kita untuk melindungi dan menyelamatkan dirinya dari proses hukum, karena merasa diperlakukan tidak adil, hal yang sungguh menggelikan sekaligus memalukan.

Mungkin inilah saat untuk meredefinisi dan memikirkan artian individualisme dan kolektivisme secara lebih mendalam. Inilah saat dimana kita mengajari anak-anak kita untuk berani tampil ke depan, sendirian, dan menjadi sosok yang berbeda tanpa harus takut atau minder akan pendapat orang lain.

 

 

About Louisa Hartono

Nonik – cewek kelahiran Semarang dan besar di Purworejo. Setelah menamatkan studi masternya di Swiss, dia kembali ke Indonesia. Saat ini bekerja sebagai CSR Field Coordinator & Donor Liaison Officer di salah satu perusahaan ternama di Surabaya. Hobinya masih sama: jalan-jalan, membaca, dan belajar bahasa asing. Walaupun tulisannya banyak mengkritik Indonesia, tapi mimpi dan hatinya tetap bagi Indonesia. Suatu saat ingin bisa kerja di UNESCO sambil membawa nama Indonesia di kancah internasional, lalu pulang dan bikin perpustakaan dan learning center di Purworejo, kampung halamannya.

My Facebook Arsip Artikel

15 Comments to "Individualisme, Kolektivisme dan Budaya Keroyokan"

  1. Dewi Aichi  21 September, 2015 at 08:52

    ha ha ha..cocok mas Sumonggo kepo is our national heritage.

  2. Lani  18 September, 2015 at 10:29

    AL : boleh juga tuh, kamu bikin bisnis biro jodoh. Mereka sdh krasan dan tdk usah pulang kampung

  3. Nonik-Louisa  18 September, 2015 at 09:26

    makasih semua komennya

    @Mbak Alvina: iya bener, setelah diomongin gitu juga kembali lagi ke ortunya. Banyak dari orang tua murid ini yang berasal dari, maaf, etnis Madura, yang rata2 menganut prinsip banyak anak banyak rejeki. Tentu tidak semua begitu ya… dan saya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan suatu ras disini, tapi di Surabaya ternyata sudah biasa stereotype antara suku Jawa & Madura. Saya sendiri kaget juga pas tahu sentimen/stereotype soal ini.

    Soal banyaknya anak & bayi perempuan yang dibunuh di India, saya juga baru belajar. Ternyata ga hanya bangsa China yang lebih prefer anak laki2 ya, ternyata di India juga begitu…. Terus disana apakah sudah ada kebijakan yang melarang pemakaian USG untuk mengetahui jenis kelamin bayi seperti di China?

  4. Alvina VB  18 September, 2015 at 09:14

    Lanjut komennya yak…
    Kata si Noni: “Jangan sering dibilangi, ‘nak, nak, ngapain sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya juga kamu masuk dapur melayani suami.” Nasehat yg bagus banget…pertanyaannya: apa org tua tsb mudeng dan mau dengerin? Jaman dulu kebanyakan anak laki2 yg disekolahkan tinggi dan anak perempuan gak disekolahin tinggi2 krn alesan yg sama. Kata kenalan org India di sini, di India juga sama aja euy…mereka bilangnya buat apa ngurusin kembang yg nantinya dipetik org lain, cek..cek…India adl negara yg banyak membunuh banyak anak perempuannya, bahkan sebelum lahirpun, dah di USG ketahuan ini bayi perempuan, langsung digugurin. Makanya banyak pelajar perempuan dari India yg sudah kelar belajar disini gak ada yg mau pulang, krn kata mereka percuma dah belajar tinggi2 pas pulang dijodohin or-tunya; kl dpt suami yg baik dikasih kebebasan, kl dpt kel. yg masih kuno banget, ya dirumahkan, sia2 dah udah sekolah tinggi2 akhirnya masuk ke dapur juga, demikian keluh-kesah pelajar wanita India di sini. Untungnya pelajar wanita dari Indonesia gak ada yg berkeluh kesah kek gitu, mereka paling bilangnya dah kerasan di sini tante…tolong cariin jodoh dong, jadi gak usah pulang lagi, emangnya kita biro jodoh apa? he..he…

  5. Alvina VB  17 September, 2015 at 13:28

    Wuih..dah ngetik panjang2 komennya ilang euy…lanjutin besok dah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.