Kuasa Jepang di Jawa: Perubahan Sosial di Pedesaan 1942-1945

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Kuasa Jepang di Jawa – Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa 1942 – 1945

Penulis: Aiko Kurasawa

Penerbit: Komunitas Bambu

Tebal: liv + 618

ISBN: 978-602-9402-56-8

kuasa jepang

Tujuan pokok pendudukan Jepang di Asia Tenggara adalah untuk memperoleh sumber-sumber ekonomi dan untuk menciptakan suatu landasan pasok ekonomi demi kepentingan perang (hal. 131). Demikian pula dengan kedatangan Jepang ke Jawa. Jawa adalah pulau yang subur dan memiliki jumlah penduduk yang padat. Itulah sebabnya Jepang menjadikan Jawa sebagai lumbung padi dan sumber tenaga kerja (romusha). Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, Jepang melakukan peningkatan teknologi bercocok tanam padi, perbaikan/pembangunan sawah baru dan irigasi, serta menggunakan penguasa-penguasa lokal untuk propaganda dan mengontrol program-pogram yang dilaksanakannya.

Karena mendanai perang adalah tujuan utama Jepang di Jawa, maka semua program yang dilakukan sama sekali tidak memperhatikan penderitaan rakyat. Akibatnya penderitaan bahkan kematian akibat kelaparan melanda Jawa. Bahkan menurut Aiko Kurasawa, penurunan penduduk Jawa bukan hanya disebabkan oleh kematian, tetapi juga oleh penurunan drastis angka kelahiran. “Gejala ini (penurunan drastis penduduk Jawa) tidak hanya terutama akibat meningkatnya kematian, tetapi juga penurunan absolut angka kelahiran. Rakyat di daerah pedesaan sering mengatakan bahwa sewaktu pendudukan Jepang rakyat sulit memiliki tenaga dan keinginan dalam memenuhi fungsi reproduksi karena kelaparan dan kesulitan-kesulitan hidup keseharian lainnya (hal. 119).”

Secara khusus Aiko membahas empat contoh pemberontakan/kerusuhan sebagai akibat dari tekanan Jepang. Keempat pemberontakan tersebut adalah:

(1) Pemberontakan Kyai Zainal Mustafa di Tasikmalaya (hal. 503-519);

(2) pemberontakan petani di Indramayu (hal. 519-524);

(3) Pemberontakan di Sindang dan Lohbener (hal. 524-527); dan

(4) Pemberontakan Bugis (hal. 527-532).

Aiko Kurasawa membagi bukunya ke dalam tiga bagian. Bagian pertama membicarakan dampak kebijakan Jepang terhadap desa. Bagian kedua membicarakan usaha propaganda dan mobilisasi penduduk. Bagian ketiga berisi tentang masyarakat desa yang terguncang. Masing-masing bagian terdiri dari beberapa bab. Pembagian ini sangat membantu kita untuk memahami alur pembahasan.

 

Program Peningkatan Produksi Beras

Program peningkatan produksi padi di Jawa bertujuan untuk: (1) memenuhi kebutuhan makan angkatan darat Jepang, (2) memenuhi kebutuhan makan angkatan laut Jepang, (3) memenuhi kebutuhan pangan wilayah pendudukan lain, dan (4) memberi makan romusha (hal. 106). Program peningkatan produksi di Jawa ini sama sekali tidak ditujukan untuk menambah pasokan beras bagi masyarakat Jawa sendiri.

Inovasi bercocok tanam padi yang diintroduksikan di Jawa dengan cara yang sangat cepat dan dalam tekanan tidak mampu memenuhi kebutuhan beras seperti yang diharapkan. Jenis padi baru dan cara bertanam larikan diperkenalkan. Meski pada awalnya cara ini dianggap berat oleh petani Jawa namun teknologi ini masih dipakai sampai sekarang. Namun secara keseluruhan upaya modernisasi bercocok tanam padi ini gagal total. Salah satu penyebab kegagalan adalah berkurangnya secara drastis tenaga kerja pertanian di Jawa karena dijadikan romusha (hal. 199).

Kegagalan peningkatan produksi padi ini berakibat pada berkurangnya pasokan padi untuk rakyat. Jepang tetap mengutamakan pasokan padi untuk tentara-tentaranya yang sedang berperang. Jepang menetapkan kebijakan “Wajib Serah Padi” (hal 81). Kebijakan ini mengakibatkan penderitaan rakyat yang amat sangat. Rakyat hanya mendapat jatah beras sebanyak 32 gram/orang/hari dari yang seharusnya 230 gram/orang/hari pada akhir tahun 1944 dan awal tahun 1945. Akibatnya rakyat memakan apa saja temasuk bonggol pisang.

 

Romusha

Program pengerahan tenaga kerja (romusha) juga dilakukan dengan propaganda yang masif dan kerjasama dengan para pemimpin. Pemimpin sekaliber Sukarno, Otto Iskandardinata ikut serta berpromosi dengan menjadi romusha. Mula-mula program romusha ditujukan untuk memberi kerja kepada orang-orang miskin di pedesaan. Para buruh tani yang tanpa lahan direkrut menjadi tenaga romusha untuk membangun infrastruktur untuk mengeksploitasi kekayaan alam dan membangun sarana perang seperti landasan pesawat.

Romusha dipakai untuk membangun rel kereta api sepanjang 150 km dari Saketi ke Bayah untuk mempermudah pengangkutan barang tambang (hal 156). Romusha dari Jawa juga dibawa untuk membangun rel kereta api sepanjang 414 km dari Burma ke Siam (hal. 157) dan pembangunan landasan pacu pesawat di Pulau Guadalcanal (hal. 158) serta saluran irigadi di Kediri (hal. 171). Namun akhirnya karena pasokan akan tenaga kerja ini kurang, maka perekrutan romusha menjadi membabi buta. Bahkan Jepang melakukan penculikan orang-orang di kota, di dekat pasar untuk dijadikan romusha.

Demikian buruk akibat dari kebijakan romusha ini. Romusha tidak hanya menimbulkan kerugian fisik di pedesaan Jawa, tetapi juga mengakibatkan luka psikologis. Itulah sebabnya romusha menjadi simbol kekejaman Jepang di Jawa (hal. 200).

jepang-di-jawa

 

Propaganda dan Strategi Kontrol

Bagaimana Jepang bisa mengorganisir kebijakannya di Jawa? Bukankah mereka datang tiba-tiba dan dalam waktu singkat saja ada di Jawa? Lagi pula jumlah mereka tidak cukup banyak untuk bisa mengontrol seluruh wilayah yang dijadikannya sumber pendanaan perang? Kunci dari keberhasilan Jepang dalam menerapkan kebijakan-kebijakannya secara masif dan dalam waktu yang singkat adalah dengan pembentukan organisasi Tonarigumi (Rukun Tetangga atau RT). RT dipakai sebagai alat untuk mobilisasi total penduduk di Jawa. Bahkan di beberapa tempat tonarigumi sebagai alat “pengendali pikiran” (hal. 219).

Jepang mendirikan organisasi Sendenbu segera setelah menduduki Jawa. Sendenbu didirikan pada Bulan Agustus 1942. Organisasi yang bertanggung jawab untuk mengurus propaganda ini memegang peranan penting dan strategis untuk melancarkan tujuan pendudukan Jepang di Jawa. Sendenbu menggunakan film-film, drama, wayang, tai-tarian, kamishibai (teater kertas) dan lagu-lagu, serta radio.

Selain pembentukan rukun tetangga, Jepang menggunakan empat kekuatan yang ada saat itu. Keempat kekuatan tersebut adalah: (1) para nasionalis, (2) ulama, (3) pangreh praja, dan (4) pemuda. Mula-mula Jepang berharap banyak kepada para nasionalis dan ulama. Jepang memfasilitasi pembentukan organisasi pemuda dan ulama untuk mempermudah koordinasi dan kontrol.

Organisasi seperti “POETERA” dan “Tiga A” didirikan oleh para nasionalis. Sementara Masjoemi didirikan untuk mewadahi para ulama. Jepang juga mendirikan Shumubu dan Shumuka, kantor urusan agama (khususnya Islam). Untuk pemuda, Jepang mendirikan Seinendan dan Keibodan. Sedangkan untuk para pangreh praja, Jepang mendirikan Jawa Hokai. Selain dari pendirian organisasi, Jepang juga memberikan pelatihan kepada para nasionalis dan ulama. Pelatihan ini terutama dilakukan untuk indoktrinasi (hal. 340).

Jepang berupaya semua kekuatan itu bisa bersinergi untuk mendukung kepentingan Jepang. Misalnya dalam menentukan peserta pelatihan Alim Ulama. Peserta pelatihan tidak semuanya berasal dari ulama/guru mengaji. Tetapi banyak yang berasal dari para priyayi. Aiko menyatakan bahwa maksud dari peserta pelatihan yang tidak semuanya dari unsur ulama ini adalah “supaya alim ulama tidak membentuk kekuatan sosial sendiri (hal. 357).” Demikian pula perlakuan Jepang terhadap para pangreh praja. Jepang melakukan penggantian kepada para lurah dan bupati yang tidak loyal kepada Jepang. Penggantiannya juga tidak selalu berasal dari keturunan para priyayi. Cara ini efektif untuk mengontrol para pangreh praja tidak mampu melakukan konsolidasikan pemberontakan.

 

Manfaat Penjajahan Jepang untuk Indonesia

Aiko menyampaikan beberapa manfaat yang didapat Indonesia akibat penjajahan Jepang ini. Manfaat itu di antaranya:

(1) pembentukan organisasi-organisasi dan pelatihan memberikan kesempatan kepada orang Indonesia berlatih tentang berorganisasi sampai di tingkat desa;

(2) Pembentukan Masjoemi dan Shumusu memberi kesempatan kepada ulama untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan politik dan kenegaraan;

(3) Tindakan Jepang kepada pangreh praja menjadi cikal bakal birokrasi yang berbasis kemampuan daripada birokrasi yang diwariskan secara turun-temurun.

 

Buku ini sangat luas cakupannya, meski fokusnya adalah perubahan sosial di pedesaan Jawa. Data-data yang dipakai oleh Aiko begitu banyak. Sehingga buku ini bisa menjadi rujukan yang baik dalam menelaah topik-topik lain, seperti peran ulama dalam perpolitikan di Indonesia, telaah birokrasi dan sebagainya.

Kalau ada yang terlewat dari buku ini adalah masalah Jugun Ianfu yang pengaruhnya juga sangat hebat bagi Indonesia sebagai bangsa. Pastilah masalah perekrutan perempuan untuk keperluan perang ini juga berpengaruh di tingkat desa. Sehingga sangat layak menjadi bagian kajian dari buku ini.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

14 Comments to "Kuasa Jepang di Jawa: Perubahan Sosial di Pedesaan 1942-1945"

  1. Handoko Widagdo  18 September, 2015 at 11:27

    Avy, terima kasih untuk link-nya. Saya hanya menyampaikan bahwa buku ini sama sekali tidak menyinggung tentang jugun ianfu. Banyak buku dan dokumen lain yang menggambarkan betapa jugun ianfu ini menderita amat sangat luar biasa.

  2. Alvina VB  18 September, 2015 at 10:06

    Han, kl mau dengerin cerita wanita Ind yg dipekerjakan sbg ‘jugun lanfu’ pada jaman jepang dah ada dokumentasinya, ttp dlm bhs belanda. Minta tolong itsme dah buat diterjemahin, he..he….
    https://www.youtube.com/watch?v=Hx4vRRH7rhc

  3. Handoko Widagdo  17 September, 2015 at 15:10

    Memang buku yang sangat bagus dan layak dikoleksi Djas.

  4. Handoko Widagdo  17 September, 2015 at 15:09

    Saya juga belum lahir James.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.