[Di Ujung Samudra] Sisa-sisa Penyesalan

Liana Safitri

 

“MELIHAT keadaannya tidak begitu baik… mungkin akan sulit untuk bisa hamil lagi!”

Kata-kata Dokter Chou seperti mimpi buruk yang tiba-tiba menyergapnya. Lydia berjalan menapaki lantai koridor rumah sakit tanpa tenaga.

“Perkiraan dokter tidak selalu tepat! Jangan mudah percaya. Masih banyak dokter lain yang bisa kita datangi. Dan…” Tian Ya meletakkan tangan di bahu Lydia kemudian menambahkan sambil tersenyum, “… kita masih punya banyak kesempatan!”

Lydia tidak berkata apa-apa.

“Tian Ya! Lydia!”

Tiba-tiba ada yang memanggil mereka. Lydia dan Tian Ya sama-sama menoleh. Tuan dan Nyonya Li muncul dari arah berlawanan.

“Mama! Papa!” Untuk sesaat Tian Ya tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Lydia merasa tegang dan waswas, tapi memaksakan diri menyapa, “Siapa yang sakit, Ma? Pa?”

“Kami hanya melakukan cek kesehatan rutin.” Kemudian Tuan Li bertanya penuh selidik, “Tadi saat bertemu dengan Dokter Chou, dia mengatakan jika Lydia baru saja dirawat. Apakah benar?”

Setelah bertukar pandang dengan Lydia, Tian Ya mengangguk. “Ya.”

“Kenapa kalian tidak memberitahu kami?”

Kemudian pembicaraan berlanjut di rumah Lydia dan Tian Ya. Tuan dan Nyonya Li terkejut bukan kepalang mengetahui Lydia baru saja mengalami keguguran.

“Keguguran? Bagaimana bisa?”

Lydia lebih dulu menjawab, “Aku tidak hati-hati saat menuruni tangga lalu terpeleset dan jatuh…”

Apa maksudnya? Kau memberi kesan seolah-olah keguguran ini terjadi hanya karena salahmu?

Tian Ya ingin menyanggah, tapi Lydia buru-buru mengedipkan mata. Mereka tidak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Tuan dan Nyonya Li! Tidak soal Xiao Long! Tian Ya terpaksa mengimbangi kebohongan istrinya, “Lydia jatuh waktu aku tidak ada di rumah!”

“Kalian ini…” Tuan Li kehabisan kata-kata menghadapi Lydia dan Tian Ya sehingga ia tidak melanjutkan bicara, hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Tapi Nyonya Li mengomel tanpa henti. “Tian Ya, masa kau tidak tahu istrimu hamil? Tidak tahu tanda-tanda kehamilan? Kau tidak memperhatikan apakah dia sering merasa lelah, mual-mual, atau tidak nafsu makan? Dan… aduh… kenapa membiarkan Lydia di rumah sendirian? Kenapa tidak cari pembantu?”

“Setiap orang kan menunjukkan gejala kehamilan yang tidak sama. Kami juga baru satu minggu menempati rumah ini, tidak mudah mencari pembantu,” Tian Ya membela diri.

“Bukankah Mama sudah pernah mengatakan, kalian belum perlu pindah ke rumah baru? Rumah kami masih cukup luas dan ada banyak kamar kosong, tidak masalah jika bertambah dua orang.” Tanpa dapat menyembunyikan kecemasannya Nyonya Li bertanya, “Lalu apa kata Dokter Chou? Tidak ada masalah serius, kan? Masih bisa hamil lagi, kan?”

“Mama!”

Seruan Tian Ya membuat Nyonya Li segera terdiam.

Semua orang berusaha tidak menyinggung-nyinggung masalah keguguran lagi. Namun perasaan Lydia terlanjur muram dan ia tidak banyak bicara sepanjang sisa hari itu.

Tian Ya, masa kau tidak tahu istrimu hamil? Tidak tahu tanda-tanda kehamilan? Kau tidak memperhatikan apakah dia sering merasa lelah, mual-mual, atau tidak nafsu makan?

Meski Nyonya Li berbicara pada Tian Ya, Lydia tahu kalimat itu secara tidak langsung ditujukan kepadanya.

StormOfSadness

 

Lydia menangis di tengah malam, membuat Tian Ya terbangun.

“Ada apa? Kenapa menangis?”

Lydia hanya terisak-isak sambil menyembunyikan wajah di balik bantal.

“Pasti kau masih memikirkan kata-kata Dokter Chou, ya?” Tian Ya meraih tubuh Lydia, membuat keduanya duduk berhadap-hadapan.

“Lydia, lihat aku!”

Lydia mengangkat kepala perlahan-lahan hingga matanya menatap mata Tian Ya. Tian Ya berkata sungguh-sungguh, “Aku kan sudah bilang, tidak apa-apa! Kita tidak tahu kau hamil, tidak tahu kalau Xiao Long tiba-tiba muncul dan membuat masalah! Lagi pula sudah terlanjur… mau bagaimana lagi? Yang dikatakan Dokter Chou juga belum tentu benar! Masih banyak dokter-dokter hebat di Taiwan yang belum kita datangi, aku akan menemanimu pergi ke rumah sakit mana pun! Ke luar negeri juga boleh! Jangan membuat peristiwa keguguran ini seolah seperti kiamat!”

“Tapi… mama dan papa sepertinya marah…” ujar Lydia lirih. Ia sedih karena telah mengecewakan kedua mertuanya yang baik itu.

Tian Ya menarik Lydia ke dalam pelukannya seraya berkata penuh penyesalan, “Ah… bodohnya aku! Seharusnya aku tidak membawamu ke rumah sakit Dokter Chou karena dia dokter keluarga kami sejak dulu! Aku tidak memikirkan kemungkinan kalau akan bertemu mama dan papa di sana! Mama dan papa tidak marah, mereka hanya khawatir. Kau tahu mereka memang selalu begitu!”

“Tapi… bagaimana kalau… kalau seandainya… yang dikatakan Dokter Chou benar? Kalau tidak bisa hamil lagi aku…” Lydia mulai berpikir yang tidak-tidak dan tangis yang sejak kemarin selalu ditahan pun pecah.

“Tidak usah mempercayai Dokter Chou, kau cukup percaya padaku! Juga jangan terlalu menyalahkan diri sendiri. Aku juga salah karena meninggalkanmu sendirian, akulah yang tidak bisa menjagamu! Kau tahu, waktu menemukanmu dalm keadaan tidak sadarkan diri dan… berdarah… Aku begitu panik dan takut. Aku takut kalau kau…” Tian Ya tidak mampu meneruskan kalimatnya. “Aku terkejut dan kecewa ketika Dokter Chou memberi tahu bahwa kau keguguran, tapi aku jauh lebih lega ketika mengetahui lukamu tidak serius dan kau baik-baik saja. Rasanya sebagian nyawaku hampir melayang…”

“Kukira aku akan mati… dan tidak bisa melihatmu lagi…”

“Tapi kau bisa bertahan!”

“Itu karena aku terus mengingatmu!”

“Sekarang kau bersamaku! Tidak akan kubiarkan sesuatu yang buruk menimpamu!” Sesaat kemudian Tian Ya menunduk dan bertanya, “Lukamu bagaimana?”

Sudah satu minggu sejak Lydia keluar dari rumah sakit, Tian Ya harus membantu mengobati luka-luka di sekujur tubuhnya. Sementara Lydia berbaring menelungkup dengan punggung terbuka sambil menahan sakit. “Apa Dokter Chou hanya memberikan obat salep? Apa tidak ada obat lain yang cukup diminum saja?”

“Dari Dokter Chou tidak ada. Tapi sepertinya aku tahu obat yang tidak membuatmu merasa sakit.” Tian Ya berhenti mengoleskan salep.

“Obat apa itu?” tanya Lydia.

Tian Ya tidak menjawab. Ia langsung membungkuk dan menghujani Lydia dengan ciuman.

Setelah bangun tidur Lydia tampak lebih tenang, tidak seputus asa kemarin. Namun bukan berarti ia langsung bisa menjalani hari-hari dengan normal seperti sebelum mengalami keguguran. Pagi itu Tian Ya yang menyiapkan sarapan.

“Makanlah, Lydia!”

“Nanti saja, aku belum lapar…”

“Nanti? Nanti itu kapan? Sekarang sudah jam sepuluh!”

“Iya, sebentar lagi!”

Tian Ya mulai sibuk dengan pekerjaan kantor yang dibawa ke rumah selama mengambil cuti. Namun setelah semua selesai dan matahari berpindah tepat di atas ubun-ubun, Tian Ya melihat Lydia masih duduk diam di depan televisi.

“Belum makan juga?”

“Belum lapar…”

“Belum lapar, belum lapar!” Suara Tian Ya mulai meninggi. “Mana boleh seperti itu? Kalau pun tidak merasa lapar juga harus makan! Apalagi kau baru keluar dari rumah sakit! Bagaimana mau sembuh?”

“Kalau sudah lapar aku juga akan makan sendiri!”

Tanpa memedulikan kata-kata Lydia, Tian Ya mengambil piring, mengisinya dengan nasi goreng dan telur mata sapi bagian kuningnya saja. Mereka masih seperti dulu, Lydia tidak suka putih telur, sedangkan Tian Ya tidak suka kuning telur. “Menu sarapan kita nasi goreng telur. Jangan protes, karena ini satu-satunya makanan yang bisa aku masak. Kalau ingin makan makanan yang lebih enak, nanti kita beli. Tapi untuk sementara makan ini saja dulu.” Pria itu menggeser kursi ke dekat Lydia lalu membujuk, “Aku suapi, ya? Waktu kecil ketika sakit, bukankah kita baru mau makan kalau disuapi mama? Oh… aku lupa kalau kau biasa memanggil ‘ibu’! Karena ibumu tidak ada di sini, jadi aku yang menyuapi! Tidak pakai sumpit, tapi pakai sendok. Sudah mirip sekali seperti di Indonesia, kan? Buka mulutmu! Aaaa…”

Tian Ya menyorongkan sesendok nasi ke bibir Lydia. Namun wanita itu malah memalingkan wajah dengan geli sekaligus kesal. “Apa sih, yang kau lakukan? Aku bukan anak kecil lagi! Sudah kubilang aku belum lapar! Kau sendiri belum makan!”

Tian Ya mendengus, kembali meletakkan piring ke atas meja. “Kalau kau tidak makan, aku juga tidak akan makan!”

“Mana bisa begitu?”

“Bisa saja!”

Akhirnya Lydia menyerah. “Ya sudah, aku makan sekarang! Tapi kau juga harus makan!” Ia mengambil satu piring dan sendok lagi, mengisinya dengan nasi dan putih telur yang sudah dipisahkan dari kuning telurnya sampai tak berbentuk, lalu menukar piring itu dengan piring yang ada di hadapan Tian Ya.

Tian Ya melirik pada Lydia yang kini mulai makan meski tidak bersemangat. “Nah, sekarang kau tahu kan, seperti apa kekhawatiran yang kurasakan jika kau tidak mau makan! Disuruh makan saja susah sekali!” Ia mengetuk-ngetukkan sendok ke piring lalu bertanya, “Sudah berapa lama ya, kita tidak pulang ke Indonesia?”

“Satu tahun lebih!”

“Berarti sudah lebih dari satu tahun ini kau tidak bertemu orangtuamu…” Tian Ya mengingat-ingat saat dirinya membawa kabur Lydia ke Taiwan. Keputusan yang sangat nekat. Tapi kalau tidak nekat mereka tidak akan bisa menikah dan duduk makan bersama seperti sekarang. “Kau tidak merindukan… mereka?”

“Tentu saja aku merindukan ayah dan ibu! Hanya saja… aku tidak tahu apakah mereka masih mau menerimaku…” Lydia menundukkan kepala dengan wajah murung.

Tian Ya menyadari kalau dirinya telah salah bicara. “Ah, kenapa aku malah menanyakan hal itu? Kemudian ia berkata menghibur, “Suatu saat nanti ayah dan ibumu pasti bisa menerima kita! Kita tunggu saat yang paling tepat untuk pulang ke Indonesia!”

Bunyi bel menghentikan percakapan Lydia dan Tian Ya.

Lydia tersentak, langsung melompat dari tempat duduknya dan memegang lengan Tian Ya erat-erat. “Dia datang… dia datang…”

Mungkinkah Xiao Long kembali datang ke rumah mereka? Tian Ya berkata waspada, “Kau di sini saja, biar aku yang lihat!”

Kekhawatiran Lydia dan Tian Ya rupanya sama sekali tidak terbukti karena yang mengunjungi mereka adalah Fei Yang dan Xing Wang.

“Hari ini aku mampir ke butik mamamu, dia mengatakan kalau Lydia baru saja keluar dari rumah sakit karena keguguran! Aku lalu mengajak Xing Wang kemari. Keguguran karena apa? Kenapa tidak memberitahu aku atau Xing Wang? Kalian benar-benar tidak setia kawan!” Fei Yang menyalahkan Tian Ya.

“Bukan begitu! Aku hanya tidak ingin ada terlalu banyak orang yang cemas karena masalah ini,” kata Tian Ya tidak enak hati.

“Tentu saja cemas! Karena kami teman kalian, jadi kami peduli dengan keadaan kalian! Kau menghubungiku dan mengatakan kalau Lydia tidak bisa datang ke rumah mengajariku bahasa Indonesia karena sakit, kupikir hanya flu atau demam biasa! Mana aku tahu kalau ternyata mengalami keguguran!”

“Wah… kalian berdua sedang makan bersama, ya! Romantisnya!”

Seruan Xing Wang membuat Lydia terkejut. Ia mengangkat kepala. “Fei Yang! Xing Wang! Kenapa kalian tidak menelepon dulu?”

“Memangnya kami baru boleh datang setelah menelepon?” balas Xing Wang.

Tian Ya menawarkan, “Fei Yang, Xing Wang… Apakah kalian mau ikut makan? Aku masih tidak memperbolehkan Lydia melakukan aktivitas apa pun yang membuatnya lelah. Ini masakanku sendiri. Aku tidak menjamin rasanya enak, tapi lumayan!”

“Tidak. Aku dan Xing Wang sudah sarapan di kafe. Kalau minum boleh!” Fei Yang kembali memburu Lydia dan Tian Ya dengan pertanyaan yang belum sempat dijawab. “Lydia, bagaimana kau sampai keguguran?”

“Karena…” Lydia ragu-ragu lalu melihat kepada Tian Ya.

Xing Wang dan Fei Yang sudah tahu siapa Xiao Long. Xing Wang bahkan ikut membantu menyelamatkan Franklin ketika ia diculik dan dipukuli anak buah Xiao Long. Akhirnya Tian Ya menceritakan tentang musibah yang mereka alami pada Fei Yang dan Xing Wang.

“Xiao Long benar-benar keterlaluan!” Fei Yang berkata geram usai mendengar penuturan Tian Ya. “Tapi seingatku, bukankah Xiao Long sudah dilaporkan ke polisi dan masuk penjara? Setelah kau menghajarnya di rumah sakit waktu itu?”

“Dari informasi yang kudapat Xiao Long dibebaskan dengan jaminan,” kata Tian Ya.

“Jadi kau menyembunyikan kejadian yang sebenarnya dari orangtuamu?” tanya Xing Wang.

“Memangnya kalian pikir bagaimana kalau mama dan papaku sampai tahu tentang masalah Xiao Long? Bisa-bisa kami disuruh mengungsi ke daerah terpencil!”

“Rumah sebesar ini seharusnya dipasangi kamera pengawas…” kata Xing Wang. “…dan paling tidak harus ada dua orang yang menjaga pintu gerbang!”

“Aku memang mau memasang kamera pengawas! Juga mempekerjakan satpam, pembantu, dan tukang kebun… Kau bisa membantu mencarikannya?”

Selama Tian Ya berbicara dengan Fei Yang dan Xing Wang, Lydia hanya diam sambil menundukkan kepala. Sungguh, mendengar peristiwa ini dibahas kembali saja sudah dapat membuat bulu kuduk Lydia berdiri.

“Lydia, mengapa dari tadi kau diam saja? Apa masih kurang sehat?” tanya Fei Yang melihat sikap Lydia yang aneh.

Tian Ya menoleh ke arah Lydia. Menyadari istrinya merasa tidak nyaman, Tian Ya langsung mengalihkan pembicaraan. “Hei, Xing Wang! Bagaimana hubunganmu dengan gadis itu?”

“Gadis yang mana?” tanya Xing Wang tidak mengerti.

“Yang kauajak di pesta pernikahan kami!”

“Maksudmu Yi Rong? Kami sudah putus!”

“Tapi sepertinya hubungan kalian sudah sangat serius. Kulihat dia juga sangat dekat dengan adikmu…” Tian Ya tampak heran.

“Aku yang mengakhiri hubungan lebih dulu! Dia setiap hari datang ke kafe, minta ditemani mengobrol, mengajak jalan-jalan, nonton bioskop, nonton konser, pertunjukan balet, pameran lukisan… Terlalu banyak permintaan, aku tidak bisa menurutinya! Kau tahu aku tidak mungkin meninggalkan kafe hanya untuk datang ke acara-acara semacam itu!”

“Kau seperti tidak tahu Xing Wang saja! Buatnya kafe nomor satu, kekasih nomor dua!” Fei Yang menimpali. “Kalau aku yang jadi Yi Rong, akulah yang meminta putus lebih dulu! Apa enaknya disuruh menunggui dia bekerja di kafe selama berjam-jam, mabuk oleh aroma kopi?”

“Yah… aku memang bukan seorang kekasih yang baik!” Xing Wang mengakui. “Jujur saja, apa yang dikatakan Fei Yang benar sekali. Aku lebih memilih secangkir kopi daripada seorang gadis! Aku sudah merasa nyaman dengan keseharianku sebagai pemilik kafe tanpa harus dipusingkan dengan masalah percintaan!”

“Xing Wang, kau tidak mungkin hidup sendiri selamanya!” Lydia mengingatkan.

“Kenapa tidak? Setiap orang punya pilihan hidup masing-masing. Kau menikah dan berkeluarga, itu adalah pilihanmu. Mencurahkan seluruh perhatian, tenaga, dan waktu yang dimiliki untuk mengelola kafe, itu adalah pilihanku. Apakah kita harus melakukan sesuatu hanya karena orang lain juga melakukan hal yang sama? Melakukan sesuatu hanya karena hal itu bersifat umum? Lahir dari bayi sampai menjadi anak-anak, bersekolah melalui berbagai tingkat, tumbuh dewasa, bekerja mati-matian, menikah, punya anak, jadi tua, punya cucu lalu pensiun dan menunggu ajal… Memangnya kalau kita mengambil jalan berbeda, misalnya tidak mau menikah atau tidak mau punya anak, lalu dianggap salah? Siapa yang membuat peraturan semacam itu? Apa pun yang kita lakukan, asal tidak melanggar hukum dan tidak merugikan orang lain, bukankah sudah beres?”

Lydia menyerah. “Kalau itu yang kau inginkan, mau bagaimana lagi!”

Tian Ya meletakkan dua cangkir teh ke hadapan Fei Yang dan Xing Wang. “Oya, Fei Yang! Mengenai pelajaran bahasa Indonesia, mulai besok kau saja yang datang kemari!”

“Kenapa?”

Sebelum Tian Ya menjawab, Xing Wang sudah menyahut sambil bercanda, “Tian Ya takut Lydia kena angin!”

Fei Yang tertawa mendengarnya.

“Terus terang saja, aku tidak ingin Lydia menunggu lama di depan pintu sampai harus pulang tengah malam karena hujan, padahal orang yang didatangi sedang pergi entah ke mana!”

Aku tidak mau Lydia ke sana karena tempat itu dekat dengan Franklin!

Xing Wang menepukkan tangan, “Nah, benar kan, yang kukatakan?”

Fei Yang membela diri, “Bukankah waktu itu aku sudah mengirim pesan kalau sedang ada urusan dan meminta agar pelajarannya diganti pada hari lain?”

“Aku lupa tidak bawa ponsel,” kata Lydia.

Seperti diingatkan, tiba-tiba ponsel Tian Ya berbunyi. Pria itu menggerutu. “Lihat, gara-gara kau menyebut ponsel sekarang jadi ada yang menelepon!”

Lydia hanya tertawa sementara Tian Ya menjauh dari meja makan dan berbicara dengan si penelepon.

“Dari siapa?” tanya Lydia setelah Tian Ya kembali duduk di sampingnya.

“Dari asistenku.” Tian Ya memandang Fei Yang dan Xing Wang bergantian. “Kalian berdua tidak buru-buru pulang, kan? Bisakah kalian menemani Lydia dulu? Aku harus pergi sebentar!”

“Ya, baiklah! Aku dan Fei Yang akan menemani Lydia sampai kau pulang!” kata Xing Wang.

“Kau mau pergi?” Lydia bertanya pada Tian Ya.

“Ya. Tidak lama, hanya untuk menemui seseorang. Mungkin dua jam lagi aku pulang. Ah, tidak! Satu jam, satu jam saja! Oke?” Tian Ya pergi ke kamar mengambil kunci mobil, lalu kembali lagi ke hadapan Lydia. “Setelah sampai di kantor aku akan meneleponmu.”

“Hati-hati di jalan,” pesan Lydia.

“Aku tahu!” Tian Ya tersenyum lalu membungkuk mengecup kening Lydia.

Melihat adegan itu Fei Yang langsung memalingkan wajah ke arah lain sambil berkata pada diri sendiri, “Setelah sampai di kantor aku akan meneleponmu! Hati-hati di jalan!” Kalimat berpamitan yang terlalu klise, tapi kenapa aku merasa iri, ya?”

Tian Ya melewati kursi Fei Yang dan menepuk bahunya, “Oleh karena itu cepatlah temukan pangeran untuk memakaikan cincin di jarimu agar kau bisa seperti kami.”

Fei Yang mendesis. “Kau berkata begitu seolah-olah semua orang yang sudah menikah sama gilanya seperti dirimu!”

Baru berjalan beberapa langkah Tian Ya kembali membalikkan tubuh, ia menatap Lydia seperti ingin mengatakan sesuatu. “Lydia, mmm… Ah, tidak apa-apa! Tidak jadi! Sampai jumpa!”

“Sudah pergi saja sana! Istrimu tidak akan hilang, ada kami yang menjaganya!” seru Fei Yang.

Tian Ya melambaikan tangan, kali ini barulah ia benar-benar pergi.

Fei Yang hanya menggeleng-gelengkan kepala, disikutnya lengan Xing Wang. “Apa kau benar-benar memutuskan untuk hidup sendiri? Tidak ingin seperti mereka?”

Sementara Lydia tertunduk malu di tempat duduknya.

 

Fei Yang pulang ke rumah menjelang sore. Gadis itu membuka kulkas dan menuang segelas air putih, tapi kemudian gerakannya terhenti karena mencium bau menyengat. Setelah mengendus-endus beberapa saat ia baru menyadari jika itu adalah bau hangus yang datangnya berasal dari rumah sebelah.

Fei Yang buru-buru berlari keluar, mengintip dari jendela rumah Franklin. Ada asap muncul dari dalam rumah. Fei Yang menekan bel berkali-kali sambil memanggil-manggil panik, “Franklin! Franklin! Apakah ada sesuatu yang terbakar? Franklin! Buka pintunya!” Kenapa tidak ada sahutan? Mungkinkah Franklin pergi? Atau sedang tidur? Fei Yang hampir putus asa, digedornya pintu keras-keras, “Franklin! Franklin…”

Teriakan Fei Yang rupanya menarik perhatian beberapa orang yang kebetulan lewat di sekitar tempat itu. Dalam waktu singkat kerumunan kecil terbentuk di depan rumah Franklin. Dua orang pria berusaha mendobrak pintu. Beberapa menit kemudian pintu berhasil dibuka. Fei Yang menerobos asap tebal, memasuki rumah sampai terbatuk-batuk. Di dapur, kompor masih menyala dengan sebuah panci berisi air yang hampir habis. Dengan gerakan cepat ia membasahi selembar kain dan mematikan kompor. Setelah mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang membantunya membukakan pintu, Fei Yang kembali ke dalam rumah. Franklin benar-benar ceroboh!

Entah ke mana pemuda itu, karena saat Fei Yang menghubunginya Franklin tidak mengangkat ponsel. Fei Yang mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Rumah tersebut sangat berantakan. Barang-barang seperti gunting, kertas, pulpen, berserakan di lantai, sampah bekas makanan tidak dibuang, gelas dan piring kotor memenuhi meja, sedangkan kolong di bawah meja dijejali pakaian. Di kursi ada tumpukan baju yang dilipat asal-asalan, sepertinya malah tidak disetrika. Apakah seorang pria yang hidup sendirian tempat tinggalnya selalu kacau seperti ini?

Franklin heran melihat sepasang sandal wanita di depan pintu rumahnya. Padahal tadi sebelum meninggalkan rumah ia yakin sekali sudah mengunci pintu. Ia juga bertambah bingung tatkala mendapati seorang gadis menari-nari di ruang tamu dengan memakai sepasang sepatu warna putih dengan hiasan bunga lili. Sesaat Franklin terbius, mengira orang yang ada di depan matanya saat itu adalah Lydia.

“Franklin! Kau sudah pulang!”

Franklin menggeleng dan mengerjapkan mata. Lydia tidak akan memanggilnya Franklin! Pemuda itu sedikit kecewa mendengar suara Fei Yang.

“Sepatu itu!” Franklin berkata dengan nada tidak suka sambil melirik pada kedua kaki Fei Yang.

“Apa?”

“Lepaskan sepatu yang kaupakai!”

“Aduh, maaf! Ketika melihat sepatu ini aku tidak dapat menahan diri mencobanya. Ternyata ukurannya sangat pas dengan kakiku. Ngomong-ngomong, kenapa kau menyimpan sepatu wanita? Milik kekasihmu yang ketinggalan, ya?” Fei Yang buru-buru melepas sepatu yang sedang dikenakannya lalu mengembalikan ke atas rak. “Dari mana kau?”

“Bagaimana kau bisa masuk ke rumahku? Apakah salah masuk karena model rumah kita sama?” Franklin balik bertanya tanpa merasa perlu menjawab pertanyaan Fei Yang.

“Apa kau merasa meninggalkan sesuatu?” Fei Yang tak mau kalah.

Franklin mencoba mengingat-ingat kemudian berseru keras, “Ya ampun!” Franklin berlari menuju dapur. Ia memang tidak lupa mengunci pintu sebelum meninggalkan rumah, tapi lupa mematikan kompor!

“Sudah aku matikan!”

Franklin kembali ke ruang depan. Dengan detak jantung yang belum sepenuhnya pulih ia berkata pada Fei Yang, “Terima kasih, Fei Yang…”

“Jika sampai terjadi kebakaran, kau harus membayar ganti rugi pada Bibi Ke! Juga padaku, karena pasti apinya akan merembet ke rumah sebelah dan membakar barang-barangku!” Fei Yang membalas ketus. “Kau pergi ke mana sampai lupa mematikan kompor?”

“Aku… mengejar truk sampah sampai ke tempat yang agak jauh! Dan… dimarahi petugas karena tidak memisahkan sampah menurut jenisnya. Aku harus memilah-milah sampah lama sekali, jadi tidak ingat kalau sedang merebus air untuk membuat mi instan dan lupa mematikan kompor.” Kemudian pemuda itu merasa ada yang aneh. Kenapa rumahnya jadi… bersih dan rapi, ya?

“Kau tidak mengenali rumahmu sendiri, kan? Rumahmu berantakan sekali, aku lalu membereskannya sedikit. Aku heran bagaimana kau bisa bertahan tinggal di rumah yang sepertinya tidak dibersihkan sampai berminggu-minggu,” Fei Yang berdecak.

“Oh… ya, rumahku memang berantakan. Kau tahu aku tidak sangat sibuk dan tidak punya waktu membereskannya. Terima kasih lagi, karena kau sudah membantuku bersih-bersih. Sebenarnya kau tidak perlu serepot itu, membuatku tidak enak saja,” kata Franklin sungkan. Dulu setiap kali kamarnya berantakan Lydia selalu menegur Franklin. Sekarang kecerewetan itu sudah tidak didengar lagi, jadi Franklin juga tidak peduli ia tinggal di tempat seperti apa.

“Baiklah, malas bersih-bersih tidak akan merugikan orang lain! Tapi lain kali kalau mau pergi kau tidak boleh malas memeriksa rumah. Apakah kompor sudah dimatikan, apakah kran air masih menyala, apakah steker listrik sudah dicabut dari stop kontak? Aku baru saja kembali dari rumah Lydia dan Tian Ya, tiba-tiba mencium bau hangus dari rumahmu. Aku panggil-panggil tidak ada jawaban. Untung beberapa orang mendengar teriakanku dan membantu mendobrak pintu, sehingga aku bisa masuk rumah dan mematikan kompor. Besok kau harus mencari orang untuk memperbaiki pintu.”

“Ya, ya! Aku akan lebih berhati-hati!” janji Franklin. “Jadi kau dari rumah Lydia? Belajar bahasa Indonesia?”

“Kau tidak tahu Lydia baru saja keguguran?” Fei Yang bertanya heran.

Franklin mengangkat kepala, mengira dirinya salah dengar. “Apa? Lydia keguguran?”

 

 

8 Comments to "[Di Ujung Samudra] Sisa-sisa Penyesalan"

  1. J C  25 September, 2015 at 11:31

    Seru, seru! Aku hanya nunggu kapan Xiao Long kena tangkap gali yang disewa Tian Ya dan “dipermak” abis…

  2. Lani  24 September, 2015 at 23:35

    Betoooooool bingiiiiiiiit Liana, klu tak ada masalah/problem nanti critanya mandeg dan tak bisa dikembangkan, alias sdh tamat, bisa sad/happy ending……..salam dari Kona yg sedang basah dikarunia hujan sepanjang early morning

  3. Alvina VB  24 September, 2015 at 12:16

    Ditunggu lanjutannya….seru nich si Franklin pasti marah besar sama si Tian Ya krn gak bisa jaga istrinya sendiri…

  4. Liana  24 September, 2015 at 07:54

    Mb Lani: Masalah selalu ada agar bisa dibuat cerita. Tanpa masalah tidak ada yang bisa diceritakan.

  5. Lani  23 September, 2015 at 13:54

    JAMES : mahalo sdh diwakili………..

    LIANA : masalah selalu mengikuti perjalanan Lydia

  6. James  23 September, 2015 at 09:29

    hadir mewakili Trio Kenthirs lainnya

  7. Liana  23 September, 2015 at 08:28

    Pak Dj: Lydia kegugurannya sudah dari kemarin. Hehe… Salam juga.

  8. Dj. 813  22 September, 2015 at 20:24

    Yaaaaah . . . Lydia keguguran . . .
    Terimakasih dan salam,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.