Pack Your Own Lunch

Hariatni Novitasari

 

Hal yang saya paling saya pelajari dan tiru dari tinggal di Amerika Serikat adalah packing my own lunch alias mbontot. Dulu, waktu belum ke Amerika Serikat, hampir tidak pernah mbontot, karena malu dan alih-alih tidak sempat masak, sok sibuk ceritanya, hehehehe. Nah, yang dulu bikin agak gengsi dan malu mbontot adalah orang kita kan cenderung kepo, maunya ingin tahu kita bawa makanan apa saja Sukanya ngintip. Lha, kalau yang dibawa cuman nasi dan tempe goreng, kan malu, hihihihihi…

Awal-awal di US dulu, masih suka malu mau bawa makan siang dari rumah. Eh, tapi lama-lama baru sadar kalau tiap orang umumnya bawa makannya sendiri. Dan, pada makan di Millennium Student Center (MSC) kalau pas break. Alasanku bawa makanan selain kalau tiap hari makan di luar allowance juga ga cukup, lebih pada kurang cocok dan suka bosan pada makanan yang dijual di Nosh. Makanan yang dijual ya itu-itu saja, sushi, sandwiches, pizza, dan salad. Nothing more than that…  Ternyata mbontot itu enak, hehehehe.

having a little lunch with friends in Ubud, Bali

having a little lunch with friends in Ubud, Bali

Jadi, pulang ke Indonesia jadi ketagihan. Tapi, mbontot membotot ini sempat berhenti ketika balik kos sekitaran kampus. Karena dapur kurang representatif. Untungnya, ketika pindah ke Sidoarjo, bisa masak lagi, yippiiieeee!!!

Sekarang, saya mbontot hampir tiap hari. Bisa dihitung jari kapan saya tidak mbontot. Misalnya saja kalau di kantor ada kegiatan. Bahkan ketika business trip aku juga mbontot untuk hari pertama.  Mbontot tidak saja bikin dompet aman, tetapi juga bisa makan sesuai dengan selera yang dikehendaki. Efek jeleknya, makan di luar jadi super cerewet karena makanan di luar sering tidak cocok. Sok banget ya… yang makanan di luar terlalu berminyak lah (karena saya tidak makan gorengan lagi kecuali terpaksa), terlalu asin, pakai vetsin, kurang sayuran, etc etc. Dengan mbontot, kita tahu apa yang kita masak dan bagaimana kita memasaknya. Berbeda dengan makan di luar, kita tidak pernah tahu apa yang mereka sajikan dan bagaimana mereka memasaknya.

bontotan yang tidak nyambung

bontotan yang tidak nyambung

Jadi, kalau dulu dinas luar kota selalu bikin excited karena mau coba makan disana dan disini, sekarang makan di luar menjadi pilihan terakhir saja. Makan di luar sering bikin galau, hahahaha. Lapar, tetapi sering tidak tahu makan apa. Kalau makan di luar, paling-paling banter menunya pecel, gado-gado, atau masakan Jepang. Kalau pergi ke tempat makan Barat, palingan makan salad. Dalam satu bulan, bisa dihitung dengan jari berapa kali saya makan di luar. Paling-paling kalau sedang di luar kota atau lagi ada teman datang. Saya sebenarnya rindu sekali dengan makan bareng-bareng alias potluck.

big meal at a friend’s birthday

big meal at a friend’s birthday

Nah, mungkin orang sering bilang, kalau tidak cukup waktu buat masak pagi hari. Mulai dari mengurus anak bagi yang sudah punya anak. Atau lebih enak tidur atau pergi ke gym daripada menyiapkan masakan. Eh, saya dulu juga begitu. Daripada pagi-pagi ribet menyiapkan makan, lebih baik membakar kalori di gym. Kan kalau sudah nge-gym boleh makan apa saja. Suatu pemahaman yang benar-benar keliru.

Yang saya bontot untuk makan siang sebenarnya juga sama dengan apa yang saya buat sarapan. Jadi, saya tidak perlu menyiapkan masakan dua kali. Masakan saya juga cenderung sederhana. Saya biasanya bikin soup tahu-miso, atau salad, atau pasta. Kadang juga cumin kukus waluh sama telur saja. Kalau lagi super malas, bikin sandwich selai alpukat. Saya jarang sekali masak yang ribet-ribet kayak nasi campur atau nasi-nasi yang lainnya, hehehe. Makanan yang saya buat, paling tidak hanya membutuhkan waktu 30 menit.  Makanan saya kadang menunya tidak nyambung. Misalnya saja pernah mbontot roti berat merah dan spread alpukat, tapi ditambah buncis dan tahu.

Sekarang saya tidak lagi malu mbontot. Kalau orang ingin tahu apa isi lunch box saya, dengan bahagia saya akan menunjukkan apa yang saya bawa. Meskipun hanya oseng-oseng tempe sama buncis. Saya akan dengan bangga menunjukkan para orang-orang apa yang saya masak dan bagaimana proses untuk memasaknya.

Dengan mbontot, hidup saya sekarang lebih terkendali dan hepi.

 

Bisa juga dibaca di: http://mykepoprojects.com/pack-your-own-lunch/

 

 

4 Comments to "Pack Your Own Lunch"

  1. J C  25 September, 2015 at 11:29

    Sekarang anak-anakku juga disiapkan lunch box dari rumah…dikirim kira-kira jam 11…memang lebih sehat dan tentu saja lebih irit ketimbang makan di kantin sekolah…

  2. Lani  23 September, 2015 at 13:25

    JAMES : mahalo……..mbontot mmg kerjaanku………..

    EMON : aku lbh suka masak sendiri, di sela2 kesibukan ku cieeeeeee……..krn makanan/masakan bikinan sendiri plg jossssssssss……….

    Jadi soal mbontot sdh tdk asing/heran lagi……….sll kuusahakan utk masak sendiri, dimakan sendiri, kdg sharing sama teman2

    Makan diluar kadang2 saja, krn selain mahal dikantong jg bosen, dan tdk tau apa yg dimasukkan didlm masakan tsb

  3. James  23 September, 2015 at 09:37

    home made food is more healthy and yummy…

    trio kenthirs sedang menyiapkan mbontot nya

  4. Dj. 813  22 September, 2015 at 20:32

    Mbak HN . . .
    Makanan bawa dari rumah itu malah püaling sehat.
    Kaena kita tahu, apa yang kita makan .
    Kalau yang beli, selalu ada resikonya, karena kita tidak tahu, apa saja
    bumbu yang di campur di makanan tsb.
    Tapi sekali-sekali sih tidak jadi masalah, asal jangan terlalu sering.
    Apalagi kalau di Indonesia, banyak makanan yang dimasak dengan menggunakan Glutamat ( Fetzin ),
    sebagai penyedap rasa .

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.