Perubahan Jaman dan Perubahan Persepsi

Mbilung Sarawita

 

Sampai akhir dekade 1970an, di Kota Magelang belum banyak wanita bercelana panjang. Jarit, rok, gaun merupakan busana wajib bagi kaum wanita. Saya kenal beberapa remaja-putri yang oleh orang-tuanya dilarang keras memakai celana panjang. “Saru, kaya cah lanang”, katanya …

Masih sangat jarang wanita mengendarai sepeda motor sendiri. Wanita hampir selalu membonceng dengan posisi tubuh menyamping ke arah kiri. Satu kaki menapak di footstep kiri, kaki yang lain ditumpangkan di kaki yang menapak footstep. Sangat jarang wanita membonceng dengan posisi “mlangkah”, karena akan dinilai “saru, wong wedok kok mekangkang”…

Terkait kedua “aturan etika” tersebut, muncul “tebak tepat”: Kalau footstep kiri-belakang berposisi horizontal dan footstep kanan-belakang berposisi vertikal, diduga-kuat bahwa si pengendara sepeda motor (tentu saja pria) baru saja memboncengkan seorang wanita. Wanita yang cemburuan bisa “pasang muka sadis” kalau suaminya pulang atau pacarnya datang dengan sepeda motor yang posisi footstep belakangnya seperti itu. Maka, sebelum tiba di tujuan, mengembalikan footstep belakang kiri ke posisi vertikal merupakan “prosedur wajib” bagi para pria jaman itu, supaya tidak perlu susah-payah menjawab celetukan: “Hayooo … entes mboncengke sapaaa???!!! …”

Tahun 1979, umur saya sudah 14 tahun, jadi sudah bisa “paham” kalau melihat ada mas-mas dan mbak-mbak (atau bapak-bapak dan ibu-ibu) “berkomunikasi dengan nada tinggi” hanya gara-gara footstep … wkwkwkwk …

perception change

Sejak pertengahan dekade 1980an, cerita semacam itu makin sedikit, dan kini (tahun 2015) mungkin sudah tinggal sejarah. Wanita bercelana panjang sudah biasa. Posisi membonceng “mlangkah” juga tidak dinilai “saru” lagi, kalau pakai celana panjang. Bahkan, mengendarai sepeda motor sendiri juga sudah lumrah, tidak lagi seperti jaman dulu ketika wanita nyopir mengundang decak kagum orang-orang di pinggir jalan …

Bagaimana dengan panjenengan? Punya cerita lain?

 

mBilung Sarawita, 23 September 2015

 

 

6 Comments to "Perubahan Jaman dan Perubahan Persepsi"

  1. J C  25 September, 2015 at 11:26

    Huahahaha…si Nonik ora mudheng soal footstep brompit karena mboncengnya di depan (pangku-pangkuan wis)…

  2. Nonik-Louisa  25 September, 2015 at 10:51

    Mas, nuwun sewu aku kok belum mudeng yang soal footstep kiri-kanan vertikal & horizontal ya? itu maksude gimana? haha. Susah mbayanginnya…

  3. Alvina VB  24 September, 2015 at 12:13

    Mas Condro, iya, betul sekali saya inget thn 70an itu di Jakarta, saya punya kawan yg baru balik belajar dari US dan dia ke gereja pake celana panjang jeans, dia disuruh pulang ganti celana panjang dengan rok sama suster yg ngeliat. Lah dia tambah ngeyel, diboncengin sama kakaknya pake celana panjang dan dlm posisi duduk spt pembawa motor, lagi2 heboh dah besoknya dia dipanggil suster-kepsek waktu itu, dia ditegor keras dan org tuanya sampe dipanggil. Saat itu hal kaya gitu aja bikin heboh ya…sekarang org ke gereja di Ind banyak yg pake jeans bahkan pake rok mini, gak ada yg protes kan ya? Jaman sudah berubah….

  4. James  24 September, 2015 at 10:43

    hanya di Aceh sono mekangkang dilarang secara Muslim (Hukum Syariat?)

  5. Lani  24 September, 2015 at 00:46

    Menurutku membonceng mekangkang, bertujuan baik demi keseimbangan yg memboncengkan. Jadi tdk ada kata saru, ora pantes buat wanita yg dibonceng mekangkang………menurut Gus Dur almarhum “gitu aja kok repot”

  6. Dj. 813  23 September, 2015 at 23:39

    Mas Mbilung Sarawita . . .
    Terimakasih untuk ceritanya.
    Kalau ditanya . . .

    Bagaimana dengan panjenengan? Punya cerita lain?

    Dj.punya pengalaman soal bonceng membonceng .
    Nanti akan Dj tulis . Hahahahahaha . . . ! ! !
    Salam,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.