Benarkah Nabi Ibrahim Gila?

Juwandi Ahmad

 

Banyak orang, termasuk Ulil Abshar Abdalla, memandang kisah rencana penyembelihan Ismail oleh Ibrahim adalah kisah yang nyaris tak masuk akal. Sebagian orang bahkan menuduh Ibrahim, gila. Kisah Ibrahim, kata Ulil, berbau kekerasan pada anak dan sulit diterima oleh sensitivitas modern.

Terlepas dari perkara nyata tidaknya kisah itu, dalam pandangan saya, dari segi naratif-psikologis, tidak ada yang ganjil-abnormal padanya. Ibrahim bukan saja tidak gila. Ia telah melalui ujian-pengalaman spritual tingkat tinggi. Dan sebagai suatu kisah: sangat menarik, penuh kejutan.

Adalah Ibrahim, yang melihat dalam mimpinya, menyembelih anaknya. Mimpi yang ditafsirkannya sebagai suatu perintah. Mimpi, secara kultural, psikologis, dan tentu saja keagamaan, diakui sebagai bagian dari petunjuk, pertanda, dan atau membawa pesan tertentu. Secara psikologis, kita mewarisi memori kolektif, yang membuat kita secara tanpa sadar terhubung dengan jiwa-jiwa yang telah pergi, dan atau roh-roh, orang-orang suci, Tuhan, dan semacamnya. Pada orang-orang tertentu dan dalam kondisi tertentu, itu dapat muncul melalui mimpi, trance, dan atau pengalaman spiritual.

Menarik bahwa rencana penyembelihan Ismail oleh Ibrahim didasarkan pada mimpi dan bukan bisikan. Tak seorang skizofrenia atau psikopat pun yang membunuh anak, orang tua, atau saudara berdasarkan mimpi. Mereka membunuh berdasarkan bisikan (halusinasi). Namun, bagaimana dengan mimpi menyembelih anaknya sendiri? Apakah itu masuk akal? Pertama, kita tidak dapat memesan apa yang semestinya hadir dalam mimpi kita. Kedua, menafsir tentang kemasukakalan mimpi adalah cara berpikir yang tidak masuk akal. Jadi, tak ada soal, kita mimpi tentang apa.

Masalahnya, bagaimana bila mimpi menyembelih anak itu hendak diwujudkan? Bukankah anak yang hendak disembelihnya itu adalah anak yang sangat diharapkan, sangat dicintai? Disinilah kejutan naratif yang pertama, yang dari segi alur sangat menarik. Dan disinilah letak ujian-pengalaman spiritual tingkat tinggi-Inna hadzaa lahuwal balaul mubin. Tidak ada seorang pun pernah mengalami ujian seekstrim itu (mengorbankan apa yang paling dicintai). Ibrahim sadar benar akan hal itu. Dan tak seorang gila pun menyadari bahwa apa yang akan dilakukannya adalah sebentuk ujian.

Lalu, apa yang dilakukan Ibrahim? Ia menyampaikan mimpinya kepada anak yang hendak disembelihnya. Saya kira, sebaik dan sebijak apapun orang gila, dia tidak akan menyampaikan rencananya. Dan sedemokratis apapun orang gila, ia tidak akan meminta orang yang hendak dibunuhnya untuk memikirkan apa pendapatnya tentang rencana penyembelihannya.

Dan itulah yang dilakukan Ibrahim. Seakan-akan ini hanya tentang menjual sebidang tanah. Apa jawaban Ismail? Lakukanlah, Ayahku. Engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar. Inilah kejutan naratif yang kedua. Tidak ada di dunia ini perbincangan antara yang akan menyembelih dan yang akan disembelih sebegitu indah. Ada gelombang yang sama pada keduanya, yang sama sekali tidak menggambarkan kekerasan. Engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar. Begitu kata Ismail. Apa itu sabar? Engkau tidak akan dapat bersabar terhadap sesuatu yang tidak atau belum engkau ketahui. Ismail tahu untuk apa dia bersabar, untuk apa dia menerima penyembilihan atas dirinya. Orang gila dapat bunuh diri. Tapi tak ada orang gila yang mau dibujuk untuk disembelih, dan apalagi dengan senang hati menerimanya. Kalau ada seseorang yang tindakannya di luar konteks kegilaan dan kebiasaan, maka hanya ada dua kemungkinan: ia waras atau super waras.

idul-adha

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA

Apa yang terjadi selanjutnya? Ketika keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim membaringkan anaknya untuk disembelih, tiba-tiba muncul petunjuk-jawaban bahwa ia telah membenarkan mimpinya. Itu cukup. Dan itulah tujuan dari mimpinya: suatu ujian-pengalaman spritual tingkat tinggi-Inna hadzaa lahuwal balaul mubin. Ismail ditebus, digantikan dengan seekor kambing. Pertanyaannya, kalau Ibrahim disebut gila, skizofrenia, psikopat dan semacamnya, maka adakah penderita gangguan jiwa berat yang dapat sembuh dengan begitu cepat? Adakah orang gila yang membatalkan rencannnya, bukan karena rencananya itu salah? Dan pada akhirnya: Ibrahim tidak menyembelih anaknya.

 

 

14 Comments to "Benarkah Nabi Ibrahim Gila?"

  1. J C  9 October, 2015 at 18:13

    Kalau menyimak judulnya, sepertinya penulisnya benar-benar “gila” dan yang komentar Itsmi tidak kalah “gila”nya…

  2. Itsmi  30 September, 2015 at 19:32

    komentar Albert Tuname yang di bawa ini benar benar HEBAT :

    menarik ulasannya. Fiat quaerens intellectum.

  3. Itsmi  30 September, 2015 at 18:22

    Juwandi, juga kalau kamu pernah mendalam dikit pada testament tua, kamu juga tahu bahwa Tuhan itu gila dara anak anak kecil, Apakah saya harus memberikan contoh ?

  4. Itsmi  30 September, 2015 at 18:08

    Juwandi, arikel seperti kamu sebelum menulis menghisap ganjah yah atau obat hahaha

    Seperti kalimat di bawah ini :
    “Ia telah melalui ujian-pengalaman spritual tingkat tinggi” apa artinya spiritual tinggi ?

    Atau yang di bawah ini…
    Secara psikologis, kita mewarisi memori kolektif, yang membuat kita secara tanpa sadar terhubung dengan jiwa-jiwa yang telah pergi, dan atau roh-roh, orang-orang suci, Tuhan, dan semacamnya. Pada orang-orang tertentu dan dalam kondisi tertentu, itu dapat muncul melalui mimpi, trance, dan atau pengalaman spiritual.

    Mana rohnya, kamu pernah melihatnya ? apakah ini sudah pernah terbukti ?

    atau yang di bawah ini…

    Orang gila dapat bunuh diri. Tapi tak ada orang gila yang mau dibujuk untuk disembelih, dan apalagi dengan senang hati menerimanya. Kalau ada seseorang yang tindakannya di luar konteks kegilaan dan kebiasaan, maka hanya ada dua kemungkinan: ia waras atau super waras, apa artinya waras atau super waras ?

    bilamana seorang dukun yang mengatakan spiritualnya tinggi dan dia mendapat mimpi untuk bunuh, itu bagaimna ???

    Juwandi, Tidak pernah mendengar orang beragama yang penderita psikose dan di bujuk dengan membunuh diri demi Tuhan ? seperti di Amerika ada beberapa kasus atau itu pun kamu belum pernah baca atau dengar…

    Juwandi, saya bukan psikolog hanya waktu kuliah mendapatnya sebagai salah satu mata pelajaran dan banyak membacanya. mungkin di universitas Indonesia lain tapi bagi saya yang keluaran Belanda, apa yang kamu lontarkan tidak sesuai dengan apa yang saya pelajari…

    Juwandi pilih aja Ibrahim, psikose atau orang fanatik agama atau idiot ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.