Pernikahan Sejenis?

djas Merahputih

 

Jika anda adalah penggemar ilmu kelirumologi, bentuk pernikahan ini tentu tak perlu menjadi perdebatan sengit atau sesuatu yang menghebohkan. Ia setara dengan perceraian pranikah, pembusukan sampah, pencemaran nama buruk atau yang paling mudah dicerna adalah istilah jeruk makan jeruk.

Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha esa” UU No. 1 1974.

Pernikahan sesungguhnya bukanlah semata perkara administratif. Ada nilai moral dan spiritual di dalamnya. Pernikahan adalah proses persaksian ikatan sepasang manusia (bedakan dengan sepasang kekasih) di hadapan Tuhan mereka dalam rangka usaha membentuk sebuah keluarga, generasi pelanjut keturunan manusia. Adapun masalah peristiwa pernikahan itu tercatat atau tidak, bukanlah substansi pernikahan itu sendiri. Ia hanyalah pelengkap agar proses pernikahan tersebut diketahui dan diakui khalayak ramai. Pernikahan tak bisa dilepaskan dari kaitannya dengan aspek Ketuhanan.

Seorang atheis harus membuat defenisi tersendiri tentang pernikahan, demikian pula dengan kaum lesbian dan gay. Atheis tak memenuhi kriteria kewajiban hadirnya Tuhan yang diwakili oleh pendeta atau wali nikah. Sedangkan kaum gay dan lesbian memustahilkan para pelaku adalah sepasang species manusia. Namun, dalam hal administratif tentu saja keinginan untuk mencatatkan pasangan mereka dalam catatan negara bukanlah sebuah hal aneh. Seorang wanita bahkan sah-sah saja mencatatkan pernikahannya dengan sebuah menara, yang jelas-jelas jenis kelaminnya saja belum pernah terdeteksi.

Pernikahan-Sejenis

Menuntut legalitas pernikahan sejenis bukanlah sebuah kejanggalan. Kejanggalan baru akan terasa jika para penyuka “jeruk” ini meminta agar perilaku mereka dianggap sebagai sebuah kenormalan. Tercatat dalam administrasi negara adalah legal, namun tak serta merta menjadikan perilaku jeruk makan jeruk menjadi sesuatu yang normal dan biasa-biasa saja. Bagaimanapun, perilaku mereka tak bisa mengubah niat awal Sang Khalik untuk menciptakan pria dan wanita dalam bentuk dan fungsi masing-masing. Ibarat sendok dan garpu, menggunakan sendok untuk menyantap mie atau garpu untuk menyeduh teh tetap saja merupakan bentuk penyalahgunaan dari tujuan penciptaan kedua perangkat makan tersebut.

Masalah gender memang menjadi masalah klasik terutama pada budaya yang membatasi jenis gender hanya pada pria dan wanita saja (sebagai perbandingan, suku Bugis mengenal lima gender). Hal ini dapat kita lacak pada struktur bahasa sebuah kebudayaan, khususnya pada kata ganti orang ketiga tunggal dalam tiap-tiap bahasa. Sebahagian besar bahasa di berbagai kebudayaan, baik di Amerika, Eropa, Asia Tengah dan Timur memiliki kata ganti orang ketiga dengan identitas gender yang melekat. Sebagai contoh kecil dalam bahasa Inggris terdapat kata him (pria) dan her (wanita). Tentu saja akan membingungkan saat harus menunjuk salah satu pasangan kaum homo dan lesbian.

Berbeda halnya dengan bahasa melayu dan Indonesia, juga beberapa atau mungkin seluruh bahasa daerah di nusantara, tak menyertakan identitas gender pada setiap kata ganti orang ketiga tunggal. Kata “Dia” menunjuk pada orang ketiga tunggal tanpa identitas gender sama sekali. Itulah sebabnya keesaan Tuhan juga hanya dapat dideskripsikan dengan jelas dalam struktur bahasa seperti yang kita kenal di Nusantara. Saat menunjuk Tuhan sebagai objek ketiga tunggal, ia tak akan mengarah kepada gender apapun.

Perdebatan tentang Pernikahan Sejenis mungkin lebih perlu diarahkan pada defenisi pernikahan itu sendiri. Apakah keinginan mencatat pasangan hidup bagi kaum LGBT bisa tercakup dalam kata “Menikah” ? Atau cukup dituangkan dalam sebuah akte notaris? Mungkin juga dibutuhkan sebuah kata baru untuk membedakannya dengan bentuk pernikahan konvensional. Intinya, keinginan seseorang untuk mencatatkan nama pasangan hidupnya layak diberi ruang, tentu saja dengan sebuah syarat berat, yakni setelah kendala-kendala sosial dan budaya telah dapat dilalui dengan damai.

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

13 Comments to "Pernikahan Sejenis?"

  1. J C  9 October, 2015 at 18:11

    Urusan ini memang rumit dan usianya sudah setua peradaban manusia. Persepsi dan penerimaan masing-masing bangsa dan budaya dari waktu ke waktu terus berubah…

  2. djasMerahputih  1 October, 2015 at 19:25

    ITSMI:
    Artikel ini bukan menyoroti masalah moral maupun spiritual, tapi lebih kepada batasan istilah “pernikahan” itu sendiri. Moral dan spiritual kembali pada keyakinan masing2.

  3. djasMerahputih  1 October, 2015 at 19:18

    Mba LINDA:
    Makasih sudah mampir..
    Tolong dicermati kalimat paling akhir artikel di atas yaah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.