Terbalik

Anwari Doel Arnowo

 

Berani mati?

Hal ini bilapun dilakukan, label yang mungkin patut dilekatkan kepada pelakunya adalah justru olok-olok yang intinya bisa saja: diartikan sebagai orang yang penakut. Karena si penakut sesungguhnya itu memang iya, TAKUT HIDUP! Jadi siapapun yang sudah melalui masa Baby Boomers (sekitar usia pensiun) pantaslah bilamana dia disebut sebagai pemberani, karena sudah menjadi seorang yang senior yang sarat pengalaman. He, ah, ini bukannya mau membicarakan diri saya sendiri, lho, karena saya ini memang sudah menjadi seorang yang senior umurnya.

Ini sesuai dengan tata cara upaya untuk menghibur orang yang tidak dapat meNIKMATi kesempatan berumur lanjut. Saya sendiri  kebetulan saja memang dapat menikmati umur saya yang bukan muda lagi. Caranya antara lain bila berhadapan dengan orang yang bukan peNIKMAT berusia panjang tadi, saya hanya mengutip kata-kata: “Umur tua itu kan hanya angka saja. Tidak usah terlalu hirau”. Aslinya berbunyi: Old Age is only a number!

Ini sesuai dengan bunyi judul tulisan saya yang lalu: YOLO (You Only Live Once) dan YODO (You Only Die Once).

Benar sekali menjadi tua itu tidak usah hirau soal nanti bila sudah sampai saatnya, ya mati juga. Juga tak usah hirau, karena sudah terbukti, bahwa sejak terjadinya Planet Bumi, kita saksikan bahwa siapapun dan apapun yang hidup di dunia, pasti nanti akan mati. Belum ada yang lolos dari kematian. Manusia tertua di dunia saat ini umurnya 116 tahun, seorang laki-laki di negeri Jepang. Saya sendiri bila berumur panjang, saya mau, tetapi dengan harapan. Berharap ditambah dengan bonus plus, yakni: kesehatan saya yang prima sebelum mati. Setuju, kan? Saya menyadari bahwa bonus itu mungkin tidak ada. Tidak terjadi. Kalau benar terjadi seperti ini, yaitu tidak sehat, yang pasti saya akan menrimanya. Mau menerimanya pada saat sebelum mati, tentu saja.

Khusus mengenai hal ini saya sudah menanda-tangani sebuah Akta Notaris, tepat ketika hari lahir saya pada tanggal 17 Mei, 2015 yang baru lalu. Isi Akta itu adalah pernyataan saya sendiri, atas kemauan sendiri, untuk pada saatnya nanti, bilamana saya sakit berat dan tidak mampu berkomunikasi dengan normal maka isi Akta itu diharapkan diikuti oleh para pelaku Kesehatan, para dokter dan pengelola Rumah Sakit dan juga seluruh para  anggota keluarga saya sendiri. Isi Akta, pokok utamanya adalah saya ingin meninggal dunia secara alami.

Apapun metoda, keputusan dokter, pengobatan dan penggunaan alat-alat bantu kesehatan, betapa hebat dan canggihnya sekalipun, sepanjang itu semua dimaksudkan hanya untuk upaya menunda kematian, tegas saya minta dihentikan total.

Bila sesudah kematian saya nanti, yang ingin saya hindari adalah adanya perbedaan kesimpulan yang tajam di antara anggota keluarga saya dengan pihak Rumah Sakit atau lainnya. Kejadian seperti ini menurut saya akan membuat ringan beban yang akan timbul karena datangnya kematian saya itu. Oleh karena saya tidak mamtpu untuk tau, saya tidak mau berandai-andai pada saat ini, mengenai apa yang terjadi setelah saya mati. Bukankah sebagian besar makhluk dan tentu saja manusia yang mati itu, didahului dengan kesakitan atau terserang penyakit sampai saat matinya? Bagaimana mungkin saya menjadi kecualinya?

Tidak usah dipikiri! Itu memang betul, kalau anda bukan orang yang kuat memikirkannya. Bukankah tidak ada keterpaksaan, hanya sekedar siap mental saja kan sudah cukup?? Oleh  alasan itulah bila kita menghadapi kesulitan yang timbul dalam membina kehidupan, janganlah berani mati, tetapi beranilah hidup. Si pemberani itu adalah mereka yang mati biasa, tidak karena terpaksa mati, tetapi secara alami. Didahului dengan sakit, lalu tdak berdaya dan mulai tergantung kepada orang lain, keluarga, sejawat dan para petugas kesehatan.

Yang terdekat adalah pasangannya sendiri, suaminya atau istrinya, atau anak-anak. Ada yang mati terlantar seperti terjadi di dalam kancah peperangan, Ada juga yang mati karena kecelakaan yang tidak ditolong lebih jauh lagi. Itu semua adalah gambaran dan kepastian yang menyebabkan bisa membantu hilangnya ketakutan mati. Sebaiknya melatih mental diri sendiri dahulu agar ketakutan seperti itu bisa berangsur-angsur hilang dan  sirna.Memang hanya semudah itu saja.

Saya beranikan diri berkata seperti itu meskipun saya belum mengalami. Hal ini terkesan baik bagi saya dibandingkan dengan sebelum saya lahir ke dunia karena meskipun saya sudah hidup tetapi belum bernapas. Waktu saya sudah menjadi janin dan bayi sebelum lahir, biarpun otak saya mungkin sudah beraktivitas, saya sama sekali tidak mengingat memori yang terjadi oleh karena aktivitas itu, pada saat itu. Tidak terasa ada kerugian apapun mengenai masalah ini.

YOLO YODO

Akhirnya saya memutuskan untuk menyamakan saja urutan proses janin-bayi-lahir dengan sakit-sekarat-mati. Tetangga saya sewaktu menguburkan istrinya, ketika sudah dimasukkan ke liang lahat, dan mulai dimasukkan tanah urug ke dalamnya, dia berkata dengan suara yang cukup jelas: “Sudah habislah urusan istri saya ini di dunia.”  Iya, saya memang terkejut, apalagi hanya saya yang mendengarnya. Mungkin saya seperti mengucapkan kalimat yang senada, sewaktu tiba saatnya istri saya meninggal pada bulan Maret tahun lalu. Saya sungguh mengetaui secara detail seperti apa penderitaan yang dialaminya selama sakit dan dirawat.

Perawatan di rumah sakit dan di rumah, menderita rasa sakit karena penyakit kanker yang diawali dari paru kanannya terus menyebar ke seluruh tulang-tulangnya sejak Juni tahun 2013.

Saya merasakan iba dan kasihan yang sangat luar biasa melihat dan menyaksikan dari menit ke menit selama sekitar satu tahun lamanya mengalami penderitaan seperti itu.

Orang memang mudah mengatakan ikhlaskan, tetapi saya bisa ikhlas terutama karena telah terbantu antara lain karena mendengar kata-kata tetangga saya sewaktu melepas almarhum istrinya. Saya lega hati dan pasrah, ikhlas karena istri yang saya cintai telah berhenti dari siksa sakit hebat selama itu.

Ada yang berbeda adalah ada tawa dan juga banyak tawa sewaktu seorang bayi itu lahir ke dunia, dan ada tangis serta banyak tangis ketika seseorang meninggal dunia. Nah yang saya ingin dilakukan dan diadakan di Negara kita adalah pelayanan menjaga seseorang yang sudah bisa diprediksi akan meninggal dunia. Sudah ada cukup lama di kalangan kedokteran, proses yang disebut dengan istilah: Palliative Care. Silakan buka link: http://int.search.tb.ask.com/GGmain.jhtml?st=bar&ptb=2E85CBA4-138A-4FDF-8C30-CCA358CED314&n=781b4082&ind=2015051906&p2=^BBQ^xdm103^S12252^id&si=CPTY4_fZzcUCFYUnjgod21gAYQ&searchfor=What%20Is%20Palliative%20Care%3F .

Juga Hospice. Silakan buka link:  http://int.search.tb.ask.com/GGmain.jhtml?st=bar&ptb=2E85CBA4-138A-4FDF-8C30-CCA358CED314&n=781b4082&ind=2015051906&p2=^BBQ^xdm103^S12252^id&si=CPTY4_fZzcUCFYUnjgod21gAYQ&searchfor=What%20Is%20Palliative%20Care%3F

Saya menyadari amat sedikit bangsa kita yang mau berbicara soal mati. Saya kuat sekali menduga bahwa banyaknya kekurangan di dalam pemahaman bahwa mati itu memang harus. Bagi saya untuk hidup terus itu malah terkesan amat menakutkan.

Sudah saya sebutkan bahwa manusia itu,yang saat ini menghuni Planet Bumi ini, akan meninggal pada usia yang melampaui usia ibu yang melahirkannya. Itu karena saat-saat yang akan datang kemajuan-kemajuan ilmu pengetauan dan atau penemuan alat-alat bantu untuk penyembuhan, juga obat-obatan, serta pemahaman pemeliharaan kesehatan, berangsur-angsur cepat dan  meningkat. Saya sudah mengalaminya karena ibu saya telah meninggal dunia ketika beliau mencapai usia 72 tahun sedang saya sudah melampaui umur 77 tahun bila dihitung menggunakan Hari Lahir. Tetapi bila dihitung dan menggunakan Hari Jadi, saya sekarang sudah 78 tahun, karena ditambah dengan 9 bulan masa di dalam kandungan ibu saya.

 

Anwari Doel Arnowo

2015/09/20

 

 

3 Comments to "Terbalik"

  1. J C  9 October, 2015 at 18:18

    Pak Anwari, I’m enjoying life…saya buanyak belajar dari Panjenengan…

  2. Handoko Widagdo  30 September, 2015 at 16:13

    Terima kasih Cak Doel. Swargi bapak saya juga menolak untuk dibawa ke rumah sakit saat menjelang berpulang. Beliau berpesan kepada anak-anaknya untuk bisa berpulang dengan tenag di tempat tidurnya sendiri. Dan kami melaksanakan wasiat tersebut.

  3. donald  30 September, 2015 at 00:11

    Hidup? Hidup itu menarik, jadi kalau memang mungkin, usahakan selama mungkin. Walau lama-lama kesepian akan datang, tatkala satu persatu teman pergi.

    Mati? Ah, nantilah… Belum, belumlah. Tahulah sendiri, semakin banyak gadis2 manis berseliweran di depanku. Not yet, not yet…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.