Doa yang Salah

Wesiati Setyaningsih

 

“Kemarin pengajiannya luar biasa…” kata Ibu saya.

Beliau aktif sekali ikut pengajian. Biasanya pembicara yang memberikan siraman rohani adalah para ustad sekitar kampung situ. Tapi kemarin itu katanya memanggil orang keturunan Arab asli.

“Ternyata selama ini bacaan Al Fatihah ibu-ibu itu salah semua.”

“Soalnya bacaannya enggak persis?” tebak saya.

Tiap hari Ibu rajin membaca Al Quran dan saya selalu mendengar betapa beliau berusaha agar pengucapannya benar-benar seperti orang Arab. Kok di telinga saya malah kedengaran aneh. Maklum, telinga Jawa.

“Iya. Jadinya malam itu dibenerin semua. Tapi ya susah.”

Kelompok pengajian Ibu saya beranggotakan sebagian orang ‘sepuh’ yang jelas lidahnya sudah sulit diatur lagi. Dulu waktu kecil saya pernah mendengar khotbah tentang orang tua yang mulai belajar agama. Niatnya baik, dia mau belajar sholat. Tapi mengucap Bismillah sudah tak mampu. Yang mampu dia ucapkan malah “Semilah…”. Diajari berkali-kali juga tidak bisa. Akhirnya pak ustad menyerah.

“Sudahlah, sebisanya aja, Mbah,” katanya.

Lha gimana lagi? Namanya orang tua. Lidahnya sudah terpaku pada bahasa ibu yang dia gunakan sehari-hari. Mengucapkan Alhamdulillah saja jadi Ngalkamdulillah. Disuruh mengulang berkali-kali tetap saja tidak dapat mengucapkan “Alhamdulillah”. Apa ya mau dipaksa?

Makanya saya ikut sakit hati benar ketika suatu hari ada pembicara di sebuah pengajian mengatakan kalau ucapannya tidak bisa persis dengan Al Qur’an maka ibadahnya tidak akan bisa diterima. Dia sambil menatap seorang Ibu yang sudah sangat sepuh.

Ibu sepuh yang dituju tidak paham kalau dia yang disindir, karena sebenarnya dia guru ngaji. Dan sungguh dia anggota yang sangat rajin datang pengajian. Kakinya yang sudah kaku jadi kalau berjalan menyeret-nyeret, tidak menghalangi niatnya untuk selalu datang pengajian. Meskipun juga ketika pengajian yang selalu dilaksanakan malam Kamis dari jam 7 hingga jam 9 malam membuatnya terkantuk-kantuk. Toh beliau selalu datang kecuali memang sakit hinggak tak bisa bangun dari tempat tidurnya.

Dan malam itu sesepuh pengajian di kelompok Ibu mengundang ‘penutur asli’ agar doa ibu-ibu bisa dibetulkan, katanya. Cuma nyatanya itu malah membuat nyali jadi ciut.

“Aku sampai nggak berani ikut mengucapkan doa. Lha aku yang bawa mic. Takut ketauan kalau salah.”

Saya tertawa.

“Sudahlah, yang penting niatnya saja.”

“Ya akhirnya begitu. Mau gimana lagi? Daripada enggak berdoa…”

Saya mengiyakan. Bukankah sebenarnya Tuhan itu maha pengampun dan selalu menyayangi umatnya?

Lha kalau apa yang ada di benak kita saja Tuhan sudah paham, kenapa takut dengan kesalahan ucap karena lidah yang sudah kaku?

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

12 Comments to "Doa yang Salah"

  1. Lani  13 October, 2015 at 00:21

    WES : aneh tp nyata banget, la wong salah ucap, tdk pas dgn laval bahasa/dialek tertentu, kenapa Tuhan disangkut pautkan?

    Tuhan sang Pencipta, maha tahu segalanya. Jiaaaaaan keblinger tenan!

  2. J C  9 October, 2015 at 18:22

    Makin arab makin ciamik makin dekat ke surga…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.