Dua Kesalahan Fatal (saat) Makan

Hariatni Novitasari

 

Bukan, bukan karena saya habis makan nasi padang Garuda dua porsi. Atau saya habis makan kerupuk satu kaleng penuh. Bukan itu masalahnya. Tapi kesalahan fatal lainnya.

lagi kalap

lagi kalap

Balik Surabaya kemarin, memang sempat naik sekilo. Overall, selama di US, makan saya cukup “terpuji” kok. Mumpung di sana dan ketemu sama kale, figs, nectarine, dan lain-lain yang harganya cukup terjangkau (dibandingkan saat di Indonesia yang harganya tidak masuk akal). Jadi, tiap hari makannya kale. Hahahaha. Naiknya timbangan ini saya suspect dari jumlah kali makan. Di Indonesia, saya biasanya makan tidak sampai tiga kali makan. Paling dua kali makan. Karena, saya tidak makan kalau tidak lapar. Kalaupun “kerasa” lapar, sebenarnya kadang tidak “lapar.”

beautiful Georgetown – M Street

beautiful Georgetown – M Street

Nah, selama di USA, makan saya tiga kaliiiii dongggg. Belum lagi saya tinggal di Georgetown yang hampir seluruh area isinya tempat-tempat makan dari seluruh dunia. Belum lagi dessert-dessertnya. Georgetown sangat terkenal dengan cupcakes-nya. Ada DC Cupcakes atau Baked & Wired yang letaknya di seberang tempat kuliah. Belum lagi es krim yang memang enak. Hahaha. Hadeuh mana tahan…. Belum lagi bakery. Ada fresh sourdough ada dimana-mana. Dan semuanya enak. Bahaya. Ditambah lagi, Whole Foods juga tidak terlalu jauh. Eh jauh sih… 1 KM lebih, tapi masih bisa dijangkau dengan jalan kaki. Belum lagi, ada farmers market dimana-mana di DC (giliran lokasinya, tapi daku sempat pergi ke dua tempat). Jadi saya macam orang kalap begitu. Kalap makan.

DC cupcakes! Who can resist? :)

DC cupcakes! Who can resist? :)

Belum lagi, makan di sana porsinya besar. Baik kalau makan di luar atau pas masak sendiri. Biasanya, kalau makan sendiri bisa tidak besar porsinya. Cuman, karena saya lagi maruk makan kale dan beans, jadilah porsi super jumbo. Ya sudahlah. Belum lagi kalau pas makan siang saya tiba-tiba pengen bento box di Hashi Sushi di Wisconsin Ave. Satu paket $14 (sudah termasuk pajak), itu isinya lengkap: sup miso, sushi, nasi, salad, tempura sayuran, sama ikan. Hayo, apa tidak kenyang. Gila dah porsinya.

Makanya, meski tiap hari jogging di C & O Canal dan jalan kesana-kemari (termasuk jalan dari Georgetown ke Smithsonian yang hampir 30 blok) atau jalan di Rock Creek (sampai hampir tersesat ke Maryland), ya ga ngefek, wong frekuensi makan dan kuantitasnya tambah banyak. Jadi ngehek saja waktu lihat timbangan.

hashi sushi di Wisconsin

hashi sushi di Wisconsin

Anyway, kok tulisan ini lebih banyak bunga-bunga, macam kata pengantar yang kepanjangan. Nah, berikut kesalahan fatal saat makan.

  1. Yoga Setelah Makan Tiga Slices Pizza. Waktu itu memang saya janjian sama kenalan agak lama buat dinner. Setelah galau beberapa saat mau makan dimana dan makan apa, akhirnya pilihan jatuh pada warung pizza yang letaknya di M Street – tidak jauh dari Dean & deLuca. Warung pizza itu super rame. Kami pesan tiga pan kecil. Buat di share. Sekecil apapun, tetap pizza dong namanya. Tiap orang wajib makan empat slices. Dan, saya sudah habis tiga slices. Lalu, ketika balik ke hotel, tiba-tiba ada pesan WA di group dari teman serombongan “yoga yuks…” Nah, di tempat kita kursus memang ada kelas yoga. Sering lihat orang yoga juga disana. Kabarnya, untuk datang lima kali pertama gratis. Semacam trial gitu lah. Jadi, penasaran juga. Ditambah satu orang teman lagi, jadilah kami bertiga pergi yoga malam-malam (8.30 pm). Saya nekat saya ikut karena penasaran. Tapi jadi bertanya-tanya juga nanti gerakan yoganya seperti apa. Secara saya habis makan pizza 3 slices dan sudah lama tidak yoga. Tapi nekat sajalah. And.. tada! yoga malam itu adalah core power yang ada sedikit high impact-nya dan pakai barbel segala.
food truck ice cream. Enak booooooo

food truck ice cream. Enak booooooo

Pelatihnya mas-mas brondong keturunan India. Ya sudahlah pemirsa, mari kita coba. Dan.. ketika yoganya itu, ada satu hal yang bikin saya amaze dengan yoga di US. Tidak seperti di Indonesia, yoga di US lebih “membebaskan” murid untuk bergerak semampunya. Tidak ada paksaan harus pose begini dan begitu. Beda sama di Indonesia yang gerakan murid harus “benar” (sesuai standard guru). Enak ya? Meskipun santai, ternyata cukup berat juga. Belum lagi menahan perut kenyang (karena pizza). Plus, ditambah si brondong pelatih kolornya berkali-kali melorot. Ketika harus survive dengan hal-hal itu, tiba-tiba temanku berbisik… “Nov, pengen pipis….” Wakakakakakakka. Duh, godaan bertambah lagi. :))

dc-71

  1. Makan Pecel setelah Detox. Setelah tiba di Indonesia, bowel system saya belum bisa kembali normal. Selain masih “ngikut” waktu US, juga belum bisa benar-benar tuntas. Ketika tiba di US, cepat balik normalnya. Ketika balik di Indonesia, lama banget. Mungkin karena kelamaan duduk di pesawat dan kurang sayuran. Waktu tiba di US, langsung saya gelontor sama kale. Nah, waktu tiba di Indonesia, masih malas belanja. Jadi, makan seadanya, dan cenderung makan junk food. hihiihhi. Untuk “mengembalikan” ini, saya memutuskan untuk detox saja. Malam saya detox, paginya saya ingin sekali makan nasi pecel. Kalahlah logika habis detox, dan menanglah nasi pecel. Jadilah saya makan nasi pecel satu porsi. Sambalnya pun sebenarnya saya sudah minta yang tidak pedas karena saya tidak kuat dengan cabe.
crabcake Benedict :)

crabcake Benedict :)

Eh… belum satu jam setelah makan, tiba-tiba perut saya bloated tidak karuan. Seperti ditusuk-tusuk rasanya. Segala daya upaya saya lakukan untuk mengeluarkan “angin” itu. Mulai dari mengoleskan minyak telon, minyak essential (peppermint), sampai dengan minum wedang jahe, tidak ketinggalan, saya juga pijat seluruh tubuh. Tetap tidak ada efeknya. Bloated tidak karuan. Duuhhhh…. Saya ingat, suatu ketika pernah detox yang sama. Karena ga mampu menahan keinginan mulut (selalu terjadi saat detox), saya makan pukis. Pukis saudara-saudara, hanya satu biji. Tidak lama saya bloated tidak karuan. Hahahaha. Habis itu bilang kapok, tapi kalah sama nasi pecel. hihiihihihihiih. Memang, suatu saat harus didingat-ingat lagi kalau habis detox, makannya tidak boleh gragas. Hihihihi…

Rock Creek Nature Park

Rock Creek Nature Park

 

Bisa juga dibaca di: http://mykepoprojects.com/dua-kesalahan-fatal-saat-makan/

 

 

15 Comments to "Dua Kesalahan Fatal (saat) Makan"

  1. Kornelya  25 November, 2015 at 08:34

    Harga sayur mayur di US memang sangat murah mba Emon, beberapa bulan lalu aku ke farmer market di Kota Wisata Cibubur, alamak, Celery, brokoli, kale dkk harganya 3-4x harga NY. Daging Sapi sampai Rp.120.000/kg kwalitas semi tetelan. Terberkatilah ibu-ibu yang pandai mengatur uang belanja agar mencukupi.

  2. Lani  12 October, 2015 at 23:35

    EMON : Detox plg ampuh buatku makan papaya, langsung lancar hahaha…….

    Makan yg banyak mengandung serat/fiber itu jg merupakan detox yg sgt murah, akan ttp berolahraga rutin itu jg memperlancar utk BAB

    So far aku tdk ada masalah utk hal yg satu itu. Membaca cara makanmu, wadoh super nggragas dan semua diuntal mak lebbbbbbb……….

    Klu soal pecel, gudangan, lalapan, karedok, salad, gado2 dan sebangsanya aku plg suka

  3. J C  9 October, 2015 at 18:20

    Emon, pecel dan gado-gado adalah menu’ku sehari-hari…

  4. Linda Cheang  8 October, 2015 at 14:51

    james : obat ramuan china tsb hanya dibuat di Kota Palembang, Sumatra Selatan, dan tidak semua toko obat china menjualnya. apalagi di luar Indonesia, saya tidak yakin ada yang jual.

    Di Jakarta, hanya dijual di Glodok.

  5. triyudani  3 October, 2015 at 21:14

    Kesalahan besar juga kalo makan angin hahaha

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.