Gembel Soedijono dan Single Parent

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

TAK akan saya lupa pengalaman saat pra sekolah pada sore hari sekitar pukul 16.00 hari Kamis 14 September 1972 di RS Fatmawati. Saya melihat dari jarak dekat 30 cm wajah ayah saya menghadapi sakratulmaut detik demi detik ketika malaikat Izrail sedang mancabut nyawa ayah saya secara perlahan. Dan meninggal…

Sejak itu hidup dengan single parent (1972-1999). Tahun 1999 bahkan no parents! Sejak itu pula saya tak mau injak RS Fatmawati selama 40 tahun, sampai tahun 2012 ketika ayah mertua wafat di tempat yang sama (gak janjian).

isk01

Karena ayah saya tak meninggalkan hal-hal berharga, kecuali nama baik, maka semua biaya pemakaman ditanggung sahabat baik ayah, Om Gembel Soedijono. Saat saya besar baru tahu, mengapa makam ayah saya di TPU Karet Bivak tak pernah dipungut biaya oleh Dinas Pemakaman, seperti makam ibu saya di TPU Pondok Kelapa. Ternyata tanahnya sudah dibeli. (mungkin, saya tak tahu peraturannya).

isk02 isk03

Ketika saya dewasa, baru saya tahu sosok Om Gembel Soedijono, sahabat keluarga kami. Beliau ternyata tokoh Tentara Pelajar, pentolan serta ATMnya PDI (belum pakai ‘P’), tokoh perfilman dan tokoh budaya Jawa. Terakhir bertemu beliau tahun 2003, ketika saya diajak tetangga ke sebuah acara budaya Jawa. Saya dipeluk dan di remes (badan beliau besar tinggi), karena terakhir ketemu saya masih kecil belum sekolah. Di acara itu saya diperkenalkan dengan banyak teman lama ayah saya yang sudah sepuh. Diajak salaman dengan Ibu SK Trimurti, Pak Ruslan Abdulgani, Pak Moersjid juga sahabat ayah saya yang unik, tokoh paranormal Soejanto (Ki Dyoti).

Nama baik adalah harta paling berharga dalam hidup. Gara-gara nama baik banyak orang akan membantu. Saya sudah mengalaminya, bukan sekedar mengutip quote Mario Teguh.

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

6 Comments to "Gembel Soedijono dan Single Parent"

  1. J C  9 October, 2015 at 18:20

    Mas Iwan, sangat menyentuh…

  2. Alvina VB  4 October, 2015 at 07:10

    Bung Iwan, baca tulisan singkat ini, jadi teringat salah satu chapter bukunya Dr. John S. Niles: “How I Became Father to 1000 Children”. Betul banget, Nama baik adalah harta paling berharga dalam hidup. Di dlm buku ini, disebutkan Benjamin B. Warfield (prof. sejarah di Princeton Univ. yg terkenal) bikin research lebih dari 1000 org keturunan dari 2 org yg jadi subject research nya dia, 1394 keturunannya si Jonathan Edwards (philosopher-theologian terkenal dan pernah jadi President Princeton Univ. thn 175 dan satunya lagi 1200 keturunan Max Jukes (seorg atheist dan criminal yg terkenal juga). Ternyata keturunannya si J.Edwards banyak yg jadi president dan profesor di sekolahan terkenal di US, jadi hakim, dokter, pengacara dan senator di US dan banyak yg jadi org2 yg penting, mengabdikan diri dlm pemerintahan di US. Sedangkan keturunannya si M. Jukes, banyak yg jadi kriminal, pembunuh, pemabok, 50% yg wanita keturunannya jadi prostitutes dan banyak lagi yg terlibat kegiatan illegal. Makanya gak heran juga sich kl org mau kawin selalu dicari-cari ini anaknya/keturunannya siapa dulu?

  3. Dj. 813  1 October, 2015 at 19:49

    Mas Iwan . . .
    Orang baik, menerima nama baik .
    Orang kurang baik, akan menerima nama yang kurang atau sama sekali tidak menerima nama baik.
    Tapi, kasihan kan . . .
    Salam Sejahtera dari Mainz.

  4. Handoko Widagdo  1 October, 2015 at 15:47

    Dan nama baik itu masih melekat padamu.

  5. James  1 October, 2015 at 10:44

    hadir…….nama tercantum para Kenthirs yang masih absen

    he he mau komen malah sudah tercangkum oleh Mas Sumonggo

  6. Sumonggo  1 October, 2015 at 09:44

    Zaman dulu:
    Manusia mati meninggalkan nama
    Harimau mati meninggalkan belang

    Zaman sekarang:
    Manusia mati meninggalkan belang
    Harimau mati …. punah

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *