Peci Hitam

Imam Dairoby

 

Awal tahun delapan puluhan

“Alif, Ba, Tsa, Jim, kha, Kho……” suara serak dan tegas seorang lelaki berpeci hitam terdengar mengisi ruangan yang berdinding tripleks melafazkan huruf Hijaiyah.

Beberapa anak terpekur didepan buku Juz ‘amma nya. Mereka mengikuti lafaz yang diucapkan lelaki tersebut. Aku pun ikut melafazkannya dengan lantang. Ada sekitar 5 orang anak-anak di depan lelaki itu.

Sementara ada beberapa anak yang lebih besar duduk membuat lingkaran sendiri dan masing-masing memegang mushaf Al Qur’an. Mereka mengaji bersama-sama. Terkadang lelaki tersebut menyela jika ada bacaan yang dianggapnya salah.

Sambil menahan batuk lelaki itu kemudian memanggil satu persatu anak-anak yang memegang mushaf Al Qur’an untuk membacanya di depan dia. Kami berebut untuk saling mendahului agar lebih cepat selesai diajarkan membaca Al Qur’an oleh lelaki tersebut.

Malang tubuhku yang kecil tak sanggup melawan tubuh teman-temanku yang lebih besar. Aku akhirnya mendapat urutan paling terakhir seperti biasanya. Saat berhadapan dengan lelaki itu yang ada hanya linangan air mata menghiasi pipiku.

“Jangan menangis, lafazkan dengan benar huruf-huruf hijaiyah itu,” lelaki itu berkata tegas seperti membentak.

Aku semakin terisak, bukan karena aku takut ditinggalkan teman-temanku, bukan pula karena aku takut gelegar suara lelaki itu tetapi karena sore ini film kartun kesukaanku sudah mulai tayang di TVRI dan aku iri pada teman-temanku yang sudah pergi menonton sementara aku masih harus berhadapan dengan lelaki itu untuk melafazkan huruf-huruf hijaiyah.

Brak…

Suara gebrakan terdengar. Lelaki itu menghempaskan peci hitamnya sangat keras di depanku.

“Bagaimana kamu mau pintar mengaji kalau kamu hanya bisa menangis saja?”

Lelaki itupun pergi berlalu meninggalkan peci hitamnya di depanku, semantara aku tertunduk dengan tangis yang semakin menjadi. Suara batuk lelaki itu terdengar mengiringi langkah kakinya meninggalkan mushola satu-satunya dikampung kami.

 

Pertengahan tahun delapan puluhan

Sebagai anak lelaki memang harusnya bisa mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan tenaga seperti memotong dahan, memperbaiki peralatan yang rusak, atau sekedar menggemburkan tanah dengan pacul.

Aku mencoba semampunya untuk bisa melakukan dengan tubuhku yang ringkih.

“Cara pegang palu kok seperti itu, pegang palu itu seperti ini,” suara tegas itu terdengar dan aku melihat ketika dia memberi contoh.

Aku mengangguk pertanda aku bisa melakukan. Lain waktu lelaki itu menghardikku dengan kerasnya.

“Kamu salah memegang pacul seperti itu, nanti kena kaki mu, kamu mau kakimu terluka?”

Lelaki itu merebut pacul yang ku pegang serta melepaskan peci hitamnya dan meletakkan di dekat jerigen minum kami.

“Begini caranya memegang pacul dan memacul tanahnya,” kata lelaki itu dengan batuk yang terdengar makin keras.

Aku menjauh darinya dengan perasaan seperti tak dihargai. Apa yang aku kerjakan selalu dianggap salah. Entah cara memegang parang, cara memegang palu, bahkan ketika menyiangi rumput pun dia akan mengomentari.

Ada tatapan kebencian dan tidak suka di mataku. Rasa sesal mengapa lelaki itu harus selalu berada di dekatku dan aku harus berada di dekatnya.

Aku hanya bisa terduduk lesu disamping peci hitamnya.

 

Akhir tahun delapan puluhan

Seperti hari-hari lain, lelaki itu duduk di teras dengan memakai kain sarung dan peci hitamnya. Aku baru pulang sekolah masih memakai seragamku ketika sampai depan pintu.

Diiringi tatapan matanya aku duduk di sampingnya. Tetapi kemudian dia kembali menatap lurus ke arah halaman rumah. Suara batuknya terdengar lemah.

“Saya sudah lulus SMA dan saya tak mencoret baju saya,” kataku pada lelaki itu

“Bagus, baju itu bisa buat adikmu nanti,” ucap lelaki itu.

“Saya ingin ikut sipenmaru,” kataku singkat.

“Kita tak punya uang untuk membiayai kuliahmu,“ kata lelaki itu dengan tatapan tetap lurus kedepan. Dia sama sekali tak melihat wajahku.

“Tetapi saya ingin menjadi sarjana, biar tidak susah mencari pekerjaan,” lanjutku.

“Kamu bisa cari kerja dengan ijasah SMA mu itu,” kata lelaki itu lagi.

“Kerja apa ?” tanyaku.

“Banyak, hanya kamu malas mencarinya. Jadi kuli bangunan juga kerja,” suara lelaki itu sangat tegas.

Aku berdiri.

“Mau kemana?” tanya lelaki itu.

“Cari kerja,”

Dia pun berdiri sambil mendengus, dan membanting peci hitamnya ke meja sembari berjalan masuk ke dalam rumah.

Tanpa mengganti seragam aku pergi ke rumah paman, ingin meminta pendapat pamanku. Percuma berbicara dengan lelaki itu.

Serba salah!

 

Awal tahun sembilan puluhan

Tiga tahun menjalani pendidikan diploma tiga disebuah akademi membuat aku mengantongi ijazah dengan nilai Cum Laude. Aku harus menjalani ikatan dinas yang menjadikanku nanti sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Berkas-berkasku telah masuk ke Departemen yang menaungi Akademi dimana aku kuliah. Tak dipungkiri kehidupan ekonomi menjadi kembang kempis apalagi setelah adik perempuanku ingin kuliah juga. Aku tak sabar utuk segera bekerja.

“Saya mau merantau,” ujarku meminta ijin kepada lelaki itu. Wajahnya seperti menahan sesuatu. Dan seperti biasa dia hanya menatap lurus ke depan, tanpa melihat wajahku.

“Kamu tidak mau jadi pegawai negeri, tinggal menunggu litsus saja,’dia berbicara perlahan tak seperti biasa.

“Saya tak tahan lihat mamak terus yang bekerja, bagaimanapun masih ada mbak dan adek yang kuliah,” kataku.

“Terserah kamu sajalah, tapi jangan menyesal,”ujar lelaki tersebut sambil beranjak ke kamar sembari mengambil peci hitamnya yang diletakkan di meja.

Aku mengikuti dengan tatapan yang dalam. Ada rasa ingin menatap wajah lelaki itu dengan sangat lama, tetapi tak bisa dia telah mengurung diri di kamarnya. Terdengar batuknya dari bilik kamar.

Dia memang selalu sakit.

Akupun merantau ke wilayah Timur Indonesia, kesebuah Pulau terpencil yang terdapat sebuah perindustrian kayu terbesar di negara ini. Pemiliknya pun adalah seseorang yang memiliki hubungan erat dengan penguasa masa itu.

Enam bulan di perantauan dengan aktivitas sebagai pekerja pabrik yang kerja 12 jam sehari. Semuanya berjalan seperti yang kubayangkan, dengan upah besar aku bisa mengirimi mamak uang untuk biaya kuliah mbak dan adikku.

Aku tak pernah mendengar kabar lelaki itu selain beberapa bulan setelah aku pergi merantau dia masuk rumah sakit. Aku mengirimi uang untuk berobatnya. Kabar terakhir dia telah sembuh dan keluar dari rumah sakit.

Sampai pada sebuah siang yang panas. Secarik telegram terpapar di depanku ketika aku sampai di Mess. Didepanku ada kakak lelakiku yang sesenggukan menahan tangis.

Aku mengambil kertas telegram itu, tertulis dengan jelas beritanya.

“Kang koma bapak meninggal titik” demikian bunyinya.

Aku harus pulang.

Harus!

 

Tahun Duaribu duabelas

“Rumah ini dijual saja, mamak biar tinggal di Kalimantan bersama mbak yu mu,” suara sedih mamak serak terdengar.

“Mamak tak menyesal menjual rumah kenangan kita semua?” tanya adik perempuanku.

“Tak ada sesiapa lagi disini selain mamak, baiknya dijual saja,” kata mamak.

“Ya dek, kita pun sudah tak ada yang tinggal di kampung ini, tak ada yang menjaga mamak lagi. Biarlah mamak ikut mbak di Kalimantan dan rumah ini dijual uangnya buat mamak terserah mamak mau belanjakan apa,” kataku pada adek ku.

“Aku ingin perbaiki nisan di pekuburan,” kata mamak.

“Iya mak, nanti saya mencari tukang untuk memperbaiki nisan di pekuburan itu,” lanjutku.

Kami berdua hanya bisa menuruti kata-kata mamak yang telah berusia 75 tahun. Mata mamak berkaca-kaca ketika mengatakan ingin menjual rumah itu. Tetapi hal itupun harus dilakukan karena tak ada lagi yang meninggali rumah tua itu selain mamak. Kami tujuh bersaudara telah mencari kehidupan yang jauh dari kampung kami.

Tak lama kemudian aku masuk ke dalam kamar mamak, untuk mencari sertifikat tanah yang akan kami berikan ke pembeli rumah ini. Sore ini kami akan bertemu dengan pembelinya, dan harga yang kami tawarkanpun sudah kami sepakatinya.

Besok rencana kami akan ke notaris membuat akta surat jual belinya.

Aku membuka lemari dan rasanya ada sebuah benda hitam yang jatuh dari lemari tepat di kakiku.

Peci hitam.

Peci siapa?

Peci lelaki itukah yang disimpan mamak?

Selama itukah peci ini di lemari ini?

Aku mengambilnya dan memeriksanya, masih bagus. Aku mencoba memakainya, pas masuk ke kepalaku. Aku berkaca, kagum dengan diriku. Aku memang tampan kalau memakai peci, senyumku melebar.

Aku melepasnya dari kepalaku dan mencium bagian dalam peci itu. Tercium bau khas lemarinya mamak.

Kemudian aku memeriksa bagian atas peci kalau saja ada yang mulai rusak. Tangan ku meraba di selipan peci tersebut. Aku merasakan ada sebuah kertas yang terselip di situ. Aku mengambil kertas tersebut.

Sejenak aku terpana melihat apa yang tertulis di kertas itu. Tak sanggup aku berkata-kata. Bulir bening menggulir tanpa sadar.

“Aku tak pernah mendidiknya dengan benar, tetapi kini dia pergi untuk mandiri membuat aku sangat bangga. Semoga Allah selalu menjaganya. Februari 1993”

Tertulis dengan jelas, itu bulan aku pergi merantau. Pandangan mataku menjadi nanar.

Bapak……………………….

 

Banjarbaru, 07 September 2015 (22 tahun kepergian ayahanda Mashur)

 

Catatan :

Sipenmaru       : Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru pada masa Orde Baru.

Litsus               : Penelitian Khusus bagi calon pegawai negeri dimasa Orde Baru.

Telegram         : fasilitas yang digunakan untuk menyampaikan informasi jarak jauh dengan cepat, akurat dan terdokumentasi. Telegram berisi kombinasi kode yang ditransmisikan oleh alat yang disebut telegraf, dengan menggunakan kabel-kabel yang menghubungkan satu lokasi dengan lokasi yang lain melalui bawah laut (wikipedia)

 

Penulis : Imam Dairoby (Mas I)

 

 

6 Comments to "Peci Hitam"

  1. Mas Im  19 October, 2015 at 07:16

    makasih semuanya atas komen di cerita pendek saya

  2. J C  18 October, 2015 at 20:40

    Mas Imam, cerita ini apik tenan!

  3. Handoko Widagdo  4 October, 2015 at 20:13

    Bapak memang selalu sayang anaknya.

  4. Alvina VB  4 October, 2015 at 06:40

    Mas ini cerita ttg ayahanda mas ya?

  5. Mas Im  2 October, 2015 at 13:32

    Mas Dj dulu belum ada Iqra mas hehehehe

  6. Dj. 813  2 October, 2015 at 13:28

    Baca kalimat paling atas . . . “Alif, Ba, Tsa, Jim, kha, Kho……”
    Jadi ingat dulu sekitar umur 8 tahun pak Badarudin ngajari kami anak-anak mengaji,
    belajar baca Al Quran .

    Alif b ata tawin an Alif duma tawin in . . . Alif Kasro tawin un . . .
    ( entah benar atau tidiak, sudah lama kini )
    Baca nya salah-salah, beliau selalu berkata baleni . . . ! ! !

    Hahahahahahahaha . . . .

    Terimakasih dan salam .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.