Z

Alfred Tuname

 

Ia seorang perempuan. Sendirian ia di tengah kota yang diam. Bergelut sendirian dengan nafas kehidupan kita yang tak tentu. Menerka udara apakah tercemar atau tak tercemar.

Karena sendirian, perempuan itu melihat sekitarnya adalah rahmat. Menikmati bukit, berburu dan berkebun adalah cara untuk bertahan hidup. Berdoa dan memuji sendiri di Gereja yang dibangun oleh ayahnya. Gereja itu menjadi kenangan terakhir akan ayahnya, seorang pendeta.

Z-Zachariah

Itulah cerita awal dalam film Z For Zachariah (2015). Film ini mengingatkan kita akan kisah penciptaan dalam narasinya yang berbeda. Perempun itu boleh jadi manusia pertama “adam” versi yang feminis. Sebab, pada mulanya dialah yang bekerja sendirian untuk hidupnya. Kita membayangkan manusia “awal” di zaman yang hampir berakhir.

Teknologi membuat dunia semakin dinamis dan bergeliat, sekaligus sebagai pembawa akhir zaman. Itulah “kotak pandora” teknologi.

Pada sebuah peradaban, ada kecanggihan teknologi dan kecerdikan manusia yang menjadi fatal oleh kesalahannya sendiri. Teknologi nuklir harus berakhir dengan dalam cerita kematian yang massal. Teknologi yang menghasil energi luar biasa tersebut ternyata juga sebagai senjata pembunuh massal paling mematikan.

Teknologi telah menjadi tuhan bagi penciptanya. Lantas tuhan kembali menjadi Frankenstein yang membinasakan penciptanya sendiri. Di situ, manusia menjadi kerdil atas ciptaannya sendiri. Manusia telah mengangkangi batasan yang dibuat dan sudah diketahui. Ada batas etika dan moral. Perbuatan melanggar batas itu berbuah petaka.

Petaka akhir zaman. Tersisa seorang perempuan. Ia bukan penggoda, tetapi penyeimbang dan perawat. Ia mengenali lingkungannya. Ia mencintai hidupnya. Ora et labora; berdoa dan bekerja. Tidak hanya itu, ia juga hidup dalam harapan.

Petaka akhir zaman itu tidak menjangkiti perempuan, meskipun ia tetap cemas sendirian. Kondisi yang menjamin hal itu terjadi manakala ia sendiri pandai dan was-was. Kata kuncinya, ia mawas diri. Ia mawas diri sebab ia ditakdirkan sendirian, di lepas bukit yang menawan. Semua keluarganya telah meninggal.

Pada awal kesendiriannya, ia berproses menjadi. Ia menjadi perempuan sekaligus laki-laki pada saat yang sama. Nama perempuan itu Ann Burden (Margot Robbie).

Hingga pada suatu ketika, seorang pria menghampiri habitatnya. Karena kecerobohan, pria itu terkena radiasi nuklir yang mengalir melalui air pancuran saat ia membersihkan diri. Kegirangan yang menyulut ceroboh, membuat pria itu menderita. Penderitaan itu menggoda Ann untuk membantunya. Naluri keibuannya menyelematkan pria itu dari kelumpuan nyaris mati.

Pria itu bernama John Loomis (Chiwetel Ejiofor). Ternyata ia seorang “tukang insinyur” yang ahli dan visioner. Keahlian teknisnya membantu menciptakan dan memudahkan gairah hidup di lingkungan itu. Ann seakan menemukan seorang malaikat penjaga dan penolong yang sepadan. Tak ada lagi manusia lain selain mereka berdua.

Seperti awal penciptaan, hanya Ann dan John meng-ada saat itu. Tanpa cinta, mereka bisa saja bercinta. Untuk keberlangsungan hidup mereka boleh-boleh saja “berkreasi”. Tetapi, alam pikiran John belum sedangkal atau sejauh itu. Sebagai manusia yang sangat teknis dan rasional, ia hanya berpikir untuk bertahan hidup. Survive dalam arti yang sesungguhnya.

Saat itulah Ann mengambil inisiatif. Rayuan dan godaan digunakan. Tujuannya,mungkin saja “pro-kreasi” atau hanya “rekreasi”. Belum pasti. Tafsirnya adalah ia ingin mempertahankan kehadiran John dan ingin hidup bersamanya. Tentu itu bukan cara yang remeh ataupun dangkal, tetapi metode alamiah untuk mempertahankan hidup dan melanggengkan spesies homo sapiens.

Ann tidak tidak-berhasil. Ia justru handal menggunakan talenta alamiahnya, sehingga dalam tenang ayunan rasanya tersambut. John tahu kuat perasaanya terhadap Ann, hanya saja ia telampau kaku mengekspreskannya. Hingga orang lain hadir untuk mempertegas perasaanya.

Di sinilah, Craig Zobel, sang sutradara film Z For Zachariah, berhasil mengaduk perasaan penonton melalui setiap adegan di masing-masing scene.

Hadirlah seorang pria bernama Caleb (Chris Pine). Caleb juga selamat dari bahaya radiasi Nuklir, dan ia menjadi orang ketiga dalam relasi Ann dan John. Caleb berhasil menjadi “Don Juan” dengan caranya sendiri. Ia memikat hati Ann. Entah, ketertarikan itu dimengerti sebagai ketertarikan batin ataukah fisik semata.

Ketertarikan itu memang alamiah, tetapi menimbulkan percikan awal api. Kecemburan pelan-pelan berbijar bersamaan dengan tingkah yang begitu emosional. Kecemburuan itu menegaskan cinta John, sembari menegasikan kehadiran Calep.

Sementara, Ann masih berkecamuk dalam dilemma, antara gairah dan cinta. John adalah cinta, Calep adalah gairah. Boleh jadi, Ann sedang bertumbuh dan menjadi seorang perempuan sejati, dan membutuhkan keseimbangan gairah dan cinta. Sayangnya, keseimbangan itu terbelah pada dua pribadi pria yang berbeda.

Dalam relasi segitiga itu, amor vincet omnes (Virgil). Cinta menjadi pemenang. Perasaan hati itu menang dengan rasionalisasinya sendiri. Le coeur a ses raisons que la raison ne connaît point (mengutip Blaisse Pascal): cinta memiliki rasionalitasnya sendiri sehingga rasio pun tidak mampu memahaminya.

“Irasionalitas” cinta John berpuncak pada tindakan membiarkan Calep menderita kematian (crime by commission). Calep jatuh dan tercebur di air pancuran yang terkena radiasi Nuklir. Bagi John, Calep adalah ancaman. Rasionalitas egotistikalnya bekerja cepat untuk mengamankan keseimbangan relasinya dengan Ann.

Dalam mitologi Yunani, Euripides menceritakan kecemburuan seorang perempuan bernama Medea kepada suaminya bernama Jason dengan membunuh anak-anak mereka dan dirinya sendiri. Hal itu ditengarai oleh Jason ingin mengambil istri muda.

Itulah sisi kejam dari “perkakas” hidup bernama cinta. Cinta yang cemburu berbuah kisah yang tragis. Kecemburuan seorang pria, dalam film Z For Zachariah, hanya bisa ditangkal dengan menyingkirkan sumber pemicu kecemburuan itu. Dalam hal ini, orang ketiga dienyahkan karena mengganggu harmoni cinta yang memiliki. Dikomparasikan dengan tragedi Medea, kecemburuan seorang perempuan hanya bisa sembuh dengan menghilangkan apa yang menjadi sumber kebahagiaan atau fetish seorang pria. Medea tidak memburu perempuan idaman lain, tetapi melenyapkan semua kasih sayang yang pernah diberikannya kepada suaminya, anak-anak dan dirinya sendiri.

Tindakan yang beralaskan kecemburuan itu memang tidak menjadi ajaran moral, bahkan justru kontra-moral. Semua ajaran universal mengutuk tindakan itu. Tetapi kisah fiksi itu hendak menghadirkan sebuah yang simbolis, bahwa amor vincet omnes. Di ruang itu, tak ada yang mustahil.

Dalam Z For Zachariah, “alphabet” kehidupan Ann dan John memang berakhir hidup bersama. Intrusi Calep menegaskan cinta dan memastikan semua rekayasa proyek hidup bersama Ann dan John. “Kepergian” Calep memang membuat John tersenyum dan menghidupkan lagi perdaban kecil itu. Tetapi, di ujung cerita, ada keterasingan yang terbaca sebagai penyesalan. Teringat lagi Queen (album Made In Heaven, 1995), dalam lirik lagu Too Much Love Will Kill You, ”… ‘cos you never read the signs...”

 

Ruteng, 2015

Alfred Tuname

 

 

3 Comments to "Z"

  1. J C  18 October, 2015 at 20:40

    Kayaknya aku setuju Alvina…film ini terlalu berat untuk ditonton…

  2. Alvina VB  4 October, 2015 at 07:18

    Blm nonton, ttp baca review film ini jadi ogah nonton, he..he…
    Sepi kali yak..pada kemana ya para kenthirs di Baltyra ini?

  3. Dj. 813  2 October, 2015 at 13:30

    Ekonomi okay . . .
    Politik . . . ? ? ?
    Jeblooooog . . . . Hahahahahaha . . . ! ! !
    Terimakasih dan salam.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.