[Di Ujung Samudra] Usang Namun Terkenang

Liana Safitri

 

SEPENINGGAL Fei Yang, Franklin duduk termangu-mangu. Lydia keguguran. Meski Fei Yang berkata kalau keadaan Lydia sudah lebih baik, namun Franklin tetap merasa tidak tenang. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Franklin sangat ingin bertemu Lydia, lima menit saja. Tapi bagaimana dengan Tian Ya? Ketika Franklin menelepon Tian Ya beberapa waktu lalu, meminta Tian Ya agar tidak memarahi Lydia karena ia sedang sakit dan muntah-muntah di rumahnya… Ah… waktu itu Tian Ya seperti akan mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi. Mungkinkah sebenarnya Tian Ya bermaksud memberitahu Franklin bahwa Lydia keguguran? Akhirnya Franklin membulatkan tekad pergi menengok Lydia.

terkenang

Wajah Tian Ya berubah kaku begitu melihat tamu kedua yang mengunjungi rumahnya pada hari ini. Tanpa menyuruh Franklin masuk lebih dulu ia langsung bertanya, “Ada urusan apa?”

“Kudengar Lydia keguguran…”

“Apakah Fei Yang yang mengatakannya padamu?” tebak Tian Ya.

“Fei Yang menceritakan semuanya! Ada orang yang mendatangi rumah kalian dan menganiaya Lydia dengan kejam. Namanya Long…” Franklin mencoba mengingat-ingat, “Aku lupa! Tapi dia juga yang dulu menjebak Lydia di kelab malam dan memukuliku.”

“Memang benar Lydia keguguran karena ulah Xiao Long. Tapi sudah tidak ada masalah lagi! Lydia baik-baik saja dan sekarang dia sedang istirahat, tidak bisa diganggu.”

Dalam hati Franklin merasa geram. Tian Ya menghalanginya bertemu Lydia, padahal ia sendiri tidak becus menjaga Lydia! “Bukankah sebelumnya aku pernah meminta tolong padamu agar menjaga Lydia baik-baik? Kau pemenangnya, Tian Ya! Kau berhasil merebut hati Lydia sehingga dia memilihmu! Bagaimana kau bisa membiarkan Lydia dicelakai orang?”

“Ya, kuakui aku bersalah karena meninggalkan Lydia sendirian di rumah. Akulah yang ceroboh!” ujar Tian Ya. “Tapi aku jamin kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi!”

“Kalau sampai terulang lagi…” Franklin memandang Tian Ya dalam-dalam, “Kalau sampai terulang lagi, aku akan membawa Lydia pulang ke Indonesia! Tidak peduli bahwa kalian sudah menikah, tidak peduli apakah Lydia setuju atau tidak!”

“Dan aku tidak akan membiarkanmu membawanya pergi!” Tian Ya tak mau kalah. Setelah itu ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu, meninggalkan Franklin yang masih berdiri di luar.

Ketika itu Lydia menuruni tangga dan bertanya pada Tian Ya, “Apakah ada yang datang?”

“Tidak!”

“Tapi sepertinya aku mendengar…”

Sepertinya aku mendengar suara kakak!

“Tidak ada!” Tian Ya mengulangi dengan tegas. Dipeluknya bahu Lydia, berusaha mengalihkan perhatian wanita itu. “Karena kita sudah mendapatkan pembantu, jadi besok aku mulai masuk kantor. Tidak apa-apa, kan? Kalau ada sesuatu kau bisa minta tolong pada satpam atau tukang kebun. Atau mau ke butik Mama?”

Lydia masih bingung. Rasanya tidak mungkin dirinya salah mengenali suara Franklin.

Tian Ya memanggil sekali lagi, “Lydia!”

Lydia tersentak. “Eh, kau bilang apa?”

“Aku sedang berbicara denganmu tapi kau tidak mendengar! Apa kau sedang memikirkan pria lain?”

Lydia mengedipkan mata. “Ya, aku sedang memikirkan seorang pria!”

“Kau sengaja mau membuatku cemburu, ya?” Tian Ya pura-pura memasang wajah kesal.

“Aku memang ingin membuatmu cemburu setiap hari!” Setelah berkata demikian Lydia berlari menaiki tangga.

“Apa? Kau mau mengujiku? Awas, ya!” Tian Ya mengejar Lydia. Mereka berkejaran seperti anak kecil.

“Kena kau!” Tian Ya menangkap Lydia di kamar, memeluk wanita itu dari belakang, menghadap ke arah cermin. “Ayo, sekarang katakan padaku, siapa pria yang baru saja kau pikirkan? Bagaimana dia bisa mengalihkan perhatianmu dan membuatmu sampai tidak mendengar apa yang sedang kukatakan?”

Lydia menatap bayangan Tian Ya di cermin. “Aku sedang memikirkan cinta pertamaku!”

“Cinta pertama? Siapa?” Tian Ya mencoba menebak, “Franklin?”

“Bukan! Kau tahu aku hanya menganggapnya sebagai kakak! Cinta pertamaku adalah seorang anak laki-laki yang kukenal sewaktu sekolah!” Lydia tampak tidak serius, tapi juga tidak kelihatan sedang bercanda.

Entah kenapa Tian Ya sangat penasaran dengan cinta pertama Lydia. “Lalu siapa?”

“Rahasia!”

“Rahasia? Mana boleh kau menyimpan rahasia dariku? Kita sudah menikah, tidak ada yang perlu dirahasiakan! Lagi pula kenapa kau masih mengingatnya? Apakah dia lebih hebat dariku? Lebih baik dariku? Lebih tampan? Atau… lebih kaya? Ayo katakan siapa cinta pertamamu! Dia orang Indonesia, ya?”

“Aku lelah! Mau tidur!” Lydia menyingkirkan kedua tangan Tian Ya yang melingkari tubuhnya lalu menghindar.

Namun Tian Ya tidak membiarkan Lydia melepaskan diri, “Kau harus jawab dulu! Siapa cinta pertamamu?”

“Kenapa kau begitu ingin tahu? Kita sudah menikah, soal cinta pertama sudah tidak penting!”

“Tapi bagiku sangat penting!”

“Kalau aku tidak mau jawab, memangnya kau mau apa?”

Kali ini Tian Ya tidak berpura-pura kesal lagi, melainkan benar-benar kesal sekaligus gemas. Ia menggendong Lydia, membaringkannya di tempat tidur, dan menggelitikinya. Lydia tertawa-tawa kegelian sambil menggeliat-geliat.

“Hahaha! Hentikan, Tian Ya! Aduh… haha! Haha… hahaha!”

Beberapa saat kemudian mereka sudah terlentang bersisian, tampak kelelahan dengan napas tersengal-sengal. “Kau benar-benar… tidak mau mengatakan siapa cinta pertamamu?” Tian Ya mengulangi pertanyaannya.

“Aku akan terus merahasiakannya, kecuali kau bisa membaca pikiranku!”

“Ya sudah! Kalau begitu tidak usah bicara padaku!” Tian Ya membalikkan badan memunggungi Lydia, seperti kebiasaannya kalau sedang marah. Lydia kembali tertawa.

Mengapa aku merasa sangat cemburu pada cinta pertama Lydia, yang bahkan belum kukenal siapa orangnya? Cinta anak sekolah biasanya hanya main-main, kenapa masalah sekecil ini bisa menggangguku?

Tian Ya mengamati Lydia yang sudah tertidur lelap di sampingnya. Wanita ini sungguh tidak punya perasaan, bisa-bisanya tidur setelah membuat suaminya gelisah sepanjang malam!

Tiba-tiba Lydia mengigau, “Cinta pertamaku…” Tian Ya langsung menegakkan tubuh, menunggu “igauan” selanjutnya. “Cinta pertamaku… dia… satu kelas denganku… duduk sebangku denganku… Bukan orang Indonesia… dia datang dari tempat yang jauh… Aku dan dia… kami berusaha keras membangun jembatan untuk menyeberangi jurang perbedaan… Aku belajar bahasanya… dia belajar bahasaku… Kami berpisah lalu bertemu lagi… Harus mengumpulkan keberanian untuk melawan orang-orang yang menentang hubungan kami… sebelum akhirnya dapat bersama… melihat bintang setiap hari… sambil menyanyikan lagu cinta kesukaan kami…”

Pelan-pelan senyum Tian Ya mengembang. Ia merentangkan tangan dan memeluk Lydia sekuat tenaga.

Masih dengan memejamkan mata Lydia bergumam, “Dasar bodoh…”

Cinta pertama Lydia adalah Li Tian Ya!

Pekerjaan Lydia yang paling sulit adalah membangunkan Tian Ya di pagi hari. “Tian Ya, bangun! Hari ini kau masuk kerja lagi, jangan terlambat!” Tian Ya menggeliat sebentar, matanya terpejam, tapi tangannya menarik Lydia hingga wanita itu kembali berbaring di sampingnya. Lydia memukul lengan Tian Ya sambil menggerutu, “Selalu saja seperti ini! Susah sekali dibangunkan! Pekerjaan di kantor memang bukan urusanku, tapi kalau kau terlambat setiap hari aku yang merasa tidak enak pada papa! Nanti dia kira aku membiarkanmu malas-malasan…”

Tiba-tiba posisi Tian Ya sudah berada di atas Lydia. Sambil menghimpit tubuh Lydia dengan tubuhnya Tian Ya berkata, “Papa tidak akan menyalahkanmu kalau aku terlambat masuk kantor. Hanya saja mungkin gajiku akan dipotong, dan istriku ini jauh lebih galak daripada Papa!” Kemudian Tian Ya mengecup bibir Lydia.

Lydia mendorong Tian Ya, tapi pria itu masih belum mau menyingkir dari atas tubuhnya. “Aduh… kau ini kenapa, sih?”

“Kau tahu apa yang paling kubenci? Yaitu ketika pagi tiba dan harus melalui lebih dari setengah hari tanpa bisa melihatmu. Hanya bisa menunggu selama berjam-jam sampai langit gelap kembali, baru bisa pulang dan bertemu denganmu lagi.”

“Jangan berlebihan! Ayo bangun!”

“Tidak!”

“Kau mau membuatku mati karena tidak bisa bernapas, ya?”

Pintu kamar diketuk dan terdengarlah suara pembantu mereka memanggil, “Maaf! Apakah Anda berdua sudah bangun?”

Lydia melirik ke arah pintu, “Buka pintunya!”

Tian Ya mengembuskan napas keras-keras, “Mengganggu orang saja!” Dengan enggan ia bangkit dan pergi membuka pintu.

Bibi He, pembantu baru di rumah itu menenteng sebuah tas plastik di tangan, memberikan pada Tian Ya. “Saya menemukan plastik ini di lantai depan rumah. Setelah saya lihat di kotaknya ada nama istri Anda.”

“Terima kasih, Bibi. Kau boleh melanjutkan pekerjaanmu.” Diliputi rasa heran, Tian Ya memberikan plastik itu pada Lydia. “Sepertinya kau punya penggemar rahasia. Aku harus lebih berhati-hati!”

Lydia duduk di pinggir tempat tidur dan mengeluarkan apa yang ada di dalam plastik. Sebuah kotak berbentuk persegi panjang. Saat Lydia membuka tutupnya tampaklah sepasang sepatu warna putih dengan hiasan bunga lili.

Sepatu ini dibelikan kakak waktu aku akan menghadiri acara ulang tahun sebuah majalah sastra. Tapi ada yang mengatakan kalau sepatu adalah hadiah terlarang yang tidak boleh diberikan pada orang yang kita sayangi selain jam tangan dan saputangan. Apakah karena itu aku dan kakak tidak bisa terus bersama? Dan hanya aku yang memberikan hadiah terlarang berupa saputangan pada Tian Ya, sedangkan dia tidak memberikan hadiah terlarang kepadaku. Pada akhirnya aku dan Tian Ya tetap bisa menikah, meski harus melalui jalan yang sulit. Jadi mitos tentang hadiah terlarang memang benar? Berarti yang kudengar kemarin memang suara kakak?  

Melihat sepatu tersebut, hati dan pikiran Tian Ya juga berkecamuk.

Sepatu itu seharusnya aku yang membelikannya untuk Lydia, seandainya aku tidak terlambat pergi ke toko dan membiarkan Franklin mengambilnya lebih dulu. Aku juga terlambat datang ke sebuah acara, suatu kesempatan yang akan digunakan Lydia untuk memperkenalkanku sebagai orang yang memiliki kedudukan istimewa di hatinya. Melewatkan saat dia membacakan puisi Kepada sang Bintang yang Bertahta di Langit Hati, puisi yang khusus dibuatnya untukku, puisi yang mengungkapkan perasaannya padaku. Membuatku kembali terlambat menyadari jika aku juga mencintainya, terlambat mambawanya masuk dalam kehidupanku. Satu-satunya hal di mana aku datang tepat waktu dan mendahului Franklin adalah perjumpaanku dengan Lydia di sekolah SMP. Yang membuat Lydia tetap memilihku meski aku selalu terlambat. Pertemuan yang menentukan takdir kami sekarang dan selamanya. Jadi untuk apa aku dirisaukan oleh sebuah sepatu?

“Dari kakak…” Lydia menatap Tian Ya, ingin tahu seperti apa reaksinya.

“Kalau kau memang suka, kenapa tidak dipakai saja?” Tian Ya berkata ringan lalu berdiri. “Aku mandi dulu. Kalau kau mau ke butik dan berangkat bersamaku, sebaiknya kau juga bersiap-siap.”

Beberapa saat kemudian Lydia dan Tian Ya ke luar rumah bersama-sama.

“Jangan terlalu lelah. Pulangnya tidak usah naik bus, aku akan menjemputmu setelah dari kantor. Tunggu saja di butik bersama Mama.”

“Aku tahu, aku tahu!”

Tian Ya membukakan pintu untuk Lydia. Wanita itu melangkahkan kakinya yang mengenakan sepatu putih, masuk ke mobil.

Ada sepasang mata yang diam-diam mengawasi mereka sejak tadi.

Syukurlah kau baik-baik saja, Lydia!

Franklin tersenyum walau hatinya terasa nyeri. Setelah mobil Tian Ya meninggalkan rumah dan menghilang, barulah Franklin pergi Sinar matahari pagi tak dapat menghangatkan tubuhnya yang kedinginan sejak semalam. Kemarin sore ketika datang ke rumah Tian Ya dan mendapat sambutan tidak menyenangkan, Franklin meninggalkan tas plastik berisi sepatu begitu saja di beranda. Ia tidak bisa tenang sebelum memastikan dengan mata kepala sendiri bahwa Lydia baik-baik saja. Jadi Franklin pergi ke taman umum yang ada di seberang jalan, menunggu jika sewaktu-waktu Lydia ke luar rumah. Hanya melihat dari jauh sudah cukup. Namun orang yang diharapkan tidak juga muncul. Semalaman Franklin duduk di taman dan baru bisa melihat Lydia pagi ini. Satu hal yang membuat Franklin terhibur adalah, Lydia memakai sepatu pemberiannya.

Pada saat akan pergi ke Taiwan Franklin membawa serta sepatu itu. Ada secercah harapan, jika bisa menemukan Lydia, ia akan kembali memakaikan sepatu di kaki wanita yang dikasihinya. Sepatu yang mungkin sanggup meluluhkan hati Lydia untuk pulang ke Indonesia bersama Franklin. Lydia memang ada di Taiwan. Tapi berbagai peristiwa yang terjadi kemudian membuat Franklin melupakan sepatu itu. Ketika Franklin mengeluarkannya dari koper dan membersihkannya dari debu untuk diberikan pada Lydia, ternyata sudah ada orang lain yang sanggup membelikan Lydia puluhan atau bahkan ratusan pasang sepatu yang lebih bagus. Sepatu dari Franklin tidak penting lagi. Jika sekarang Lydia mau memakai sepatu dari Franklin, mungkin sebentar lagi sepatu itu akan dibuang karena terlalu usang.

Tian Ya dapat menawarkan kebahagiaan yang lebih indah di mata Lydia daripada Franklin…

 

Meski urusan pekerjaannya sudah selesai, Franklin akan tinggal di Taiwan beberapa bulan lagi. Keputusan itu ia ambil bukannya tanpa alasan. Setelah Lydia keguguran Franklin selalu diliputi rasa khawatir dan tidak bisa berhenti menyalahkan Tian Ya. Ia menganggap Tian Ya tidak bisa menjaga Lydia dengan baik. Bagaimana kalau setelah Franklin pulang ke Indonesia Lydia mengalami masalah lagi? Selesai masalah dengan si gangster, bagaimana kalau Lydia bertengkar dengan Tian Ya karena Tian Ya terpikat dengan wanita lain? Lalu seperti saat mereka masih tinggal bersama di apartemen, Lydia pergi dari rumah… Siapa yang tahu nasib Lydia selanjutnya? Tidak! Franklin belum bisa mempercayai Tian Ya! Ia akan mengawasi Lydia, mengawasi kehidupan rumah tangga pasangan muda itu untuk sementara waktu. Jika sekali lagi Franklin mendengar berita buruk mengenai Lydia, ia akan langsung mengambil tindakan!

Rumah yang bersih dan tertata rapi menyambut Franklin. Karena setiap hari rumahnya selalu berantakan, pemandangan tersebut malah terasa aneh. Fei Yang… kenapa gadis itu mau bersusah payah membereskan rumahnya? Kenapa pula Fei Yang sangat bersemangat setiap kali bertemu dengan dirinya?

“Franklin!”

Sedang berpikir seperti itu tiba-tiba Franklin mendengar suara tetangga sebelah memanggilnya.

Fei Yang berdiri di depan pintu tampak ragu-ragu akan mengatakan sesuatu.

“Ada apa?”

“Aku mau minta tolong…”

Di kamar Fei Yang.

Fei Yang menunjuk lemari pakaian yang pada bagian atasnya ada banyak tumpukan barang. Ia berkata sambil menahan rasa malu, “Aku mau mengambil koper itu, tapi letaknya di ujung sana. Tanganku tidak sampai dan… berat!”

Franklin menggeser sebuah kursi dan menaikinya. Pemuda itu meraih barang-barang di atas lemari dengan mudah. Ada kardus ukuran besar dan kecil yang entah apa isinya, beberapa tas ransel, bahkan tas untuk mendaki gunung. Fei Yang berdiri mengawasi dan menyambut apa saja yang diulurkan Franklin. Terakhir Franklin mengambil sebuah koper warna hitam. “Koper ini kan, yang kaumaksud?”

“Iya, benar yang itu! Terima kasih…”

Dulu Lydia juga tidak bisa mengambil topi Pramuka karena digantung terlalu tinggi.

“Jangan menaruh barang di atas lemari atau di tempat yang tidak terjangkau olehmu, akan menyusahkan jadinya,” Franklin mengingatkan.

“Barang-barang ini jarang dipakai. Temanku yang menaruhnya di atas lemari waktu membantuku pindah rumah. Di dalam koper ada baju-baju adikku. Tadi dia menelepon, mengatakan kalau beberapa hari lagi akan datang kemari, jadi aku diminta mencucikan baju-bajunya.”

“Adikmu tidak tinggal di sini?”

“Tidak. Dia tinggal di Pingtung bersama paman dan bibi.”

Fei Yang menggeser tas dan kardus-kardus ke tepi sambil menggerutu. “Dia selalu memberi kabar secara mendadak, membuatku repot saja! Untung hari ini aku pulang cepat jadi bisa beres-beres!”

“Apa setiap hari kau pulang malam? Kau bekerja di mana?”

“Pekerjaanku?” Gadis itu tersenyum tipis sambil berkata, “Aku bermain piano…”

“Jadi… kau seorang pianis?”

“Itu dulu…”

“Sekarang?”

Fei Yang berdiri di depan jendela kamarnya, tatapan gadis itu melayang ke tempat yang jauh. “Aku suka bermain piano sejak kecil. Begitu senangnya dengan piano, sehingga aku tidak bisa melewatkan satu hari pun tanpa menyentuh piano. Setiap pulang sekolah yang dilakukan hanya berlatih piano sampai jari-jariku terasa kram. Hasilnya aku memenangkan banyak kompetisi piano. Setiap kali orang bertanya, ‘Apa cita-citamu?’, aku akan menjawab dengan lantang, ‘Pianis!’ Setelah lulus SMA aku kuliah di Shida, meninggalkan kampung halaman dan hidup sendiri di Taipei. Jalan mulai terbuka sedikit demi sedikit. Aku sering tampil di berbagai pertunjukan musik, terkadang juga bermain piano mengiringi beberapa penyanyi terkenal. Pada usia dua puluh tahun aku sudah mengadakan konser piano yang membuatku jadi terkenal.”

Franklin merasa takjub sekaligus kagum. Ia baru ingat jika Fei Yang pernah bermain piano di acara pernikahan Lydia dan Tian Ya. Saat itu ia dan Fei Yang nyaris tidak bisa berkomunikasi sama sekali karena kendala bahasa. Karena terlalu asyik mendengarkan cerita Fei Yang, Franklin sampai lupa bahwa tugasnya “memberi pertolongan” sudah selesai.

“Kau pasti heran karena tidak menemukan piano di rumah seseorang yang mengaku suka bermain piano,” suara Fei Yang berubah getir. “Waktu itu aku sedang berada di puncak karier, seluruh dunia berada di bawah kakiku, semua orang mengelu-elukan diriku. Tapi sungguh… kita tidak tahu kejadian apa yang akan menimpa diri kita di kemudian hari. Manajerku adalah sahabatku sendiri. Kami sudah saling kenal selama bertahun-tahun dan aku sangat mempercayainya. Sama sekali tidak terpikir jika dia akan menipuku. Dia membawa kabur uangku, semuanya! Di saat yang hampir bersamaan bibiku masuk rumah sakit. Dia mengidap penyakit jantung sejak lama dan harus menjalani operasi transplantasi jantung. Aku tidak lagi memedulikan uang yang dibawa kabur manajerku dan memilih pulang agar bisa merawat bibi. Karena sudah tidak punya apa-apa, aku lalu menjual satu-satunya piano milikku untuk biaya hidup…”

“Kenapa kau tidak menuntut manajer yang sudah membawa kabur uangmu? Mungkin sebagian bisa kembali?” tanya Franklin.

“Aku tidak bisa melakukannya! Dia temanku! Mungkin kau menganggap aku sangat bodoh, tapi aku tetap tidak tega melaporkan temanku sendiri.” Fei Yang menelan ludah. “Meskipun akibatnya hidupku jadi semakin sulit… Setelah kesehatan bibi benar-benar pulih aku kembali ke Taipei. Tidak mudah memulai dari awal lagi. Jika sebelumnya aku tinggal di apartemen mewah, kali ini aku hanya bisa menyewa sebuah rumah kecil. Rumah yang kutinggali sekarang. Beberapa orang masih mengenaliku sebagai pianis. Aku diminta mengajari anak mereka bermain piano, lalu aku mengajar piano dari rumah ke rumah. Tapi aku tidak mau bermain piano di pertunjukan lagi, tidak mau tampil di depan umum lagi! Otomatis tidak ada konser lagi!”

Satu lagi persamaan antara Lydia dengan Fei Yang. Jika Lydia menjadi guru bahasa Mandarin, maka Fei Yang menjadi guru piano.

“Orang yang terlanjur jatuh cinta pada dunia seni tidak akan dapat meninggalkannya dengan mudah. Kau begitu suka bermain piano, tapi tidak mau tampil di pertunjukan lagi hanya karena seorang penipu… sepertinya itu sangat konyol.” Franklin mengerutkan dahi, tidak bisa memahami tindakan Fei Yang.

“Kau benar, memang tidak mudah meninggalkan dunia seni! Tapi ada berbagai pertimbangan mengapa aku memutuskan berhenti bermain piano. Orang-orang selalu mengira jika terkenal itu menyenangkan, awalnya aku juga berpendapat demikian. Mereka tidak tahu bahwa hidup seperti itu tidak bebas. Jadwal padat dan ketat dari hari ke hari merubahku menjadi robot. Tidak peduli betapa sukanya kau terhadap suatu pekerjaan, istirahat tetap diperlukan! Sedangkan aku, mau tidur saja susah! Lalu setiap saat menjadi bahan pemberitaan di koran, televisi, dan internet. Membuat merasa seolah-olah selalu diawasi dari berbagai penjuru, harus berhati-hati agar jangan sampai melakukan kesalahan sedikit pun! Tekanan yang kurasakan sangat besar!”

Franklin mengangguk, “Aku bisa memahaminya.”

“Apalagi setelah mengalami penipuan itu aku mulai meragukan banyak hal. Teman-teman yang selalu datang jika aku mengadakan pesta dan para laki-laki yang mengejarku karena ingin menjadikan aku kekasihnya… Mereka mendekatiku bukan karena benar-benar ingin menjadi temanku, juga bukan karena sungguh-sungguh mencintaiku. Mereka menjalin hubungan denganku bukan karena aku adalah Fei Yang, tapi karena aku seorang pianis terkenal! Aku seperti memiliki segalanya, tapi sebenarnya tidak punya apa-apa! Aku mempunyai teman dan hidup bergelimang harta, tapi kehilangan satu hal yang sangat berharga…” Fei Yang tertunduk sedih lalu menggumamkan satu kata, “…ketulusan! Buktinya, sekarang setelah berhenti bermain piano, orang yang dulu dekat denganku, satu per satu mulai meninggalkanku. Jadi meski terkadang muncul keinginan untuk bermain piano lagi… aku akan berpikir ribuan kali seandainya diminta tampil pada suatu pertunjukan.”

“Sudah sering terjadi… Teman datang mendekat ketika kita sukses, lalu pergi menjauh saat kita jatuh. Tapi justru di saat seperti itulah Tuhan memperlihatkan kepada kita, mana teman yang sejati,” ujar Franklin simpati.

Sedikit sekali yang aku ketahui tentang tetangga sebelah ini. Tapi kenapa dari tadi yang dibicarakan hanya paman dan bibi?

“Lalu di mana orangtuamu?”

“Sudah meninggal…”

“Oh… maaf!”

Ternyata dia sama sepertiku, yatim piatu…

 

 

5 Comments to "[Di Ujung Samudra] Usang Namun Terkenang"

  1. J C  18 October, 2015 at 20:47

    Wah, wah, Franklin terus terkenang-kenang sama Lydia…piye tooohhh iki…

  2. Liana  6 October, 2015 at 20:53

    Karena Franklin tipe cowok yang susah move on.

  3. djasMerahputih  6 October, 2015 at 10:04

    Hadir bang James..
    Para Kenthir adalah teman sejati..

    Kisah Franklin dan Fei Yang sepertinya akan “bertepuk sebelah kanan..”

  4. donald  5 October, 2015 at 18:49

    Teman sejati selalu ada.

  5. James  5 October, 2015 at 14:45

    1……hadir tunggu para Kenthirs muncul

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.