Hari Kemurnian Pancasila

djas Merahputih

 

Garuda bukan burung perkutut
Sang Saka bukan sandang pembalut
dan coba kau dengarkan Pancasila itu
bukanlah rumus kode buntut
yang hanya berisi harapan
yang hanya berisi khayalan

(Bangunlah Putra Putri Pertiwi, Iwan Fals)

 

Hari Kesaktian Pancasila sering diasosiakan dengan tanggal tertentu, apalagi ia telah menjadi keputusan pemerintah (Keputusan Presiden RI No. 153 Tahun 1967). Tanggal tersebut tak saja merujuk pada waktu sejarah, melainkan juga pada pelaku dan rezim penguasa di masa itu. Kesaktian Pancasila sepadan dengan keperkasaan sebuah rezim. Kesaktian Pancasila seiring sejalan dengan perilaku penguasa di era keemasannya.

Sebagai jargon politik terpopuler di masa itu, ungkapan Kesaktian Pancasila memberi legitimasi psikologis (bukan moral) kepada cikal bakal penguasa baru untuk melakukan apa saja atas nama “Kesaktian” tersebut. Bahkan untuk membunuh ratusan ribu rakyatnya, mantra Kesaktian Pancasila cukup ampuh menjadi perisai untuk memupus rasa bersalah dan jijik pada diri sendiri. Apakah Pancasila dengan lima azas sakral di dalamnya, apalagi kata Tuhan jelas tertera pada sila pertama, sanggup mengakomodasi perilaku brutal yang menyertai perayaan momen “Kesaktian” tersebut? Entahlah. Setiap warga negara berhak memiliki persepsi sendiri.

Ada baiknya kita tak terlalu mudah untuk kagum dan bangga hanya sebatas pada jargon-jargon heroik semata. Jika saja tragedi kemanusiaan yang mengiringi momen “kesaktian” tersebut tak pernah terjadi, mungkin nilai moral sejati dalam Pancasila bisa kita agung-agungkan sebagai sesuatu yang sakti. Mana mungkin keberadaban manusia dalam sila kedua dapat beriringan dengan pembantaian massal rakyat Indonesia yang dianggap bersalah (tanpa proses pengadilan) itu? Penafsiran seperti apakah sila ketiga tentang persatuan, di mata operator genosida tersebut? Kemanakah larinya semangat musyawarah mufakat pada intisari sila keempat Pancasila?

Rasanya kita tak perlu lagi menanyakan kaitan pembantaian dengan sila kelima. Sudah sangat jelas ia berlawanan 180 derajat. Dan, sekarang kita bertanya-tanya, di sisi manakah Kesaktian Pancasila berperan mewarnai perjalanan kebangsaan kita di tahun-tahun bersejarah itu? (Ah.., pala berbie jadi pusing…)

Daripada bingung, sebaiknya kita kembalikan saja makna “Kesaktian” itu pada rohnya semula. Kesaktian Pancasila tak perlu kita hubung-hubungkan dengan heroisme dan peristiwa besar apapun. Sebab kesaktian Pancasila tak bermakna apa-apa saat nilai murni dalam kelima silanya tak mampu mengilhami perilaku penguasa dan rakyat bangsa ini. Kemurnian Pancasila jauh lebih berarti untuk diperjuangkan serta dibanggakan. Kita tak butuh jimat sakti (rumus kode buntut) bernama “Pancasila”. Yang kita butuhkan hanyalah pengamalan nilai-nilainya, secara murni dan konsekwen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Dan bisa jadi, kita juga perlu menetapkan sebuah tanggal dalam sejarah sebagai Hari Kemurnian Pancasila. Tanggal berapakah itu? Mari bertanya pada rumput (yang bergoyang) di Brazil…!!? Sebab di sanalah seorang Dewi ke-Murni-an menetap.

 

Nusa Pertiwi 2015

Salam Kemurnian, //djasMerahputih

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

9 Comments to "Hari Kemurnian Pancasila"

  1. J C  2 November, 2015 at 13:13

    Lani, apa’ne yang ditegakkan kembali? Mentiung po?

  2. Lani  2 November, 2015 at 10:37

    KANG DJAS : hadir kenthir ke 3, wlu telat, sibuk soale nggaru baru pulang.

    Kesaktian Pancasila paling pas diterapkan di Indonesia dgn keragamannya.

    Sayangnya digunakan dgn tdk spt tujuan sebenarnya, melenceng dan meligitimasikan kekuasaan, spt yg dikatakan oleh lurah Baltyra. Moga2 bisa ditegakkan kembali

  3. djasMerahputih  21 October, 2015 at 19:11

    Kang JC:
    kadang kata “PANCASILA” hanya menjadi jimat untuk menakut-nakuti lawan. Nilai dalam kelima silanya malah nyata-nyata dilanggar sendiri.

  4. J C  18 October, 2015 at 20:48

    Pancasila sebenarnya memang paling cocok untuk Indonesia, hanya saja di masa Soeharto, justru Pancasila jadi alat kekuasaan yang hampir absolut ketika itu…

  5. djasMerahputih  6 October, 2015 at 16:42

    Kita patut bertanya apakah pesan religi, “Janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu tak mampu berlaku adil” belum dikenal oleh pemimpin dan pemuka agama saat itu…??

  6. djasMerahputih  6 October, 2015 at 08:49

    Hadiir bang James, duo Kethir pada traveling…
    Kesaktian Pancasila jadi kedok untuk melegitimasi pembantaian saudara sebangsa dengan target meraih kuasa. Kelalian yang tak boleh terulang oleh generasi berikut..

  7. djasMerahputih  6 October, 2015 at 08:39

    Om DJ:
    Makasih jadi yang pertama..
    Pengamalan Pancasila memang belum murni.
    Lebih sering jadi slogan kampanye.. Uang tetap jadi Panglima..

  8. James  5 October, 2015 at 14:44

    hadir sembari menunggu para Kenthirs lainnya

    Kesaktian Pancasila hanya sebuah Kemunafikan Rezim Soeharto, bapaknya Koruptor Indonesia

  9. Dj. 813  5 October, 2015 at 13:28

    Panca Sila . . .
    1. Kemurnian . . . ? ? ?
    Berati belum murni to . . .
    Hahahahahahahaha . . .
    Danke dan salam Djas . . .

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.