Diamond Heart

Meitasari S

 

Pernahkah kita merasa bahwa kita lebih baik dari orang lain? Kalau pertanyaan itu ditujukan pada aku, maka aku akan langsung jawab: SERING!

Tetapi semenjak aku mengikuti beberapa kali seminar orang-orang sukses, aku menjadi malu. Terutama minggu lalu.

6 September 2015, aku mengikuti sebuah seminar. Ada beberapa pembicara, tetapi yang menarik untuk aku adalah ulasan seorang pembicara yang menceritakan kisahnya mengasah diri untuk memiliki Diamond Heart.

Pembicara ini adalah istri seorang pensiunan pilot, dan sebelumnya beliau adalah General Manager dan pemilik usaha transportasi yang memiliki ratusan angkutan. Memiliki satu putra dan satu putri yang keduanya berprofesi sebagai dokter. Serba berkecukupan dan mempunyai keluarga bahagia dan sejahtera.

Yang menjadi luar biasa buat aku adalah, pilihan beliau untuk mengasah diri menjadi pribadi yang rendah hati. Dan salah satu jalan yang dipilih beliau adalah:

diamond heart

STOP kritik, memberi komen negatif dan mengeluh.

Hal ini harus dilakukan 90 hari berturut-turut. Jika sekali saja melanggar, maka harus mengulangi lagi dari awal. Luar biasa perjuangannnya. Gagal berkali-kali, bahkan hanya kurang 3 hari saja beliau juga gagal dan harus mengulang kembali.

Terinspirasi hal tersebut, aku bertekad mencoba hal yang sama. Aku ingin membuktikan bahwa aku pun bisa melakukan hal yang sama.

Sepulang mengikuti seminar aku bertekad langsung mulai 90 Hari memiliki Diamond Heart.

Hari pertama:  langsung gagal. Dan gagalnya berkali-kali.

Hari kedua:  gagal juga. Padahal sudah berangan-angan, akan berbicara dan berpikir positif. Ternyata kegagalanku adalah terbiasa memberi komen negatif.

Hari ketiga: Tidak semudah yang kubayangkan! Tekad untuk memiliki Diamond heart begitu besar, tetapi ternyata kebiasaaan-kebiasaan buruk masih membayangi. Mengkritik orang bisa ku-rem.Tetapi memberi komen negatif dan mengeluh masih sulit kuhindari. Kondisi panas yang luar biasa saja, secara tidak sadar membuat aku mengeluh: hufttt panasnya…..Upsss!

Gagal lagi!

Belum lagi relasi dengan anak yang sikapnya membuat hati panas. Hal ini membuat aku berpikir untuk mengundurkan waktu dimulainya 90 hari go to diamond heart. Ya, malam di hari ketiga itu,  aku memutuskan akan menata hati terlebih dahulu. (ALASAN!!!! Hahahahaha)

Hari Keempat (pagi ini): Pagi ini aku putuskan akan menata hati terlebih dahulu sebelum memulai lagi program 90 hari menuju diamond heart. Tetapi…..

Usai mengantar si bungsu, seperti biasa aku mampir gereja terlebih dahulu. Curhat nih ceritanya. Dalam dialog aku dengan Tuhan, bukan pembelaan yang kudapat, tetapi justru Tuhan menyadarkan, betapa kerdilnya aku. Tak bisa memaafkan anakku sendiri, dan malas berusaha untuk menjadi lebih baik. Singkatnya aku memperbaharui tekadku lagi untuk mulai lagi program yang sudah aku canangkan.

Usai dari gereja, aku mencari bensin. Karena sebelum berangkat tadi aku lihat bensin motor mepet sekali. Aku berjalan mencari depot bensin terdekat, karena aku tahu bensin di motorku tidak cukup untuk sampai di pom berikutnya. Aku bertanya pada seseorang dimana kios bensin terdekat, dia menunjukkan di sebelah sana, sudah dekat kok. Jalan saja terus, katanya. Ternyata tempatnya jauh sekali, aku berusaha keras untuk tidak mengeluh.

Berhasil!!!

Kembali ke gereja, aku nebeng seseorang yang baik hati. Ia bersedia kutumpangi sampai gereja.

Thanks God! LULUS!

Aku meneruskan perjalanan ke Kantor. Di jembatan masuk kantor, aku bertemu teman yang berjalan kaki. Lalu aku ajak dia numpang. Di perjalanan ia bercerita tentang penanganan kebakaran yang tidak memuaskan yang kemarin sempat terjadi di pabrik. Secara tidak sadar ini memancing komen negatifku. Ampunnnn! Setelah sadar aku tertawa, ya Tuhan, aku gagal lagi. Baik aku akan mengulang lagi.

Kejadian berikutnya adalah saat mendapat telpon dari  suamiku. Seperti biasa ia mengabsen aku. Kemarin ia sempat mengeluh dengan pekerjaan dan aturan yang tidak jelas tentang hari liburnya. Dan secara tidak sadar aku memancing komennya, karena hari Rabu adalah hari offnya. Aku bertanya apa acara dia hari ini. Lalu suamiku menjawab ya banyak, ke sana .. ke sini… ke situ. Aku bertanya lagi, lho bukannya libur? Santai aja dulu, kataku.

Bukannya dia setuju, tapi malah marah-marah. Reaksinya mengagetkanku sekaligus menyadarkan aku, betapa jahatnya aku. Memancing niat busuk dan memprovokasi.

GAGAL LAGI! Byuhhhhh!

Jam belum lagi menunjukkan pukul 10, tapi aku sudah gagal untuk yang ketiga kalinya. Dan ini lagi-lagi karena aku berkomentar negatif

Sungguh, ternyata aku merasa kepribadianku jelek sekali. Padahal selama ini aku merasa baik-baik saja. Semua normal. Komentar negatif itu biasa, mengkritik itu biasa, apalagi mengeluh ahhhh….. biasa aja tuh!

Sempat temanku mengatakan, lebih mudah jadi dirimu yang dulu kau sebut MANUSIA EGOIS (ME) ya mbak, daripada memiliki diamond heart. Buat apa susah-susah mengasah diri. Yang penting tidak menyusahkan orang lain. Ya, aku setuju…

Namun, setelah mencoba program ini, aku merasa betapa buruknya aku, tapi ini tak akan menghentikan langkahku berusaha memiliki diamond heart… entah sampai kapan.

Ada yang mau ikutan 90 days go to diamond heart? Hahahahaha…. Cobalah dan rasakan! Simple but ….????

 

Semarang,09 September 2015

 

 

About Meitasari S

Seorang istri dan ibu pekerja yang karena pilihan kehidupan, menahkodai keluarganya paralel dengan suaminya yang satu di Jakarta dan satu lagi di Semarang. Jiwa sosialnya yang tinggi, membuatnya terlibat juga dalam kepengurusan salah satu sekolah asrama di Jawa Tengah dan juga dalam lembaga sosial Anak-anak Terang yang mendanai anak-anak kurang mampu untuk menempuh pendidikan yang lebih baik.

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Diamond Heart"

  1. J C  19 October, 2015 at 12:10

    Nyah Mberok, ujian terbesar adalah ketika dirimu diskusi dengan Itsmi…hahaha…kudu panjaaaaannngggg sabaaaarrr…

  2. Lani  14 October, 2015 at 00:03

    NUR MBEROK : Nah, terbukti kan, tiada manusia yg SEMPURNA. Sgt manusiawi sekali, menurutku aku tdk akan ngoyo jd orang sempurna, krn mmg tdk akan berhasil.

    Akan ttp aku akan berusaha utk menjadi lebih baik setiap hari ditiap tarikan nafasku. Itu saja bukan satu perjuangan yg mudah, kegagalan kdg menyertainya.

    Akan ttp aku tdk akan putus asa, terutama berpikir positif, dan berpegang pd Tuhan yg terjatuh sampai 3 kali ktk memanggul salib, dan Dia sll bangkit! Itu yg memberikan semangat buatku utk tdk putus asa

  3. Itsmi  13 October, 2015 at 16:27

    mengkritik bukan berarti merasa lebih baik dari yang di kritik itu pikiran yang sangat dangkal….. saya kira orang yang menunjang pemikiran ini, perlu lagi merenungkan…

  4. James  9 October, 2015 at 09:20

    untuk memiliki Wooden Heart (ala si Elvis) saja susah sulit apalagi Diamond Heart, harus belajar dari mendiang ibu Theresia

  5. Sumonggo  9 October, 2015 at 06:52

    Puasa makan, masih tahan
    Puasa ngrasani, tidak tahan
    Puasa mengomentari yang bukan urusannya, mana tahan …

  6. Dj. 813  8 October, 2015 at 22:09

    Mei . . .
    Hahahahahahaha . . .
    Ide yang bagus . . .
    Tidak boleh kritik ya . . . .
    Hebat sekali . . .
    Orang hobby tidur, bagaimana biisa kritik . . .? ? ?
    Selamat tidur . . . dan mimpi yang indah . . .
    Hahahahahahaha . . . .
    Salammanis dari Mainz

  7. Linda Cheang  8 October, 2015 at 13:35

    nah, kan? siapa yang berani jamin bersikap rendah hati itu gampang? hehehehe

    bahkan pemimpin komunitas rohani di lingkunganku saja, masih belum sadar kalau dia sudah mesti lebih rendah hati lagi…..

    selamat berevolusi menjadi pribadi yang lebih baik lagi, ya…. termasuk aku juga, nih.

  8. HennieTriana Oberst  8 October, 2015 at 11:03

    Wah Meita, berat sekali rasanya untuk melaksanakan “90 days go to diamond heart”. Aku sering merasa sulit mengontrol diri, bersikap sabar, nggak mengeluh dan nggak marah.
    Terima kasih tulisannya Meita.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.