[Explore Shanghai] Muslim Food Street Market

Hennie Triana Oberst

 

Setelah semingguan lebih bebenah karena pindahan rumah, bolehlah rencana blusukan di Shanghai dilanjutkan lagi. Senang dapat teman baru yang suka diajak jalan. Jadilah rencana hari Jumat ini kami menyusuri Muslim food street market di salah satu sudut Shanghai. Bulan Juni yang lalu mau main ke sini, tapi hujan hampir setiap hari.

Kami naik Metro (subway) Line 2 sampai stasiun Jing’an Temple, kemudian ganti Line 7, dan turun di stasiun Changshou Road. Lokasinya sangat dekat dengan stasiun Metro. Keluar dari pintu Exit #1, jalan ke arah kanan, kemudian jalan beberapa puluh meter menuju arah kiri di Changde Road. Akan terlihat payung/tenda warna merah dengan kepulan asap di sekitarnya.

Muslim Food Street Market ini diselenggarakan oleh komunitas Uyghur dari Xinjiang Province, yang merupakan etnik minoritas di Cina. Pasar ini buka hanya pada hari Jumat sekitar pukul 11 sampai 15.

Di kiri kanan jalan terlihat penjual makanan, ada juga penjual daging kambing dan sedikit ayam. Banyak segala jenis makanan yang dijual, dari makanan ringan, makanan utama dan penutup. Jika ingin membeli makanan untuk dibawa pulang, lebih baik sediakan wadah atau tas yang lebih besar dari rumah. Karena kebanyakan pengunjung menikmati makanan di tempat, jadi kemasan untuk pesanan yang dibawa disediakan minimal.

shanghai-muslim-streetfoodmarket (1) shanghai-muslim-streetfoodmarket (2)

Roti dengan isi daging kambing ini enak sekali rasanya. Harganya juga murah, hanya RMB 3/pc. Dipanggang di dalam tungku, cara memasak yang belum pernah aku lihat sebelumnya (kurang piknik nih). Roti ditempelin di dinding tunggu. Temanku bilang cara memanggang seperti ini banyak terdapat di Israel.

shanghai-muslim-streetfoodmarket (3)

Nasi Pilaf ini kelihatan enak sekali, sayangnya kami sudah terlalu kenyang menyantap makanan yang kami pesan. Ada seorang lelaki yang semeja dengan kami, penampilannya mirip dengan salah seorang pemusik terkenal dari Yunani. Dia menawarkan kami untuk mencicipi nasinya. Aku pikir, nanti sekali lagi kalau berkunjung akan mencicipi makanan ini. Karena masih banyak berbagai makanan yang mengundang untuk dinikmati.

Nasi Pilaf (mirip dengan nasi Biryani) dimasak dengan campuran wortel dan sepertinya daging kambing/domba. Besarnya wadah penggorengan ini mengingatkanku pada warung nasi goreng kambing di Jl. Kebon Sirih Jakarta, yang rasanya lezat dengan pengunjungnya yang selalu ramai.

shanghai-muslim-streetfoodmarket (4)

Salah satu stand sate yang menjual sate daging kambing ini ramai sekali pembelinya, jauh lebih ramai dari stand yang lain.

Penjual daging kambing

Penjual daging kambing

Daging yang dijual di stand ini terlihat enak dan aroma wanginya sangat mengundang selera

Daging yang dijual di stand ini terlihat enak dan aroma wanginya sangat mengundang selera

shanghai-muslim-streetfoodmarket (7)

Kami akhirnya kami menikmati makan siang di sini, mencari tempat yang sedikit teduh di bawah pepohonan, dan memesan semangkuk sup bihun dengan irisan daging sapi, segar dan enak rasanya. Selain itu kami coba Kuotie (itu kan namanya, sejenis dumpling yang digoreng?), juga kami cicipi sejenis bakpao goreng (begitu bentuknya, digoreng seperti kuotie, nggak tau namanya) keduanya isi daging sapi.

shanghai-muslim-streetfoodmarket (8)

Kue-kue yang dijual di pasar ini sangat mirip dengan kue dari negara Turki dan Yunani, yang rasanya sangat manis menggigit. Bagi yang suka dengan rasa yang super manis pasti akan senang mencicipi kue yang tersedia di sini.

Sangat menarik mengenal dan mencicipi kuliner dengan cita rasa yang berbeda dari makanan khas Cina yang biasa dikenal luas. Negeri ini memang kaya akan etnik dan ragam masakannya.

 

Shanghai, 20150911

Muslim Food Street Market – Shanghai
Buka: setiap hari Jumat pukul 11 – 15
Alamat: Changde Road, (persimpangan Aomen Road) – Jingan district
Metro Line 7, stasiun Changshou Road (exit 1)

 

 

31 Comments to "[Explore Shanghai] Muslim Food Street Market"

  1. EA.Inakawa  30 January, 2016 at 09:57

    Hennie , apa kabar nya…..semoga sehat selalu disana

  2. Hennie Triana Oberst  23 October, 2015 at 20:23

    Yah belum selesai sudah kepencet.
    Mereka kadang menjeneralisasi satu kasus. Saya punya teman yang selalu bilang darah tinggi padahal belum pernah periksake dokter. Yang pasti kalau pusing dia anggap itu darah tingginya kumat. Padahal kalau diperiksakan ke dokter mungkin saja masalahnya yang lain.

  3. Hennie Triana Oberst  23 October, 2015 at 20:18

    Pak Liong benar banget. Memang banyak orang di Indonesia seperti itu. Mereka k

  4. Hennie Triana Oberst  23 October, 2015 at 20:13

    JC bolehlah segera direalisasikan. Ada juga kok daging sapi dan ayam.
    3-5

  5. Swan Liong Be  23 October, 2015 at 17:32

    James, diIndonesiA Itu orang gampang dipengaruhi, kan orang gak sering² makan daging kambing, tapi diIndonesia begitu denger daging kambing langsung diasosiasikan dengan tensi, serangan jantung dll. Adik saya jalannya pake tongkat lantaran lututnya kena penyakit. Dia makan daging kambing disuatu warung ada aja orang yang tanya² koq berani makan dagng kambing, pikirnya jalan pake tongkat disebebkan terlalu banyak daging kambing. Begitu juga dengan soal cholesterol, diIndonesia soal ini bisa menyebabklan beberapa orang “histeris”, takut makan ini dan itu hanya karena takut kadar cholesterol “meninggi”

  6. J C  19 October, 2015 at 12:11

    Sepertinya sangat-sangat nyam-nyam…tapi aku bukan penggemar berat kambing…kalau sapi boleh lah…patut dikunjungi ini tempat…

    5-3

  7. HennieTriana Oberst  18 October, 2015 at 20:17

    Lani, minggu lalu aku ke pasar ini lagi. Nyobain nasinya, enak sekali.
    Ternyata ada juga yang jual yang isinya sayuran saja, cocoklah untuk vegetarian.
    Daging kambing memang nggak semua orang suka.

  8. HennieTriana Oberst  18 October, 2015 at 20:10

    Iya Tammy, mudah-mudahan sempat ya. Siapa tau bisa bareng ke sana.

  9. Lani  12 October, 2015 at 23:00

    Daging kambing/domba/lamb, lebih baik lewati saja………krn tdk makan daging dr binatang itu.

    Cara memanggang roti ditempel hal yg biasa dilakukan di restoran India

  10. Tammy  11 October, 2015 at 06:56

    Belum Hen!! Susah cari waktu krn cuma buka weekend.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.