Begini Menantu, Begitu Mertua

Dewi Aichi – Brazil

 

Disclaimer: Tulisan ini tidak bermaksud memprovokasi, atau menyudutkan pihak manapun, jika ada kesamaan problem dengan mertua atau menantu, itu hanya kebetulan saja.

 

Judulnya sekedar untuk cari perhatian saja, sebab nulisnya sambil dengeri lagunya Dewi Dewi, ” begitu salah begitu benar”. Lanjut ahh….ini kan masalah klasik.

Beberapa waktu yang lalu saya melempar status mengenai menantu dan mertua. Berhubung saya sendiri tidak mempunyai mertua, tetapi ingin menampung beberapa pengamatan yang saya lihat sendiri di sekitar kehidupan saya. Dan tulisan ini adalah murni pendapat saya pribadi, jadi bagi yang tidak setuju dengan pendapat saya juga tidak apa-apa karena setiap orang berhak berpendapat dan setiap orang punya sudut pandang sendiri, punya pengalaman masing-masing.

Teman-teman pasti punya kisah atau melihat di sekitar kita sendiri beberapa konflik rumah tangga mengenai mertua dan menantu. Ini sangat umum dan bukan hal yang aneh. Ada yang kasusnya sampai berat hingga memicu perceraian, tapi ada banyak sekali yang konflik ringan sehari-hari. Hidup terpisah dengan mertua saja kadang masih bermasalah, apalagi yang hidup serumah, terutama menantu perempuan yang tinggal di rumah orang tua suaminya.

Jika ibu mertua sudah campur tangan masalah rumah tangga anak lelakinya, waduhhhhh ini gawat. Si menantu perempuan harus bersaing dengan mertua perempuan alias ibu dari suaminya. Ha ha ha……bersaing untuk mendapatkan perhatian dari satu lelaki. Yang menantu ingin suaminya lebih perhatian ke istri, yang mertua ingin anak lelakinya berbakti dan lebih memperhatikan ibunya. Repot kan? Hadehhh….!

menantu-dan-mertua

Saya bayangin jika saya tinggal di rumah mertua, lalu mertua saya sering atur-atur dan ikut campur kehidupan rumah tangga saya, sanggupkah saya?  Mungkin saja saya lari ke tetangga, langsung deh ngerumpi hahaha…

” Keselllll banget deh sama ibu mertua saya, tiap hari bawel banget, ngatur ini itu, sampai urusan anak saya harus sesuai dengan aturan ibu mertua”, apa ngga mati berdiri jika tiap hari seperti ini, ribuuutttt terus!” Apalagi kalau sudah masuk ke dapur saya, “eh masak apa itu, bukankah suamimu ngga suka sayur gudeg?” ” Harusnya kamu tuh tau kesukaan suamimu, yaitu baceman ceker ayam!”

Waks….asem banget, jadi pengen nyakar mertua hahaha..!

Begitulah jika menantu dan mertua bersaing mencintai satu pria haha..kedekatan antara ibunya dan anak laki-lakinya paling sering menjadi pemicu masalah antara mertua dan menantu. Si ibu merasa masih berhak atas anak laki-lakinya meski sudah menikah. Ini penderitaan bagi si menantu. Ya Tuhan….jangan sampai saya punya kasus seperti ini nanti…amin. Sungguh, saya ngga mau takabur hehe….mudah-mudahan antara saya dan istri anak saya nanti saling kompak haha…

Ada lagi mertua yang tak bisa jaga rahasia. Malah cerita masalah ke tetangga juga. Menantunya malaslah, tidak bisa merawat anak, tidak bisa masak, tidak bisa atur rumah, tidak bisa menyapu. Wah…pokoknya ngga ada kelebihan sama sekali dari menantunya.

Ada juga mertua yang baik kok, begitu menantu datang ke rumah mertua, langsung dibikinin teh hangat, apa ngga bahagia tuh hihi.., yah tapi itulah enaknya kalau ngga tinggal serumah dengan mertua, minus konflik.  Tapi juga ada, meski tinggal jauh berlainan negara, begitu pulang nengok mertua, malah ribut, perbedaan ekonomi misalnya di mertua kaya, dan menantunya dari keluarga miskin, lalu mertua merasa malu dengan menantunya.

Yang banyak terjadi juga jika suami istri kerja, lalu menyerahkan pengasuhan anak-anak terhadap mertua atau nenek, nah ini kadang juga pemicu masalah. Perbedaan cara mendidik anak-anak misalnya. Mertua sangat memanjakan anak, dan memberikan kebebasan kepada cucunya, sedangkan menantu ingin anak-anak tidak makan banyak cokelat , tidak boleh loncat-loncat di sofa dan sebagainya. Hal-hal keseharian seperti ini yang menimbulkan perbedaan yang akhirnya bermuara pada konflik.

Sampai masalah keuangan. Ini juga sangat sensitif. Ada lho suami yang diam-diam memberikan uang kepada ibunya. Tanpa sepengetahuan istrinya. Sebagai istri tentu saja sangat kecewa atau tidak suka. Kan bisa dibicarakan dengan istri. Hanya saja tidak semua istri sepakat. Jadi si suami serba salah, pengen ngasih duit ke ibunya, tapi istrinya melarang, akhirnya diam-diam , yang jika ketahuan, malah akibatnya lebih parah.

Nah ini yang apes bagi mertua, jika punya menantu yang galak haha…kena deh! Jika mertua berani ngatur rumah tangga sang menantu, tak segan menantu langsung menegur mertua. Dan mertua mau tak mau harus mengalah dan harus bisa mengerti. Bagus sih. Asal saja suami juga netral, tidak memihak ke siapapun. Siapa tau lho, begitu menantu menegur mertua, eh suami ngebelain ibunya sendiri, sakit kan kalau gitu? Akhirnya justru suami istri berantem.

Sayapun ngga tau dan ngga akan menulis bagaimana sih mengatasi masalah yang timbul antara mertua dan menantu, sebab saya sendiri tidak pernah mengalami punya mertua dan belum punya menantu. Hanya saja, masalah itu ada atau tidak tergantung persepsi masing-masing. Kalau biasanya mertua itu menganggap menantu wanita itu sulit, ya kalau bisa dibentuk persepsinya, menantuku itu cantik, sopan, dan sangat menyayangi anakku. Itulah cara mertua mempersepsikan menantunya secara positif. Ini sih untuk saya sendiri sebagai calon mertua nanti hehehe…..jadi jangan takut ya yang bakal jadi menantu saya hahaha…! Dan hai..calon menantuku….jangan galak-galak, baik-baikin aku ya…!

Di sini bisa disimpulkan bahwa, baik itu mertua atau menantu sama-sama bisa bikin masalah. Kebetulan yang saya bahas adalah, menantu perempuan yang tinggal di rumah mertua. Sebaliknya, jika menantu laki-laki tinggal di rumah orang tua istrinya, biasanya minim konflik, alias jarang bermasalah, apalagi si menantu ini seorang bos, pejabat, atau banyak duit. Yang menantu pengangguran hati-hati saja ya sama mertua haha…bisa disuruh minggat.

“Nakkkkk…..kerja yang benar ya nak…kelak jangan sampai jadi pengangguran yang ikut mertua!”, sambil ngasih sapu kepada anak lanang.

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

19 Comments to "Begini Menantu, Begitu Mertua"

  1. Nonik-Louisa  23 October, 2015 at 14:24

    Aku ngakak baca comment e Tante Lani: “mati ngadeg”, “gebyah uyah”, hahahahahahahaa.

  2. J C  19 October, 2015 at 12:34

    Komentar di bawahku ini bener-bener paling koplak…hahaha…

    Dewi, aku dan bojo sudah sepakat dari semula, tidak tinggal serumah dengan pihak orangtua siapapun karena itu jelas potensi konflik yang tersembunyi dan tidak ada yang pernah tahu kapan bisa meledak…

  3. Itsmi  13 October, 2015 at 14:54

    Dewi, siapa bilang jangan tinggal sesama mertua ?

    Banyak mertua ada relasi seksual dgn menantunya, jadi bagi mereka asyik asyik aja ah tinggal bersama…

  4. Dewi Aichi  13 October, 2015 at 09:17

    Teman-teman terima kasih komentarnya, intinya jangan tinggal serumah dengan mertua hehe…lha jauh saja kadang ada saja ketidakcocokan, apalagi serumah.

    Yang bisa merasakan ya yang mengalami tinggal di rumah mertua atau yang sudah punya menantu….masalah klasik sih…dan ini akan selalu ada.

  5. Dewi Aichi  13 October, 2015 at 09:13

    Elnino dapat gelas cantik, hadiah diambil, potong pajak ya…

  6. Lani  12 October, 2015 at 23:07

    JAMES : mahalo

  7. Lani  12 October, 2015 at 23:05

    DA : Aku tdk tahu hrs disyukuri atau sebaliknya krn tdk pernah punya mertua, krn mereka sdh pulang kealam baka.

    Tapi mmg repot klu ketemu mertua, apalagi sampai tinggal dirumah mertua (amit2 dah), iso mati ngadeg klu nemuin mertua yg sll bikin BT dan stress dgn segala macam kritikannya.

    Tapi ya ndak gubyah uyah, banyak pula mertua yg benar2 baik, dan bs dijadikan teman sejalan.

    AL: tossssss! Krn kamu senada dan seirama dgn aku, tdk pernah ketemu/punya mertua

  8. Alvina VB  12 October, 2015 at 22:52

    Dewi: Kayanya ini masalah klasik kl sampe konflik sama anak mantu dan mertua. Bottom line, jangan pernah nyampur kl bisa dan tinggal jauh2 di kota/negara yg lain aja, ha…ha…. aku gak pernah punya masalah sama mertua, krn dua2nya dah ada di alam baka, dan blm punya mantu euy…. he..he…doa kita selalu semoga dpt mantu yg baik.

  9. Dj. 813  12 October, 2015 at 21:55

    Puji TUHAN . . .
    Kami tidak ada masalah dengan menantu .
    Kami setiap akhir pekan ngumpul, untuk makan bersama .
    Jadi bisa sharing .

    Tapi dimana-mana bisa saja terjadi selisih paham, antara mertua dan menantu .
    Di Jerman ada kaktus yang diberi nama Schwiegermutterstuhl ( korsi untuk mertua )
    Hahahahahahaha . . .

    Terimakasih dan salam mbak DA .

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *