[Diskusi Buku] Kota di Djawa Tempo Doeloe

Linda Cheang

 

Minggu, 27 September 2015 lalu,

Setelah berbagai kerepotan, masalah, kendala dan hal-hal yang membuat stress, akhirnya acara Diskusi Buku Kota Di Djawa Tempo Doeloe tulisannya Oli, si penulis asal Belanda, jadi juga dilaksanakan di sebuah tempat yang pas dengan suasana tempo doeloe. Hampir saja tidak jadi, karena praktis, semua persiapan hanya dikerjakan oleh berdua orang saja, Oli, dan saya.

Di Roemah Seni Sarasvati, sebuah galeri seni eks rumah kuno, lokasinya di suatu kawasan pusat bisnis Kota Bandung. Ruangan yang digunakan, adalah ruangan utama galeri seni tsb yang sebelumnya dipakai untuk menaruh karya seni berbentuk kapal laut yang ukurannya lumayan besar.

Saya tiba jauh lebih awal dari waktu yang ditentukan untuk acara. Ada banyak hal yang harus diatur berkaitan dengan penataan ruangan tempat acara. Tentang barisan kursi, meja untuk penjualan buku, peralatan pendukung seperti proyektor, sampai penempatan untuk keripik, teh dan kopi. Ketika Oli datang lengkap dengan paket stok bukunya, saya bahkan sempat jadi model dadakan, menjadi penjual buku, duduk di belakang meja yang sebenarnya merupakan hasil sulap dari dua buah batang kayu bundar besar menyangga sebuah papan kayu panjang dan tebal, lalu ditutupi table runner bermotif batik. Voila! Jadilah meja penjualan buku serta suvenir yang indah dan cantik.

kota-di-jawa-tempo-doeloe (1) kota-di-jawa-tempo-doeloe (2)

Mengapa judulnya “Diskusi Buku” bukannya “Bedah Buku”? Penyebabnya, tidak ada seorang yang lain yang secara khusus membaca dan membedah bukunya Oli, lalu menjadi mitra saat pemaparan isi buku dilakukan. Hal yang dikerjakan pada acara tsb adalah: Oli, si penulis buku, menampilkan banyak foto diproyeksikan ke dinding putih polos, dan bercerita tentang foto-fotonya tsb. Oli bercerita dengan semangat diiringi antusias peserta yang datang, baik yang sudah mendaftar lebih dulu, ataupun yang langsung datang, seperti teman-teman saya dari berbagai komunitas. Lagipula, secara praktiknya, acara akan berlangsung seperti ngobrol-ngobrol santai.

Selayaknya acara diskusi buku ini mendapat dukungan dari penerbit bukunya, tetapi entah ada apa, mungkin miskomunikasi dan pengaturan yang tidak lancar, tak ada seorangpun wakil dari penerbit buku hadir, dan bahkan Oli harus membawa sendiri stok bukunya serta stok suvenir berupa kalender meja dan paket kartu pos, untuk dijual di lokasi acara. Beruntung, Oli dan saya mendapat dukungan dan bantuan teman-teman dari komunitas secara mendadak. Tanpa dukungan teman-teman, pasti sudah riweuh alias repot rasanya. Sempat terbayang kerepotan yang akan dihadapi, memandu acara, atau Oli memberikan paparan, sambil harus mengawasi penjualan buku, plus hal mengurus dokumentasi acara. Apalagi kami tak ada fotografer khusus untuk itu. Kekuatan pertemanan komunitas sangat nyata!

kota-di-jawa-tempo-doeloe (3)

Di tengah-tengah pemaparan, mengingat waktu sudah menunjukkan saatnya makan malam, maka ada jeda waktu bagi peserta untuk menikmati sajian keripik dengan teh atau kopi yang khusus tersedia untuk mereka, atau ada juga peserta yang lapar berat, membeli sendiri menu makanan berat di bagian kafenya yang tahun lalu dipakai untuk acara Oli juga. Letak kafenya ada di tempat paling belakang galeri seni tsb.

Jeda waktu tsb juga ternyata bermanfaat bagi Oli untuk mengambil napas, rileks untuk menurunkan ketegangan sebelum kembali menyampaikan paparannya, menjadi lebih fokus dan terarah.

kota-di-jawa-tempo-doeloe (4) kota-di-jawa-tempo-doeloe (5) kota-di-jawa-tempo-doeloe (6) kota-di-jawa-tempo-doeloe (7)

Selesai bercerita dan semua foto yang perlu ditampilkan usai diperlihatkan, maka berikutnya adalah sesi tanya-jawab dari peserta kepada Oli. Senang melihat peserta yang bertanya begitu antusias, interaktif terutama dari peserta yang sudah sempat membaca bukunya Oli. Sebagai moderator, saya enak memandunya karena peserta sudah diingatkan untuk bertanya, ya, berikan pertanyaan, bukan memberikan pernyataan. Tahu, kan, bedanya?

kota-di-jawa-tempo-doeloe (8)

Oli sebagai narasumber bahkan bersedia mendatangi tempat duduk si penanya. Sebenarnya, sih, agar bisa mendengar pertanyaan lebih jelas.

kota-di-jawa-tempo-doeloe (9) kota-di-jawa-tempo-doeloe (10) kota-di-jawa-tempo-doeloe (11)

Setelah tidak ada lagi peserta yang bertanya ataupun memberikan komentar, dilangsungkan sesi otograf, yaitu minta tanda tangan si penulis bukunya.

kota-di-jawa-tempo-doeloe (12) kota-di-jawa-tempo-doeloe (13) kota-di-jawa-tempo-doeloe (14)

Sesi terakhir sekali adalah acara foto bersama dengan peserta yang masih ada di tempat. Iya, ada beberapa orang peserta yang sudah pulang duluan, karena malam semakin larut.

kota-di-jawa-tempo-doeloe (15)

Demikianlah Diskusi Buku Kota Di Djawa Tempo Doeloe, untuk Kota Bandung dilaksanakan. Ada dua acara lagi diskusi buku di Cibiru dan di Jatinangor, bekerja sama dengan dua universitas setempat, tetapi acaranya bukan saya yang pandu, maka tidak akan saya tuliskan di sini.

Sampai jumpa di diskusi buku selanjutnya. Kalau jadi, tahun mendatang bakal didiskusikan sekaligus, 3 bukunya Oli. Maka, kiranya boleh bertemu lagi.

 

Bandung, 8 Oktober 2015

Salam,

Linda Cheang

kota-di-jawa-tempo-doeloe (16)

 

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

14 Comments to "[Diskusi Buku] Kota di Djawa Tempo Doeloe"

  1. Linda Cheang  19 October, 2015 at 12:36

    JC tema bukunya beda, sudah kalo dibandingkan, kecualu yang Soeka-Doeka, jelas lebih bagus yang cetakan kedua.

    Bikin acara di Serpong? Hehehehe, acara yang kubikin di Bandung aja di RSS, penerbit bukunya meneng bae, dan tak merasa bersalah

  2. J C  19 October, 2015 at 12:31

    Linda, buku ini sama yang sebelumnya lebih bagus mana ya? Kapan diskusi buku di Serpong?

  3. Lani  14 October, 2015 at 00:07

    LINDA : ndak ikutan terbang, takut jatuh………..kali ini yg terjatuh 2 balon untung tdk membawa korban

  4. Linda Cheang  13 October, 2015 at 14:18

    Alvina VB terima kasih Alvina. Buku-bukunya Oli sejak buku pertama sampai ketiga ini, bisa didapat di Gramedia dan Toga Mas di Indonesia. Belum masuk Amazon karena belum ada versi English-nya.

    Lani mahalo! Apa dirimu sudah sempat terbang naik balon udara di tempatmu berlibur?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.