[AMNESIA – The Future in History] Gadis dan Negeri Anggun

djas Merahputih

 

Terseret Arus (7)

Penjelasan Ki Telaga Sukma sungguh membuat Sang Pangeran menyesali keputusan para pemimpin negeri Amox untuk ikut terlibat dalam peperangan besar itu. Dengan strategi belas kasih, para Manusia-Hewan memuji kehebatan bangsa Amox kemudian memohon dan mengatakan hanya Negeri Amorluxico yang mampu mengendalikan seluruh kekacauan ini.

Mengapa tidak? Sudah waktunya untuk menunjukkan kehebatan negeri Amox pada seluruh manusia di Planet Ramnox“, pemimpin Amox beralasan.

Sebuah keputusan yang disambut pesta tujuh hari tujuh malam oleh Manusia-manusia Hewan di sebuah lokasi rahasia.

Sang Pangeran terlihat begitu muak dengan kenyataan pahit ini. Kecemasan Beliau kembali muncul, apakah bangsa Rasyie juga mengalami hal serupa? Ki Telaga Hati menawarkan diri untuk menyampaikan sedikit informasi. Kabar ini diperolehnya dari sesama rekan penasehat. Mereka sebelumnya pernah bertugas di negeri Ra Sirhonesia.

Sifat negara-negara di planet Ramnox menyesuaikan diri dengan dua jenis gender yang ada. Negara dengan wilayah dominan berupa daratan digolongkan ke dalam Negeri Maskulin dan sebaliknya berupa lautan ke dalam Negeri Feminin. Jika Amorluxico adalah negeri maskulin maka Ra Sirhonesia tergolong Negeri Feminin. Negeri Feminin dapat pula dikenali dari namanya yang berawalan Ra- .

Sang Pangeran sangat tertarik dengan penjelasan awal Ki Telaga Hati. Beliau berharap bangsa Rasyie tak seceroboh Amox mengingat ia memiliki watak feminin. Menurut Sang Pangeran, tentu negeri itu bisa bersikap lebih lembut dan anggun.

Anggun… Aaahh, kata-kata itu selalu menyeret wajah Maysha ke pelupuk mata.” Sang Pangeran membatin.

Entah mengapa setiap pembahasan tentang negeri Ra Sirhonesia selalu mengingatkan Beliau pada sosok gadis bertopi lebar.

Bayangan Maysha berlalu saat Ki Telaga Hati melanjutkan pemaparannya. Ciri fisik wilayah mereka berpengaruh pula pada jenis ilmu pengetahuan yang berkembang dan digemari. Amox adalah negeri kontinen, menyukai pengembangan ilmu pasti dan logika. Sebaliknya negeri Rasyie yang berwatak maritim lebih menggemari seni, sastra dan ilmu tentang cuaca. Berbeda dengan Amorluxico yang Presidennya sorang pria, Ra Sirhonesia selalu dipimpin oleh seorang Presiden wanita sesuai dengan ciri negeri berkarakter feminin.

Ki Telaga Hati melanjutkan kisah tentang bangsa Rasyie. Jika di Amoruxico peperangan dan kekerasan dilampiaskan kepada negara lain, sebaliknya dalam negeri Rasyie terjadi fenomena cukup aneh. Masyarakatnya gemar menyakiti bangsa sendiri. Perang saudara, penipuan, pelecehan atau saling jegal dalam hal kekuasaan menjadi hal biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Sang Pangeran menyimak penjelasan Ki Telaga Hati dengan pikiran bercabang. Jangan-jangan Maysha telah pula melakukan hal serupa dengan bangsa Rasyie, menyakiti diri sendiri.

Semoga engkau tak melakukannya. Bahkan tetesan embun akan menangisi perilaku tragis apapun yang menimpa wajah anggunmu..!!” Sang Pangeran kembali membatin. Ono dan Offo saling colek di sudut ruangan.

Sebuah hal yang juga berbeda dengan karakter bangsa saudara kembar Putri Maava di Amorluxico adalah cara berpikir orang-orang di wilayah ini. Jika alam pikiran orang Amox didominasi oleh pikiran rasional maka alam pikiran masyarakat Rasyie akan lebih banyak bersentuhan dengan pikiran dan pertimbangan-pertimbangan irasional. Hal ini adalah refleksi dari jiwa seorang Putri dan pancaran pengaruh wilayah kekuasaannya yang berwujud samudera.

Ki Telaga Hati mengakhiri sedikit pemaparan tentang negeri misterius di belahan Timur planet Ramnox itu. Mereka berdua menyarankan agar Sang Pangeran mengundang penasehat Ki Asmara Karma dan Ki Asmara Warna untuk mengetahui informasi detail tentang bangsa Rasyie. Mereka berdua adalah penasehat yang pernah bertugas di sana. Sebuah saran istimewa dan selalu ditunggu-tunggu oleh Sang Pangeran. Keduanya pamit dan segera menemui para Biq Xu, menyiapkan ritual untuk perjalanan pulang ke Langit Kelima.

*****

Rumah besar itu kelihatan sepi, hanya terdengar suara anjing penjaga. Beberapa ekor anjing galak dan bertubuh besar menyambut mereka di gerbang utama. Kendaraan masih harus berjalan cukup jauh untuk mencapai sebuah rumah di lereng bukit. Mereka bertemu seorang petugas keamanan dan memperlihatkan kartu identitas serta bukti kedatangan yang telah diregister pejabat kota setempat.

Dreiden dan Pamannya serta dua orang pejabat federal hanya bisa diterima dalam sebuah paviliun. Sebuah pengumuman tertempel pada dinding bercat putih di belakang meja petugas keamanan. Rumah utama belum boleh dikunjungi hingga beberapa waktu ke depan. Dreiden kecewa, namun cukup lega setelah melihat beberapa album foto keluarga yang disediakan untuk umum, tertata rapi di sebuah meja display kecil.

Keluarga Maysha sangat terpandang di kota Dullstricht. Selain kaya dan terpelajar, keluarga mereka juga memiliki reputasi cemerlang dalam dunia politik. Sudah tiga generasi keluarga ini mencurahkan perhatian mereka pada bidang kemasyarakatan. Ayah Maysha terjun ke dunia politik dalam usia muda. Berkat jaringan relasi yang sudah mapan dari generasi sebelumnya, karier ayah Maysha melejit dengan cepat.

Dreiden rupanya lebih tertarik dengan keterangan tentang anak-anak Sang Senator. Dua orang anak lelaki, seorang gadis anggun dan seorang istri berwajah keibuan terlihat selalu mendampingi Politikus Muda itu.

Pasangan yang sangat beruntung..!” Batin Sang Pangeran, melihat anak-anak mereka yang gagah dan anggun.

Maysha mengenakan blazer dengan rambut terurai panjang dalam setiap fotonya. Sangat jauh berbeda dengan kebiasaan mengepang rambut, bertopi lebar dan bergaun panjang saat mengunjungi danau favoritnya.

Pasangan yang mengenaskan..!!

Hanya dalam beberapa detik Sang Pangeran kemudian mengungkapkan kalimat berbeda, setelah menyadari Ayah mereka kini telah berpulang pada Sang Pencipta dalam sebuah kisah heroik.

Sang Pangeran tak menyadari bahwa gadis anggun dalam foto tadi adalah gadis yang sama dengan gadis di danau Saxoview. Kalung di leher Sang Gadis luput dari perhatian Sang Pangeran. Ono dan Offo melepas nafas panjang, mereka berdua terbebas dari kecemasan. Entah apa reaksi Sang Pangeran jika mengetahui bencana buruk itulah rupanya yang telah membuat danau Saxoview menjadi sepi dan tak bernyawa.

Waktu berjalan singkat, Keempat tamu pamit pada petugas keamanan rumah orang penting tersebut. Seorang tokoh yang wafat oleh penyakit parah di peredaran darah otaknya. Dreiden dan Sang Paman berpisah dengan kedua pejabat pemerintah kota. Sudah tugas mereka mengantarkan wisatawan dan tamu, pengagum tokoh-tokoh ternama di kota Dullstricht.

Pangeran Soka Purnama tiba di istana dengan pikiran menggumpal. Beliau belum mampu merangkai seluruh penjelasan para penasehat dari Langit Kelima. Amorluxico, negeri tangguh namun mudah terseret arus. Rasyie negeri cantik tapi labil. Di luar keduanya terdapat dunia yang kacau dan berdarah-darah. Penguasa, pemodal, pekerja dan wakil-wakil Tuhan saling tekan berebut kuasa. Bukankah keempat golongan itu seharusnya bisa jalan bersama? Bukankah mereka hidup dalam planet yang sama, menatap langit yang sama, menikmati purnama dari dua bulan yang sama. Menghirup udara yang sama. Dan terakhir, mereka semua adalah satu ras yang sama, ras “Manusia” yang ditugaskan oleh Sang Pencipta untuk merawat sekaligus menikmati seluruh isi planet Ramnox ini.

Selain tentang carut-marut negeri-negeri itu, pikiran Sang Pangeran juga dipenuhi pertanyaan tentang keberadaan Sang Gadis bertopi lebar. Sang Gadis kini sedang sibuk dengan tugas akhirnya. Seorang gadis misterius, berkebiasaan aneh, pribadi yang belum terungkap, tatapan penuh luka, namun dengan senyum tulus penuh persahabatan. Kawan baru dalam perkenalan singkat, membuat segalanya menjadi penuh tanya. Akankah Sang Waktu rela memberi kesempatan itu lagi? Pangeran muda minim pengalaman ini masih duduk terdiam di atas kursi kerajaan, berteman ayam jago kesayangan di atas pangkuannya. Entah berapa lama lagi rahasia-rahasia itu terus menyembunyikan diri.

Sang Pangeran kembali teringat masa-masa kecil Beliau yang indah di langit Kelima, masa remaja dengan petualangan berkesan di Planet Bumi, pertemuan dengan Citra dan Boyan serta kenangan-kenangan manis lain di sepanjang perjalanan hidup Sang Pangeran.

Kini, seluruh kenangan manis itu seakan tak berarti. Berbagai beban dan masalah kini bertumpuk di pundak dan pikiran Sang Pangeran. Andai kenangan itu bisa hadir menemani Beliau saat ini, tentu Danau Saxoview tak lagi sunyi dan beku. Bahkan angin pun malas untuk bertiup.

 

*****

Bersambung..

Terjebak dalam Perang (9)

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

11 Comments to "[AMNESIA – The Future in History] Gadis dan Negeri Anggun"

  1. djasMerahputih  21 October, 2015 at 19:02

    Makasih apresiasinya Kang JC..

    Bunda Matahari ke mana yah..??
    menanti kritik dan review dari beliau… how are you there..??
    Hope everything is okay…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.