Melihat Jauh “Televisi”

Alfred Tuname

 

Televisi boleh jadi sudah menjadi tema yang sering diulik teman-teman yang bergelut dalam dunia komunikasi atau broadcasting. Dikatakan, televisi merupakan media komunikasi yang berfungsi sebagai media penyampaian informasi dan hiburan. Kontruksi positif ini ternyata pula menimbun gumpalan-gumpalan celaka dan dampak negatif. Televisi sudah tidak luput dari kepentingan dan ideologi tertentu. Sebuah cara pandang skeptis menyimpulkan, televisi itu mesin pencuci otak (brainstorming).

television

Passing pertanyaan atas setiap konten televisi menjadi anjuran paling mancur untuk merawat rasionalitas. Itulah yang dirayakan seorang cerpenis muda Edward Angimoy dalam cerpennya “Televisi” dalam media Pos Kupang (Minggu, 09 Agustus 2015). Melalui dialog dalam cerpen itu, ia mencoba membongkar detail modus televisi sekaligus mencairkan situasi “seteru diam-diam” antara ayah dan anak lelakinya.

edward angimoy

 

Oeuvre

Cerpen berjudul “Televisi” bercerita tentang relasi emosional antara ayah dan anak lelakinya. Anaknya itu bernama Lalong. Masing-masing antara ayah dan anaknya menikmati genre acara berbeda. Ayah menikmati berita, sang anak film-film kartun. Di tengah perbedaan itu, mereka membangun dialog. Dengan perspektifnya masing-masing, dialog sering berujung cul-de-sac, kebuntuan. Kuriositas anak menghasilkan kegaguan pada sang ayah. Pertanyaan polos kritis bertubi-tubi menimbun gundukan jawaban reflektif pada sang ayah. Seperti seorang filsuf, sang ayah mengulik pertanyaan itu di pikirannya sendiri dalam diam.

Menanti jawaban dari sang ayah hanya membuat anaknya kian tertidur dan lelap. Mungkin saja ayahnya terhibur melihat anaknya tertidur. Atau boleh jadi ayahnya merasa bersalah sebab semua pertanyaan anaknya belum dijawabnya secara tuntas. “Bapa belum jadi profesor”. Demikianlah alibi sang ayah.

“Kenapa itu semua ada di dalam tv, Bapa [sic]?”; “Mereka datang dari mana, Bapa [sic]?”;”Bagaimana mereka bisa masuk?”. Daftar pertanyaan eksistensialis itu membuat sang ayah keteteran harus menjawab.

Jawaban sang sang ayah, telalu terbata-bata seakan ada sesak di leher. Jawaban sang ayah tidak tuntas dan menuai pertanyaan baru. Justru lentingan jawaban anak membuat sang ayah tergopo-gopo untuk berpikir ulang tentang anaknya.

“Karena tiap kali kita nonton berita, yang ada hanya berita korupsi, suap, politik uang, rebut-rebutan kuasa, penggusuran, curi hak masyarakat, jual manusia dan sebagainya. Yang namanya kejaahatan itu pokoknya, Bapa [sic]. Hanya orang dan system yang jahat kan yang melakukan semua itu?!” Jawaban Lalong ini cukup kritis untuk menjelaskan argumentasinya bahwa “orang luar” yang jadi news maker dalam televisi.

Setiap pertanyaan dan jawaban Lalong, membuat ayah bertubi-tubi kecolongan. Ada ketersendatan dalam berpikir. Hal itu menimbulkan gejolak monolog panjang dalam diri ayah. Ia berdialog dengan dirinya sendiri. Ayah berpikir dalam pikir. Berpikir sebagai tindakan sepi menuai dingin dan kantuk pada reaksi anak. Sembari sang ayah bermonolog, anak sudah lama terlelap tanpa ayah sendiri menyadarinya.

Hingga pada titik yang paling unik, televisi “berbicara” (mungkin) tentang mereka. Televisi mencibir dalam tatapan (gaze) sang ayah. Dalam tatapan itu, kesadarannya berhasil memecah timbunan sengketa kata: pertanyaan.

 

Manuductio

Panen pertanyaan muncul setelah sang ayah bermaklumat, “TUHAN sudah lama meninggalkan negeri ini, Lalong”. Demikian bahasa kuasa sang ayah memutuskan rantai percakapan panjang antara dirinya dengan anak.

Design kalimat apatis metafisik itu menyisakan harapan pada “agama” jurnalisme. Jurnalisme dalam segala manifetasinya diharapkan berani berbicara tentang kebenaran dan otentisitas fakta. Bahwa ada yang tidak beres negeri ini. Jurnalisme diharapkan berbicara jujur sehingga Tuhan pun datang memberikan keadilan.

Tetapi dalam jurnalisme kita, keadilan menjadi diksi yang sering muncul tetapi minus esensi. Keadilan hanya bukan lagi bahasa hukum, tetapi bahasa politik yang penuh intrik. Maka keadilan yang kita baca, kita nonton, adalah hasil terjemahan penguasa atas “apa itu keadilan”.

Keadilan adalah jargon politisi yang bermain di arena kekuasaan. Di arena kekuasaan itu, kata-kata keramat seperti keadilan, kebenaran, kesejahteraan umum hanya menjadi barang-barang “antik” dalam etalase politik. Semua itu menjadi antik sebab memang tidak akan pernah dicapai. Atau boleh jadi, semua itu tak lagi bermakna selain dagangan politik dan bisnis media.

Maka bicara media televisi adalah berbicara tentang jurnalisme dan bisnis. Sedikit “karbohidrat” jurnalisme, gemuk “lemak” bisnis dan “bumbu” bombastik, itulah televisi kita. Dengan begitu, idealisme dikebiri menjadi urusan bisnis. Televisi yang ideal tinggal cerita using di mulut regulasi pemerintah. Sebab, kepetingan politik dan profit bisnis media menjadi primadona para pemilik media. Melalui tangan video director kerajingan para pemilik media itu dimanjakan. Semua tema dan angle televisi adalah bahasa hasrat demi kepentingan para pemilik media.

Dengan demikian, semua kemasan program televisi, hiburan dan berita, berisi paket kepentingan. Setiap televisi “berkelahi” untuk mencangkok dan merebut pengaruh penoton, demi kepentingan pemilik media. Para pemilik media juga tidak lain adalah maskot-maskot partai politik atau politisi nasional. Artinya, televisi adalah corong kampanye atau propaganda untuk menghunus pengaruh politik partai lain dan/atau partai penguasa. Karena itu, “realitas” televisi adalah realitas artifisial atau realitas syarat kepentingan.

Karena tipis jurnalisme dan tebal bisnis, televisi selalu berciri “Reagenistik” pro-bisnis dalam setiap aktivitasnya. Karena berciri Reagenistik, maka media televisi selalu “less government, more business”. Di negeri ini, dalam konteks media televisi, hal itu sudah terbukti. Sebab, partai-partai pemerintah (the ruling parties) adalah partai-partai yang terkoneksi langsung dengan media televisi. Demikian halnya dengan partai oposisi, terkoneksi juga dengan media televisinya masing-masing. Maka, kontrol terhadap program-program televisi adalah sesuatu yang mustahil.

Obyek penderita atas pertarungan kepentingan di pentas konten televisi adalah masyarakat penonton. Masyarakat diaduk-aduk dalam adu kepentingan politik dan bisnis. Kejatuhan nilai-nilai agung politik, ekonomi dan sosial-budaya kian tajam searah naiknya tensi kepentingan. Demi kepentingan politik, masyarakat diadu. Demi kepentingan bisnis, masyarakat dibodohi. Program-program epigonistik bertubi-tubi melintas di muka masyarakat. Fakta-fakta politik dipelintir demi kepentingan politik tertentu sehingga jamuan konten acara televisi menjadi kabur.

Karena syarat kepentingan politik, “everthing solid melts into air” (Marx). Semua hal menjadi bahan berita televisi. Manipulasi, reduksi, distorsi dan simplifikasi manjadi perayaan setiap media televisi. Pertanyaan Lalong, “kenapa semua ada dalam tv?”, karena semua dimanipulasi, direduksi, didistorsi dan disimplifikasi demi kepentingan politik kekuasaan dan profit bisnis media. Semua yang ada di televisi datang dari mana saja, siapa saja, untuk kepentingan politik dan bisnis.

Bagi masyarakat, televisi berujung pada social dysfunction. Sebab, jurnalisme televisi tidak mengabarkan kebenaran dan fakta. Televisi tidak independen dari kepentingan kekuasaan tertentu. Yang tersisa di masyarakat hanyalah kegaduhan akibat bandwagon effect yang didambakan oleh setiap media televisi. Kritik terhadap televisi tidak pernah sampai kepada elite atau CEO-nya. Televisi selalu memproteksi diri dari setiap gerakan kritisisme untuk melanggengkan pengaruhnya.

cerpen televisi

 

Sudut Simpang Tanya

Melalui cerpen “Televisi”, pengarang Edward Angimoy mengunggah energi kritisisme terhadap industri media televisi. Dengan cerpen, ia merawat pertanyaan atas esensi dan fungsi televisi di tengah masyarakat.

Bagi pengarang, Tuhan telah meninggalkan negeri ini sebab manusia lebih gandrung dengan televisi yang mempertontonkan permaian dan intrik setan (evil). Melalui televisi, setan telah merayu manusia dengan segenap program utopis (kapitalistik) sehingga mematikan daya pikir manusia. Hanya dengan menonton, rayuan itu menjelma jadi hasrat yang harus tertuntaskan.

Permainan hasrat dalam televisi membuat manusia terpedaya. Dengan caranya yang cerdas, pengarang menggiring pembacanya untuk sejenak mengambil dam membenarkan posisi duduk filosofis untuk keluar dari penjara hasrat. Ia mengajak pembaca untuk kembali pada tradisi para filsuf Yunani, yakni berpikir. “Tiba-tiba aku teringat animale ratio [sic], manusia adalah binatang yang berpikir”. Pengarang sedang menegaskan kembali hakikat manusia sebagai sejak Aristoteles, yakni mahkluk yang berpikir (animal rationale).

Dalam setiap simpang pertanyaan, manusia perlu berpikir. Setiap simpang-siur tontonan menimbulkan geliat tanya. Di situ, seruan abad ke-18 melalui Emmanuel Kant, “sapere aude!” perlu digaung kembali. Beranilah berpikir! Masyarakat tontonan mengubah dirinya kembali menjadi masyarakat yang berpikir biar tidak menjadi masyarakat yang banal. Dengan begitu, televisi akan tetap aneh dan perlu dimatikan (turn off).

 

Ruteng, 2015

Alfred Tuname

 

 

14 Comments to "Melihat Jauh “Televisi”"

  1. Swan Liong Be  25 October, 2015 at 16:12

    wah, kalo salah Captcha ; maka seluruh komentar hilang ya, mesti tulis lagi!
    Oklah; aku hanya mau menulis bahwa kita harus jujur sedkit ah, koq seperti nonton TV itu suatu hal yang “merendahkan gengsi”. Aku sih seneng nonton TV, tiap hari aku nonton, apalagi kalo malam. Itu kan tergantung mau nonton acara apa; bukan semua acara diTV merupakan trash, ada beberapa yang sangat menarik dan informatif. Aku masih ingat dulukala waktu McDonald buka cabang dikota München, junkfood julukannya; kalo tanya orang mereka gak bakal jajan disana, malu ngaku.Tapi koq Mcdonalad malah tiap tahun tambah omsetnya, darimana? Kalo gak ada yang jajan disana, maka seharusnya sudah bangkrut kan? Sekarang tua muda, kaya miskin pada sudah biasa jajan disana..

  2. J C  19 October, 2015 at 15:35

    Walah malah mbahas televisi…hahaha…

  3. djasMerahputih  18 October, 2015 at 16:54

    om DJ:
    Yang tidak punya telepisi, pasti anaknya banyak . . .
    ———————-
    ha ha ha… apalagi di kampung yang belum ada listrik…

  4. Dj. 813  18 October, 2015 at 16:12

    Yang tidak punya telepisi, pasti anaknya banyak . . .
    Hahahahahahaha . . . .
    Terimakasih dan salam,

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.