Surat Kesembilanbelas dari Desa

Angela Januarti Kwee

 

Dear David…

Saat ini jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 19.47 WIB. Aku baru saja berbincang dengan seorang sahabat dan membahas tentang lagu kesukaan. Sambil menulis surat ini, lagu Sunset di Tanah Anarki –SID mengalun dari mp3-ku. Mendengar lagu ini membuat seluruh pikiranku terfokus padamu. Aku ingat ketika kamu berkata lirik lagu itu mirip dengan keadaan kita. Kamu sedang berperang, karena memang kamu tengah berada di tanah anarki. Desing peluru yang tak bertuan, kekacauan dan tangis ketidakadilan menjadi permandangan sehari-harimu. Dan aku, dalam gelisah menunggu beritamu. Mendoakanmu dari jauh. Berharap semua berjalan dengan baik dan Tuhan memberkati pelayananmu.

(Sunset di Tanah Anarki. Foto : SCA)

(Sunset di Tanah Anarki. Foto : SCA)

Namun aku tidak ingin bersedih, karena aku ingat pesanmu untuk tidak berpikir keras tentang keadaan yang kita hadapi, tapi menjalani semuanya seperti air yang mengalir. Dan aku ingin melakukannya.

Well David, aku ingin menceritakan petualanganku menuju tiga tempat untuk memberikan member education. Kamu pasti tidak menyangka bahwa salah satu tempat itu sudah pernah kamu kunjungi. Terkadang Tuhan itu baik ya, walaupun tidak di waktu yang sama denganmu, aku merasa Tuhan mewujudkan keinginanku mengunjungi tempat yang pernah kamu kunjungi.

Petualangan pertamaku di mulai dari Kedembak. Aku berangkat dari Sintang bersama seorang branch manager wilayah tersebut. Tiga jam perjalanan cukup membuatku kelelahan, terutama karena ia mengendarai motor yang tempat duduknya tidak empuk. Kami harus beristirahat beberapa kali ketika aku mulai mengeluh kesakitan dengan posisi dudukku yang tidak nyaman. Jalanan yang berdebu, pakaian yang kotor terkena debu, udara yang terasa sesak karena debu dan panas terik matahari menjadi teman kami selama tiga jam itu. Kami tiba di kantor cabang Kedembak menjelang senja. Aku tidak memiliki waktu istirahat yang cukup David karena harus bergegas memberikan materi dalam member education.

surat-kesembilanbelas (2)

Meski lelah, aku senang karena lebih dari lima puluh orang member kami hadir pada malam itu. Kami bahkan selesai menjelang tengah malam dan mereka tetap bertahan hingga akhir. Tidak hanya itu, mereka juga sangat interaktif, memberikan komentar dan saran tentang pelayanan kami. Sesaat aku melupakan rasa lelah yang sempat datang menghampiriku.

(Bersama sebagian peserta member education CUKK dan tim kantor Kedembak. Ternyata tidak semua orang senang difoto)

(Bersama sebagian peserta member education CUKK dan tim kantor Kedembak. Ternyata tidak semua orang senang difoto)

Usai kegiatan, dalam perjalanan menuju kantor, seorang teman tim berkomentar “Lain kali datanglah satu hari lebih awal agar kamu tidak kelelahan seperti ini. Kalau kayak sekarang kasihan lihat kamu tidak sempat istirahat.” Mendengar perkataannya membuat lengkap kebahagiaanku malam itu, rasanya senang sekali ada seseorang yang care dengan kita. So, David jangan khawatir denganku ya. Aku dikelilingi orang-orang yang sangat baik dan peduli padaku.

***

Hari kedua, aku dan dua orang teman menuju kampung bernama Setekam. Perlu sekitar satu setengah jam perjalanan untuk bisa tiba di sana. Jalan berbedu masih menjadi permandangan dalam perjalanan kami. Beberapa kali aku merasa sesak ketika mobil melintasi jalan tersebut dengan kecepatan tinggi dan seketika jalan menjadi tak terlihat karena debu.

Kami sempat singgah sebentar untuk sekedar mengambil gambar dan melepas kepenatan. Dan hal ini selalu menjadi hiburan tersendiri kalau sedang di lapangan. Ohya David, temanku bilang di bukit yang menjadi latar fotoku ditanami sahang oleh masyarakat setempat. Bukit itu menjadi harta karun mereka karena harga sahang tergolong tinggi. Ini menjadi alternatif pendapatan saat harga karet dan sawit turun seperti sekarang.

surat-kesembilanbelas (4)

Di kampung Setekam, kami menginap satu malam. Member education selalu dimulai pada malam hari karena lebih mudah mengumpulkan masyarakat. Nah, di sini ada pengalaman menarik David. Sore hari kami memang sengaja berjalan-jalan di sekitar kampung sekaligus konfirmasi ulang tentang kegiatan yang akan berlangsung nanti malam. Kata temanku masyarakat akan merasa dihargai kalau kita memberitahu mereka langsung ke rumahnya. Kami juga ke rumah pak RT untuk menyapa dan memberitahu kedatangan kami.

(Selfie saat jalan-jalan sore di Setekam bersama N dan D)

(Selfie saat jalan-jalan sore di Setekam bersama N dan D)

Apa yang kami lakukan membuahkan hasil yang baik. Masyarakat ramai yang hadir. Jumlah ini melewati target yang kami buat. Rata-rata yang hadir adalah laki-laki, kalau wanitanya hanya dua orang ibu-ibu. Temanku sempat bercanda kalau lebih banyak laki-lakinya pasti karena aku yang menjadi fasilitator. Candaan seperti ini memberikan semangat tersendiri bagiku. Para member kami di sini tergolong kritis. Mereka banyak bertanya dan memberikan saran-saran. Antusiasnya kurang lebih sama dengan Kedembak, mereka bertahan meski sudah menjelang tengah malam.

(Lihatlah semangat mereka David. Foto ini diambil pukul 23.56 WIB)

(Lihatlah semangat mereka David. Foto ini diambil pukul 23.56 WIB)

(Lihatlah semangat mereka David. Foto ini diambil pukul 23.56 WIB)

(Lihatlah semangat mereka David. Foto ini diambil pukul 23.56 WIB)

Selain mengenai member education, di Seketam aku mendapati bahwa masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih untuk mandi dan menyuci. Sungai yang ada telah tercemar oleh penambangan emas. Seorang teman bahkan berkomentar “Aku baru tahu kalau di Kalimantan bisa susah mendapatkan air bersih.” Karena ini satu-satunya sungai dan tidak ada pilihan maka kami juga harus mandi di situ. Hanya saja untuk menyikat gigi aku memilih menggunakan air galon. Itu pun agak sembunyi-sembunyi. Jadi aku membawa air dalam botol plastik ke sungai. Hahaha aku tidak mau pemilik rumah menganggapku terlalu cerewet dan tidak bisa beradaptasi. Dua teman timku juga menertawai tingkahku ini.

(Lihatlah David warna sungai di belakang kami ini)

(Lihatlah David warna sungai di belakang kami ini)

Dua tempat yang kukunjungi ini memberikan banyak pengalaman berharga yang tidak semuanya bisa kuceritakan di surat ini. Untuk kisah di kampung yang terakhir akan aku tulis di surat selanjutnya. Sekarang sudah pukul 22.08 WIB, sebuah lagu berjudul As long as I’m in your arms terdengar menenangkan. Aku mulai mengantuk David. Tapi aku harus hening dalam doa terlebih dahulu.

Tuhan menjagamu di sana. Selalu percaya bahwa di tanah anarki itu romansa akan terjadi. Dan di ujung jalanmu untuk pulang, kan ada cahaya yang mengantarmu kembali kepadaku.

 

Peluk sayang dan doaku,

Mawar

surat-kesembilanbelas (9)

 

 

About Angela Januarti Kwee

Tinggal di Sintang, Kalimantan Barat. Bersahaja namun sangat dalam memaknai kehidupan. Banyak sekali kegiatan yang berkenaan dengan kemanusiaan, kebhinnekaan dan wujud Indonesia yang plural. Menembus batas benua dan samudra membagikan cerita kesehariannya melalui BALTYRA.com

My Facebook Arsip Artikel

8 Comments to "Surat Kesembilanbelas dari Desa"

  1. djasMerahputih  20 October, 2015 at 22:09

    Hadir bang James…..

    Mawar yang sabar yaahh, David pasti kembali….

    Salam,
    David

  2. Angela Januarti  20 October, 2015 at 14:19

    Thank you James, Brother Donald and pak JC

  3. Handoko Widagdo  20 October, 2015 at 10:06

    Selamat ya

  4. Lina kwee  19 October, 2015 at 22:03

    semoga Tuhan mengirimkan sosok david (pria) nyata jelas terpercaya kepada mu

  5. Dj. 813  19 October, 2015 at 18:05

    Angel . . .
    Senag sekali, setiap membaca surutmu untuk David . . .
    Semoga kalian dipertemukan dalam keadaan sehat dan bahagia .
    Salam manis dari Mainz .

  6. J C  19 October, 2015 at 16:05

    Angela, selalu sangat menarik dan menyentuh membaca kisah-kisahmu di sana…terima kasih sudah sharing…

  7. donald  19 October, 2015 at 16:00

    Perjalanan menarik dan perjumpaan dengan orang-orang dari berbagai tempat… Dan, selalu ingat jalan pulang.

  8. james  19 October, 2015 at 14:46

    1…..Angela…ups maksudnya absenin para Kenthirs yang masih pada subik

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.