Mujahidin Afrika

Bayu Eljowo

 

Jumat sore yang panas itu kereta Metro bawah tanah São Paulo seperti biasa penuh sesak dengan para penumpang yang terdiri dari berbagai macam rupa, jenis kelamin, usia dan warna kulit, begitu juga beragam aroma tubuhnya, semua bercampur menjadi satu. Suhu udara sore itu masih sekitar 33 derajat celsius setelah di siang hari sempat menyentuh level 35 derajat, padahal hari-hari sebelumnya suhu udara rata-rata São Paulo hanya sekitar 14 hingga 20 derajat celsius, dan seperti hari-hari biasanya aku naik Metro sepulang kantor menuju apartemenku ke arah stasiun Metro terakhir, “Estação Palmeiras Barra Funda.”

Setelah beberapa saat Metro melaju, di dalam gerbong aku melihat seorang pemuda berkulit hitam yang sedang sibuk memainkan selularnya sambil berdiri memegangi sebungkus kardus besar bertutupkan plastik hitam yang diikat pada sebuah troli kecil.

Seperti kebanyakan penumpang Metro lainnya, rata-rata mereka memainkan selularnya dalan rangka membunuh waktu, entah dengan mendengarkan musik, chatting dengan kawannya, bermain gim, atau membaca cerita silat karya almarhum SH Mintardja yang sering aku lakukan. Seperti itu pula yang dilakukan pemuda berkulit hitam tersebut. Sambil tekun membaca mulutnya pun komat-kamit lirih, entah apa yang dibacanya.

Setelah Metro yang kami tumpangi melewati beberapa stasiun bawah tanah yang pemandangannya sangat membosankan karena hanya berisi terowongan dan terowongan, akupun mulai bergeser ke arah pemuda kulit hitam tersebut dikarenakan ada beberapa penumpang yang baru naik dan akupun terdesak ke arahnya.

“Masya Allah..!” aku bergumam dalam hati, ternyata setelah mengintip apa yang dibaca oleh si pemuda hitam gosong tersebut ternyata adalah huruf-huruf yang rasanya aku kenal. Ya benar, itu adalah huruf-huruf Al Quran dengan font yang agak berbeda dengan font pada Al Quran yang biasa aku baca. Ternyata selama perjalanan di Metro, pemuda kulit hitam tersebut sibuk komat-kamit membaca Al Quran dengan selular bututnya.

Tak berapa lama akupun memberanikan diri menepuk bahu si kulit hitam itu untuk menyapanya.
“Mas, sampeyan iki mesti wong Jowo yo? Pastes ireng awakmu,” niatku dalam hati untuk membulinya. Tapi aku tidak tega untuk mengerjainya melihat wajahnya yang bersih dan lugu.

“Assalamualaikum..?” Ucapku membuka percakapan.
Sambil terkaget-kaget dan menghentikan bacaan Qurannya si mas kulit hitam itupun menjawab, “wa’alaikum salam..”

“Where are you from?” Aku mencoba mengorek keterangan asal-usulnya dengan menggunakan bahasa Inggris dan bukannya bahasa Portugis karena aku tahu dia pasti orang asing karena bentuk fisik pemuda itu dengan pemuda kulit hitam Brasil agak berbeda, juga bau badannya.

“I am from Senegal,” jawabnya sambil tersenyum ramah.
“Você pra onde?” Tanyaku dalam bahasa Portugis untuk mengetahui kemana dia akan pergi.
“Pra Lapa!” Jawabnya dengan menyebutkan nama suatu daerah yang tidak jauh dari wilayah aku tinggal.
“Você mora lá?” Tanyaku kembali untuk mengkonfirmasi apakah dia tinggal di sana.
“Não, pra vender.” Balasnya sambil terus tersenyum dan menerangkan bahwa dia berjualan di pasar Lapa. Daerah itu mirip dengan pasar Tanah Abang di Jakarta dimana para pedagang kaki lima bisa berjualan di pinggir-pinggir jalan.
“Você fala Ingles?” Aku menanyakan apakah dia bisa bahasa Inggris.
“Eu falo Ingles, Francês e Portugês tambem..” Jawabnya.
Semprul..! Pinter juga iki bocah bisa bicara tiga bahasa dan itupun belum termasuk bahasa Spanyol yang mayoritas mirip bahasa Portugis.

“Where are you from?” Dia balik bertanya.
“I am from Indonesia.” Jawabku.
“Aah.. na Indonesia tem muitos muçulmanos né?” Jawabnya yang menyebutkan bahwa di Indonesia banyak sekali kaum muslimnya.
“Ho’oh..” jawabku sambil tersenyum bangga.
Si mas kulit hitampun bilang bahwa aku bisa mengenalinya sebagai muslim pasti gara-gara dia baca Al Quran dari HP rombengnya.

“Qual é o seu nome?” Lanjutku untuk mencoba menanyakan namanya.
“Muchtar.” Jawabnya sambil tersenyum memamerkan giginya yang putih kekuning-kuningan.
“Eu sou Bayu..” balasku untuk memperkenalkan diriku.
“Onde você mora Muchtar?” Aku menanyakan tempat tinggalnya.
“Moro na República, perto da Praça República. Moro com amigos.” Dia menjelaskan bahwa dia tinggal di daerah Plaza Republica bersama kawan-kawannya dari Afrika.

Orang-orang dari benua afrika juga sering aku temui di distrik Brás atau Pari ketika aku sholat Jumat. Mereka memarkir trolinya di pinggir-pinggir mesjid ketika sholat dan ketika selesai sholat merekapun bertebaran kembali di muka bumi untuk menjemput rezeki dari Allah. Mereka datang untuk bekerja dan bukan mengemis di negeri ini.

Muchtar bilang bahwa ia berjualan sepatu tenis yang dibelinya dari toko grosir di daerah Plaza Repulica dan akan dijual kembali ke wilayah lain, termasuk di distrik Lapa. Tentu saja dia berjualan dengan cara kucing-kucingan dengan polisi atau satpol PPnya kota São Paulo karena untuk bisa berjualan apapun seorang pedagang harus memiliki izin dari pemerintah kota termasuk untuk berdagang kaki lima. Kalau tertangkap berjualan tanpa izin bakal disita semua barang-barangnya dan didenda.

Ketika kereta Metro kami tiba di stasiun terakhir akupun berpisah dengan Muchtar.

“Assalamualaikum Muchtar.. God bless you!” Pamitku kepadanya sambil ku lambaikan tangan.
“Wa’alaikum salam. See you brother!” Ucapnya sambil menggeret trolinya untuk pindah ke angkutan kereta atas tanah yang menuju stasiun Lapa tempatnya mengais rezeki dari Sang Maha Pemberi.

pejuang kehidupan

Selamat berjuang kawan semoga Allah memberkahimu di negeri orang. Engkau adalah seorang Mujahid yang berjuang secara terhormat untuk menghidupi dirimu dan keluarga dengan tetap mempertahankan aqidahmu. Seperti pesan rasulullah yang memerintahkan kaum muslim untuk berdagang karena dengan berdagang maka terujilah kesalehan sosialmu, kejujuranmu, keteguhan agamamu, serta citra agamamu sendiri. Dan engkau akan membuktikannya kepada mereka. Semoga!

mujahidin-afrika

Walaupun kulitmu hitam namun hatimu putih. Kau sempatkan selalu mengingatNya kapanpun dan dimanapun. Kau berikan pelajaran ketakwaan dan keikhlasan kepadaku saat itu juga. Benar apa kata seorang sufi,
“Ada orang di dunia ini yang terkemuka di langit dan di bumi dan itu adalah orang yang sangat mulia, ada juga orang yang hanya terkemuka di bumi tapi tidak di langit dan itu adalah orang yang sangat merugi, namun yang tidak kalah pentingnya adalah orang yang bisa terkemuka di langit, dimana Allah dan para malaikatnya mengagumi kesalehan, keikhlasan dan ketakwaannya serta memuji-muji namanya setiap saat meskipun di bumi tidak ada satu orangpun yang mengenal atau menyebut namanya.”

 

*Note:
Fotonya diambil secara incognito jadi gambarnya kurang bagus. Kira-kira seperti itulah tampang Kang Muchtar.

 

 

About Bayu Eljowo

Salah seorang pecinta dan pejuang pluralisme Indonesia melalui tulisan-tulisannya. Dan sekarang mulai berkiprah di BALTYRA.com.

Arsip Artikel

7 Comments to "Mujahidin Afrika"

  1. J C  23 October, 2015 at 08:08

    Orang-orang seperti ini dapat kita jumpai di mana saja…

  2. james  21 October, 2015 at 09:25

    hadir bang Djas meski telat dikit

  3. Sumonggo  21 October, 2015 at 09:11

    Tetap semangat, Kang Muchtar, mungkin suatu saat giliran Kang Muchtar menjadi Satpol PP … he he …

  4. Lani  20 October, 2015 at 23:40

    KANG DJAS : Mahalo

    Bayu : Banyak orang asal Sao Paulo datang ke Kona ketika Iron Man, bahkan ada ibu2 yg sempat ngomong mengetahui komunitas Indonesia disana

  5. djasMerahputih  20 October, 2015 at 22:38

    Hadir mengunjungi trio Kenthir tercinta…
    Salut sama Kang Muchtar… Baik-baik di sana yaah.. semoga dagangannya laris berat…

  6. itsmi  20 October, 2015 at 16:52

    Bagi orang yang pecinta dan pejuang pluralisme pemikiran rasis tidak sesuai…

  7. itsmi  20 October, 2015 at 15:55

    “Walaupun kulitmu hitam namun hatimu putih”

    Bayu Eljowo, bagi saya kamu seorang rasis dengan menulis kalimat kalimat seperti di atas…….

    seperti kulit hitam minder….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.