Nasib Perempuan

Jeng Margi

 

Setiap kali hari libur, Minggu misalnya, kalo lagi tak bosan atau lagi punya uang, aku suka mendatangi pasar tradisional dekat rumahku sekedar tuk beli jajanan pasar. Seringkali aku melihat Si Mbak bakul tiwul, gethuk, growol umurnya kira-kira 15 tahun di bawahku, sambil momong anaknya sibuk meladeni pembeli yang mengerumuni lapak dagangannya. Aku sempat berpikir, Si Mbak ini kreatif juga ya, bisa melihat peluang, dimana orang-orang berbondong-bondong bikin kue sekelas bakery, Si Mbak ini masih setia dan berkutat dengan panganan tradisionalnya, yang saat ini malah mulai dicari-cari.

Suatu ketika, aku berkesempatan melarisi dagangannya, kebetulan waktu itu masih pagi jadi mungkin masih sepi, masih belum banyak pembeli. Iseng-iseng aku bertanya seperti ini:

A (Aku)

SB (Si Mbak)

A: “Mbak, wah dirimu hebat lho mbak, hari gini masih setia dengan makanan tradisionalnya, sambil momong lagi, kenapa si adik tidak dititipin ke bapaknya aja, ini khan hari libur …?”.

SB: “Inggih bu, bocahe kulo sambi wonten peken, bapake nembe kesah pados ingkang sae” (Iya bu, anaknya saya ajak/momong sambil jualan karena si bapak pergi mencari yang lebih baik)

A: “Lha koq tidak dititipan kakek neneknya, sementara ditinggal jualan…?”

SB: “Tiyang sepuh kula (simbok) sampun seda, kantun bapak kulo niku mawon sampun sepuh” (Ibu saya sdh meninggal, tinggal bapak saya saja, itu saja sudah tua)

Aku masih positive thinking dan Aku pikir, si mbak ini ditinggal suaminya merantau mencari penghidupan yang lebih baik, tidak taunya suaminya pergi meninggalkannya untuk menikah lagi.

 

Masih penasaran kemudian aku bertanya lagi

A: “Ditinggal suami merantau apa Mbak ….?”

SB: “Mboten bu, bapakne niku pados ingkang luwih sae, luwih ayu tinimbang kula.”

 

Sambil bla …bla .. menceritakan kisah pahitnya bahwa Si Mbak ini ditinggal suaminya pergi menikah lagi sejak anaknya masih ada dalam kandungan. Kasihan banget si mbak ini, Ketika hamil besarpun, bekerja. Sekarangpun setelah anak lahir, tetap bekerja sambil mengasuh anak. Dia tak mungkin lagi menitipkan anaknya kepada siapa-siapa. Terpaksa menjadi Single Mom, yang dulu bermimpipun mungkin tidak.

nasib perempuan

Kupandangi bola mata anaknya. Sambil aku membatin, anak ini cukup ganteng, matanya mblalak. Mungkin bapaknya dulu juga ganteng, kalo melihat ibunya tampilan biasa-biasa saja, standar maaf kalo tak boleh dibilang jelek. Tapi khan itu bukan alasan atau dijadikan pembenaran untuk bisa semena-mena meninggalkan istrinya karena alasan tidak cantik. Sudah tau tidak cantik, kenapa pula diperistri. Mungkin bapaknya waktu itu hanya tebar pesona saja atau iseng-iseng berhadiah.

Satu pesan untuk kaum pria, kalo mencari istri itu yang cantik sekalian napa, jadi setelah diperistri ke depannya si pria tidak sibuk kembali untuk mencari istri yang baru yang tentu saja lebih cantik, lebih sexi, lebih bahenol. hihihi…

Masih syok mendengar cerita dari si mbak, Aku lantas berpikir, hormon apa yang dulu bekerja dalam benak bapaknya, koq bisa begitu saja meninggalkan istrinya yang sedang berbadan dua. Sungguh aku gagal paham dengan yang satu ini. Padahal yang aku tau, Pria itu sejatinya sebagai pemimpim bagi wanita. Jika sudah begini, pemimpin macam apa, meninggalkan istrinya yang sedang hamil begitu saja.

Yang bisa kulakukan saat itu pada Si Mbak adalah membesarkan hatinya, memberi nasehat panjang kali lebar untuk bisa tabah menjalani hidup, tetap fokus mendidik anaknya, tidak larut memikirkan suaminya, fokus pada dagangannya. Fight dengan caranya sendiri. Badai pasti berlalu.

Jawaban Si Mbak, sungguh diluar dugaan. “Bu menawi kula pikir sanget-sanget niku, kula malah saged mati ngenes, lha nek kula mati ngenes, anak kula ajeng urip kalih sinten ..?” (Bu, kalo saya pikir sampe mendalam, saya malah bisa mati ngenes, kalo saya mati, anak saya hidup sama siapa)

“Ya, sekarang saya berusaha semampu saya, termasuk jualan seperti ini bu (gatot, tiwul, growol)“

Bener-bener salut untuk Si Mbak.

Pembeli yang lain mulai berdatangan, aku menyudahi percakapan dengan si mbak. Tanpa bermaksud kepo suatu saat akan ku tanyai si mbak itu apa dulu dia menikah atas dasar suka sama suka atau sebuah keterpaksaan saja atau malah hanya iseng-iseng belaka. Dan sekarang statusnya bercerai atau belum atau malah tidak menikah juga belum jelas. Yang jelas si mbak untuk saat ini terima dengan nasibnya.

Tiba-tiba aku jadi teringat suami di rumah. Kalo pas perang opini dengan suami, seakan-akan aku merasa menjadi wanita yang paling malang sedunia. Suami acapkali bertingkah menjengkelkan hingga membuatku geregetan, ternyata jauh lebih baik dan tdk ada apa-apanya dibanding suami si mbak itu.

Karena jelek-jelek seperti itu, setiap awal bulan, suami tak pernah absen setor nafkah bulanan utuh padaku hahaha soalnya kalo tidak setor, tentu saja aku tagih hehehe…

Suami juga tidak ragu-ragu membantu kerepotanku di dapur, mengingat kami pasangan bekerja, yang tidak punya ART.

Ternyata ohhh ternyata, nasibku jauh lebih baik dari Si Mbak itu ….

Aku jadi merasa bersalah dengan suami dan bergegas menelponnya sambil mengucapkan kalimat mesra seperti ini, “You’re the best hubby in world” wkwkwkwk…

 

 

15 Comments to "Nasib Perempuan"

  1. Swan Liong Be  23 October, 2015 at 17:17

    Kisah seperti ini kan gak butuh izin yang bersangkutan,kan gak ada nama atau lokasi disebut dalam kisah ini, bisa terjadi disetiap tempat didunia.

  2. jeng margi  23 October, 2015 at 14:51

    waduh Pak Dj pake hrs minta maaf segala ya…? Lha koq urusannya malah panjang hihihi. Pdhl aku msh punya segudang cerita yg lain yg jg belum ijin dr si empunya lho. Apa baiknya dikasih note “cerita ini hanya fiksi belaka, bilamana ada kesamaan nama dan tempat hanyalah sebuah kebetulan”.
    Niat sy tdk mau memperolok kisah sedih seseorang, itu jd pembelajaran sy utk sll dpt bersyukur, utk jgn mudah mengeluh bahwa diluar sana msh banyak yg lebih menderita dibanding sy.

  3. Dj. 813  23 October, 2015 at 14:17

    Jeng Margi . . .
    Memang sebaiknya minta ijin dulu .
    Tapi nasi sudah menjadi bubur, jadi ya dimakan sebagai bubur saja.
    Tooch masih enak juga.
    Kalau ketemu lagi, ya diberi tahu saja dan minta maaf, toch tujuannya tidak jelek.
    Bahkan kemungkinan mengundang oreng utk berpetisipasi.
    Dan jangan lupa minta alamatnya . . . siapa tahu berkenan . . . Hahahahahaha . . .
    Salammanis dari Mainz

  4. jeng margi  23 October, 2015 at 10:07

    Maaf sekali Pak DJ sy lupa tdk menanyakan tempat tinggalnya krn waktu itu sdh banyak dikerumuni pembeli. Lgpula kisahnya sy tulis disini, sy blm ijin dia je, nanti kalo dia atau keluarganya marah atau kurang berkenan, gimana ya …? hihihi

  5. J C  23 October, 2015 at 08:12

    Masih sangat buanyak yang seperti ini di Indonesia…pasrah, mandah saja…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.