[Serial de Passer] Astari dan Sebutir Telor Bebek

Dian Nugraheni

 

Sudah hampir satu tahun, Astari tinggal di rumah warung bersama kedua Embahnya, Mbah Lukito Kakung dan Putri. Warung makan sederhana itu terletak di sisi timur salah satu jalan raya utama yang biasa dilewati kendaraan yang akan keluar kota, antara lain, ke arah timur menuju Jogjakarta, ke arah utara ke kota Magelang, dan ke arah barat ke kota Purwokerto.

Ketika siang, banyak kendaraan lalu lalang, dan rasanya, makin lama, kota kecilnya ini makin ramai saja. Sudah banyak orang punya sepeda motor honda. Tapi yang naik sepeda pun masih tetap banyak. Becak pada nongkrong di tempat-tempat tertentu untuk menunggu penumpang. Kol kota bersliweran membawa penumpang yang pergi sekolah, atau ke pasar.

Astari kini sudah kelas 4 sekolah dasar. Tubuhnya kian bertumbuh sebagai gadis kecil, meski badannya tetap nampak kerempeng. Pelajaran di sekolah tambah sulit, dan dia perlu waktu untuk belajar lebih banyak. Biasanya, jam 3 dini hari Mbah Kakungnya akan membangunkannya, “Arep sinau po ra..? Mau belajar atau tidak..?” Begitu bisiknya sambil mengelus kepala Astari pelan.

Dan bila Astari mengangguk, tapi belum beranjak, sebentar kemudian Embah Kakungnya kembali menuju amben Astari, “Sido sinau pora..? Jadi belajar atau tidak..?”

Sayup-sayup di jalan terdengar suara kendaraan meraung pelan, berat, seperti orang ngantuk dipaksa bangun dan disuruh jalan. Itu suara truk-truk besar yang jalan membawa barang-barang yang harus dikirim antar kota, biasanya kendaraan besar seperti itu akan jalan di malam hari. Bagi Astari, di tengah tidur malamnya, kadang suara raungan mesin truk yang menjauh, dan mendekat itu bagaikan alunan suara ombak yang menuju pantai, atau menjauh dari pantai.

Astari beranjak, malas, pelan, tapi harus. Dia menuju ruang depan, ruang warung, di mana tetamu akan duduk, makan, dan ngobrol bila siang tiba. Itu pula ruang yang dipakai Astari untuk belajar, ditemani sebuah teplok, lampu minyak yang agak besar sebagai penerangnya. Dan Embah Kakungnya sudah membuatkan segelas teh manis hangat untuknya. Embah Kakungnya pun akan duduk di kursinya di ruangan yang sama, sambil mendengarkan siaran wayang dari radio, Astari sekilas mendengarkan juga, nampaknya seru benar.

“Nek ngelih, maem..,kalau lapar, makan..,” kata Mbah Kakungnya.

Astari mengangkat wajah menatap Embahnya, ingin bertanya, jam tiga pagi.., makan..? Tapi sebelum bertanya, Embahnya sudah menjawab, “Mangan kuwi ora susah nganggo wayah, esuk, awan, sore, dijami, mangan kudu sego, lan sak piturute…Makan itu nggak usah pakai jam, waktu, pagi, siang, sore, makan harus nasi..dan seterusnya…. Tubuhmu, adalah jam penanda dalam hidupmu, dia akan memerintahkanmu untuk makan, minum, istirahat, dan seterusnya. Maka yang kamu perlu lakukan, adalah mengikuti apa kata tubuhmu. Dan ingat, karena manusia itu nafsunya kadang-kadang tidak terkontrol, maka yang harus kamu lakukan adalah satu, kendalikan dirimu, agar semuanya serba seimbang. Makan jangan terlalu kenyang, tidur jangan terlalu lama, kerja juga harus ingat badan…semua harus seimbang, maka semua akan baik-baik saja…”

Astari tersenyum memandang Embah Kakungnya yang bicara juga sambil tersenyum dalam keremangan sinar lampu teplok. Pe ernya sudah selesai, dia juga membaca sedikit buku kesukaanya dari perpustakaan sekolah, Serial Binatang Liar, kali ini menceritakan tentang Gajah yang hidup bergerombol di hutan.

Hari minggu, hari yang selalu ditunggu Astari. Pagi, ketika dia bangun, Embah Kakung dan Embah Putrinya sudah duduk berdua di amben dapur menikmati teh manis dan kue apem. Itu pasti kue apem yang dijual keliling oleh mak Prenjak. Astari langsung mandi, lalu bergabung dengan Embahnya, diraihnya gelas teh manis Embah Kakungnya, lalu disruputnya. Embah Kakungnya nampak senang, tertawa sedikit sambil membelai rambutnya, “Wedangku luwih enak tinimbang wedange mbah Utimu ya..? Minumanku lebih enak daripada minuman Embah Putrimu, ya..? Kok kamu selalu pilih gelasku..?”

Mbah Putrinya cuma tersenyum, lalu berkata, “Iyo wong unjukane Kakung lebih manis..gulanya lebih banyak..”

Sesudah sarapan teh manis dan Apem, “Uti, apa yang mau dimasak duluan..? Boleh nggak aku yang ceplok telor..?”

Mbah Putrinya menyahut, “Ya, kamu boleh ceplok telor, ambil di besek dekat bawang merah itu, sepuluh saja, yang bagus yaa, yang bunder, jangan rusak, nanti kalau sudah matang, Uti bikinkan bumbu cabe merah..”

Astari lalu duduk di dingklik, bangku kayu yang cukup rendah, dan bersiap di depan kompor yang diletakkan di lantai dapur. Diamatinya sejumlah telor bebek yang akan digoreng ceplok olehnya. Dia masih saja heran, mengapa cangkang telor bebek itu berwarna hijau samar, tidak seperti cangkang telor ayam yang berwarna putih…

Astari mengamati gelembung-gelembung udara kecil yang berasal dari minyak kelapa di dasar wajan besi hitam tebal, sedikit demi sedikit naik ke permukaan, itu tandanya minyak kelapa mulai naik suhunya. Gelembung udara itu menyeret lamunan Astari mengembara ke masa, ketika Ibunya masih ada di rumah bersamanya beberapa tahun lalu. Pernah suatu hari, Ibunya yang cantik, berambut ikal sepinggang itu menyerahkan uang sebanyak empatpuluh rupiah dan berkata, “Pergilah ke rumah mbah Damiri, beli sebutir telor bebek ya, nanti kita goreng buat makan bersama. Hati-hati bawanya ya, jangan pecah, nggak ada lagi uang, nanti nggak jadi makan telor kalau telornya pecah di jalan..”

Astari bergegas menuju rumah mbah Damiri yang biasanya berdagang sayuran keliling di pagi hari, juga sering jual telor kalau bebek dan ayam kepunyaannya bertelor. Astari nggak suka ke rumah mbah Damiri, karena dapurnya bau kotoran ayam, “Mbaah…Mbaaah Damiri..lagi apa..di mana..? Beli telooor…”

Lalu mbah Damiri akan menyahut, “Ya Nduk..sik sedela, sebentar, Mbah baru selesai Ngasar..shalat Ashar..”

Sebentar kemudian, wajah tuanya sudah menyembul di balik pintu, “Beli apa, telor bebek..? Empatpuluh rupiah, Nduk..nih Mbah pilihkan yang paling besar..”

Astari, “Maturnuwun, makasih, Mbah…”

Dipegangnya sebutir telor bebek warna hijau samar itu, jangan sampai jatuh, pecah, atau nggak akan makan telor nanti. Sampai depan rumah, di bawah gerumbul Mawar yang selalu berbunga, Astari berhenti, dan di matanya terbayang, bagaimana Ibunya memecah telor dan menuangnya dalam mangkuk kecil untuk diberi garam dan dikocok bakal telor dadar. Gaya memecah telornya itu yang luar biasa mengagumkan di mata Astari kecil, hanya dengan satu tangan, dan Astari ingin bisa melakukannya, tapi berkali-kali dia minta untuk mencoba, Ibunya selalu menolak, “nanti kalau sudah gede, kamu akan bisa sendiri.., jangan sekarang ya..” Kali ini juga, pasti akan tidak diperbolehkan kalau dia minta ijin. Maka, Astari berpikir, akan aku pecah di bebatuan itu, lalu aku bawa pakai kedua tanganku, agar tidak tumpah telornya..

Benarlah, Astari berjongkok, dan dengan pelan membuat gerakan sehingga sebutir telor bebek di tangannya, beradu dengan kerasnya bebatuan di bawah rumpun Mawar. Dalam hatinya, dia akan lakukan itu dengan pelan, sehingga telor akan retak, atau terbuka sedikit, tapi tidak hancur, tapi ternyata ilmu mengira-ira Astari masih dangkal, dengan sekali bentur, telor itu sudah langsung pecah berantakan, isinya tumpah ke tanah. Astari tergagap, kaget, menyesal, sekaligus takut Ibunya akan marah. Astari tak berani masuk rumah, sampai Ibunya keluar bersiap untuk mencarinya.

Demi melihat Astari berada di bawah rumpun Mawar, Ibunya kaget, tapi dengan cepat segera tau apa yang terjadi, “Knapa, telornya jatuh..? Pecah..?”

Astari menggeleng, menunduk, lalu menatap Ibunya dengan takut. Ibunya tersenyum, masuk ke dalam rumah, dan membawa lagi uang empat puluh rupiah, “Ternyata Ibu masih punya sedikit uang, pergilah beli sebutir lagi telor di rumah mbah Damiri, jaga jangan sampai pecah, nanti di dapur Ibu ajarin kamu memecah telor dengan benar…”

Astari mengangguk, berbalik badan, dan menuju rumah mbah Damiri untuk membeli sebutir lagi telor bebek, sambil membatin dalam hati, bahwa Ibunya itu tau segalanya tentang dirinya, bahkan sebelum dia mengatakan sesuatu. Seperti juga mbah Kakung dan Putrinya, selalu tau apa pun bahkan sebelum dia bertanya. Kadang Astari merasa bahwa orang-orang tua di rumahnya sungguh hebat…

“Lhaa..itu wajan dan minyaknya sudah panas, kok belum mulai nyeplok telornya..,” suara mbah Utinya membangunkan Astari dari lamunan. Astari tersenyum, pura-pura bertanya, “ooh, sudah panas ya.., iya deh, mulai ceplok telornya..” Dan di usianya yang hampir sepuluh tahun, Astari masih memecah dan menuang telor dengan kedua tangannya, belum bisa fasih menggunakan satu tangan seperti apa yang selalu dilihatnya ketika Ibunya memecah telor untuk diceplok maupun dibikin dadar telor pada waktu-waktu lalu.

telor bebek

Dan hari Minggu itu, hampir seharian, Astari dengan asyik dan sangat menikmati, membantu pekerjaan warung Mbahnya di dapur, dari nyeplok telor, mengupas bawang merah dan putih, nguleg bumbu memakai layah yang lebar, marut kelapa, dan lain-lain. Hanya satu yang dia tidak mau lalukan, mengiris cabai, karena kemudian tangannya menjadi panas, berjam-jam, bahkan sampai besok hari…

 

Salam Astari Membenci Pekerjaan Mengiris Cabai…

Virginia, Sabtu, 10 Oktober 2015, jam 9.17 malam..

Dian Nugraheni,

(Awal musim Gugur yang sudah aduhaiii..dinginnya…, apakah karena apartemenku berada di basement, sepertiga bangunannya ada di bawah tanah, maka terasa makin dingin aja..he..he..kayak Bunny ya, rumahnya “ngerong”)

 

 

11 Comments to "[Serial de Passer] Astari dan Sebutir Telor Bebek"

  1. Dian Nugraheni  24 October, 2015 at 09:16

    all my friends…makasih banyak semuanya yaa..Astari sedang mencari ide, bagaimana membuat the end sementara..he2..ben njur iso dibukukan gitu lho..tapi belom ketemu juga..kayaknya masih harus sabar yaa..

    Sekali lagi, makasih banyak..salam sayang dari Astari…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *