[Di Ujung Samudra] Tangan Berlumur Darah

Liana Safitri

 

SEJAK Lydia keguguran, Tian Ya berubah.

Tentu saja Lydia yang paling merasakan perubahan sikap Tian Ya. Pria itu menjadi lebih sabar, lebih perhatian, lebih mengalah, dan lebih menahan diri setiap kali sedang kesal atau marah. Ia jadi seperti Franklin dalam versi yang berbeda. Perubahan yang baik, seharusnya Lydia senang. Tapi kenyataannya tidak begitu.

Hari itu Tian Ya pulang sangat larut, Lydia menunggu sampai hampir ketiduran di sofa.

“Aku sudah makan malam di kantor, kau sudah makan atau belum?”

Lydia mengangguk. “Aku juga sudah makan.”

“Besok kalau aku menelepon dan memberitahu akan pulang terlambat, kau makan sendiri lagi saja. Jangan menungguku!”

Tian Ya mengikuti Lydia ke dapur, lalu melepas sepatu sambil menggerutu, “Rapat berlangsung lebih lama daripada sebelumnya. Sungguh melelahkan dan membosankan!” Tian Ya mengangkat wajah menatap Lydia. “Kau… tidak pulang naik bus, kan?”

“Tidak! Aku naik mobil mama. Tian Ya, sopir keluargamu ganti, ya?”

“Benarkah? Aku malah tidak tahu!” Tian Ya menambahkan, “Untuk sementara jangan naik bus dulu. Kalau penumpangnya terlalu banyak bisa-bisa kau tidak dapat tempat duduk dan harus berdiri sepanjang perjalanan. Lagi pula… sepertinya tidak aman kalau naik bus sendirian. Oya, bukankah obatmu habis? Perlukah kita kembali ke rumah sakit untuk meminta obat lagi?”

“Tidak, tidak usah! Aku sudah sembuh, luka-lukanya juga tidak terasa sakit lagi. Lydia meraih cangkir dari dalam lemari untuk membuat kopi, minuman yang tidak pernah dilewatkan sang suami sepulang kerja.

Saat Lydia akan menuang air panas Tian Ya buru-buru menghampirinya dan mengambil alih cangkir dari tangan Lydia. “Sini, sini! Biar aku saja!”

Lydia mengembuskan napas dengan perlahan lalu mundur. Ia duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Tian Ya.

“Apa kau mau kopi juga?”

“Ya…” Lydia mengamati Tian Ya yang sedang membuat kopi dengan mata tak berkedip. “Tian Ya…”

“Hmmm?”

“Jangan terlalu baik padaku!”

“Apa?” Tian Ya melirik Lydia sekilas, merasa geli. “Kau ini sedang bicara apa?”

“Kubilang, jangan terlalu baik padaku!”

Tian Ya berbalik mengahadap Lydia. “Lalu aku harus bagaimana? Apa kau mau aku jadi suami yang jahat? Yang setiap hari marah-marah tanpa alasan, berbicara menggunakan nada tinggi, sedikit-sedikit membentak, melotot sambil menggertakkan gigi? Seperti ini?” Tian Ya berkacak pinggang, membelalakkan matanya lebar-lebar. “Atau memecahkan barang-barang ketika suasana hatiku sedang buruk?”

Lydia menundukkan kepala dan tidak berkata apa-apa lagi.

Tian Ya duduk di sebelah Lydia. “Apa yang sedang kaupikirkan?”

“Tidak ada! Hanya saja… Tian Ya, apakah beberapa tahun kemudian kita masih bisa seperti sekarang?”

“Aku tidak mengerti apa maksudmu!”

“Pernikahan itu tidak mudah! Kau bisa lihat, baru beberapa bulan kita menikah sudah terjadi banyak masalah. Kau marah karena aku bertemu dengan kakak, kemunculan Xiao Long secara tiba-tiba, aku keguguran, lalu kekecewaan mama dan papa… Kukira semua baru permulaan, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian. Seandainya ada masalah lagi yang lebih besar, yang membuat kita bertengkar hebat… Kemudian seiring dengan berjalannya waktu kita sama-sama menyadari bahwa semua keindahan di masa muda telah menghilang dan berganti dengan rasa jenuh… Apa kau akan menyesal karena telah memilihku? Bagaimana seandainya ada wanita lain yang lebih baik dariku dan membuatmu tertarik? Mungkinkah kau akan meninggalkanku lalu berpaling padanya?”

“Kau meragukanku?” tanya Tian Ya.

“Perasaan seseorang bisa berubah!”

Tian Ya terdiam agak lama, tidak tahu bagaimana harus menanggapi pertanyaan Lydia. “Kau mau tahu jawabannya?”

Tanpa sadar Lydia menahan napas.

“Sejujurnya aku tidak tahu!” kata Tian Ya terus terang. “Aku tidak mau bermanis mulut dengan mengatakan bahwa aku tidak akan tertarik dengan wanita mana pun kecuali Lydia. Kau pasti mengerti jika seorang pria punya kecenderungan untuk tidak setia! Itulah sebabnya kau merasa gelisah…”

“Kalau kau bersikap biasa saja dan tidak terlalu baik seperti sekarang, maka suatu saat ketika kau meninggalkanku, luka yang ditimbulkan tidak akan terlalu dalam…” Lydia berucap lirih.

Tian Ya tersenyum menatap Lydia, meraih tangannya dan menggenggamnya erat-erat. “Aku memang mengatakan bahwa seorang pria punya kecenderungan untuk tidak setia, tapi bukan berarti aku punya niat untuk tidak setia! Jadi kenapa kita tidak mencegahnya mulai dari sekarang? Dengan lebih banyak menghabiskan waktu bersama-sama, membicarakan segala hal dari yang paling besar sampai yang paling kecil, mengutarakan apa pun yang membuat kita merasa tidak nyaman agar jangan sampai menumpuk di dalam hati serta mengubur dan melenyapkan rasa cinta itu sendiri. Yang terpenting sekarang adalah kita harus memperkuat ikatan, mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai tantangan yang menghadang di depan. Kalau kita sanggup melewati semuanya, kunci kebahagiaan sudah ada dalam genggaman. Dan aku tidak bisa melakukannya sendiri, aku membutuhkan bantuanmu!”

Lydia juga tersenyum, balas menatap Tian Ya dengan mata basah.

 

balas dendam

Hari ini Tian Ya pulang kerja terlalu cepat. “Biasanya kau baru sampai di rumah setelah jam dua belas malam. Ini baru jam tujuh sudah pulang. Ada apa?”

“Tidak apa-apa. Memang ingin pulang lebih awal saja,” jawab Tian Ya singkat. Ketika Lydia akan membuatkan secangkir kopi, pemuda itu mencegah. “Tidak usah! Masih banyak tugas yang harus diselesaikan. Aku ada di ruang kerja, jangan diganggu!”

Masih banyak tugas yang harus diselesaikan? Kalau begitu kenapa tidak dikerjakan di kantor sekalian? Tian Ya sedang bingung rupanya! Tapi Lydia menuruti kata-kata Tian Ya dan membiarkan suaminya itu sendirian.

Lydia kembali ke ruang tengah yang merupakan perpustakaan pribadinya dan Tian Ya, menenggelamkan diri ke dalam tumpukan buku-buku tebal. Baru sekitar dua puluh menit tiba-tiba ia mendengar suara seperti benda terjatuh. Lagi-lagi Lydia harus menutup buku di tangannya dan berjalan ke ruang tamu. Ia melihat Bibi He terduduk di lantai dengan dua buah kardus yang isinya berserakan ke mana-mana.

“Ada apa, Bibi?”

“Nyonya…” Bibi He menoleh mendengar suara Lydia. “Saya tidak hati-hati jadi terpeleset…” Sambil berkata begitu Bibi He berusaha bangkit, namun kakinya terasa sakit. “Aduh…”

Lydia buru-buru menghampiri Bibi He dan memeriksa keadaannya. “Sepertinya kaki Bibi terkilir…” Dibantunya Bibi He duduk di kursi. “Lebih baik Bibi istirahat! Lagi pula sudah malam, kenapa masih bersih-bersih?”

“Saya hanya mengumpulkan barang-barang yang jarang dipakai dan bermaksud menyimpannya di gudang,” kata Bibi He.

“Sudahlah, biar aku saja yang mengurus ini!” Lydia kembali memasukkan barang-barang ke dalam kardus lalu membawanya ke gudang.

Bangunan gudang berdiri terpisah dari rumah utama, di halaman belakang yang sangat luas namun tidak terawat. Rumput liar dan semak belukar tumbuh tinggi tak terkendali, menutupi hampir seluruh bagian. Lydia sendiri jarang masuk gudang kalau tidak ditemani Tian Ya. Suasana gelapnya menimbulkan kesan seram, membuat bulu kuduk berdiri. Tapi kali ini apa boleh buat! Tangan Lydia menggotong dua tumpukan kardus, sementara kakinya melangkah sangat hati-hati. Sampai di depan pintu gudang Lydia tertegun karena mendengar suara-suara aneh. Jantungnya mulai berdetak cepat. Dibukanya pintu sedikit dan mengintip. Ruangan bagian depan hanya diterangi cahaya lampu yang sangat redup. Di pinggir-pinggirnya terdapat tumpukan barang-barang rusak atau jarang digunakan.

Tian Ya duduk di sebuah kursi kayu. Seorang laki-laki dengan tangan terikat ke belakang diseret dan diempaskan ke lantai hingga jatuh berlutut oleh tiga orang laki-laki lain. Kemudian setelah laki-laki dengan tangan terikat itu mengangkat kepala menatap Tian Ya, barulah Lydia bisa mengenalinya. Xiao Long!

“Li Tian Ya! Ternyata kau yang menyuruh orang untuk menangkapku! Kalau kau ingin bertemu seharusnya katakan saja terus terang, tidak perlu dengan cara seperti ini!” Xiao Long menggoyangkan tangannya di belakang punggung, “Bisakah kau melepaskan ikatan ini? Kau tenang saja, aku tidak akan melarikan diri!”

Tian Ya memberi tanda pada anak buahnya untuk melepaskan ikatan pada tangan Xiao Long. Setelah ikatannya dilepas Xiao Long berdiri. “Tampaknya ada hal penting yang ingin kau bicarakan denganku. Benar tidak, Tuan Li?”

“Aku tidak suka bertele-tele. Jadi langsung saja,” Tian Ya bertanya dengan wajah tanpa ekspresi, “Apakah beberapa waktu lalu kau datang mengobrak-abrik seluruh rumahku, merampok lemari besi, dan mencelakai istriku?”

Xiao Long tertawa keras. “Istriku! Sungguh panggilan yang sangat mesra!” Ia menatap Tian Ya lalu berkata dengan nada mengejek, “Jadi dia masih hidup? Hmmm… seharusnya kau bersyukur aku hanya merampok lemari besi, bukannya merampok istrimu tercinta!” Sebuah tinju melayang ke bibir Xiao Long dengan telak, membuatnya langsung berhenti bicara. Xiao Long terhuyung beberapa langkah ke belakang. Ia menyeka darah yang menetes lalu meludah ke samping. “Apakah kau sedang bosan sehingga menyuruh orang membawaku kemari, agar kau punya teman yang bisa diajak adu kekuatan? Kaupikir aku takut?” Xiao Long maju menerjang dan langsung dihadang oleh beberapa anak buah Tian Ya. Tapi Tian Ya menyuruh mereka semua menyingkir. “Biar aku sendiri yang mengahadapinya!”

Terjadilah perkelahian sengit satu lawan satu. Begitu melihat wajah Xiao Long, bayangan Lydia juga muncul di benak Tian Ya. Darah yang menetes di antara kedua kaki Lydia saat Tian Ya menemukannya dalam keadaan pingsan di hari kelam itu, dan suara rintihannya saat jari-jari Tian Ya menelusuri luka di setiap jengkal tubuh Lydia. Kemarahan yang terpendam itu kini menemukan tempat pelampiasan. Tian Ya menggunakan seluruh tenaga yang dimiliki untuk memukul dan menendang. Dalam waktu singkat Xiao Long kalah telak. Tubuh dan wajahnya babak belur hingga nyaris tak dapat dikenali.

Tian Ya menarik Xiao Long, memaksanya berdiri. “Bangun!” Namun kekuatan Xiao Long sudah habis. Setiap berjalan satu langkah, Tian Ya mengirimkan pukulan yang membuatnya jatuh, dan Xiao Long tidak mampu memberikan perlawanan. Berdiri, berjalan selangkah, dihantam, dan jatuh lagi. Sampai akhirnya Xiao Long terkapar di lantai. Tian Ya, entah bagaimana seperti orang yang kehilangan rasa kemanusiaan, belas kasihannya untuk musuh tidak tersisa sedikit pun. Ditendangnya Xiao Long sambil berteriak, “Apakah seperti ini caramu menyiksa Lydia? Berapa kali kau memukulnya? Berapa kali kau menendangnya? Jawab aku! Dasar binatang!”

Xiao Long batuk-batuk lalu memuntahkan darah.

“Kau tidak tahu? Sayang sekali Lydia menolak menceritakan secara rinci apa saja yang dialaminya. Tapi aku juga tidak mungkin melepaskanmu dengan mudah. Jadi bagaimana, ya?” Tian Ya mengusap-usap ujung tongkat dengan tangannya, pura-pura berpikir. “Kau terpaksa membayar sesuai dengan jumlah yang aku perkirakan, berikut bunganya. Karena aku tidak menemukanmu di hari yang sama ketika kau mencelakai Lydia, dan ada tenggat waktu satu bulan sampai hari ini… bunga yang harus kau bayar cukup besar.”

Tian Ya memerintahkan anak buahnya memegangi Xiao Long. Ia mengambil sebuah tongkat kayu besar dan panjang. Xiao Long meronta tanpa tenaga. Kemudian Tian Ya memukulkan tongkat kayu itu ke tubuh Xiao Long keras-keras. Puluhan kali. Xiao Long merasakan seluruh tulangnya remuk redam, matanya setengah terpejam. Setelah membanting tongkat kayunya, Tian Ya membungkukkan badan menatap Xiao Long yang sudah sekarat. “Kau mau melihat dunia ini lebih lama atau pergi ke surga lebih cepat?”

balasdendam

Tangan Xiao Long menggapai-gapai seolah meminta pertolongan.

“Baiklah, akan aku turuti keinginanmu!” Tian Ya mengambil sebilah pisau. Dengan tatapan dingin dan bengis, ia mengayunkan pisau itu, menusukkannya ke perut Xiao Long. Terdengarlah teriakan melengking. Darah dari tubuh Xiao Long muncrat membasahi tangan dan baju Tian Ya. Tian Ya masih belum puas. Ia mencabut pisau dari perut Xiao Long dan menusukkannya lagi ke tempat lain. Dicabut dan ditusuk lagi sampai tiga kali. Pegangan anak buah Tian Ya pada Xiao Long terlepas. Xiao Long langsung rubuh, terkapar di lantai. Ia kejang-kejang seperti ayam yang sedang disembelih, tangan yang semula memegangi perut jatuh terkulai, sedangkan matanya terbelalak lebar-lebar.

Tian Ya mengulurkan tangan ke dekat hidung Xiao Long. “Sudah mati!” katanya datar. “Bereskan dia!”

“Baik!”

Lydia menyaksikan seluruh adegan dengan sangat jelas. Rasa takut luar biasa mulai menyergap. Ia mundur beberapa langkah kemudian berlari. Karena tidak bisa melihat dalam keadaan gelap, kaki Lydia tersandung semak-semak yang membuatnya terjerembab. Lydia menolehkan kepala, tampak Tian Ya sudah keluar dari gudang. Wanita itu buru-buru berdiri dan kembali berlari. Sampai di dalam rumah, Lydia bersembunyi sambil mengawasi Tian Ya.

Tian Ya masuk rumah melalui pintu belakang. Lampu dapur terang-benderang menimpa tubuh pria itu. Bagian depan kemeja putihnya berubah menjadi warna merah pekat. Sekarang Tian Ya mencuci tangan yang berlumuran darah di wastafel. Lydia tidak sanggup melihat lagi. Ia meninggalkan dapur menuju kamar, menyandarkan tubuh di dinding, lalu dengan lemas merosot ke lantai. Ya Tuhan! Bagaimana bisa terjadi hal mengerikan semacam ini? Membunuh! Sesuatu yang sama sekali tak pernah Lydia bayangkan dapat dilakukan oleh Tian Ya!

Masih banyak tugas yang harus diselesaikan. Aku ada di ruang kerja, jangan diganggu!

 

Pintu kamar terbuka dan Tian Ya masuk. Seolah tidak terjadi apa-apa, Tian Ya tersenyum lembut pada Lydia. “Kau belum tidur?” Tian Ya berjongkok di hadapan Lydia. Ia mengangkat wajah wanita itu dengan kedua tangannya lalu bertanya penuh perhatian, “Wajahmu pucat sekali. Apakah kau sakit?”

Lydia menatap Tian Ya. Mencari sisa-sisa kekejian di sana. Namun Tian Ya berhasil menutupinya dengan sempurna. Tian Ya sudah berganti baju. Kemeja dengan noda darah itu mungkin dicuci sendiri, atau langsung dilenyapkan. Tangan Tian Ya yang sekarang menyentuh wajahnya, biasa mendekapnya setiap malam, memberikan kehangatan… dalam waktu yang hampir bersamaan juga memegang pisau, menjadi algojo pencabut nyawa… Refleks Lydia menepiskan tangan Tian Ya dan mendorongnya menjauh.

Tian Ya merasa heran dengan reaksi Lydia. “Ada apa? Kenapa hari ini kau aneh sekali? Kau marah padaku?”

“Kau membunuh orang…” kata Lydia parau. “Xiao Long… kenapa kau harus membunuhnya?”

“Kau melihat… kejadian di gudang?”

“Seharusnya kau tidak perlu melakukan itu… seharusnya kau menyerahkan Xiao Long pada polisi…” Lydia berdiri dengan tetap menempelkan tubuh di dinding, menjaga jarak dari Tian Ya.

“Percuma! Penjara ‘terlalu ramah’ untuk orang seperti Xiao Long. Dia tidak mempan kalau hanya dikurung di dalam sel, setelah bebas pasti membuat masalah lagi! Dia juga tidak akan melepaskan orang yang sudah membuatnya masuk penjara. Walaupun sasaran utamanya adalah aku, Xiao Long sudah pasti menjadikanmu sebagai korban. Dia tahu, kau adalah orang yang paling berharga bagiku. Memukulmu sama juga memukulku, mencelakaimu sama juga mencelakaiku…” Karena tidak dapat menyembunyikan masalah Xiao Long dari Lydia, Tian Ya berbicara panjang lebar. “Beberapa hari belakangan aku selalu merasa waswas setiap kali meninggalkan rumah karena memikirkanmu. Keberuntungan tidak akan datang dua kali. Mungkin kemarin kau lolos dari maut, tapi seandainya terjadi lagi, siapa yang bisa menjamin jika aku akan pulang pada saat yang tepat untuk membawamu ke rumah sakit?”

Lydia masih diam.

“Ayolah, Lydia! Kita lupakan saja semuanya! Anggap kau tidak pernah melihat kejadian di gudang itu!” Tian Ya kembali mencoba memeluk Lydia, namun wanita itu berkelit.

Melupakan semuanya? Menganggap aku tidak pernah melihat kejadian pembunuhan di gudang? Tidak mungkin!

Lydia mendorong Tian Ya ke luar kamar, mengangsurkan sebuah bantal, lalu berkata setengah memohon, “Malam ini tidurlah di ruang tamu! Aku perlu waktu untuk menenangkan diri…”

Sebelum Tian Ya sempat bereaksi, Lydia sudah menutup pintu kamar dan menguncinya. Selama beberapa saat Tian Ya berdiri terpaku di tempatnya. Ia menjatuhkan bantal kemudian menggedor pintu keras-keras. “Lydia! Buka pintunya! Lydia! Kau tidak bisa begini padaku! Lydia…”

Akhirnya Tian Ya mengalah. Ia kembali ke gudang, ingin melihat apakah masalah di sana “sudah dibereskan”. Saat itulah Tian Ya baru menyadari jika ada dua tumpukan kardus di depan pintu gudang. Mungkin tadi Lydia kemari bermaksud akan menyimpan kardus-kardus ini, tapi kemudian malah melihat kejadian saat Tian Ya menghajar dan membunuh Xiao Long. Lydia adalah orang yang lemah lembut dan sangat berperasaan, pasti sulit untuk bisa menerima bahwa suaminya telah melakukan tindak pembunuhan. Bahkan jika cinta menjadi alasannya.

Lydia, bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Kudengar kau baru saja keguguran. Maaf, aku tidak bisa menjengukmu. Aku hanya berharap agar kesehatanmu segera pulih…

Lydia membaca pesan tersebut berulang kali.

Kakak…

Sudah lama Lydia dan Franklin tidak berhubungan melalui telepon atau SMS. Walau tidak mengungkapkan, tapi masing-masing sudah tahu alasannya. Lydia dan Franklin berusaha menghindari hal apa pun yang membuat Tian Ya cemburu. Cemburu… ya, cemburu! Kejadian mengerikan di gudang kembali terbayang. Lalu berganti dengan malam hari ketika Tian Ya pulang dari kerja dan membuatkan secangkir kopi untuk Lydia.

Jangan terlalu baik padaku!

Lalu aku harus bagaimana? Apa kau mau aku jadi suami yang jahat? Yang setiap hari marah-marah tanpa alasan, berbicara menggunakan nada tinggi, sedikit-sedikit membentak, melotot sambil menggertakkan gigi? Seperti ini?

Kini Lydia memahami satu hal. Tian Ya bisa bersikap baik, sangat baik pada orang yang dicintainya. Tapi Tian Ya juga bisa bersikap kejam pada siapa pun yang dianggap menjadi pengganggu dalam hidupnya. Seperti Xiao Long dan… kakak! Lydia bergidik, lalu buru-buru menghapus pesan yang dikirimkan Franklin tanpa membalasnya.

Dari siapa kakak tahu kalau aku keguguran?

Tian Ya tidak mungkin memberitahu Franklin.

Apakah dari Fei Yang?

Lydia menatap sepatu putih dengan hiasan bunga lili yang tersimpan rapi di rak sepatunya.

Apakah jam tangan pemberianku masih sering dipakai?

Kemudian Lydia teringat jika sekarang Franklin hanya tinggal sendirian.

Apakah Kakak merasa kesepian?

Dulu mereka selalu bersama, di mana pun dan kapan pun.

Kakak selalu menjagaku, tapi dia tidak pernah mencelakai orang, apalagi membunuh seperti yang dilakukan Tian Ya!

Keesokan harinya Lydia belum mau keluar dari kamar.

Tian Ya berpamitan di depan pintu. “Aku berangkat sekarang. Kalau memerlukan sesuatu kau bisa minta tolong pada Bibi He atau Paman Qi. Jika ingin pergi ajaklah Fei Yang untuk menemanimu…” Sedetik kemudian ia berkata lagi, “aku akan pulang cepat…” Tetap tak ada sahutan. Membuatnya bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah kalimat Aku akan pulang cepat! itu sudah tidak diperlukan lagi. Tian Ya keluar rumah dengan hati kosong sekaligus langkah berat. Tak ada pelukan atau ciuman mesra yang mengantarnya hari ini.

Tian Ya tidak tahu jika diam-diam Lydia mengintipnya dari balik jendela di kamar lantai atas.

Di kantor, Tian Ya mencoba menelepon Lydia tapi tidak diangkat. Mengirim SMS juga tidak dibalas. Sungguh membuat ia tidak bersemangat dan kehilangan nafsu makan. Waktu istirahat dihabiskan Tian Ya dengan melamun di atap gedung sambil menatap layar ponsel puluhan kali. Aih! Harus bagaimana? Saat kembali ke ruang kerja pikiran Tian Ya masih belum benar-benar jernih. Ia tersentak melihat ada seseorang yang duduk di sofa, tempatnya biasa menerima tamu secara pribadi.

“Xing Wang! Apa kau sudah lama berada di sini? Kenapa tidak menelepon lebih dulu?”

Begitu orang yang ditunggu kedatangannya itu muncul, Xing Wang langsung melompat seperti pegas. “Tian Ya!”

“Ada sesuatu yang penting rupanya, sampai kau mendatangiku ke kantor?”

Bukannya menjawab pertanyaan Tian Ya, Xing Wang malah balik bertanya, “Apa kau yang melakukannya?”

“Aku tidak tahu apa maksudmu!”

“Jangan pura-pura, Tian Ya! Ini soal Xiao Long… ceritakan semuanya padaku!”

Melihat ketegangan di wajah Xing Wang, serta mendengar suaranya penuh emosi, Tian Ya langsung tahu ke mana arah pembicaraan tersebut. Ia menarik napas panjang, agak kesal karena masalah yang ingin dirahasiakan sekarang justru berbuntut panjang. “Apa Lydia menghubungimu dan mengatakan sesuatu?”

“Lydia sama sekali tidak menghubungiku, tidak berkata apa-apa, juga tidak tahu kalau hari ini aku menemuimu.”

“Jadi?”

“Kebetulan kemarin temanku pergi ke kelab malam… kau tahu? Salah satu daerah kekuasaan Xiao Long! Seseorang menemukan mayat Xiao Long di belakang rumah dengan tubuh penuh luka dan bekas tusukan. Berita itu langsung membuat gempar dan menyebar hanya dalam waktu beberapa jam, menjadi perbincangan hangat di mana-mana.” Xing Wang menatap Tian Ya penuh selidik lalu melanjutkan dengan susah payah, “Tian Ya… tolong jawab pertanyaanku! Bukan kau yang… membunuh Xiao Long, kan?”

Tian Ya mengalihkan perhatian pada tumpukan pekerjaan di atas meja, kemudian balik bertanya pada Xing Wang, “Kau tidak berharap aku akan melepaskan orang yang telah mencelakai istriku, kan?”

Meski sebelumnya merasa yakin jika dugaannya benar, Xing Wang tetap merasa terkejut. Dipelototinya Tian Ya, “Tidak tahukah kau, jika yang kau lakukan itu melanggar hukum?”

“Apa katamu? Hukum?” Tian Ya tertawa geli. “Bagaimana aku bisa memikirkan masalah hukum ketika berhadapan dengan orang yang tidak peduli dengan hukum?”

“Tian Ya, tidak ada orang yang seratus persen baik dan tidak ada orang yang seratus persen jahat!”

“Baguslah kalau kau tahu!” Tian Ya mengeraskan suaranya. “Aku juga punya beberapa persen bagian yang jahat itu, aku bukan malaikat!”

“Kau bisa memberi pelajaran dengan memukuli sampai pingsan atau mematahkan tangannya. Lagi pula Xiao Long tidak membunuh Lydia…”

“Maksudmu, kau ingin aku menunggu sampai Xiao Long membunuh Lydia dulu, baru kemudian boleh balas membunuhnya?”

“Tian Ya…”

“Kau lupa Xiao Long juga sudah membuat Lydia keguguran? Kami juga kehilangan satu nyawa…” suara Tian Ya menjadi lebih pelan sekarang. “Kau sendiri yang bilang kalau tidak ada orang yang seratus persen baik dan tidak ada orang yang seratus persen jahat. Kalau begitu aku juga akan mengatakan ini… Tidak semua hal bisa dikelompokkan ke dalam hitam dan putih. Ada juga yang abu-abu. Terkadang kita terpaksa melakukan hal yang bertentangan dengan hati nurani. Kalau terlalu lurus, bisa-bisa diri sendiri yang jadi korban. Aku hanya ingin melindungi orang yang aku cintai, kau tahu? Tidak peduli menggunakan cara apa pun!”

“Kalau begini, apa bedanya kau dengan Xiao Long? Aku yakin Lydia pun tidak setuju dengan apa yang kau lakukan.”

“Kau tidak bisa menyamakan aku dengan Xiao Long! Aku menyerang kalau orang lain menyerangku lebih dulu. Tapi Xiao Long menyerang siapa saja yang ada di dekatnya!”

“Ya sudah, selesaikan saja semua masalah menggunakan caramu! Jika sampai timbul masalah lain yang lebih besar, kau jangan datang ke kafe mencariku!” Xing Wang berkata ketus, kemudian pergi meninggalkan ruang kerja Tian Ya.

Tian Ya menyandarkan tubuh di kursi. Ia heran sekali dengan mereka, Xing Wang dan Lydia. Terutama Lydia, wanita yang sudah mengenal Tian Ya selama bertahun-tahun. Kenapa masih belum memahaminya? Membuat Tian Ya merasa seolah-olah penjahat itu adalah dirinya sendiri dan bukan Xiao Long! Sampai tiba waktunya pulang tidak ada telepon dari Lydia. Pertanyaan seperti, “Apa pekerjaanmu sudah selesai?”, “Sedang menuju tempat parkir mobil?”, “Sampai di mana?”, “Apakah jalanan macet?”, “Berapa menit lagi baru tiba di rumah?” Sesuatu yang sebelumnya sering dirasa mengganggu, sekarang justru sangat dirindukan Tian Ya. Lampu di setiap ruangan mulai dimatikan satu per satu dan banyak orang meninggalkan kantor. Papa Tian Ya malah sudah pergi sejak dua jam yang lalu. Tapi Tian Ya masih berada di ruang kerja, memutar kursi menghadap ke jendela kaca besar yang ada di belakangnya. Dari tempatnya duduk sekarang Tian Ya dapat melihat pemandangan kota Taipei di malam hari. Suasana ramai dan terang-benderang di luar sana sangat berbanding terbalik dengan suasana hati Tian Ya yang hampa dan kelam. Malam itu ia memilih tidur di kantor.

Tadinya Tian Ya berharap, dengan tidak pulang ke rumah Lydia akan merasa khawatir dan menelepon. Ternyata dugaannya salah. Tidak ada panggilan masuk, tidak ada SMS masuk dari orang yang sangat diharapkannya itu. Matahari terbit menandakan dimulainya hari yang baru. Tian Ya meluruskan tubuh yang pegal karena semalaman tidur dengan kaki tertekuk. Di rumah atau di kantor sama saja, sudah dua malam ini ia harus merasakan penderitaan tidur di sofa sendirian. Setelah mencuci muka Tian Ya pergi keluar sebentar. Secangkir kopi dan burger. Itulah sarapannya hari ini. Bukan sarapan yang baik, tapi kalaupun ada yang lebih enak, Tian Ya juga tidak ingin memakannya.

Tian Ya pergi ke ruangan Tuan Li mengantarkan pekerjaan yang sudah selesai. Orang tua itu sedang serius menekuni catatan di atas meja sehingga tidak menyadari kedatangan Tian Ya.

“Papa!”

Tuan Li mengangkat kepala. “Tian Ya, kau rupanya!” Ia menyingkirkan kertas-kertas yang berserakan di atas meja dan menerima tumpukan map tebal yang dibawa Tian Ya. “Ini… sudah lengkap semua, kan? Tidak ada yang ketinggalan?”

“Ya. Papa bisa memeriksanya.”

Tiba-tiba Tuan Li bertanya, “Kudengar semalam kau tidur di kantor… Apakah kau sedang bertengkar dengan Lydia?”

“Tidak!” jawab Tian Ya singkat.

“Hmmm…” Tuan Li menatap putranya sekilas, tapi tidak mengatakan apa-apa lagi.

Sudah dua hari. Lydia belum juga menghubungi Tian Ya, baik itu menelepon atau mengirim pesan. Tian Ya sungguh tidak percaya! Padahal saat masih pacaran saja Mereka tidak pernah seperti ini!

Tega sekali dia!

Apakah Lydia tidak merindukannya sama sekali? Tian Ya berpikir dan berpikir sampai kepalanya mau pecah.

Hari ketiga Tian Ya menyerah.

 

Bibi He berdiri di depan pintu kamar dan menyerahkan sebuah amplop pada Lydia dengan ragu-ragu. “Tadi Tuan pulang sebentar dan berpesan pada saya kalau amplop ini harus diberikan pada Anda. Kemudian Tuan pergi lagi…”

Lydia menerima amplop dari Bibi He dengan heran. “Dia pulang lalu pergi lagi? Apa dia tidak bilang mau pergi ke mana?”

“Tidak,” Bibi He menggeleng. Wanita tua itu tahu kalau kedua majikannya sedang bertengkar. Ia tidak ingin memperkeruh suasana dengan bertanya macam-macam.

“Ya sudah! Terima kasih, Bi!” Lydia lalu menutup pintu kamar.

Kini perhatian wanita itu tersita sepenuhnya pada amplop yang ada di tangan. Apa isi amplop ini? Tidak mau menebak-nebak, Lydia langsung merobek bagian ujung amplop lalu mengeluarkan isinya.

Surat tulisan tangan dan sebuah kunci.

 

 

11 Comments to "[Di Ujung Samudra] Tangan Berlumur Darah"

  1. Liana  31 October, 2015 at 20:08

    Swan Liong Be: Ini kan cerita bersambung. Dimulainya dari Di Ujung Langit (15 seri), Di Ujung Dunia (15 seri), lalu yang ketiga Di Ujung Samudra baru sampai bagian ke lima. Semuanya kisah fiktif. Kalau tidak mengikuti dari awal ya bingung.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.