Napak Tilas Perjuangan Laksamana Malahayati

Wiwit Sri Arianti

 

Siang itu, sebelum meninggalkan kota Banda Aceh, aku menyempatkan diri menengok makam pahlawan perempuan yang gagah perkasa, Laksamana Malahayati. Rasa tertarik dan penasaran ini muncul setelah membaca novel dengan judul “Perempuan Keumala sebuah epos untuk Nangroe”.

Novel tentang perempuan yang ditulis oleh novelis perempuan, pasti menarik, aku ingin merasakan getar keperkasaan Laksamana Malahayati dengan mengunjungi makamnya. Setelah menyusuri jalanan beraspal sekitar 32 km dengan jarak tempuh 1 jam perjalanan dari Banda Aceh, kami sampai di sebuah Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Di desa inilah letak makam Laksamana Malahayati, papan namanya ada di pinggir jalan namun untuk mencapai makan beliau kita harus melewati jalan setapak ke puncak bukit tempat makam itu berada.

Lukisan potret diri Laksamana Malahayati (Sumber: wikipedia)

Lukisan potret diri Laksamana Malahayati (Sumber: wikipedia)

Sebuah tanda, bahwa di sini ada Makam beliau

Sebuah tanda, bahwa di sini ada Makam beliau

Siapakah perempuan Keumala? Beliau dikenal dengan nama Laksamana Keumala Hayati atau Malahayati, adalah wanita pejuang Aceh pada masa Kerajaan Aceh Darussalam di bawah pimpinan pemerintahan Sultan Alaiddin Ali Riayat Syah IV Saidil Mukammil (1589-1604 M). Malahayati yang terkenal dalam kemiliteran juga seorang ahli politik yang mengatur diplomasi penting kerajaan. Beliau diberikan kepercayaan oleh sultan sebagai kepala pengawal istana dan protokol di dalam dan di luar istana. Malahayati juga dikenal sebagai laksamana pertama di dunia, ini sungguh keren. Tapi kenapa Malahayati tidak lebih dikenal dari Cut Nyak Dien dan Cut Meutia pahlawan perempuan yang juga berasal dari Aceh yang dikenal dengan sebutan “Tanah Rencong” atau “Serambi Mekah”.

Malahayati adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah, cicit dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah, pendiri Kesultanan Aceh Darusalam. Malahayati juga pernah menempuh pendidikan tentang ilmu kemiliteran dan kelautan di sekolah kemiliteran Kesultanan Aceh, Ma`had Baitul Makdis yang pada waktu itu bekerja sama dengan Kerajaan Turki. Beliau juga istri dari seorang laksamana yang tewas dalam sebuah pertempuran melawan Portugis di Teluk Haru, maka tidak mengherankan jika semangat juang kemiliteran dan kelautan sudah menyatu dengan aliran darahnya. Malahayati bertekad meneruskan perjuangan sang suami dan rela meninggalkan keluarga serta kepentingan pribadinya demi negeri tercinta.

Salah satu torehan sejarah yang membuatku ikut bangga adalah ketika Malahayati dipercaya menumpas pasukan Belanda yang dipimpin oleh dua bersaudara Cournelis dan Frederick de Houtman, yang terkenal bengis. Dalam sebuah duel satu lawan satu di geladak kapal pada tanggal 11 September 1599, Cournelis De Houtman tewas di ujung rencong Malahayati. Sementara itu Frederick berhasil diringkus dan sempat dipenjara selama dua tahun, itu berarti Malahayati telah berhasil menuntaskan tugasnya dengan gemilang.

Perjuangan Malahayati kala itu didukung oleh pasukan yang dibentuknya yang terdiri dari para janda perang atau innong balee di Teluk Haru. Pada awalnya hanya sekitar seribu innong balee berkembang menjadi lebih dari dua ribu dan terus berkembang. Pangkalan armadanya berada di Teluk Lamreh Krueng Raya, Aceh Besar. Di sana juga Malahayati membangun benteng yang kokoh bernama Benteng Innong Balee yang tingginya mencapai 100 meter. Benteng ini selain sebagai pertahanan juga merupakan asrama penampungan para janda yang suaminya gugur dalam pertempuan. Di tempat ini juga digunakan menjadi sarana pelatihan militer dan penyimpanan logistik untuk keperluan perang.

Jejak sejarah itu bisa kita temukan di kompleks makam Laksamana Malahayati sekitar 3 km dari Benteng Innong Balee di puncak sebuah bukit kecil. Makam tersebut dikelilingi oleh ladang penduduk, untuk mencapainya kita harus menempuh susunan anak tangga semen mulai dari bawah bukit. Kompleks makam dibatasi oleh pagar tembok dengan pintu masuk berada di sebelah timur. Di dalamnya terdapat tiga makam dalam satu jirat yang dinaungi oleh satu cungkup. Menurut penduduk yang saya temui, makam tersebut adalah makam Malahayati, suaminya dan anaknya.

Mari, kita mulai penjelajahan ini dengan menaiki susunan anak tangga dari bawah bukit, dan di bawah ini rangkaian tangga menuju makam Laksamana Malahayati.

acehmalahayati03 acehmalahayati04

“Makam terletak di atas bukit dinaungi oleh pohon Neem/Mimba/Beum (bahasa Aceh) yang rindang”

“Makam terletak di atas bukit dinaungi oleh pohon Neem/Mimba/Beum (bahasa Aceh) yang rindang”

“Nisan Malahayati yang polos, sedangkan sebelahnya yang ada sayap adalah suaminya”

“Nisan Malahayati yang polos, sedangkan sebelahnya yang ada sayap adalah suaminya”

“Batu marmer” semacam prasasti atau apa namanya yang menjelaskan secara singkat tentang Laksamana Malahayati ini berada di depan makam

“Batu marmer” semacam prasasti atau apa namanya yang menjelaskan secara singkat tentang Laksamana Malahayati ini berada di depan makam

acehmalahayati08 acehmalahayati09

Pemandangan indah, di sekitar makam Malahayati banyak tumbuh pohon duwet atau jamblang. Buah duwet berwarna ungu dan rasanya manis, jika memakannya makan lidah dan mulut kita akan berrwarna ungu seperti warna duwet/jamblang. Tanaman ini diperkirakan berasal dari Kawasan Asia dan Australia dan dapat tumbuh di daerah dataran rendah hingga ketinggian 500 mdpl. Konon katanya, pohon ini juga disukai para hantu, sehingga diidentikan sebagai rumahnya para hantu, tapi aku sendiri belum membuktikan kebenarannya, hi hi hi…

Selain bisa dimakan sebagai buah, duwet/jambalng ini ternyata banyak manfaatnya untuk mengobati beberapa macam penyakit. Mulai dari kulit kayunya bermanfaat untuk mengobati diabetes berkhasiat untuk peluruh haid. Daunnya sebagai antioksidan, anti virus, anti inflamasi (penghilang radang), dan berfungsi menurunkan kadar gula dalam darah (anti diabetes), mengobati konstipasi, dan menghilangkan alergi, sangat efektif untuk menyembuhkan gigitan kelabang dengan ditumbuk halus tempelkan pada sisa gigitan kelabang. Buah jamblang kaya akan kandungan antosianin yang berfungsi penting sebagai antioksidan dan mampu menangkal radikal bebas dan juga berpotensi sebagai anti kanker, penurun kolesterol, dan anti diabetes. Zat antosianin yang memberikan warna ungu pada kulit buah jamblang, juga merupakan sumber pewarna alami yang sangat potensial digunakan dalam industri pembuatan makanan. Buah duwet/jamblang dapat bermanfaat untuk menjaga kesehatan mata, meringankan resiko penyakit rabun dan mengurangi resiko kebutaan karena katarak. Dalam setiap 100 gram buah duwet ternyata ditemukan sekitar 81 IU vitamin A. Vitamin A terbukti sangat baik dalam mendukung kesehatan mata.

“Pohon Beum yang rindang menaungi makam Laksamana Malahayati"

“Pohon Beum yang rindang menaungi makam Laksamana Malahayati”

"Buahnya yang berjatuhan”

“Buahnya yang berjatuhan”

Makam di atas bukit kecil ini dinaungi pohon Beum (Bahasa Aceh)/Neem/Mimba atau bahasa latinnya Azadirachta indica A. Juss, yang besar dan rindang sehingga membuatku betah duduk2 di makam, apalagi jika angina sedang berhembur semilir, sangat nyaman berada di tempat ini.

Pohon Neem ternyata sangat banyak manfaatnya. Tanaman ini pertama kali ditemukan didaerah Hindustani, di Madhya Pradesh, India. Mimba datang atau tersebar ke Indonesia diperkirakan sejak tahun 1.500 dengan daerah penanaman utama adalah di Pulau Jawa, namun aku pertama kali melihatnya di Aceh, di makam Laksamana Malahayati. Hampir semua yang ada di pohon Neem bermanfaat.

Mari kita identifikasi mulai dari Getahnya, yang ada di dalam lapisan kayu dapat digunakan untuk lem. Kayunya, kayu Neem telah terbukti tahan terhadap rayap sehingga kalau dipakai untuk membuat peralatan dapur pasti aman dari raya. Kulit batangnya yang pahit dapat digunakan sebagai tonikum dan obat malaria. Rantingnya, menurut dokter gigi, kebiasaan menggosok gigi dengan ranting pohon Neem dapat melindungi kerusakan gigi dalam jangka waktu lama. Daunnya, penambah nafsu makan,untuk menanggulangi disentri, borok, malaria, anti bakteri dan efektif memperbaiki kondisi kulit. Daunnya juga bisa dicampur dengan makanan terbukti baik untuk memperbaiki kondisi pencernaan. Bunganya, yang berwarna ungu dapat memancing lebah yang menghasilkan madu Neem yang bermanfaat. Buahnya, dapat dibuat menjadi sabun antiseptic. Biji buahnya, memiliki kandungan bahan aktif yang berfungsi sebagai pestisida, insectisida dan funfisida. Minyak yang dibuat dari biji buah Neem aman digunakan didaerah pedesaan yang alami dan ampas dari pengepresannya sangat baik sebagai bahan pembuatan pupuk.

acehmalahayati14

Tanaman ini juga berada di sekitar makam, berasal dari Hindi Timur, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, tidak ada informasi bagaimana caranya bisa sampai di Indonesia, nama tanaman ini adalah Pokok Kapal Terbang / Tahi Belalang/ Chromolaena odorata. Tumbuhan ini sejenis tumbuhan beracun, dapat menyebabkan kerusakan hati terutama pada anak2, sehingga harus hati2 dan jauhkan dari jangkauan anak jika menanam tumbuhan ini. Daun dari tanaman Tahi Belalang ini dapat digunakan sebagai obat luka, caranya dengan diremas / ditumbuk sampai halus dan keluar airnya kemudian ditempelkan pada luka & dibalut, selain itu juga sangat mujarab untuk meredakan perut kembung. Selain itu, daun pokok kapal terbang/tahi belalang ini juga boleh digunakan untuk mempercepatkan proses memeram buah-buahan seperti pisang dan cempedak.

Sampai disini perjalanan napak tilas & ziarah ke makam Laksamana Malahayati, ketika sedang mengirim doa untuk beliau, aku merasakan merinding, ada getar halus di dada, serasa mengenal dekat dengan beliau. Mungkin sugesti, entahlah… Yang jelas selain berziarah kudapat juga pengetahuan baru tentang 3 tanaman yang bermanfaat sebagai obat. Selamat membaca, semoga bermanfaat & sampai bertemu dengan cerita perjalanan berikutnya di kota yang lain di Republik tercinta ini. Daag……

 

Banda Aceh, 30 ‎Agustus ‎2015, ‏‎22:18:59

 

 

14 Comments to "Napak Tilas Perjuangan Laksamana Malahayati"

  1. Wiwit Arianti  1 November, 2015 at 06:24

    Aamiin,….trimakasih pak Cu2k Jarnawi, saya bisa ziarah ke makam Laksamana Malahayati karena kebaikan hatimu untuk menjadi penunjuk jalan. Kalau dirimu dan Toman tidak bersedia mengantarku pasti waktu itu aku belum sampai kesana. Sekali lagi trimakasih ya, tolong sampaikan juga trimakasih n salamku untuk Toman. Semoga kalau ke Aceh lagi kita bisa telusuri sejarah yang lain

  2. Cu2k  31 October, 2015 at 22:52

    Luar Biasa Sejarah Panjang Negeri Ini…
    Luar Biasa Juga dgn Mbak Wiwit yang telah menulis dengan gayanya yang santai namun sungguh menginspirasi…
    Semoga lahir pejuang-pejuang bangsa lainnya yg dapat melebihi Laksamana Malahayati

  3. Wiwit Arianti  25 October, 2015 at 15:24

    hehehe…itu betul pak djasMerahputih….

  4. Wiwit Arianti  25 October, 2015 at 15:21

    Apa kabar pak James? sepertinya Laksamana di Baltyra memang Kenthirs semua wkwkwk…..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *