Semua Dimulai dari Keluarga

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

DARI kecil anak-anak sudah diajari mengenal tempat ibadah orang lain. Agar mereka tumbuh di dewasa dibekali budaya saling menyayangi. Gak mungkin saya ajak anak-anak ke kota-kota dunia dengan landmark terkenal lalu di upload media sosial. Duit darimana? Bapaknya berak aja di toilet umum gak mampu bayar (karena sudah gratis sejak orang kapir jadi presiden).

Sayang tidak ada sinagog di Jakarta. Dulu ada sinagog di Surabaya yang kami datangi dan bersahabat baik dengan pengurusnya. Kalau masih ada, saya bawa anak saya ke sana.

diversity01 diversity02 diversity03 diversity04 diversity05

Sekarang, bila saya beri bensin dan korek ke anak saya dan saya suruh bakar tempat ibadah, pasti anak saya menolak. Bahkan saya yang disiram bensin dan dibakar. “Bapak kampret!”

Saya tunggu setelah mereka 17 tahun, akan saya ajak mereka ke tempat kehidupan malam di Krekot, Hayam Wuruk dsk. Agar mereka tahu pertama kali dari orang tuanya tentang hal-hal negatif dari kehidupan. Bukan dari orang yang tidak bertanggung jawab.

Supaya anak kita tahu kalau hidup bukan seperti yang ditulis di kitab suci. Yang isinya enak-enak melulu seperti film Beverly Hills 90210.

 

 

10 Comments to "Semua Dimulai dari Keluarga"

  1. djasMerahputih  23 October, 2015 at 19:31

    Keren mas Iwan..
    Keluarga merupakan sel terkecil pembentuk negara. Juga akar bagi eksistensi sebuah ideologi.

    Keluarga Pancasilais penyeru kebhinnekatunggalikaan memang penting untuk terus diduplikasi. Jangan mengulang keluguan generasi sebelumnya.

  2. Dj. 813  23 October, 2015 at 14:09

    Hahahahahahaha . . .
    Mas Iwan . . . .
    Sudah lama tidak dengar kata Brengsek ( Berengsek pesek )
    Hahahahahahahahaha . . . .
    Ingat saat 1973 tinggal dengan saudara di Taman Solo ( Cempaka Putih ),
    ada keponakan yang pesek, yang selalu berengsek . . .
    Tapi anehnya, gedenya kok jadi mancung .
    Hahahahahahaha . . .

  3. IWAN KAMAH  23 October, 2015 at 13:26

    Hallllooooo….terima kasih semua komentar dan apresiasinya. Ini hal biasa bagi saya. Di keluarga istri memang agak seperti pecel. Ada yg jilbaban, kejawen, protestan, budha, salafi yg gak mau salaman sama lawan jenis dan katolik. Bagi saya agama sama baiknya. Penganutnya yang brengsek.

  4. tammy  23 October, 2015 at 12:29

    Mas Iwan, salut deh! Manusia seperti Mas Iwan kok rasanya di Indonesia semakin lama semakin langka.
    Btw, anak2 makin besar makin cantik aja.

  5. james  23 October, 2015 at 09:43

    memang sebenarnyalah bahwa Pendidikan dimulai dari dalam Keluarga dulu dan yang penting juga, bukan semata di sekolah ataupun ditengah masyarakat, maka sangatlah penting peranan orang tua

  6. J C  23 October, 2015 at 08:13

    Wah, wah, mas Iwan, ini benar-benar LIBERAL seperti kata pak Djoko…hahaha… (* akan ada yang ngomel: “dasar kapir” *)

  7. Sumonggo  23 October, 2015 at 05:51

    Sepakat. Anak-anak memang perlu disadarkan mengenai kondisi riil yang ada di masyarakat, sehingga nantinya setiap melakukan sesuatu memahami konsekuensi dari perbuatannya. Bukan jamannya lagi menakut-nakuti anak dengan sorga dan neraka, sudah tidak mempan.

  8. Lani  22 October, 2015 at 23:21

    ISK : cantik nian putrimu yg no 1, yg no 2 (simendelep semakin genit)………menurutku apa yg kau ajarkan kepada anak2mu tdk ada yg salah, biarkan mereka tahu, belajar menghargai, menghormati, perbedaan………

  9. donald  22 October, 2015 at 22:24

    Hidup terbaik selalu dimulai dari keluarga, alangkah senangya mengingat masa kecil. Walau tak semua kebagian rasa berbahagia itu.

    Tempat ibadah memberi rasa aman, nyaman yang terasa magis, anak-anak menyukainya, masa menunggu mereka mencapai usia 17-an, terasa berlalu cepat. Tetapi, sebelum tiba di kawasan Kota, televisi di negeri ini pun rasa-rasanya terlalu vulgar memberi gambaran awal.

  10. Dj. 813  22 October, 2015 at 22:08

    Mas Iwan . . .
    Salute . . . ! ! !
    Inilah ayah yang baik dan mendidik anaknya secara liberal .
    Tidak merasa yang paling benar, tapi mendidik anak agar menhormato orang lain.
    Itu yang dulu diajarkan oleh orang tua Dj .
    Walau mereka moslim, tapi dari 10 anak-anaknya, 5 tetap islam dan 5 kristen.
    Dan kami hidup rukun sampai sekarang, walau sudah 4 dari anak-anak sudah tidak ada .
    Bahkan makam mereka , baik yang islam muapun yang kristen berdampingan.

    Salammanis untuk keluarga dirumah ya…
    Melati semakin besar dan Mawar semakin genit . Hahahahahaha . . . ! ! !

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.