Japan’s Independent Kids

Dewi Aichi – Brazil

 

Dari catatanku yang terselip. Sudah ditambah dan disesuaikan.

Mengapa Para Orang Tua Di Jepang Membiarkan Anak-Anak Berangkat Sekolah Sendiri?

Barangkali sudah terlalu banyak tulisan mengenai betapa anak-anak Jepang itu sudah terlatih sejak dini untuk menghadapi hidup sendiri.

http://baltyra.com/2011/11/09/ke-sekolah-jalan-kaki/

http://baltyra.com/2013/03/27/melepas-gabriel-pergi-ke-sekolah/

Banyak orang asing di Jepang barangkali heran dan shock melihat anak-anak kecil kisaran umur 6 tahun, berangkat sekolah dengan berjalan di jalan raya atau bahkan di beberapa tempat ada yang sampai menggunakan trem atau bus untuk berangkat sekolah, tanpa didampingi orang tuanya. Sementara hal itu sangat tidak mungkin di Brasil sini, atau barangkali di Indonesia (kota besar) saat ini.

Ketika anak saya masih kelas 2 hingga kelas 5, saya musti antar jemput setiap hari. Berjalan kaki. Nah, ketika harus pindah rumah, jarak sangat jauh, sehingga harus mendaftar untuk menggunakan mobil dari sekolahnya. Tentu saja bayar. Masuk kelas 6, harus pindah sekolah karena sekolahnya yang dulu hanya sampai kelas 5. Kini jarak antara rumah dan sekolah sangat dekat, bisa ditempuh dengan hanya 20 menit jalan kaki. Namun karena beberapa faktor, saya memutuskan untuk menggunakan mobil sekolah.

Kini anak sudah mau kelas 8, tiap hari sudah meminta ijin kepada saya maupun ayahnya untuk berangkat sendiri, naik bus atau jalan kaki jika cuaca bagus. Toh hanya dekat. Tapi kami sebagai orang tua masih tetap was-was mengingat tingkat kriminalitas di Brasil yang sangat tinggi. Meski demikian kami mulai melepas sedikit demi sedikit, sebab bagaimanapun, anak harus dipersiapkan menghadapi segala macam kehidupan, dan kenyataan bahwa inilah Brasil. Mau tidak mau harus tetap berjalan.

Mulai dari mengurus bilhete unico  estudante atau kartu angkutan umum untuk pelajar, yang harus mendaftar dan menunggu.  Dan memberikan informasi kelak, jika anak benar-benar mau lepas dari mobil sekolah. Tentu saja nantinya koordinasi dari pihak sekolah sudah lepas tanggung jawab soal anak berangkat dan pulang sendiri. Dan ini butuh mengisi form dari sekolah.

independent kid

Judul pada tulisan saya ini, adalah judul sebuah video yang saya cari di YouTube. Untuk mendukung tulisan saya ini. Video yang saya sertakan di bawah ini berdurasi sekitar 8 menit. Film pendek, yang dimulai dengan sebuah kalimat “kawaii ko ni wa tabi wo saseyo” atau dalam bahasa Portuguesnya adalah “envie seu amado filho para uma jornada”, yang artinya send the beloved child on a journey.

Anak-anak harus belajar dan bisa menembus tantangan dan kesulitan dalam fase kehidupan awalnya. Mereka harus dikondisikan untuk menjadi mandiri dan belajar untuk mengurus dirinya sendiri bahkan pada usia yang sangat dini. Karena mereka tidak selalu akan memiliki orang tua yang berada di dekatnya.

Selain diajarkan mandiri, menurut pengamatan saya dan pengalaman saya, adalah karena masyarakat dan budaya di Jepang. Di Jepang semua harus bekerja, orang tua tidak mungkin setiap hari akan antar jemput anak sekolah. Bisa-bisa Pemerintah Jepang harus menata ulang kembali jika para orang tua harus bertanggung jawab antar jemput sekolah.  Pada kenyataannya Jepang memiliki tingkat kriminal yang sangat rendah, meskipun sekarang ada beberapa orang yang berpendapat bahwa Jepang tidak seperti 10 tahun yang lalu yang relatif aman. Untuk itulah para orang tua merasa tidak kuatir melepas anak-anak berjalan sendiri.

Anak-anak di Jepang diajarkan untuk percaya bahwa siapapun bisa membantu mereka di jalan jika diperlukan. Sementara di negara lain, seperti Brasil, atau mungkin Indonesia, anak-anak diajarkan untuk takut dan jangan menanggapi orang menyapa jika tidak dikenalnya.

independent kids

Tidak diragukan lagi bahwa itu adalah shock culture terutama mungkin bagi masyarakat Brasil, untuk meninggalkan ataupun membiarkan anak-anak berjalan sendiri tanpa pendamping.

Bagaimana pengalaman Anda melepas anak-anak pergi sekolah sendiri selagi masih kecil? Dan bagaimana perasaan Anda ketika pertama kali melepasnya?

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

13 Comments to "Japan’s Independent Kids"

  1. J C  2 November, 2015 at 12:47

    Waduuuhhh…rasanya mimpi hal seperti ini terjadi di Indonesia. Di jalan begitu banyak PREDATOR, baik itu brompit, mobil yang berkendara dengan biadab, belum lagi pemangsa anak-anak (pedofil) dan sekaligus para pembunuh…

  2. Lani  28 October, 2015 at 03:29

    DA : Aku japri wis diwoco?

  3. Lani  28 October, 2015 at 03:28

    DA : Mungkin hal tsb tdk bs diterapkan disemua Negara, tergantung kondisi keamanannya, apalagi buat anak2 kecil rentan penculikan!

    Jadi bukan hanya masalah melatih anak mandiri sedini mungkin, tp banyak alasan lainnya.

    Apalagi kejahatan sex anak2, banyak mengincar dijalanan krn orang sakit jiwa.

    Aku tdk bs sharing ttg anak krn tdk punya pengalaman itu, akan ttp utk diriku sendiri, krn sekolah jauh dr rumah sll diantar jemput dibonceng sepeda.

    Baru naik sepeda sendiri ktk menginjak usia masuk SMP, dan di SMA pakai brompit, malah klayaban kemana-mana setelah pulang sekolah hehehe………..

    KANG DJAS : mahalo

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.