Si Pemasang Gigi Palsu

Ary Hana

 

Tukang gigi itu sudah setengah abad umurnya, sudah menekuni profesinya selama 20 tahun lebih. Bukan pekerjaan yang mudah mengobok-obok mulut orang -yang saya pastikan sebagian besar bau- lalu mengira-ngira bagaimana memasang sebuah gigi ke dalam mulut bau dan gusi erosi itu dengan pas. Namun dia mampu melakukannya dalam lima belas menit, sering malah kurang.

Saya mulai menggunakan jasanya lima tahun lalu, langsung untuk mengisi 2 tempat gigi yang ompong. Di bagian geraham atas dan bawah sebelah kanan. Waktu itu saya harus membayar Rp 125.000 untuk kedua gigi tersebut.

sumber: zazzle.com

sumber: zazzle.com

Saya mulai berkenalan dengan gigi palsu sejak lebih 10 tahun lalu, saat taring atas saya dipaksa cabut seorang dokter gigi di Jogjakarta dengan alasan ‘gigis’. Saya lalu membuat gigi palsu ke dokter tersebut, dikenai Rp 250.000. Mirip dirampok rasanya, apalagi gigi palsu sang dokter hanya bertahan 8 bulan, karena suatu ketika patah. Saya lalu lari ke tukang gigi, memakai bahan gigi akrilik dan dikenai Rp 35.000. Gigi palsu ini bertahan setahun, lalu saya membuat gigi palsu baru di langganan saudara, bayar Rp 40.000. Gigi ini bertahan 3 tahun, lalu saya membuat lagi di tukang gigi palsu di Jakarta, dikenai Rp 125.000.

Dari sekian banyak tukang gigi palsu yang saya coba, yang ini berbeda rasa, teknik, dan kesabarannya. Dia tak lagi mencetak gigi dengan mengambil contoh ukuran rahang geligi anda, tapi mengerjakannya di tempat itu juga, dan ‘boom’ dalam lima belas menit gigi baru lepasan Anda siap dipakai.

Tentu saja karena tak pakai proses mencetak yang lama, anda akan merasakan sedikit ketidaknyamanan. Misalnya ketika mengoleskan cairan warna merah ke gusi langsung untuk membuat semen gigi. Tak sampai satu menit tidak nyamannya, dan tidak meninggalkan rasa sakit. Hanya menyengat baunya. Dia juga memasang kawat di semen itu, untuk menyangkutkan gigi palsu ke dua geligi lainnya, serta melekatkan gigi ke semen.

gigi palsu akrilik ala dokter gigi yang dicetak

gigi palsu akrilik ala dokter gigi yang dicetak

Belum pernah saya jumpai tukang gigi setrampil dia. Benar-benar menguasai pekerjaannya, dan penuh kesabaran. Ketika datang, dia menjunjung sebuah tas kotak warna hitam. Di dalam tas itu dia menyimpang dua jenis gigi lengkap yang menghuni rongga mulut Anda. Yang satu lebih murah harganya, yang lain lebih bagus kualitasnya dan lebih putih.

Dia juga membawa dua jenis botol kecil, bahan untuk semen gigi beserta perekat dan cairannya. Ada sebuah sendok untuk mencairkan semen gigi, ada pinset untuk mengambil bagian gigi, ada kawat, alat pemapras gigi yang digerakkan oleh listrik dan diatur dinamo, dan ampelas buat memperhalus gigi palsu yang terbentuk.

Tukang gigi ini kerap bekerja ditemani anaknya. Namun kemarin saya lihat dia datang sendiri. “Anak saya sudah buka sendiri di Gresik,” katanya. Rupanya dia mewariskan keahliannya secara turun temurun. Bisa jadi bapaknya, mbahnya, buyutnya, juga tukang gigi. Bisa jadi profesi ini memang diwariskan turun-temurun sejak berabad lalu.

gigi palsu buatan pak mad

gigi palsu buatan pak mad

Konon, gigi palsu mulai dikenal sejak 2700 tahun lalu. Maka profesi tukang gigi boleh jadi setua itu. Dulu tukang gigi menggunakan gading gajah, tulang ikan paus, atau kudanil sebagai pengganti gigi. Mungkin pada masa itu manusia mulai merasakan pentingnya mengunyah, atau malu akan buruknya tampilan wajah mereka tanpa gigi, apalagi jika tersenyum.

Ratu Elizabeth I dan Goerge Washington merasa perlu menggunakan logam seperti emas dan perak untuk mengganti gigi yang tanggal, lalu diikat dengan benang sutera. Model gigi emas dan perak ini pernah ngetren di Kinahrejo, lereng Gunung Merapi, pada akhir 1990an. Saya ingat bertemu Yu Redjo, seorang warga yang membuka warung di Bebeng saat itu, juga istri Lek Udi. Mereka memamerkan gigi emasnya kepada saya. Itu yang membuat saya berpaling ke tukang gigi ketimbang dokter gigi untuk memasrahkan pembuatan gigi palsu.

Ada kisah di masa PD I dan II banyak mayat diompongi, diperotoli giginya, agar si gigi bisa dijual kepada manusia ompong dengan harga lumayan. Entah siapa yang mau memanfaatkan gigi orang mati, namun gigi bekas ini tentulah bagus mutunya. Hingga sebelum ditemukan akrilik dan keramik, orang masih menggunakan karet sebagai bahan gigi yang elastis. Untunglah gigi palsu saya bukan terbuat dari karet, karena akan lengket jika makan jenang atau lepet.

Belakangan, implan gigi sedang ngetren untuk menggantikan gigi palsu lepasan. Namun harganya yang mencapai Rp 10 juta bikin orang jantungan. Beruntunglah ada tukang gigi mirip Pak Ahmad yang mau dipanggil ke rumah, dan menyembunyikan ompong saya. Saya tak perlu sangsi, atau takut. Pak Ahmad sudah membuktikan keamanan gigi palsu yang dipasangnya. Sebelum mempraktekkan keahliannya kepada pasiennya, dia memasang gigi palsu pada rongga mulutnya sendiri. “Hampir semua gigi atas saya palsu lho, Bu,” pamernya kepada ibu saya suatu hari. “Dan enak saja saya makan juadah atau tetel. Biasa saja, nggak beda dengan makan pakai gigi asli.” Nah!

Catatan: Tertarik menggunakan jasa Pak Ahmad? Telepon saja 031-5921827.

 

Baca juga :

Sakit gigi, jangan dicabut

Bila infeksi gigi pindah ke pipi

Sakit gigi? Mungkin gigi anda berlubang

 

Bisa juga dibaca di: https://othervisions.wordpress.com/2014/02/05/si-pemasang-gigi-palsu/

 

 

8 Comments to "Si Pemasang Gigi Palsu"

  1. P. Suparto / teo  31 August, 2018 at 15:26

    Pakai bpjs bisa..?

  2. J C  2 November, 2015 at 12:50

    Di Indonesia memang banyak dijumpai yang seperti ini. Terkadang malah mungkin lebih piawai ketimbang dokter gigi yang menempuh jalur pendidikan formal. Hanya bisa terjadi di Indonesia. jangan harap terjadi di luar Indonesia (mungkin India, Vietnam, dan negara-negara yang mungkin masih mirip Indonesia).

  3. Alvina VB  28 October, 2015 at 11:00

    Ary, baca artikel pasang gigi (emas), kok aku jadi teringat film dokumenter jaman Nazi tempoe doeloe…namanya Nazi ya…apa2 serba teratur dan ada dokumentasi lengkap; sampe korban Holocaust yg punya gigi emaspun tercatat ada berapa banyak korban yg dicabut gigi emasnya (bukan dipasang) yg kemudian emas itu dikumpulkan utk dijadikan emas batangan yg digunakan sbg simpenan deposit bank negara waktu itu. Stl German kalah perang, katanya emas2 batangan tsb disita negara sekutu termasuk US, pengen tahu dipakai siapa emas2 tsb pada akhirnya? only God knows dah…

  4. james  28 October, 2015 at 09:15

    memang perawatan gigi memerlukan langkah-langkah yang diperlukan, harus rajin sikat gigi minimal 2 kali dalam sehari dibantu dengan Dental Floss dan Listerine obat kumur anti bakteri setiap selesai waktu makan

  5. Lani  28 October, 2015 at 03:21

    AH: Tukang gigi? Mengingatkanku tetangga seberang rumah ktk msh tinggal di Purworejo, mrk turun temurun jd ahli gigi, entah dimulai sejak generasi keberapa, yg aku tahu hingga anak2 mrk ada yg meneruskan, menekuni jd tukang gigi.

    Ktk aku mudik, tukang gigi ini sdh pindah alamat, entah dimana, dan apakah mrk msh meneruskan bisnis keluarga/tdk aku kurang tahu.

    Nah soal gigi, adl plg ribet, ruwet, krn sgt mahal, aku sj tdk punya asuransi utk gigi, krn sejauh ini tdk ada masalah dgn gigi, wlu sdh dicabut satu bagian atas plg ujung dalam krn infeksi dan patah entah apa sebab musababnya, mau pasang implant mahal bingitttttt boooooo………

    Jd ya sdh dibiarkan ompong, toh klu tertawa ngakakpun tdk akan terlihat (alasan krn tdk mampu pasang implant hahahaha………….)

  6. Dj. 813  27 October, 2015 at 21:30

    Murah sekali bikin gigi palsu di Indonesia .
    Susi bikin gigi palsu untuk 2 gigi dan jembatannya, hampr 6000 Euro .
    Mana tidak punya asuransi extra, jadi harus bayar 100%.
    Terimakasih dan salam .

  7. donald  27 October, 2015 at 16:34

    Semoga implan gigi menjadi lebih murah, dan banyak yang mendapat manfaat.
    #berharap orang ompong berkurang juga…

  8. Linda Cheang  27 October, 2015 at 13:59

    aku dapat bocoran dari tukang gigi langganana orangtuaku, bahwa dogki pun memercayakan pembuatan gigi tiruan ke para tukang gigi…..makanya, kalau buat gigi tiruan ke dokgi, serasa diperas kantong/dompet kita….

    kecuali gigi tiruanku terbaru yang dibuat berdasarkan rujukan dokgi puskesmas dan bebas biaya karena pakai BPJS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.