Castrated (Kebiri)

Anwari Doel Arnowo

 

Saya awali saja dengan sebuah lelucon yang saya kutip dari sumber yang saya berlangganan di Internet.

Seorang laki-laki datang ke seorang dokter minta agar dia dicastrated, Dokter terperanjat bereaksi: “Anda ini serius, benar?” Pasien tegas menjawab “Iya, serius, kalau dokter tidak mau saya akan ke dokter lain saja!”. Singkat kata dilakukanlah apa permintaan sang pasien. Selesai, dia masih berjalan tertatih-tatih dan badannya kurang nyaman. Di lobby rumah sakit dia lihat seorang laki-laki lain yang juga meringis-ringis menahan rasa sakit serta gaya dan cara berjalannya persis sama dengan dirinya. Dia bertanya:” Apa anda baru menjalani operasi castration?” Orang itu menjawab:”Tidak saya baru saja dicircumcized! Si pasien kita itu terperanjat amat sangat dan berseru: “Wahduhhhh itulah kata yang seharusnya aku gunakan: Circumcision. BUKAN castrate. Masya’Allah !!”

Apa pasal? Begini: Castrate adalah kebiri, sedang circumcision itu adalah sunat alias khitan.

Empatpuluh tahun yang lampau, pada akhir bulan Maret tahun 1975 saya juga sudah melakukan kebiri terhadap diri saya sendiri, hanya operasinya dinamakan vasectomy.

Vasectomy, menurut yang saya dengar bisa disambung kembali sehingga berfungsi seperti asalnya. Vasectomy yang telah dilakukan terhadap diri saya itu sudah saya tuliskan pada tanggal 22 Juli tahun 2007, sewaktu saya bertempat tinggal di Toronto, Kanada. Tulisan saya dengan judul Vasectomy saya muat di buku peringatan Ulang Tahun saya ke 75, tepat pada dua tahun yang lalu,halaman 315 dengan judul bukunya:  BUNGA RAMPAI PERILAKU KEHIDUPAN.  Juga bisa dibaca di: http://baltyra.com/tag/anwari-doel-arnowo/  Saya melakukan vasectomi semata-mata karena anak saya yang bungsu sebagai anak yang kelima, telah lahir pada pertengahan bulan Februari pada tahun yang sama.

hukum-kebiri

Kata  judul di atas CASTRATION. Padanan kata bentuk past tense: Castrated adalah Emasculated dan Neutered). Terjemahan ke dalam bahasa Indonesia adalah kebiri. Kebiri adalah perbuatan operasi yang menyebabkan orang laki-laki dihilangkan kemampuannya membuahi indung telur dari perempuan. Saya mengingat kata castrated oleh karena lelucon tersebut di atas. Kata kebiri sedang ramai dibicarakan di televisi dan berita tertulis di koran maupun di dunia cyber, agak hiruk pikuk, yang menyangkut kasus-kasus pelecehan seksual terhadap anak disertai juga dengan perbuatan kriminal lain yakni pembunuhan. Biasalah topik-topik perilaku menyimpang ini sudah amat banyak jenis rupa dan bentuknya. Ada KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan ada LGBTQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender dan Queer) dan perilaku-perilaku lainnya.

KDRT ada di mana-mana dan biasanya korbannya adalah pihak wanita. LGBTQ adalah perilaku yang meenyangkut seksualitas tetapi boleh dibilang aneh di negeri kita akan tetapi adalah hal biasa di negeri lain.

Di Kanada LGBTQ malah ada ‘seperti festival’ tahunannya di Toronto sejak bertahun-tahun yang lalu. Biayanya? Sekian juta Canadian Dollar diambil dari anggaran resmi Pemerintah Kota Toronto. Di Indonesia? Pasti akan geger dan semua pihak mengemukakan pendapatnya masing-masing. Entah apa yang disuarakan, biasanya tidak penting akan benar atau salah, yang penting bersuara. Itu pendapat saya yang bisa saja akan mendapat tanggapan negative.

Tidak apa-apa. Saya cuma ingat sekali: Di dalam ajaran agama apapun dan kepercayaan apapun Tuhan adalah pencipta alam sejagad beserta isinya termasuk semut dan gajah serta bandit, Polisi, penjahat, pencopet, partai politik dan orang suci dan segala macam kehidupan ini secara lengkap. Termasuk komunisme, militerisme dan Marhaenisme, kapitalisme. Orang Yahudi atau China dan Papua juga ciptaan Tuhan. Nah terserahlah segala sesuatunya kepada masing-masing makhluk di dunia ini, termasuk manusia, Mau jadi yang baik, pilihlah itu. Kalau memang mau menjadi yang tidak baik, ya terimalah akan menjadi apapun! Itu adalah pilihan makhluk masing-masing sendiri. Unsur nasib dan takdir atau fate hanya kecil saja. Semuanya itu hampir tergantung kepada pilihan masing-masing secara sendiri.

Dimulai dari daya berpikir otak dan hati manusia, maka perangkat lunak di pikiran menjadilah sesuatu dalam bentuk dan wujud yang diidamkan. Itu selalu. Dari pikiranlah asal keberhasilan dan kegagalan manusia di dalam menjalani hidupnya. Lalu dari mana datangnya pikiran? Pikiran itu bisa timbul karena tubuh kita telah dilengkapi dengan 12 organ penting berikut kelengkapan-kelengkapan lain. Semuanya itu akan membantu kita di dalam hidup.

Cuaca udara panas atau dingin ternyata menimbulkan akal manusia untuk melawannya dengan menyediakan pakaian atau bahkan alat pengatur suhu udara. Perlu pakaian manusia menemukan kapas atau ulat sutra serta menemukan tenaga listrik. Jadi bagi mereka yang hanya minta saja kepada Tuhan, bukannya tidak akan bisa hidup, akan tetapi saya golongkan sebagai tidak mensyukuri segala peralatan yang ada di tubuhnya sendiri. Lihat saja kalau orang tidak mau menggunakan otaknya untuk berpikir, maka jelas-jelas tergambarlah di bentuk dan kondisi tubuhnya yang tidak segar dan tidak bergairah. Berdoa sebanyak-banyaknya bukan jelek. Akan tetapi lebih penting lagi adalah melakukan sesuatu yang bisa dilakukan dengan daya upaya serta akal sendiri. Pasti akan lebih menyenangkan menerima hasilnya.

Mungkinkah Allah membuat takdir nanti si bayi A itu akan lahir dan menjadi polisi atau menjadi pelawak. Itu semua kan pilihan sendiri? Bagi yang malas atau memang tidak memilih mungkin akan hanya hidup saja, entah jadi apa!

Nah di sinilah kita bisa memberi penilaian, apakah mereka yang melakukan pelecehan seksual itu memang dari genus (di Kamus Bahasa Indonesianya: GENERA ?) atau dari plihannya sendiri. Samakah nasib mereka ini dengan pecandu rokok atau narkoba? Atau orang gila? Menurut hukum yang diakui resmi, para pecandu narkoba itu harus ditangkap akan tetapi dimasukkan ke dalam pusat rehabilitasi, karena mereka itu digolongkan sebagai korban atau orang sakit, yang harus diobati atas biaya negara. Mereka ditangkap tetapi tidak boleh dipidanakan. Atau dipenjarakan. Yang dipidana adalah para pengedar dan pembuat serta para Bandar narkoba.

Kalau para korban narkoba ditangkap, direhabilitasi/diobati, mengapa pelaku pelecehan seksual terhadap anak dihukum penjara dan sekarang diusulkan akan dikebiri sebagai hukuman tambahan? Mengapa begitu? Apa memang tidak ada pilihan lain? Mengapa para koruptor tidak ditambah dengan Hukuman Tambahan potong tangan persis seperti syariat yang umurnya sudah lebih dari 1400 tahun itu? Hanya Tuhanlah Yang Maha Tau !! Anggota dpr (yang membuat undang-undang apakah sudah paham ya? Sekali lagi saya tidak mampu berbuat apa-apa, kecuali menulis ini saja.

 

Anwari Doel Arnowo  –  22 Oktober, 2015

 

 

8 Comments to "Castrated (Kebiri)"

  1. J C  2 November, 2015 at 13:17

    Kalau dari logika Itsmi, ada 20 jari donk, termasuk jari kaki. Jari tangan dipotong semua masih bisa pakai jari kaki. Jari kaki dipotong juga, masih ada lidah…

  2. J C  2 November, 2015 at 13:16

    Kreeeeesss…

  3. Lani  29 October, 2015 at 00:12

    CAK DOEL : Koruptor jgn dikebiri, tp spt mas DJ bilang “gantung saja di Monas” biar jd tontonan public, semoga mrk jera tdk akan mengembat uang rakyat/Negara lagi.

    Nah, klu pelaku KDRT itu sgt perlu dikebiri, agar tdk mengakibatkan beranan pinak, kasian anak2 yg dilahirkan ayahnya di Negara antah berantah. Selain tentunya ditambah hukuman yg sgt amat berat biar kapok!

    KANG MONGGO : klu laki2 bisa dikebiri, wanita jg bs menjalani TUBEKTOMI, agar tdk bs hamil lagi, tp tentu saja tdk ada hubungannya dgn kelakuannya sbg koruptor, ora nyambung ngono……

  4. Itsmi  28 October, 2015 at 20:04

    Problemnya dengan mengkebiri pedoseksual, dia masih punya sisa 10 jariiiii, jadi lebih tepatnya cari dulu apa sebabnyanya, banyak orang yang menderita gangguan jiwa….

    Anwari, artikel artikelmu, umumnya kamu tidak ambil posisi, posisinya netral…kata lain mau hidup aman aman aja dan malas berpikir…

  5. Swan Liong Be  28 October, 2015 at 16:56

    Apa kalo koruptor dikebiri mereka gak bisa korupsi lagi?

  6. Swan Liong Be  28 October, 2015 at 16:53

    Apa kalo koruptor dikebiri mereka “sembuh” dari korupsi? Ya gak juga , masih tetap bisa korupsi.

  7. Sumonggo  28 October, 2015 at 15:58

    Koruptor saja yang dikebiri. Tapi kalau koruptornya perempuan bagaimana …?

  8. Dj. 813  28 October, 2015 at 13:26

    Cak Doel . . .
    Selamat Pagi dari Mainz . . .
    Karena kaumKoruptor masih punya uangnya . . .
    Jadi ada kemungkinan para penegak hukum masih bisa mendapat permen dari mereka .
    Kalau dipotong tangannya, ya jelas permannya tidak akan kebagian .
    Mending yang koruptor digantung di monas saja . . . Agar tidak bisa korup lagi .

    Salam Sejahtera dari Mainz .

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.