Kelirumologi Berlalulintas

djas Merahputih

 

Disiplin berlalulintas di perkotaan masih cukup memprihatinkan. Warga kota (citizen) berkendara seenaknya seakan tanpa aturan. Jika kita cermati, kebanyakan para citizen bukanlah warga kota sebenarnya. Sebagian besar dari mereka adalah pendatang. Sangat disayangkan, para pendatang ternyata belum benar-benar bisa beradaptasi dengan lingkungan perkotaan. Dalam perkembangannya, merekalah yang justru memberi pengaruh buruk kepada penduduk asli dalam berperilaku dan berinteraksi dengan lingkungan perkotaan tempat mereka menetap.

Di Indonesia, kota-kota diserbu oleh para pendatang utamanya dari wilayah terdekat di sekitar kota. Faktor dominan pemicu urbanisasi adalah masalah ekonomi. Pemusatan distribusi modal di perkotaan menyebabkan perputaran roda ekonomi dan peluang berusaha di kota-kota besar juga semakin cepat dan terbuka. Tak sulit untuk menemukan pekerjaan di perkotaan, tentu saja jika jumlah penghasilan tak menjadi ukuran.

Yang menarik, perilaku kaum pendatang belum sepenuhnya berubah dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru di perkotaan. Kebiasaan di kampung terus terbawa-bawa hingga ke kota. Terlebih lagi, nilai dan kebiasaan yang mereka bawa justru menjadi ukuran atau standar baru bagi warga asli. Hal ini bisa kita cermati dari perilaku berlalulintas kaum udik di perkotaan.

img 1. Parkir bebas

img 1. Parkir bebas

Jika anda puluhan tahun menetap di kampung, maka persoalan parkir sembarangan tak akan segera menimbulkan kemacetan. Sebab bisa jadi, mobil andalah satu-satunya kendaraan roda empat di lingkungan tersebut. Nah, jika kebiasaan ini terbawa hingga ke kota, bisa dibayangkan apa yang terjadi. Tak butuh hitungan menit di jalur padat perkotaan untuk mengalami kemacetan yang disebabkan oleh kebiasaan parkir sembarangan. Perilaku kampungan seperti ini lama-kelamaan diadaptasi oleh warga lain. Awalnya sih mungkin hanya untuk membalas perlakuan si udik tadi, namun lama kelamaan, jika tak segera dicegah, perilaku seperti ini akan dianggap sebagai hal biasa. Malah sebaliknya, orang yang kesal terhadap pelaku pun akan dianggap aneh.

Hal lain di kampung yang juga berbeda adalah anda tak akan menjumpai traffic light (lampu merah) di simpang jalan. Dengan begitu anda tak perlu berhenti serta harus memperhatikan garis batas stop kendaraan seperti yang pernah diributkan bung Elanto. Apalagi, traffic light telah diartikan semena-mena menjadi “lampu merah”. Padahal kita juga tahu di sana ada dua warna lain, yaitu kuning dan hijau. Akan lebih bijak jika traffic light disebut sebagai lampu tiga warna.

Sebutan lampu “merah” pun bisa menjadi masalah terutama bagi yang masih trauma pada tragedi berdarah di tahun 1965. Merah bisa diasosiasikan dengan darah. “Darah itu merah, Jenderal..!!“, begitu kutipan film bertema pembantaian tersebut. Dan juga, jika warna tersebut dikaitkan dengan citra parpol tertentu di blantika perpolitikan nasional yang selalu dinamis. Secara psikologis, pikiran bawah sadar kita akan memerintahkan untuk mengabaikan lampu “merah” di persimpangan jalan. Para citizen kampungan akan menerabas lampu merah tanpa rasa bersalah sedikitpun. Kalau ada yang coba menegur pasti ikutan diterabas.

Tak terbiasanya orang kampung dengan kehadiran lampu pengatur lalu lintas di persimpangan jalan, membawa masalah saat mereka menetap di perkotaan. Lampu merah tidak dianggap sebagai pengatur lalu lintas, ia justru dianggap sebagai penghambat lalu lintas. Oleh karena itu ia wajib untuk diterabas, kalau perlu dengan semangat 45 yang terus bergelora di dalam dada. Mereka telah terdidik untuk mendobrak segala halangan dan rintangan “kemerdekaan”. Kesan lampu “merah” sebagai faktor penghambat diperkuat oleh kenyataan bahwa warna merah sangat identik dengan larangan dalam rambu-rambu lalu lintas yang ada.

img 2. Lampu Merah?

img 2. Lampu Merah?

Larangan hampir selalu diapresiasi sebagai hambatan, bukan aturan. Sekali lagi, penyebutan lampu merah pada traffic light sangat berpengaruh secara psikologis terhadap respon masyarakat pengguna jalan. Kelirumologi nyatanya juga bisa kita temukan dalam perilaku berlalulintas orang Indonesia. Hal serupa bisa anda bayangkan jika toilet anda artikan secara keliru sebagai “bilik merenung”. Kira-kira, apa yang akan anda lakukan saat berada dalam toilet?

Kesantunan orang di kampung-kampung biasanya lebih menonjol dibanding orang kota yang serba cuek. Kebiasaan menjulurkan tangan ke depan sebagai tanda permisi juga masih sering dipraktekkan saat mereka menetap diperkotaan. Ketika seorang pengendara motor hendak berbelok, setelah menyalakan lampu weser, akan segera disusul dengan menjulurkan tangan ke arah belokan yang akan dituju. Biasanya akan dibantu oleh pembonceng di belakang pengemudi motor. Pengalaman bersepeda ontel di kampung halaman mungkin saja menginspirasi perilaku tersebut. Hal ini sangat berbahaya dan akan mengganggu pengendara lain, apalagi jika pengendara di belakang mereka sudah terlanjur akan menyalip dari arah yang sama. Bisa jadi juluran tangan tadi akan menyentuh bagian sensitif pengendara lain dan akhirnya berujung pada keributan.

Budaya kampung (mental kampungan) masyarakat perkotaan dalam hal berlalulintas, perlu mendapat penanganan serius. Tidak saja dari segi hukum dan kelengkapan rambu lalu lintas, melainkan juga pada pola pikir penduduk kota. Mereka harus terus disadarkan bahwa mereka kini tak lagi berada di kampung dengan segala kesederhanaannya. Kesederhanaan yang tak menuntut banyak aturan. Kota adalah tempat yang kompleks dan multidimensi. Oleh karena itu dibutuhkan banyak aturan dan rambu-rambu, agar kebebasan seseorang jangan sampai mengganggu atau berbenturan dengan kebebasan warga lain di sekitar mereka.

Kota memiliki kultur sendiri yang tak lagi sama dengan daerah asal para pendatang. Kota membutuhkan citizen sejati, bukan citizen kampungan. Hijrah ke kota juga berarti hijrah perilaku dari watak kampungan ke sebuah pribadi citizen. Dan jika anda tak siap, maka lebih baik memilih untuk tak beranjak ke kota. Menjadi warga kampung yang ngota masih lebih baik daripada menjadi warga kota yang kampungan.

*****

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

20 Comments to "Kelirumologi Berlalulintas"

  1. djasMerahputih  8 November, 2015 at 12:43

    Kang JC & mba Avy:
    Kendala di Indonesia mungkin pada bentuk undang-undangnya yang tertulis, sementara masyarakat dan aparat lebih senang menyelesaikan masalah dengan lisan. Kita belum sepenuhnya bisa terlepas dari budaya lisan warisan nenek moyang dahulu…

    Contoh terdekat adalah budaya jual-beli di pasar tradisional…

  2. Alvina VB  8 November, 2015 at 10:56

    Djas, saya dah gak bawa mobil lagi dah luamaaaa banget, makanya kl ke Ind ogah dah kl disuruh bawa mobil lagi. Kapan ya lalu lintas di Indonesia bisa tertib kaya di Singapore? Kl aja pem. berani pasang kamera di seluruh persimpangan jln dan yg ngelanggar lalu lintas kenain denda tinggi; kl gak mau bayar denda sita aja itu motor/mobilnya. Ttp susah juga ya….namanya di Ind apa2 bisa dibisnisin, yg kaya gini malah jadi bisnis suap menyuap, capek dech…..

  3. J C  2 November, 2015 at 13:15

    Kang djas, tidak heran sama sekali kalau di Indonesia…ampun dah…malas bener kalau sudah urusan yang begini ini…

  4. J C  2 November, 2015 at 13:14

    Memang terbukti Lani hobby dengan kuda, apalagi kuda liar…

  5. djasMerahputih  29 October, 2015 at 19:32

    James:
    Hati-hati.. ntar kalo ke Kona langsung kena tilang…!!

  6. djasMerahputih  29 October, 2015 at 19:26

    Tji LANI:
    Kuda liar ngga butuh marka jalan..

  7. Linda Cheang  29 October, 2015 at 14:52

    ya, begitulah……..

  8. Lani  29 October, 2015 at 10:41

    KANG DJAS : mungkin enakan naik kuda liar ya???? Hahaha……tunggu aja bakal disambar oleh lurah Baltyra

  9. Lani  29 October, 2015 at 10:40

    JAMES : kamu itu lo bisa aja…….iseng ya godain yg di Kona. Awas lo kesambet baru tau rasa………hahaha

  10. james  29 October, 2015 at 09:15

    hadir mas DJ…..para Kenthirs Baltyra tahu semua dan taat peraturan lho….gak suka melanggar aturan lalu lintas, apalagi mbak Lani kan SIM nya lulusan Kona sana dan waktu ujian nya memakai sandang Kiwir=kiwir ala Kona….just kidding ci Lani, abis gak ada bahan untuk komen nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.