Pesona Alam dan Aktivitas Panen Ubur-Ubur (1)

Jemy Haryanto

 

Dibanding Malaysia, kondisi pantai di desa Temajuk belum dikelola dengan baik. Namun secara geografis, Indonesia lebih beruntung karena di pantai ini, dua fenomena alam bisa dinikmati sekaligus. Adalah sunset dan sunrise. Ada aktivitas panen ubur-ubur juga sebagai gaya tarik wisata.

Jam 1 siang. Aku baru saja selesai makan siang. Setelah menyeruput secangkir kopi dibuat istri sahabat, aku pamit melanjutkan perjalanan ke daerah perbatasan.

Siang itu cukup panas. Matahari bersinar terik di atas kota Sambas. Tapi daerah perbatasan masih sangat jauh. Dibutuhkan waktu sekitar delapan jam berkendara.

Dermaga penyeberangan di sungai Paloh. Foto Jemy Haryanto

Dermaga penyeberangan di sungai Paloh. Foto Jemy Haryanto

Pantai Atong. Foto Jemy Haryanto

Pantai Atong. Foto Jemy Haryanto

Faktor utama perjalanan menjadi lambat adalah infrastuktur, khususnya jalan yang kondisinya masih jauh dari harapan. Hancur, berlubang, berdebu, bahkan rusak di sana-sini.

Selain itu letak geografis. Lokasi tujuanku kali ini berada di garis terdepan Negara Republik Indonesia, tapi menjadi sulit dijangkau karena letaknya dibelah oleh dua sungai besar, dengan ketersediaan alat transportasi yang jumlahnya masih sangat minim.

Cuma ada dua jenis alat penyeberangan di dermaga yaitu satu unit kapal ferry dan beberapa perahu motor klotok, merupakan alat transportasi tradisional reguler masyarakat setempat. Kapal klotok bisa beroperasi kapan saja jika diperlukan, bahkan tengah malam.

2. Foto Jemy Haryanto 2. Hutan Kelapa di pantai Atong. Fto Jemy Haryanto

Hanya saja resikonya cukup besar, anda bisa tenggelam atau tiba-tiba terbalik di tengah sungai kerena menabrak sesuatu. Sementara kapal ferry lebih aman, namun jam operasinya terbatas sampai jam 5 sore hari.

Aku tiba di dermaga pertama satu jam kemudian. Untuk menghemat waktu, juga ingin mendapat rasa aman, aku memilih kapal ferry. Di situ, penumpang penuh sesak. Aku pun harus bercampur jadi satu dengan mereka, barang-barang dan kendaraan yang dibawa seperti sepeda motor, mobil dan truk.

Bau keringat, bau karet, bau ikan asin, pun tak terelakan. Tapi tidak lama, kurang lebih 10 menit, kapal akhirnya merapat di dermaga di desa Sekura, kecamatan Paloh. 7.500 rupiah biaya penyeberangan untuk satu sepeda motor dan pengendara. Setelah menikmati secangkir kopi sejenak di dermaga, aku melanjutkan perjalanan.

Perahu klotok sebagai transportasi reguler masyarakat. Foto Jemy Haryanto

Perahu klotok sebagai transportasi reguler masyarakat. Foto Jemy Haryanto

Lokasi yang dituju masih sangat jauh. Aku lantas memutuskan menginap di kantor perwakilan WWF di desa Sebubus, empat jam jarak tempuhnya dari dermaga. Berbincang sebentar pada malam harinya dengan seorang guide. Di pagi hari, tepat jam 5 pagi, kami segera meluncur menuju perbatasan.

Tapi kami harus menyeberang lagi di sungai kedua yaitu sungai Paloh. Kali ini tidak dengan kapal ferry, melainkan kami harus menggunakan perahu klotok sebagai alat transportasi penyeberangan satu-satunya yang dimiliki masyarakat di dusun Cermai.

Pelabuhan ferry ada di dusun ini, tepatnya di samping dermaga perahu klotok. Sayangnya, sampai sekarang, proyek pelabuhan yang dibangun pemerintah setempat ini belum rampung alias terbengkalai. Sudah lama. Itu dapat dilihat dari tiang beton sebagai penyangga di atas air kondisinya mulai rusak dimakan waktu.

Tapi, kita lupakan saja kinerja pemerintah yang lamban itu. Sekarang kami sedang menyeruput secangkir kopi lagi di kedai, di dermaga. Pagi ini udara cukup dingin. Tak ada sinar matahari di cakrawala karena mendung dan kabut menutupi semua. Setengah jam menikmati hilir mudik penumpang perahu klotok yang datang dan pergi, kami pun melanjutkan perjalanan kembali.

Jalan mulus cuma berjarak satu jam dari dermaga tadi. Selebihnya, kurang lebih tiga jam, kondisinya masih rusak parah, berupa tanah merah dan bebatuan. Permukaannya licin akibat hujan. Selain itu banyak jembatan atau gertak yang kondisinya sudah siap ambruk tanpa ada perbaikan. Kami memacu sepeda motor dengan sangat hati-hati karena tidak ingin terperosok masuk ke dalam sungai kecil.

Dalam perjalanan, pemandangan cukup indah aku pikir. Ladang ilalang sejauh mata memandang. Sementara di kejauhan, aku melihat ada barisan bukit-bukit kecil membentuk kurva berwarna hijau muda. Tak lama, kami pun tiba di desa Temajuk, kecamatan Paloh. Sebagai bukti, adalah plang nama yang berdiri di pinggir jalan dan sebuah monumen berwarna kuning dengan burung garuda di atasnya. Di sinilah tujuan kami.

Temajuk merupakan desa yang berada di sebelah utara bagian barat pulau Kalimantan. Jaraknya cuma 4 kilometer dari Telok Melano, Malaysia. Desa ini secara administatif berada di kecamatan Paloh, kabupaten Sambas, Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Desa ini memiliki garis pantai sangat panjang yakni sekitar 60 kilometer dengan potensi pantai dan laut yang berlimpah, seperti ubur-ubur, ikan, lobster dan penyu.

 

Rehat Sejenak Di Pantai Ninik

Aroma laut mulai tercium olehku. Samar-samar ku dengar juga suara ombak pecah menghantam karang dari kejauhan. Di atas sepeda motor, tiba-tiba guide mengajakku istirahat sejenak di sebuah pantai.

Orang-orang setempat menyebutnya pantai Ninik. Dalam bahasa Indonesia, Ninik berarti Nenek. Asal muasal sebutan ini lahir karena dulu, di pantai ini, sering muncul sesosok nenek misterius yang diyakini oleh masyarakat sebagai penunggu gaib kawasan. Tapi apa pun ceritanya, 15 menit kemudian kami sudah tiba di pantai ini.

View di pantai Ninik. Foto Jemy Haryanto

View di pantai Ninik. Foto Jemy Haryanto

Cottage di pantai Ninik. Foto Jemy Haryanto

Cottage di pantai Ninik. Foto Jemy Haryanto

1. guideku sedang bersantai di pantai Ninik. Foto Jemy haryanto

Kawasan pantai Ninik tidaklah terlalu luas ternyata. Kurang lebih setengah hektar dengan kondisi lumayan tertata rapi dan bersih. Di sini, aku suka suasananya, sejuk, tenang dan sangat privasi, dikarenakan pantai ini letaknya jauh dari pemukiman penduduk dan dikeliling oleh hutan pohon kelapa. Viewnya adalah laut dan batu-batu besar.

Di tengah kawasan pantai terdapat cottage-cottage mini. Bangunannya bertipikal rumah traditional salah satu suku di Indonesia bagian Timur. Dibangun dengan kayu, sementara atapnya terbuat dari anyaman daun kelapa. Cottage tersebut menghadap langsung ke laut. Ada yang bertingkat juga. Untuk harga sewa satu cottage-nya adalah 250 ribu rupiah per malam.

4. Foto Jemy Haryanto_1

Kami menikmati istirahat siang itu. Setelah puas bercengkrama dengan angin laut, perjalanan dilanjutkan lagi menuju pantai Atong. Jaraknya kurang lebih 15 menit dari pantai Ninik. Di pantai Atong, kami ingin menyaksikan sunset.

Kami tiba di pantai Atong usai melewati jalan beton di antara perkebunan kelapa. Di situ, aku langsung disambut oleh pemilik sekaligus pengelola pantai, yaitu bapak Atong.

Plang Nama. Foto Jemy Haryanto

Plang Nama. Foto Jemy Haryanto

Cottage di pantai Atong. Foto Jemy Haryanto

Cottage di pantai Atong. Foto Jemy Haryanto

Menurut dia, pantai Atong baru empat tahun dibuka untuk umum. Meski masih banyak kekurangan di sana-sini, seperti tidak adanya listrik,-listrik cuma menggunakan mesin genset-, tapi pantai di sini punya kelebihan dibanding pantai-pantai di Malaysia. Di sini, kita bisa menyaksikan dua fenomena alam sekaligus yaitu sunrise dan sunset, yang tidak dimiliki di negeri tetangga.

“Karena itu orang Malaysia sering berkunjung ke sini. Pantai Atong selalu menjadi favorit para turis manca negara juga. Meski tidak sering, tapi ada. Mereka suka karena di pantai ini suasananya cukup privasi,” jelas pak Atong.

Dan apa yang dikatakan pak Atong tentang turis asing ternyata benar adanya. Saat menunggu sunset di pantai Atong, aku bertemu dengan seorang turis dari Amerika yang masuk melalui border Indonesia-Malaysia.

Monumen. Foto Jemy Haryanto

Monumen. Foto Jemy Haryanto

Tetkait fasilitas. Pantai ini tentu tidak selengkap pantai di pulau Bali atau Lombok, atau pantai lain yang sudah lama dikelola. Tapi untuk para pelancong yang ingin menginap, di pantai ini tersedia penginapan dan cottage-cottage mini. Harga dibuka dari 150 hingga 250 ribu rupiah per malam.

Di pinggir pantai, aku mulai gusar menunggu sunset. Dikarenakan kondisi langit sedikit tertutup awan mendung, yang sudah tentu akan sulit bagiku menyaksikan fenomena alam yang kerap dinanti banyak orang. Tapi terima kasih, aku masih bisa mengambil momen itu meski terjadi tak sempurna. Usai menikmati sunset, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Temajuk.

 

 

9 Comments to "Pesona Alam dan Aktivitas Panen Ubur-Ubur (1)"

  1. J C  2 November, 2015 at 13:21

    LUAR BIASA DAHSYAT!

  2. Jemy Haryanto  31 October, 2015 at 15:25

    Vina : betul vin, dua fenomena alam, karena secara geografis pantai temajuk memutar. sunset aku gak dapet, diselimuti mendung. tapi sunrise dapet, gak sempurna juga. mudah2n di edisi 2 dinaikan oleh pak lurah, hehe

  3. Alvina VB  31 October, 2015 at 02:03

    Wah…keren kl bisa liat Sunrise dan Sunset di tempat yg sama. Btw, ada foto sunrise dan sunset nya gak Jemy?

  4. Jemy Haryanto  30 October, 2015 at 15:26

    djasMerahPutih : aha, bukan rumah tradisional setempat bang, Itu bentuk cottage kreativitas si pemilik saja. Mbak lani : Uhuii,, mudah2n akan trus diperhatikan,,

  5. Handoko Widagdo  30 October, 2015 at 10:22

    Sangat indah.

  6. djasMerahputih  30 October, 2015 at 09:26

    Hadir Tji Lani…

    Liputan yang menarik Bang Jemy…
    Cottegenya keren tuh… itu bentuk rumah tradisional setempat, bukan…??
    Kok kayak rumah di flores…??

  7. James  30 October, 2015 at 05:53

    Hadir nih ci Lani, ketinggalan euy……..memang diakui tempat wisata di Indonesia itu indah-indah hanya begitulah sarana transportasi belum memadai terutama perihal keselamatan nya

  8. Lani  29 October, 2015 at 23:48

    Kecantikan alam Indonesia memang diakui, dikagumi oleh manca negara. Walau kadang tidak/kurang mendapatkan perhatian dari sipemilik, sgt disayangkan!

  9. Lani  29 October, 2015 at 23:35

    Satoe……..salam buat the kenthirs gang

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.