Macan Tidur

Anwari Doel Arnowo

 

Saya tidak tau judul yang di atas ini asalnya dari bahasa Melajoe atau bahasa Jawa: macan turu. A sleeping tiger (Inggris), juga bisa sih atau nemuru tora(Jepang)? Bah! Yang tergambar di kepala saya ketika prertama kali saya dengar lebih dari 65 tahun yang silam, terbayang seekor macan digambarkan sebagai binatang buas, amat buas, dan menakutkan, pemberang dan tidak mengenal ampun kepada sesama makhluk lain. Terlintas bayangan seekor hewan yang sebutan lainnya adalah Raja Hutan.

Geli juga sedikit kalau saat ini, 65 tahun kemudian, ternyata yang raja hutan itu adalah sesungguhnya gelar bagi mereka,  para pemegang HPH (Hak Pengusahaan Hutan) dan juga para pelaku di dalam korporasi perkebunan kelapa sawit yang besar dan kaya raya. Jadi makhluknya berubah menjadi hewan berkaki dua, mempunyai organ-organ yang sama lengkap seperti yang dimiliki oleh makhluk manusia. Ya memang seperti bentuk manusia, tetapi berkelakuan buas serta serakah. Kenapa serakah? Ya seperti manusia yang seperti itu. Punya uang satu miliar masih merasa kekurangan, demikianpun halnya sudah satu triliunpun masih juga. Masih juga apa? Masih ada yang seribu triliun dan seterusnya. Silakan saja, tak terhingga banyaknya.

Mungkin seluruh milik Bank Indonesiapun belum mampu menghentikan sifat serakahnya. Semua orang tau bahwa sifat serakah itu bila dituruti akan mencapai angka yang tidak terhingga, tanpa batas, unlimited. Tiada salahnya karena secara nyata tak terhingga itu memang ada, perhatikan bahwa hal ini diakui di dalam pelajaran ilmu  matematik.

Yang kurang pantas adalah tata cara dalam mendapatkan jumlah itu yang sering dilakukan tanpa etika. Etikanya siapa? Ya tentu saja etikanya pelaku kurang pantas tadi. Ada banyakkah di dunia yang seperti ini? Mungkin semua manusia termasuk diri saya sendiri. Itu hanya kalau dibiarkan tanpa kendali. Saya belum pernah terkena “penyakit” seperti itu, kalau seperti itu memang  dinamakannya. Kebetulan saya sering bertemu dan  dikendalikan oleh apa yang dikatakan dengan istilah suara hati nurani.

Ini bukan sok, sombong atau pongah. Saya pernah bertahun-tahun bekerja di dalam hutan-hutan tetapi hanya di bidang eksplorasi tambang mineral. Saya tidak pernah berusaha di dalam sebuah HPH atau Perkebunan apapun, juga Kelapa Sawit. Saya tau apa itu gambut dan saya pernah menikmati mandi di air gambut yang jernih berwarna seperti warna coca cola.

Menurut seorang Suku Dayak yang saya kenal, mandi air gambut memang amat baik bagi kulit kita. Waktu itu saya tidak menggunakan sabun sebagai pembersih. Ketika mandi berikutnya yang saya memakai air tanah menggunakan mesin penghisap air, saya menggunakan sabun. Sampai dengan hari ini saya belum pernah terdampak sakit kulit sama sekali. Alhamdulillah.

Kebetulan saya hanya bergerak usaha hanya di hutan-hutan di Kalimantan, yang tentu saja tidak pernah ketemu dengan macan, hanya “macan” yang memakai Blue Jean saja. Dengan sendirinya saya tidak pernah bertemu dengan yang sedang baru bangun tidur. Yang saya maksudkan macan yang baru bangun tidur adalah semua gerakan yang melawan penjajahan belanda dan Jepang, seperti terwujud dengan peperangan melawan kaum penjajah itu.

Pendirian Partai Politik seperti Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927 dan lain-lain termasuk perkumpulan lain-lain berorientasi agama apapun jua, asal melawan para penjajah itu. Ada tokoh-tokoh seperti Oemar Said Tjokroaminoto dan Soekarno bersama kawan-kawan lain seperjuangan. Saat ini, yang saya ingin kemukakan adalah tokoh-tokoh macan tidur seperti Joko Widodo dan A Hok.

Mereka ini dulunya adalah Wali Kota Surakarta dan Bupati Belitung. Mereka mencukupi dirinya dulu untuk kelangsungan hidupnya dalam berkeluarga. Itu terjadi pada periode sebelum mereka menjabat sebagai pegawai pemerintah. Ini saya amati ketika saya sudah mencapai umur 75 tahunan, jadi saya bukan orang muda yang emosional apa-apapun. Sampai hari ini saya pun belum pernah bertemu atau melihatnya langsung, baik Joko Widodo maupun A Hok,  kecuali melalui media berita. Apapun yang saya ketaui mengenai mereka, kedua-duanya adalah dari berita di media. Lalu apa dan di mana hubungannya kedua manusia ini dengan judul tulisan ini?

Oleh karena saya belum pernah mendengar mengenai mereka berdua sebelum menjadi pegawai negeri, maka saya menjuluki mereka sebagai macan tidur masa kini.

Dari pesaing mereka waktu pemilihan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, kami mendengarkan hujatan yang jelek dan jelek dan jelek mengenai mereka berdua. Ucapan rasis dan menghina kepercayaan agama mereka berdua, tiada habisnya mengucur setiap hari. Jokowi atau Joko Widodo diberitakan berdarah Cina dan bukan Islam agamanya. Ahok juga dikatai seperti apa yang sebenar dan sesungguhnya: keturunan Cina dan Kristen dengan cara dan nada menghina.

Mereka yang pesaingnya bukan hanya orang yang kurang berpendidikan saja, tetapi juga mereka yang berpangkat Gubernur, Jenderal TNI, Ulama dan macam-macam tingkatan. Pesaingnya ini sering tidak mau mengingat bahwa Negara kita ini bukan yang bisa disebut sebagai  Negara agama. Apalagi pernyataan yang sifatnya rasis kan bukan pada tempatnya dilakukan oleh mereka yang berpendidikan? Kemudian terbukti Jokowi dan Ahok terpiih. Kali ini saya ikut Pemilu yang  meskipun pemilihannya dilakukan ulang dua kali, semuanya  berjalan baik dan transparan. Terpilihnya mereka menjadi Gubernur DKI Jakarta dan Ahok sebagai Wakil Gubernur berjalan lancar.

Saya amat menyayangkan bahwa periode awal menjabat kedua “macan” versi saya ini masih menerima caci maki. Malah ada yang menunjuk Gubernur lain, versi sendiri. Yang begini bukankah patut disebut makar, kan? Yang  pasti dan jelas sampai dengan hari ini yang disebut sebagai Gubernur tandingan itu tidak pernah diberitakan lagi dan tidak nampak batang hidungnya. Namanyapun saya sudah lupa, mungkin juga saya tidak pernah tau dia itu siapa namanya. Maafkan saya!! Setelah tidak lama Jokowi menjabat Gubernur, dia terpilih menjadi Presiden ke 7 Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya tidak ikut memilih, karena sudah amat yakin bahwa dia akan terpilih. Itu adalah keyakinan saya karena yang dipilih itu adalah Jokowi karena nilai-nilai pribadinya jadi bukan  karena adanya Partai-Partai yang mengusungnya. Jokowi terbukti terpilih karena Jokowi.

Periode dalam menjalankan awal pemerintahannya Jokowi dan Ahok menerima perlakuan tidak adil dari segala penjuru, yang amat kasat mata disebarkan dan direkayasa oleh pihak-pihak yang terkalahkan dalam pemilihan Presiden dan Gubernur DKI yang karena Undang-Undang Dasar menyebutkan bahwa Ahok yang jabatannya Wakil Gubernur harus menggantikan Gubernur yang meninggalkan tugasnya yang lain, yaitu sebagai Presiden. Banyak sekali issue yang digunakan untuk mengguncang-guncang mereka, sang Presiden, Jokowi, maupun sang Gubernur Ahok. Seperti sebuah lagu favourite mereka yang tidak suka, mengulang-ulang mendendangkannya dengan suara sengau dan sumbang. Upaya yang sia-sia ini akhirnya menurun jalannya dan sekarang agak sunyi. Kelelahan kah??

Sang Presiden diguncang dengan penunjukan Budi Gunawan sebagai Kapolri dan juga status tersangka kepada dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi. Ada yang menyuarakan agar KPK diisi dengan orang militer. Tetapi dengan cara yang elegan ternyata Polisi bisa di’jinak’kan dan Angkatan Darat menyatakan setia kepada Panglima Tertingginya yakni Presiden. Meskipun Jokowi tidak atau belum pernah menggunakan jabatan kepangkatan militernya sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, akan tetapi  itulah isi bunyi kepangkatannya seperti diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar NKRI kita.

Yang amat jelas di mata saya adalah dua Partai Politik mulai pecah dengan perebutan pangkat oleh dua elite-nya masing-masing. PPP Partai Persatuan Pembengunan dan Partai Golkar. Menyusul baru-baru ini Partai Amanat Nasional menyatakan diri melepaskan keterikatannya dengan Koalisi Merah Putih dan bergabung ke Pemerintah yang didukung oleh Koalisi Indonesia Hebat. Timbullah pertanyaan logis. Kalau sebuah Partai Politik itu biasa mendukung pendirian atau pandangan politik tertentu, juga ideologi tertentu apa yang bisa menyebabkannya memerlukan koalisi dengan partai-partai yang lain? Bukankah ideologi dan pendirian serta pandangan politiknya kan pasti tidak sama dan sebangun?

macan

Kalau memang iya sama dan sebangun, mengapa tidak menjadi satu buah partai saja? Itu adalah logis sekali bagi saya untuk mempertanyakan hal itu.

Masalahnya saya ini kan tidak pernah sedetikpun menjadi anggota atau kader atau apapun namanya bagi sebuah wadah berpolitik. Adalah hak penuh dari seseorang yang warganegara untuk taat kepada Undang Undang Dasar Negaranya dan membayar pajak atas kegiatan kerjanya  selama mencari nafkah. Tidak menjadi peserta pemilu saja dibolehkan oleh Undang Undang Dasar NKRI, tanpa sanksi apapun!! Jadi ikut pemilu itu hanya HAK, bukan kewajiban (COMPULSORY).

Bilamana UUD NKRI diubah isinya mengenai masalah yang satu ini, sang warga Negara boleh saja mereka mepertimbangkan pindah menjadi warganegara lain. Ini bukan pengkhianatan, akan tetapi melindungi diri sendiri.

Sebagai penutup saya berharap agar macan-macan lainnya yang pada saat ini sedang tidur mau bangun dan ikut serta membangun negaranya yang dicintainya. Saya sudah tidak lagi aktif bekerja mencari nafkah selama 17 tahun lamanya, sejak tepat saya mencapai umur 60, saya masih sama persis seperti halnya saya dulu, yang juga mencintai Republik Indonesia.

 

Anwari Doel Arnowo  – 2015. Oktober 18

 

 

8 Comments to "Macan Tidur"

  1. james  3 November, 2015 at 14:09

    ci Lani, lha kamu bikin saya lebih lagi geleng-geleng kelapa…..lha aku ora ngertos itu Ndekem sama Njengking…..tanpa terjemahan Bahasa nya

  2. Lani  3 November, 2015 at 09:53

    Pertanyaanmu bikin aku geleng-geleng kepala ada-ada aja James

  3. james  3 November, 2015 at 09:02

    hadir lagi mbak Lani…….kalau Macan Tidur ngoroks gak yah ?

  4. Lani  2 November, 2015 at 13:42

    Lurah Baltyra terusik oleh macan ndekem …………..klu dirimu macan njengking??????

  5. J C  2 November, 2015 at 13:22

    Semoga semakin banyak macan tidur…(kalau Lani mirip macan ndekem)

  6. donald  2 November, 2015 at 12:42

    Mungkin masih ada macan (dan pengikutnya) yang perlu diajar cara mencintai negeri ini.

  7. Lani  2 November, 2015 at 10:45

    Hadir sambil mengingat para kenthirs lainnya

  8. Lani  2 November, 2015 at 10:45

    CAK DOEL : Macan tidur? Mengingatkan ktk Jepang menyerang Pearl Harbor………yg dikatakan membangunkan macan yg sdg tidur……..dr kejadian itu jatuhlah 2 bom dinegeri matahari terbit………….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.