Pesona Alam dan Aktivitas Panen Ubur-Ubur (2)

Jemy Haryanto

 

Aktivitas Panen Ubur-Ubur

Ada yang menarik lagi di desa Temajuk ini, yaitu panen ubur-ubur. Kami tiba di kawasan pantai pada esok harinya setelah menginap semalam di desa tersebut.

ubur-ubur01 ubur-ubur02 ubur-ubur03 ubur-ubur04 ubur-ubur05 ubur-ubur06 ubur-ubur07

Perahu klotok sebagai transportasi reguler masyarakat. Foto Jemy Haryanto

Perahu klotok sebagai transportasi reguler masyarakat. Foto Jemy Haryanto

Di pantai, aku melihat masyarakat dari berbagai usia, tua, muda, anak-anak, lelaki dan wanita, tumpah ruah. Mereka terlihat bergantian hilir mudik dari laut – naik ke pantai, lalu kembali lagi, sambil memikul keranjang besar di atas pundak.

ubur-ubur22 ubur-ubur23 ubur-ubur21 ubur-ubur20 ubur-ubur18 ubur-ubur16 ubur-ubur14 ubur-ubur15 ubur-ubur13 ubur-ubur17

Saat ku intip, di dalam keranjang tersebut ada sesuatu seperti jeli. Adalah ubur-ubur yang ukurannya besar-besar.

Ini adalah aktivitas panen ubur-ubur. Aktivitas ini cuma bisa ditemukan setahun sekali, yakni pada bulan Maret sampai Mei. Sama halnya masyarakat di kawasan pantai pulau Lombok. Bedanya, masyarakat Lombok berburu cacing ‘nyale’ untuk dikomsumsi, nah di pantai Temajuk, masyarakat berburu ubur-ubur untuk diekspor ke manca negara.

ubur-ubur19 ubur-ubur28 ubur-ubur29 ubur-ubur30

Aku segera mengambil bagian untuk mengikuti proses panen ubur-ubur hingga pengolahan di pabrik. Hanya saja saat proses penangkapan, aku tidak sempat mengikuti. Tapi dari obrolanku dengan salah seorang warga, berburu ubur-ubur tidak di tengah laut, melainkan di tepian laut atau sekitar 500 meter dari bibir pantai, menggunakan boat.

Proses penangkapannya cukup mudah. Tapi sebelum melakukan itu, kedua tangan harus dilumuri dengan tawas terlebih dahulu jika tidak ingin gatal tersengat ubur-ubur.

Masyarakat berburu pada pagi hari dikarenakan kondisi ubur- ubur mengapung di atas permukaan laut. Untuk menangkap, orang-orang cuma mengunakan gala panjang dengan tiga pengait pada ujungnya. Satu hari, satu perahu motor bisa mendapatkan ubur- ubur sedikitnya 150-500 ekor. Satu ekor ubur- ubur beratnya sekitar 1,5 kilogram.

Aku mengamati aktivitas warga dari bibir pantai. Setelah hasil tangkapan dibawa ke bibir pantai, biota laut tersebut disortir di atas perahu motor untuk dipisahkan kaki dan badannya. Kemudian satu persatu warga memasukkan ubur-ubur tersebut ke dalam keranjang, dan dibawa ke kilang sebagai penampung.

Harga per ekor ubur-ubur untuk kaki 800 rupiah, sedangkan badan ubur-ubur 1.500 rupiah. Ada sebelas pabrik berdiri sekitar 200 meter dari pantai. Pabrik ini berfungsi sebagai tempat pembersihan dan pengawetan ubur – ubur, sebelum dilempar ke pasar.

Aku mengkuti mereka menuju ke salah satu pabrik untuk melihat langsung proses pengolahan. Pertama-tama ubur-ubur dimasukan ke dalam bak yang sudah diberi tawas dan soda, direndam selama satu malam.

Kemudian ubur-ubur dipindahkan ke bak lain yang sudah diberi tawas dan garam dan direndam selama dua malam. Setelah itu, mereka dipindahkan ke bak lain yang sudah diberi garam dengan kadar 100%, dan direndam lagi selama dua minggu. Tujuan pemberian garam dan tawas adalah untuk menghilangkan lendir dan gatal.

ubur-ubur31 ubur-ubur32 ubur-ubur33 ubur-ubur35 ubur-ubur34

Setelah itu, ubur-ubur tersebut disikat hingga bersih, lalu dianginkan selama 46 jam. Proses terakhir adalah pengemasan, dan timbang.

Menurut Bunadi, 28 tahun, pengawas yang menemaniku keliling pabrik, ubur-ubur yang sudah dikemas di dalam ember kemudian dikirim ke Kuching, Malaysia lewat jalur sungai, untuk diproses lagi sebelum diekspor ke negara lain.

“Dari Malaysia, ubur-ubur diekspor ke luar negeri seperti Taiwan, Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok. Di negara pengimpor, selanjutnya ubur-ubur diolah menjadi makanan,” jelas lelaki yang juga pernah bekerja di pabrik ubur-ubur di Thailand selama 8 tahun.

Untuk satu pabrik, menurut Bunadi bisa menampung sebanyak 600 ekor ubur-ubur basah, atau 40 ember dengan diisi ubur-ubur kering, dalam satu hari. Sementara jumlah karyawan per satu satu pabrik adalah 16 orang.

“Sebagian besar karyawan adalah wanita,” jelas Bunadi yang baru enam bulan bekerja sebagai pengawas di pabrik tersebut.

Aktivitas panen ubur-ubur sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 1987 silam bersamaan dengan berdirinya pabrik sebagai panampung. Dalam bisnis ini setidaknya banyak masyarakat terbantu dari segi pekerjaan dan ekonomi. Selain itu perputaran uang pun terbilang tidak sedikit. Menurut A Usman, PJ Kepala Desa di desa tersebut, mengatakan dalam tiga bulan masa panen, perputarannya bisa mencapai 3 milyar rupiah.

“Sekitar 2,4 -3 milyar rupiah perputaran uang di bisnis ini, jika dihitung rata-rata1 juta ekor perhari. Dan ini cukup baik dalam kontribusinya membangun desa,” jelas Usman.

Ke depan, dia juga menjelaskan akan menjadikan ubur-ubur sebagai ikon pariwisata desa Temajuk. Dimana nantinya para pelancong dapat ikut serta dalam kegiatan penangkapan ubur-ubur bersama nelayan di laut.

“Karena penyu, kita sudah punya agenda tahunan bersama WWF. Selanjutnya adalah ubur-ubur dan potensi laut yang lain yang nantinya akan menjadi ikon. Saya harap secepatnya,” ucap Usman.

Setelah berbincang-bincang sambil menyeruput secangkir kopi, aku pun segera pamit pulang, dan bersiap-siap menempuh perjalanan lagi.

 

 

8 Comments to "Pesona Alam dan Aktivitas Panen Ubur-Ubur (2)"

  1. Jemy haryanto  4 December, 2015 at 18:18

    Benar mba lani, teksturnya liut seperti karet, dan tidak berasa apapun alias tawar.pada umumnya mereka mencampurkan dgn bumbu rujak kacang tanah,

  2. Gunawan Prajogo  3 November, 2015 at 11:52

    Pendapat saya pribadi, sayang sekali anugerah yang begitu indah dari Tuhan, tidak diproses dengan baik; dalam arti secara higienis, mengikuti GMP (good manufacturing products). Kalau mereka lakukan itu, saya yakin harga jualnya bisa jauh lebih tinggi. Yang menikmati nilai lebihnya adalah orang-orang di negeri jiran.

  3. Lani  3 November, 2015 at 09:54

    Sama, aku juga belum pernah ngicipi makan ubur-ubur mungkin alot, liat spt karet ya James? Melihatnya saja udah geli duluan

  4. james  3 November, 2015 at 08:53

    hadir ci Lani sembari negbayangin bagaimana menyantap ubur-ubur karena belum pernah coba makan

  5. J C  2 November, 2015 at 13:24

    Baru lihat cara pengolahannya ternyata seperti ini…kekayaan laut Indonesia memang luar biasa…

  6. donald  2 November, 2015 at 12:45

    Bentuk ubur-ubur ternyata mempesona, demikian juga gambar2 yang disajikan sangat bagus dan memberikan gambaran lebih jelas. Terimakasih, mas Jemy!

  7. Lani  2 November, 2015 at 10:53

    Itu salah satu yg aku ketahui, bahwa sengatan ubur-ubur gatal, bahkan ada yg beracun.

    Oleh krn itu jika pas musim ubur-ubur orang dilarang berenang dipantai Waikiki

  8. Lani  2 November, 2015 at 10:43

    Satoe sambil mengingat kenthirs lainnya………..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.