[Di Ujung Samudra] Sayang, Kau di Mana?

Liana Safitri

 

LYDIA, kau boleh tidak menjawab teleponku, kau juga boleh tidak membalas pesanku, tapi kau harus membaca surat ini sampai selesai…

Ingatkah kau saat kita masih menjadi anak sekolah dulu? Di tahun-tahun pertama setelah aku meninggalkan Indonesia untuk pergi ke Taiwan, kita hampir setiap bulan berkirim surat. Kau sering menulis bahwa kau merindukanku, tapi sebenarnya saat itu keadaanku di Taiwan juga tidak lebih baik darimu. Di tempat kelahiranku sendiri aku merasa asing karena tidak ada kau. Setiap hari aku selalu menunggu suratmu. Melihat kembali tulisan tanganmu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa bersemangat, tapi menuliskan balasan surat untukmu adalah hal yang paling membingungkan.

Jika mengalami peristiwa menyenangkan atau menyebalkan, aku ingin cepat-cepat menceritakannya padamu. Tapi begitu duduk menghadap meja belajar, memegang pulpen, dan menatap kertas, semua yang berkumpul di otakku langsung menghilang. Kalau sudah demikian biasanya aku akan membeli beberapa kartu pos bergambar tempat-tempat indah di Taiwan dan menulis sedikit keterangan di baliknya. Lalu kau akan membalas dengan kiriman yang sama. Kartu pos bergambar tempat wisata di Indonesia dengan beberapa kalimat. Jika di surat berikutnya aku bercerita panjang lebar, barulah kau bertanya lebih banyak tentang gambar di kartu pos yang kukirimkan sebelumnya.

“Hehuanshan itu indah sekali! Lokasinya jauh tidak dengan tempat tinggalmu? Kapan-kapan kalau kau pergi ke sana bisa ambilkan foto-foto untukku?”

Lalu semakin lama kita semakin sibuk dengan kehidupan masing-masing. Frekuensi berkirim surat berkurang menjadi dua bulan sekali, beberapa bulan sekali, dan akhirnya setahun sekali. Kita beralih dari surat tulisan tangan ke e-mail yang lebih cepat dan praktis. Kalaupun ada yang dikirim melalui pos biasanya hanya paket berisi gantungan kunci, t-shirt, buku, dompet, stiker, atau barang-barang semacam itu disertai sedikit catatan. Namun itu semua tidak dapat mengganti surat tulisan tangan kita yang berharga. Mungkin dulu kita tidak menyadarinya. Aku lebih merindukan cerita-cerita tentang sekolahmu di Indonesia, teman-teman barumu, dan juga seorang laki-laki yang selalu menemani hari-harimu. Kakak angkatmu, Franklin… Aku juga sangat penasaran tentang hubunganmu dengan seseorang yang kaupanggil kakak itu.

Aku merasa tidak suka jika ada laki-laki lain yang mendekatimu sejak kita masih sekolah. Waktu itu aku tidak tahu mengapa merasa demikian. Tapi setelah Franklin mendahuluiku menyatakan cintanya padamu, melamarmu… aku yakin jika yang kurasakan adalah cemburu! Malah sejak awal, ketika pertama kali bertemu Franklin di restoran oriental setelah peluncuran novel perdanamu, aku kurang menyukainya. Dia seperti ancaman bagiku. Tapi bagaimana caraku mengatakannya? Terkadang aku berpikir bahwa aku harus berterima kasih pada Franklin karena dialah yang menjagamu saat aku tidak ada. Terkadang aku juga marah karena dia telah mengambil alih posisiku, menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu.

Bahkan ketika akhirnya kau memilih mengikutiku ke Taiwan dan menikah denganku, aku masih merasa tidak tenang. Kau pernah berkata kalau kau takut suatu hari aku akan meninggalkanmu demi wanita lain. Tapi sebenarnya aku juga memiliki ketakutan sendiri. Setelah kau dipukuli Xiao Long sampai keguguran, Franklin datang padaku dan memberi peringatan. Seandainya ada kejadian buruk yang kembali menimpamu, dia akan membawamu pulang ke Indonesia. Aku tidak sanggup membayangkan kemungkinan akan berpisah denganmu lagi.

Sepuluh tahun sudah lebih dari cukup untuk menguji hubungan kita. Jarak yang jauh dan waktu yang panjang tidak dapat meluruhkan keinginan untuk hidup bersama selamanya. Aku takut Franklin benar-benar menjauhkanmu dariku, takut Franklin sungguh-sungguh membawamu pergi, takut jika keinginan untuk hidup bersama selamanya itu hanya menjadi sementara… Jadi aku menggunakan segala cara untuk mempertahankanmu di sisiku.

Salah satunya adalah melumuri tanganku dengan darah.

Aku tahu kau memandang hal itu sebagai sesuatu yang sangat mengerikan. Tapi tolong katakan padaku, apakah masih ada cara lain? Kau pun seharusnya memahami, tidak peduli salah atau benar, baik atau buruk, semua kulakukan demi dirimu. Kalau aku bersikap kejam, bukan berarti aku memang orang yang kejam. Keadaanlah yang memaksaku bersikap demikan. Kau sudah lama mengenalku, kan? Aku tidak mungkin sengaja melukai orang tanpa alasan.

Jadi kurasa ada yang salah dengan kita. Aku dan kau. Kita telah kehilangan perasaan di masa kanak-kanak dulu. Rasa kasih sayang persahabatan yang hangat dan polos. Kita memang saling mencintai, tapi setelah melewati berbagai masalah yang mendewasakan kita, semua menjadi terasa berat. Selain cinta juga ada takut, khawatir, cemburu, marah, sedih, kecewa, sakit… dan banyak perasaan negatif yang membuat hati kita terbebani. Sehingga salah bicara, salah betindak, dan salah paham sedikit saja bisa berakibat fatal. Sekarang aku minta kau buang semuanya.

Untuk sesaat bayangkan diri kita menjadi anak sekolah lagi. Surat yang kau baca ini adalah dari seorang sahabat yang sangat menyayangimu. Selain surat, di dalam amplop juga ada sebuah kunci. Pergilah ke ruang kerjaku. Di lemari bagian bawah kau akan menemukan sebuah kotak kayu. Buka kotaknya dengan kunci ini. Maka kau akan menemukan perasaan masa kecil kita yang hilang itu.

 

Bahkan bila harus menyayat hatiku sendiri,

lalu mengerat dagingnya dengan sebilah pisau tajam

akan kutahan rasa perih dari darah yang menetes,

menggunakannya untuk menulis namamu ribuan kali

 

Sampai jumpa…

(Aku sangat, sangat, sangat merindukanmu!)

 

Usai membaca surat yang sangat panjang itu Lydia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Ia menatap kunci di tangannya, lalu pergi ke ruang kerja Tian Ya. Lydia berjalan mendekati lemari lalu berjongkok membuka pintu bagian bawah. Di dalamnya ada sebuah kotak kayu. Pasti ini yang dimaksud Tian Ya.

Lydia mengeluarkan kotak kayu dari lemari dan membuka gemboknya dengan kunci dari dalam amplop. Sesaat Lydia hanya diam terpaku menatap kotak kayu di hadapannya yang sudah terbuka. Isi kotak kayu itu adalah surat-surat yang dikirimkan Lydia pada Tian Ya bertahun-tahun lalu, ketika keduanya harus terpisah selama sepuluh tahun. Bukan hanya surat, tapi juga barang-barang yang dikirimkan Lydia pada Tian Ya masih tersimpan rapi di sana. Lydia dapat mengenali tulisan tangannya sebagai murid SMP dan SMA.

Bagaimana Lydia bisa lupa? Pergi dan pulang sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah, bermain, jalan-jalan, bersepeda, membaca buku, semua dilakukan bersama-sama. Bahkan kejadian buruk di masa lalu—seperti dimarahi guru karena terlambat atau membolos—menjadi kenangan indah pada saat ini. Dulu masalah mereka sangat sederhana. Mengkhawatirkan ulangan esok hari atau pusing memikirkan tugas yang belum selesai. Pertengkaran di antara mereka juga diakibatkan oleh sesuatu yang sepele. Berbeda pendapat soal film apa yang lebih bagus atau terlambat ketika janji bertemu di suatu tempat. Sekarang? Saling cemburu, takut ditinggal pergi, berurusan dengan gangster, keguguran, membunuh orang… Semakin bertambah usia seseorang, maka masalah yang dihadapi juga semakin banyak dan berat. Sungguh, kalau bisa Lydia ingin kembali menjadi anak-anak untuk seterusnya dan tidak usah tumbuh dewasa!

Kau akan menemukan perasaan masa kecil kita yang hilang itu.

Membaca lagi surat-surat yang dulu ia kirimkan pada Tian Ya, melihat kembali barang-barang yang diberikannya pada Tian Ya, hati Lydia luluh. Sepertinya ia sudah menemukan kembali perasaan masa kecil mereka yang sempat menghilang. Lydia memandang ke sekeliling ruangan dengan air mata menggenang. Ia mengeluarkan ponsel, menghubungi seseorang di urutan pertama daftar panggilan. Berkali-kali. Tidak diangkat. Sampai kemudian dengan perasaan gusar dan kalut Lydia mengirimkan sebuah pesan.

亲 爱 的 你 在 哪 里?

Qin’ai de ni zai nali?

Sayang, kau di mana?

 

Kalimat itu sejenak membuat si penerima pesan tertegun. Sedetik kemudian ia langsung berdiri dan berjalan pergi meninggalkan ruangan.

“Tian Ya, kau mau ke mana? Kita sedang rapat!” Suara Tuan Li yang menggelegar seperti petir sama sekali tak dihiraukan. Tidak juga puluhan pasang mata yang mengarah kepadanya.

Rapat? Siapa yang peduli!

Tian Ya mengetuk-ngetukkan ujung jari ke stir mobil dengan tidak sabar. Pada saat seperti ini bisa-bisanya jalanan macet. Bukan hanya jalan yang seolah sedang mempermainkan dirinya, ponsel pun demikian. Setelah menerima pesan Tian Ya berniat menelepon Lydia, tapi kemudian terdengar suara yang menandakan baterai lemah! Benar-benar menyebalkan!

Sedangkan di rumah Lydia jadi kesal sendiri karena Tian Ya tidak dapat dihubungi. Kesal atau menyesal? Entahlah, mungkin keduanya! Tidak seharusnya ia marah sampai menyuruh Tian Ya tidur di luar. Hampir dua hari Tian Ya tidak pulang. Entah pergi ke mana? Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Bagaimana kalau Tian Ya bertemu dengan wanita lain yang… membuatnya tidak mau pulang untuk selamanya?

Tian Ya melangkah lebar melewati ruang tamu dan langsung menuju kamar, tapi ia tidak menemukan Lydia. Di ruang tengah, di ruang kerja, di ruang makan, di perpustakaan pribadi mereka… Lydia tidak ada.

“Bibi He! Bibi He!”

“Ya, Tuan!” sahut Bibi He yang tak lama kemudian muncul dari dapur.

“Di mana Nyonya?”

“Sepertinya tadi saya melihat Nyonya pergi…” Bibi He berkata ragu-ragu. “Belum lama…”

“Pergi?” Tian Ya mengernyitkan alis.

Langit sudah hampir gelap, Lydia pergi ke mana? Apalagi sendirian, itu kan berbahaya! Bagaimana kalau bertemu orang jahat dan diculik? Atau… mungkin Lydia sudah tidak tahan hidup bersama Tian Ya dan memutuskan pulang ke Indonesia bersama Franklin?

Gudang di belakang rumah kini sudah tidak ada. Lydia heran karena tidak melihat puing-puing atau bekas reruntuhan bangunan. Ia menghampiri Paman Qi yang sedang memotong rumput.

“Paman Qi!”

“Ya, Nyonya?”

“Gudang yang ada di sini…”

“Sudah dirobohkan!”

“Sudah dirobohkan?”

“Ya! Tuan memberi perintah pada beberapa orang agar merobohkan gudang secepatnya, dan karena dia sangat sibuk, jadi sayalah yang diminta untuk mengawasi. Sedangkan barang-barang yang sebelumnya tersimpan di gudang akan dipindahkan ke ruang bawah tanah.”

“Oh…” Lydia tidak tahu kalau gudang yang mengerikan itu sudah dirobohkan. Selain karena tempatnya terpisah agak jauh dari rumah utama, Lydia pun jarang sekali pergi ke halaman belakang.

“Anda sangat beruntung!”

“Ya?” Lydia menatap Paman Qi tak mengerti.

“Tuan sangat mencintai Anda melebihi apa pun! Ia sanggup melakukan segalanya demi Anda…”

Benarkah?

“Maaf Nyonya, saya tidak bisa menemani Anda terlalu lama. Setelah membuang rumput-rumput ini saya harus menyiram tanaman.” Ketika Paman Qi akan masuk rumah melalui pintu belakang ia berpapasan dengan Tian Ya. “Anda sudah pulang, Tuan!”

“Paman Qi, apakah kau melihat…”

Tian Ya belum menyelesaikan kalimatnya, tapi Paman Qi sudah menunjuk ke arah kolam. “Istri Anda ada di sana!” Orang tua itu menepuk bahu Tian Ya kemudian berlalu.

Lydia-lah yang lebih dulu tersadar lalu berlari menghampiri Tian Ya. Kesal, marah, rindu, sekaligus lega… “Ke mana saja kau? Kenapa tidak pulang sampai dua hari? Kenapa tidak membalas SMS-ku? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?” Isakan tertahan terdengar jelas di dalam suaranya.

Tian Ya meraih tangan Lydia. Dengan satu tarikan membawa wanita itu ke dalam pelukannya, menekankan tubuh Lydia kuat-kuat ke tubuhnya. Setelah bertatapan begitu lama, Tian Ya menempelkan bibirnya ke bibir Lydia. Tak ada kata-kata lagi. Hanya perlu mendengar helaan napas masing-masing dan mendengar detak jantung satu sama lain untuk dapat memahami, betapa besar rasa rindu yang ditimbulkan oleh perpisahan sesaat itu.

Karena melewati satu hari saja tanpa dirimu adalah sebuah siksaan yang sangat menyakitkan, kegelapan yang begitu mengerikan, serta kesunyian yang tak berkesudahan!

Waktu SMP, karena mendadak harus meninggalkan Indonesia untuk pulang ke Taiwan, Tian Ya terpaksa membatalkan banyak kegiatan yang sudah direncanakan dan ingin dilakukan bersama Lydia. Salah satunya adalah berkemah. Tian Ya merasa malam ini adalah saat yang tepat untuk menebusnya. Lydia dan Tian Ya mendirikan tenda di halaman belakang, tepat pada bekas bangunan gudang. Mereka mencoba menjadi anak-anak lagi—begitulah yang dikatakan Tian Ya. Tikar, bantal, selimut, makanan, dan minuman dibawa ke tenda. Terakhir, Lydia membawa kotak kayu, “harta karun” berisi surat serta benda kenangan yang baru saja ditemukannya hari ini. Lydia duduk di pangkuan Tian Ya dan bersandar di dadanya, sementara pria itu membaca lagi surat-surat yang dulu dikirimkan Lydia sambil sesekali berkomentar.

“Wah, aku baru sadar kalau ternyata tulisanmu sangat berantakan!” Tian Ya mulai usil.

“Apa?” Lydia cemberut. “Tulisanmu lebih jelek daripada tulisanku!”

“Kalau begitu coba kau tunjukkan, mana surat-surat yang dulu kukirimkan padamu! Pasti sudah hilang semua, ya?” Tian Ya mengulurkan tangan.

“Ada di rumah, di Indonesia!” jawab Lydia. Sedetik kemudian ia melanjutkan, “Kalau ayah dan ibu tidak membuangnya…”

“Tidak mungkin ayah dan ibumu setega itu!” kata Tian Ya. “Meski sampai sekarang mereka tidak menghubungimu, aku yakin mereka pasti merindukanmu! Kalau tidak percaya kau bisa buktikan nanti setelah kita pulang ke Indonesia!”

“Kukira kau tidak suka kalau aku pulang ke Indonesia?”

Tian Ya langsung menyanggah, “Aku tidak pernah mengatakan hal seperti itu! Tidak masalah kau pulang ke Indonesia, hanya saja…”

Hanya saja aku tidak mau kau pulang ke Indonesia bersama Franklin!

Kemudian suara Tian Ya berubah serius, “Lydia, ayo kita buat peraturan!”

“Peraturan?”

“Tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan ketika kita sedang bertengkar… Pertama, tidak boleh saling mendiamkan…”

“Apakah aku harus cerewet setiap hari seperti bebek?”

Tian Ya menggeleng. “Bukan itu! Maksudku adalah… jika ada masalah kita harus langsung membicarakannya! Jangan hanya dipendam dalam hati, kemudian tiba-tiba memasang wajah masam sampai berhari-hari! Bukankah kau sering seperti itu?”

“Kau mengada-ada!”

“Aku tidak mengada-ada! Kau memang seperti itu! Sering marah tanpa alasan, membuat orang bingung!”

“Baiklah, baiklah! Aku tidak akan seperti itu lagi!” Lydia tidak sabar. “Pertama, tidak boleh saling mendiamkan! Kedua?”

“Kedua, tidak boleh meninggalkan rumah.”

Lydia langsung protes, “Aku tidak pernah meninggalkan rumah!”

“Pernah!” sergah Tian Ya.

“Kapan?”

“Waktu kita bertengkar karena masalah Frida, kau langsung pergi dari apartemen!”

“Tapi dulu kan kita belum menikah!”

“Tetap saja tidak boleh!”

“Justru kaulah yang meninggalkan rumah! Aku hanya menyuruhmu tidur di luar tapi kau malah tidak pulang! Keterlaluan sekali! Kau juga tidak mengatakan pergi ke mana selama dua hari ini!”

“Aku tidur di kantor, dan itu kulakukan karena memang sedang banyak pekerjaan! Selain karena kau sedang menghindariku!”

“Kau selalu pintar mencari alasan!” Lydia mendengus.

Tanpa memedulikan omelan Lydia, Tian Ya melanjutkan, “Ketiga, tidak boleh mengabaikan telepon dan SMS!”

“Kau juga sering begitu! Kenapa seolah-olah hanya aku yang selalu bersikap buruk?”

“Kadang-kadang aku memang tidak menjawab telepon dan tidak membalas SMS, tapi bukan karena disengaja. Aku sibuk! Baiklah, mulai sekarang aku akan merubah kebiasaan buruk yang satu ini,” janji Tian Ya. “Lalu peraturan keempat, tidak boleh memonopoli kamar tidur!”

“Tidak boleh memonopoli kamar tidur?” Lydia berpikir-pikir sejenak lalu tertawa keras.

“Kenapa tertawa? Aku benar-benar tidak suka jika setiap kali kau marah lalu menyuruhku tidur di luar! Orang yang pertama kali ingin aku lihat ketika bangun tidur adalah kau, orang yang terakhir kali ingin aku lihat ketika akan tidur juga adalah kau…”

Tawa Lydia terhenti. Karena ia tahu yang dikatakan Tian Ya bukan hanya bualan, ia pun merasakan hal yang sama.

“Sudah jelas, kan? Kita harus sama-sama mematuhi keempat aturan itu, tidak peduli jika suatu saat bertengkar lagi gara-gara masalah Xiao Long, Fei Yang, Frida, atau yang lainnya…”

“Franklin!” Lydia menyebutkan sendiri satu nama yang tidak disebutkan Tian Ya.

Tian Ya tidak mengatakan apa-apa, tapi juga tidak menyangkal jika nama yang disebutkan istrinya itu justru menjadi kekhawatiran paling besar.

“Itu yang paling membuatmu khawatir, benar, kan? Aku sudah sering mengatakan padamu, aku dan kakak memiliki ikatan yang sangat istimewa. Aku sendiri tidak tahu apakah dia masih… menyukaiku atau tidak. Seandainya dia masih menyimpan perasaan padaku, aku juga tidak bisa menjauhinya seperti menjauhi laki-laki yang sering berbuat iseng saat melihat perempuan. Kakak bukan laki-laki seperti itu, aku mengenalnya dengan baik. Dia sama sekali tidak pernah bersikap kurang ajar terhadapku. Yang bisa aku lakukan adalah menjaga jarak dan mengurangi frekuensi pertemuan dengannya, tapi bukan memutuskan hubungan. Kau bisa mempercayaiku!”

Tian Ya akhirnya mengangguk, “Baiklah, aku percaya padamu!”

“Seandainya suatu hari kau kembali berselisih dengan kakak… aku akan berdiri di antara kalian berdua…” Lydia menelan ludah sebelum melanjutkan, “…untuk mencegah agar jangan sampai ada Xiao Long yang kedua!”

“Hei! Aku bukan pembunuh kelas kakap!” Tian Ya agak tersinggung.

“Tapi… saat di gudang itu aku benar-benar melihatmu sebagai orang lain, tidak seperti Tian Ya yang kukenal… Kau tahu, kenapa pada awalnya aku tidak mau berterus terang padamu tentang siapa yang masuk rumah dan memukuliku sampai keguguran? Dan kenapa aku begitu marah saat kau membunuh Xiao Long?” Suara Lydia berubah lirih, “Karena aku mencemaskanmu. Aku tahu kau akan marah besar jika mengetahui bahwa Xiao Long yang mencelakaiku. Aku tahu kau pasti akan mencarinya dan membuat perhitungan dengannya. Bagiku semua tidak penting! Setelah mengalami peristiwa mengerikan di hari itu, bisa bertahan hidup saja rasanya seperti sebuah keajaiban! Aku tidak mau ada masalah lagi, tidak mau kau terlibat dalam peristiwa apa pun yang membahayakan keselamatanmu…”

“Asal kau tahu saja, lebih baik aku masuk penjara karena membunuh orang daripada masuk rumah lalu tiba-tiba menemukan istriku tewas dibunuh orang!”

“Jangan bicara sembarangan!” Lydia menutup mulut Tian Ya dengan tangannya. “Kau harus menjaga dirimu sendiri demi aku…”

“Kau juga…” Tian Ya memeluk Lydia erat-erat dan mengecup dahinya. Ia memandang surat-surat yang bertebaran di hadapan mereka kemudian berkata setengah bercanda, “Lain kali kalau kita bertengkar kemudian ada yang tidak mau bicara, aku akan menulis surat saja! Dulu ketika berpisah dan hanya bisa berhubungan lewat surat bukankah kita justru tidak pernah bertengkar? Atau mungkin sebaiknya kita saling berkirim surat setiap hari meski tinggal dalam satu rumah?”

“Kau mau menulis surat setiap hari dan memberikannya padaku? Silakan saja!” Lydia berkata mengejek. “Tapi aku akan membacanya kapan-kapan kalau ada waktu! Menulis surat setiap hari untuk orang yang tinggal dalam satu rumah itu namanya pemborosan!”

“Ah, ya! Aku lupa kalau istriku ini sangat pelit!” goda Tian Ya yang langsung membuat Lydia cemberut.

“Lalu kenapa kau merobohkan gudang?”

“Karena aku tahu kau tidak suka melihat gudang itu setelah apa yang terjadi. Aku akan membiarkan tempat ini kosong agar kita dapat melakukan banyak kegiatan. Misalnya berkemah sambil melihat bintang seperti sekarang…”

“Aku ingin bisa melihat bintang setiap malam,” kata Lydia. Perasaannya sudah berubah menjadi lebih baik.

“Kita bisa melihat bintang setiap malam! Kau mau aku membelikanmu teropong bintang?” tanya Tian Ya.

“Tian Ya…”

“Hmmm?”

“Aku mencintaimu…”

Tian Ya dapat merasakan embusan napas Lydia yang tidak teratur di wajahnya.

“Aku mencintaimu,” ulang wanita itu, “hanya saja terkadang aku takut… bagaimana kalau cintamu padaku tidak sebesar rasa cintaku padamu?”

Aku mencintaimu! Dulu saat belum menikah mereka sering mengucapkan Wo xihuan ni (我喜欢你 —Aku menyukaimu) setiap pagi, siang, sore, malam, juga sambil berlari-lari di pinggir jalan. Bagi Lydia, mungkin kalimat itu akan terasa lebih nyata jika dikatakan dalam bahasa Indonesia. Tian Ya sendiri belum pernah menyatakan rasa suka atau cinta pada Lydia menggunakan bahasa Indonesia.

“Aku juga sangat mencintaimu!” balas Tian Ya. “Tapi tidak ada alat untuk mengukur rasa cinta seseorang, bagaimana kau bisa tahu kalau perasaanmu padaku lebih besar daripada perasaanku padamu? Sekarang aku hanya ingin mendengarmu memanggilku dengan satu kata…”

qin-ai-de

“Apa?”

“Seperti pada SMS yang kaukirimkan padaku hari ini…” Tian Ya mengedipkan mata lalu tersenyum, “…berbahasa Indonesia!”

Qin’ai de (亲爱的 —Sayang)

Wajah Lydia langsung berubah merah padam. “Aku tidak mau mengatakannya!”

“Kenapa tidak mau?”

“Pokoknya tidak mau!”

“Tapi aku ingin mendengarmu memanggilku seperti itu!”

“Tidak!” Lydia mendorong Tian Ya lalu berdiri dan menghindar. Tian Ya menyusulnya masuk ke tenda.

“Ayolah, katakan sekali saja!”

“Tidak mau!”

Udara di luar semakin dingin, tapi suasana di dalam tenda semakin hangat.

 

Franklin dan Fei Yang sibuk belajar. Yang satu belajar Mandarin, sedang yang satu belajar bahasa Indonesia. Kebut-kebutan. Fei Yang masih datang ke rumah Lydia dua kali seminggu, menjadikan Lydia sebagai guru pembimbingnya. Sedangkan Franklin tidak punya teman akrab seorang pun yang bisa berbahasa Indonesia dan Mandarin seperti Lydia atau Tian Ya. Ditambah sikap kaku setiap kali berhadapan dengan orang baru, mau tak mau ia menjadikan Fei Yang sebagai tempat bertanya jika menemui kesulitan saat belajar bahasa Mandarin. Setelah belajar keras, dalam waktu beberapa bulan Franklin pun sudah bisa bercakap-cakap dalam bahasa Mandarin.

Hari Minggu ini giliran Fei Yang datang ke rumah Franklin.

“Seperti apa Indonesia itu?” tanya Fei Yang di sela-sela waktu belajar mereka.

Franklin mengangkat kepala menatap Fei Yang. “Ya?”

“Aku… sedang menulis buku tentang Indonesia, tapi… sulit sekali mencari referensinya… Mungkin kau bisa membantuku?”

“Kau juga suka menulis?” tanya Franklin.

“Dulu aku suka menulis. Tapi ternyata aku lebih suka bermain piano. Sekarang keinginan untuk menulis muncul lagi.”

Perbedaannya hanyalah Lydia penulis fiksi, sedangkan Fei Yang penulis nonfiksi.

Franklin langsung menutup buku yang sedang dibacanya. “Apa yang ingin kauketahui?”

Reaksi Franklin melebihi apa yang diharapkan oleh Fei Yang. Diam-diam gadis itu merasa gembira. “Sebenarnya aku juga masih bingung. Oleh karena itu aku bertanya padamu. Sebagai orang Indonesia kau pasti lebih tahu apa saja hal yang menarik sehubungan dengan negeri kelahiranmu.”

“Hal yang menarik? Banyak sekali! Tempat wisata, adat-istiadat, kebudayaan, lagu dan tarian tradisional yang berbeda di setiap propinsi, cerita rakyat…”

“Cerita rakyat?”

“Seperti Ciderella, Snow White, The Beauty and The Beast, Sleeping Beauty, Alice in Wonderland, Little Mermaid atau Hansel and Gretel di negara-negara barat, Indonesia punya Sangkuriang, Malin Kundang, Lutung Kasarung, Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan, Roro Jonggrang, Timun Mas, Bawang Merah-Bawang Putih, dan lain-lain.” Franklin tahu cerita-cerita itu karena dulu Lydia suka sekali membaca dongeng.

“Apa kau bisa menceritakan padaku salah satu dari cerita rakyat itu?”

Franklin menyandarkan tubuhnya. “Aku tidak tahu kau akan menyukai kisah ini atau tidak. Tapi Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan termasuk cerita rakyat yang memiliki banyak versi, bukan hanya pada sebagian daerah di Indonesia, tapi juga di beberapa negara—tentu perubahan kisahnya disesuaikan dengan kebudayaan masyarakat setempat. Tentang dewi dari kahyangan yang jatuh cinta pada manusia biasa…”

“Oh, sepertinya menarik! Aku ingin tahu seperti apa ceritanya!”

Franklin terdiam sejenak. Menceritakan kembali dongeng atau legenda secara lisan kepada orang lain adalah hal yang belum pernah dilakukannya. Pemuda itu berdeham sebelum mulai bercerita dengan sangat hati-hati.

“Jaka Tarub adalah seorang pemuda yatim piatu yang pekerjaannya berburu di hutan. Suatu ketika, dari pagi sampai siang Jaka Tarub tidak mendapatkan binatang seekor pun. Hal ini membuatnya kesal. Jaka Tarub yang kelelahan lalu jatuh tertidur. Dia terbangun oleh suara tawa beberapa orang wanita. Dia lalu mengintip dari balik pohon dan melihat tujuh gadis cantik sedang mandi di telaga. Jaka Tarub diam-diam menyembunyikan selendang milik salah seorang dari mereka. Setelah selesai mandi, gadis yang paling muda kebingungan karena selendangnya hilang. Keenam gadis yang lain mencoba membantu mencari selendang milik si bungsu, tapi selendang tersebut tidak dapat ditemukan. Dari percakapan tujuh gadis cantik itu barulah Jaka Tarub mengetahui jika mereka sebenarnya adalah para bidadari dari kahyangan yang turun ke bumi untuk bermain-main. Karena langit semakin gelap keenam bidadari memutuskan untuk pulang. Si bungsu yang kehilangan selendang tidak bisa terbang seperti kakak-kakaknya dan ditinggal sendirian. Ia hanya bisa menangis di tepi telaga. Jaka Tarub lalu menghampiri si bungsu dan mengajaknya ke rumah. Pada Jaka Tarub, si bungsu memperkenalkan diri sebagai Dewi Nawangwulan. Selanjutnya Nawangwulan tinggal di rumah Jaka Tarub. Sering bertemu membuat kedua orang itu jatuh cinta. Jaka Tarub dan Nawangwulan akhirnya menikah dan memiliki seorang anak perempuan bernama Nawangsih. Hidup mereka bahagia. Tapi ada satu hal yang sangat mengganggu pikiran Jaka Tarub.”

“Apa itu?” tanya Fei Yang tidak sabar.

“Nawangwulan memiliki sebuah rahasia, dia selalu menanak nasi dengan hanya menggunakan sebutir beras namun menghasilkan nasi yang banyak. Kemudian saat istrinya sedang pergi, Jaka Tarub diam-diam membuka tutup penanak nasi. Perbuatan Jaka Tarub tersebut membuat kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu Nawangwulan harus menanak nasi dalam jumlah banyak seperti wanita biasa pada umumnya dan menyebabkan persediaan padi di lumbung mereka cepat habis. Tanpa disangka-sangka Nawangwulan menemukan selendang miliknya yang dicuri Jaka Tarub dulu, di bagian dasar lumbung. Nawangwulan sangat marah karena Jaka Tarub telah menipunya. Nawang Wulan memakai selendang tersebut dan bersiap kembali ke kahyangan. Jaka Tarub meminta maaf dan memohon pada Nawangwulan agar tidak pergi demi Nawangsih. Namun Nawangwulan adalah seorang dewi, tempat tinggalnya di langit, bukan di bumi. Nawangwulan meninggalkan Nawangsih bersama ayahnya, meminta Jaka Tarub menjaga anak mereka baik-baik. Nawangwulan juga menyuruh Jaka Tarub untuk membangun sebuah dangau. Jika Nawangsih ingin bertemu dengannya, Jaka Tarub cukup membakar batang padi dan membawa Nawangsih ke dangau itu. Selama ibu dan anak itu bersama, Jaka Tarub tidak boleh mendekat. Jaka Tarub hanya bisa memenuhi permintaan terakhir Nawangwulan dengan penuh penyesalan.”

Setelah cerita berakhir Fei Yang mendesah, “Kisah yang menyedihkan! Tapi yang membuat aku heran, mengapa Nawangwulan bisa dengan mudah meninggalkan anaknya? Yang sering aku lihat ketika sepasang suami istri harus berpisah, mereka hampir selalu memperebutkan anak. Kenapa Nawangwulan justru bersikap sebaliknya?”

Franklin tidak menduga Fei Yang akan bertanya seperti itu. Ia tertawa. “Benar juga! Kenapa, ya? Mungkin karena Nawangsih bukan keturunan murni dari dewa dan dewi. Di tubuhnya mengalir darah manusia, sehingga anak itu tidak bisa hidup bersama ibunya.”

“Bagaimana nasib Jaka dan Nawangwulan selanjutnya?”

“Siapa yang tahu?” Franklin mengangkat bahu. “Ini hanya cerita yang dikisahkan turun-temurun dari mulut ke mulut, tidak bisa dilacak siapa pengarang aslinya. Entah sudah berapa kali setiap orang yang mendengar dari orang sebelumnya memberikan penambahan di sana sini atau merubah beberapa bagian cerita. Oleh karena itu disebut cerita rakyat, cerita milik masyarakat. Kalau pun ada yang mempercayainya sebagai kisah nyata dan menghubung-hubungkan dengan suatu tempat atau sejarah, itu hak mereka. Yang baru saja aku ceritakan adalah versi dari propinsi Jawa Tengah. Di Bali juga ada cerita rakyat seperti Jaka Tarub dan Dewi Nawangwulan. Bagian awalnya hampir sama persis, namun memiliki ending berbeda.”

Fei Yang merengek seperti anak kecil, “Ceritakan juga padaku yang dari Bali itu!”

“Pada versi Bali, si pemuda bernama Kusmayanna, sedangkan sang bidadari bernama Suprabati. Dikisahkan Suprabati dan keenam saudaranya mencium bau harum semerbak yang bukan berasal dari taman Sriwedari di kahyangan, namun dari bumi Marcapada. Ketujuh bidadari lalu turun ke bumi mengikuti bau harum itu dan sampailah mereka di taman bunga milik Kusmayanna. Para bidadari tertarik dengan bunga-bunga di taman itu dan memetiknya, bahkan mereka juga mandi di kolam yang ada di tengah taman. Kusmayanna merasa heran karena beberapa hari belakangan bunga-bunga di taman miliknya banyak yang hilang dan kolamnya kotor. Kemudian dia memutuskan mencari tahu dengan bersembunyi di balik semak-semak seharian. Ketika matahari tenggelam Kusmayanna melihat tujuh wanita cantik turun dari langit. Seperti sebelumnya, para bidadari itu memetik bunga di taman dan mandi di kolam.”

“Lalu Kusmayanna mencuri pakaian salah satu bidadari yang sedang mandi itu, membuatnya tidak bisa kembali ke langit, dan tiba-tiba muncul bagai seorang pahlawan yang memberikan pertolongan. Padahal dia memiliki maksud tersembunyi, ingin memperistri sang bidadari?” tebak Fei Yang.

“Ya! Masalah yang dihadapi mereka juga sama. Kesaktian Suprabati yang dapat memasak satu butir padi menjadi satu periuk nasi, Kusmayanna yang membuka tutup periuk sembarangan, dan berujung pada terbongkarnya kebohongan Kusmayanna yang menyembunyikan pakaian bidadari milik istrinya bertahun-tahun lalu. Dalam keadaan marah Suprabati meninggalkan Kusmayanna dan anaknya kembali ke kahyangan. Bedanya adalah, dalam cerita versi Bali, suami istri dari dua dunia yang berbeda itu memiliki tiga orang anak perempuan. Masing-masing bernama Kusumawati, Puspita Dewi, dan Ratna Juwita. Setelah ditinggal pergi Suprabati, Kusmayanna menikah lagi dengan seorang janda bernama Wardhini. Namun ternyata Wardhini adalah seorang wanita jahat. Di hadapan Kusmayanna, Wardhini memperlakukan ketiga anaknya dengan baik, tapi ketika Kusmayanna tidak ada di rumah yang terjadi adalah sebaliknya. Wardhini menyuruh Kusumawati, Puspita Dewi, dan Ratna Juwita bekerja keras menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, sementara dia sendiri hanya bermalas-malasan, tidur, makan enak, dan berdandan. Wardhini sering membentak dan memarahi ketiga anak tirinya, bahkan jika mereka melakukan kesalahan tidak segan memukul dan menyiksa. Ketiga anak itu juga diberi makan sangat sedikit. Namun Kusumawati, Puspita Dewi, maupun Ratna Juwita tidak berani mengadu pada ayahnya karena selalu diancam oleh Wardhini.”

“Sampai di sini ceritanya mulai mirip Cinderella. Di mana-mana ibu tiri selalu digambarkan sebagai sosok yang menakutkan dan sangat membenci anak tirinya. Padahal tidak selalu begitu!” Fei Yang berkomentar.

“Kurasa anggapan ibu tiri jahat muncul justru dari banyaknya dongeng semacam itu! Tunggu… aku masih belum selesai!” Franklin kembali melanjutkan ceritanya.

“Suatu hari Kusmayanna pergi ke kota. Kekejaman Wardhini semakin menjadi-jadi, dia menyuruh Kusumawati, Puspita Dewi, dan Ratna Juwita bekerja siang malam tanpa istirahat. Akhirnya anak yang paling kecil, Ratna Juwita jatuh sakit. Tapi Wardhini tidak peduli, dia tetap memaksa Ratna Juwita menyapu, memasak, juga mencuci baju seperti kakak-kakaknya. Tubuh yang tidak sehat membuat gerakan Ratna Juwita menjadi lambat dan pekerjaannya tidak selesai-selesai. Wardhini mulai naik pitam. Dia memukuli Ratna Juwita dan melemparkan segenggam serbuk racun ke wajah anak itu yang membuatnya tidak bisa membuka mata. Dalam keadaan mata terpejam, Wardhini lalu menyeret Ratna Juwita ke hutan dan meninggalkannya di sana agar dimangsa binatang buas. Kusumawati dan Puspita Dewi diam-diam mengikuti ke mana adiknya dibawa pergi, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena takut kepada Wardhini. Untunglah ada tetangga yang memergoki perbuatan Wardhini. Saat Kusmayanna kembali dari kota para tetangga menceritakan apa yang terjadi pada Ratna Juwita. Kusmayanna pun langsung pergi ke tengah hutan menjemput Ratna Juwita. Pria itu marah besar melihat keadaan putrinya yang mengenaskan. Kusmayanna bermaksud akan membuat perhitungan pada Wardhini, tapi baru sampai di depan rumah Kusmayanna melihat para tetangga berkumpul. Mereka berteriak-teriak menyuruh Wardhini keluar. Menyadari dirinya dalam bahaya, Wardhini segera kabur melalui pintu belakang. Ternyata di belakang rumah pun sudah ada banyak orang menghadangnya. Wanita jahat itu tidak dapat lolos dari amukan massa. Wardhini dihajar beramai-ramai dan dilempar ke tebing curam hingga menemui ajal.”

“Nah, orang jahat itu sudah mendapatkan pelajaran yang setimpal!” kata Fei Yang puas.

“Kusmayanna menyesal karena pernikahan dengan Wardhini telah membuat ketiga anaknya menderita. Apalagi putri bungsu Kusmayanna buta dan kulitnya juga melepuh karena efek dari racun. Kusmayanna memanggil banyak tabib, namun tak ada seorang pun yang dapat menyembuhkan Ratna Juwita. Harta benda Kusmayanna juga telah habis digunakan Wardhini bersenang-senang. Suatu malam Kusmayanna yang putus asa berbicara sendiri sambil menengadahkan kepala ke langit, menceritakan keadaan Ratna Juwita. Dia berharap suaranya bisa sampai ke langit dan didengar oleh Suprabati. Kemudian Kusmayanna bersama ketiga anaknya tertidur lelap. Mereka bermimpi bertemu dengan Suprabati.”

“Apakah istri Kusmayanna yang seorang dewi itu akhirnya memberikan pertolongan?” tanya Fei Yang.

“Tepat sekali!” Franklin mengangguk. “Pagi harinya seekor burung gagak terbang memasuki rumah Kusmayanna dan bertengger di sisi tempat tidur Ratna Juwita. Semua orang merasa heran karena ternyata si burung gagak bisa bicara. Burung gagak berkata jika dia datang dari kahyangan diutus oleh Dewi Suprabati untuk menyampaikan pesan. Burung gagak menjatuhkan dua buah bungkusan dari paruhnya yang segera dibuka oleh Kusmayanna. Bungkusan pertama berisi ramuan obat untuk Ratna Juwita, bungkusan kedua berisi tiga untai kalung dengan liontin bergambar Suprabati. Jika merindukan ibunya Kusumawati, Puspita Dewi, dan Ratna Juwita dapat melihat liontin pada kalung itu. Dan… ajaib sekali karena setelah diolesi ramuan obat yang dibawa oleh burung gagak, Ratna Juwita bisa melihat kembali. Penyakit kulitnya juga sembuh dalam seketika. Kemudian Kusmayanna dan ketiga anaknya saling berpelukan, bersyukur karena terlepas dari nasib buruk.”

“Lalu?”

“Selesai!”

“Ah… walaupun berbeda versi, tapi tetap tidak sesuai dengan harapan!” Fei Yang merasa kecewa.

“Kau ingin Suprabati turun ke bumi lalu hidup bersama Kusmayanna dan anak-anaknya?”

“Tentu saja! Dan mereka hidup bahagia selamanya. Tidak peduli di dunia dongeng atau di dunia nyata, bukankah itu yang selalu diharapkan semua orang?” Fei Yang menatap Franklin penuh arti.

 

 

7 Comments to "[Di Ujung Samudra] Sayang, Kau di Mana?"

  1. J C  15 November, 2015 at 16:50

    Penasaran dengan lanjutannya…

  2. Dj. 813  8 November, 2015 at 21:07

    Yu Lani . . .
    Dj.ada disini yu . . . Hahahahahahaha . . . ! ! !
    Terimakasih dan salam,

  3. Alvina VB  8 November, 2015 at 10:31

    Hadir……sorry telat euy….

    Ceritanya si Tian Ya dan Lydia dah baikan lage yach? Ditunggu lanjutan ceritanya dah…

  4. james  7 November, 2015 at 05:39

    sayang…..aku disini gak kemana-mana kok

  5. james  6 November, 2015 at 09:24

    bang Djas, Kenthirs kedua juga sudah hadir, masih tersisa satu lagi

  6. Lani  5 November, 2015 at 23:38

    KANG DJAS : satu kenthir hadir……….apakah akan meneruskan pelayaranmu mencari kenthir lainnya kkk

  7. djasMerahputih  5 November, 2015 at 21:31

    Belayar ke Ujung Samudera… mencari para kenthir…

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.